MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Episode 106



“memberiku nama ?,” tanyanya polos seperti anak kecil,


“benar nama, nama yang bagus,” jawab sang Huali sembari memberikan sorot mata yang mempunyai arti disana.


“benarkah penolong, kalau begitu siapa nama ku ?,” ucapnya antusias dan sangat bersemangat,


“Nama mu adalah,” ucapnya terhenti, sedangkan orang itu telah menunggu jawaban dari Huali dengan sangat


antusias dan penasaran, nama apa yang akan ia berikan. Dan sedangkan Zixin ia masih dengan menahan tawanya sekuat tenaga.


“kakek,” ucap huali dengan senyumnya, dan seketika Zixin ia langsung tertawa terbahak-bahak tak bisa menahan tawa lebih lama.


“kakek ?,” beonya seperti orang


tak berdosa, sedangkan huali ia sudah tak menahan tawannya lagi saat mengetahui


ekspresi siluman nan tampa itu seperti anak keil yang tak tahu apa-apa.


“hahahaha,” mereka masih dengan


tawanya yang belum berhenti, sedangkan yang di tertawakan bingung melihat


mereka tertawa, ia belum sadar atau memang bodoh hingga ia mengerti dengan


kondisi sekarang.


“kenapa kalian tertawa ? ada yang lucu ?,” tanyannya tampa dosa. Sedangkan yang di Tanya malah semakin tertawa. Entah apa yang sedang terjadi pada siluman itu Huali dan Zixin tak habis pikir dengan sirinya itu, dia memang bodoh apa pura-pura bodoh, mereka tak tahu bahkan Author dan para pembaca saja di buat bingugng dengannya. Dia itu pura-pura bodoh atau memang bodah, aduh sayang sekali tampan-pampan kok plinplan. Emang wajahnya tampan dan imut saat mengatakan itu, api yaa, tau deh, bagaimana ekspresinya itu, pengen ketawa tapi takut dosa tapi udah terlanjur ketawa.


Kembali ke topic,


Zian dan huali, mencoba mengatur nafas merka menetralkannya agar ia bisa berbicara normal, sesekali mereka


berdehem dan sesekali mereka menahan tawa yang bergejolak ingin keluar lagi.


“ehem, tidak. Tidak ada,” jawab huali sudah kembali ke semula, “jadi, bagaimana ? apa kau setuju dengan nama


itu ?,” Tanya huali dengan mengendalikan dirinya agar tak tertawa,


Orang yang di Tanya senyum sejuta umat, menampilkan gigi-giginya yang putih bersih nan rapi, ia mengangguk seperti anak kecil “itu nama yang bagus, aku suka,” jawabnya sangat bersemangat namun dan lagi-lagi mereka di buat ketawa dengan jawabannya.


“aduh, perutku, hei dia itu sebenarnya apa sih, apa dia benar-benar siluman singa ? siluman kok, bod..”


ucapnya terhenti, lalu sembari memegang perutnya yang keras karena kebanyakan tertawa.


“aku baru tahu, siluman yang bodoh,” sahut Zixin dengan sama memegang perutnya yang keras karena tertawa


sendari tadi. Huali sesekali memukul beberapa kali lengan siluman itu karena gemas, lalu ia mengatur nafasnya. “huff, baiklah, sudah cukup, ayo lanjut jalan,” ucapnya kembali normal mengingat waktu semakin sore.


Hari semakin menunjukan sinar jingganya menandakan jika waktunya menjelang malam, sekelompok orang berjalan dengan sembunyi-sembunyi dari pakaianya terlihat mereka adalah seorang penyusup. Pakaian serba hitam muka yang memakai masker serupa dan hanya menampakan matanya saja,


Beberapa orang itu memberi kode, sementara orang yang di dalam kastil ia duduk di singga sananya, memakai


mahkota bak penguasa, wajahnya di tutupi dengan topeng, tongkat setinggi dada berhiaskan Kristal setengah bulat di atasnya seakan sedang menunggu seorang tamu, bukan melainkan orang yang menyusup ke dalam kastil. Rambutnya yang putih dan jubbah kebesaranya menandakan bahwa ia seorang pemilik kastil itu, bibirnya tersungging tatkala mereka telah memasuki areanya.


Beberapa orang penyusup itu berjalan sangat hati-hati, ruangan yang gelap membuat mereka sedikit leluasa


dan tenang, mereka memberi isyarat menutup kembali pintu yang bereka buka, saat mereka memijakan kaki dan menutup pintu kastil itu mereka di kejutkan dengan sabutan seseorang.


“selamat datang di kasil Herlac,” ucapnya membuat para penyusup itu terjerembab kaget,


Tlak,


Seketika rungan itu menjadi terang dengan penerangan lilin, orang berbicara itu tersungging lalu beranjak dari duduknya, terlihat para penyusup itu was-was akan pergerakan selanjutnya.


Sang pemilik kastil itu tersenyum tipis namun menakutkan, membuat siapa saja bergidik neri “selamat datang di kastil Herlac para tamu tak di undang, kalian membawa pesan untuk ku bukan,” ucapnya tenang namun membuat para penyusup itu kaku, ya merka tampa sadar telah terkena lingkaran sihir, tempat mereka pijaki terdapat lingkaran sihir, mereka berusaha menggerakkan badannya namun tak bisa,


Pemilik kastil itu tersenyum devilnya, “ayo, mau beri tahu atau menukarnya dengan nyawa kalian,” uapnya tenang, terlihat mereka mengeluarkan peluh sebesar biji jagung. “sial, baru saja di mulai sudah terjebak disini,” gerutu mereka memaki diri mereka dengan kesal. Tak ada yang menjawab dari perkataannya. Pemilik kastil itu membalikan badannya, “bodoh,” ucapnya dan, Tlak.


PYASS !


Seketika para penyusup itu hancur bagai butiran debu, hanya dengan menjentikkan tangannya. “membosankan, hanya main-main, ku kira akan ada hal mengejutkan, ternyata hanya segerombolan orang-orang bodoh saja, ah, ini membuatku kecewa,” ucapnya sembari duduk di kursi kebesaranya,


Ia memejamkan matanya, terlihat ia mengkerutkan keningnya, sembari berguman,


“mereka telah bertindak, sebentar lagi permainan akan usai, kutukan akan terpecahkan, dan kebenaran akan terungkap, namun sayang boneka itu mati dan sekarang bonekah ku yang satunya tak memiliki pasangan oh tidak, aku sangat bersedih tentang hal itu,” ucapnya dengan mimic wajah memelas “sekarang bagaimana dengan bonekah cantik ku, aku ingin melihatnya sekarang,” ia kembali memejamkan kedua matanya dan terlihat della yang di sekap oleh Mo Yan, “cih merepotkan saja orang itu, penganggu bonekah ku saja, berani-beraninya dia mau mengambilnya dari ku, Mo Yan kau harus di beri hukuman,” ucapnya masih  dalam memejamkan mata.


Lalu terlihat lagi della yang mencoba melarikan diri, “oh, bonekahku ingin kabur, aku bantuin lepas talinya


oke,” ucapnya lalu melepaskan sihir di ikatan tali milik della, ia tersenyum tat kala della telah berhasil melepaskan ikatannya dan kabur, ia terus melihat della yang terus berlari, dan hingga ia terjatuh ke dalam sungai, “oh, bonekah ku terjatuh, kau jangan pergi..” suaranya terdengar sangat pilu namun kalian tahu bahwa suara itu di buat seakan ia sangat merasa sedih, tapi kenyataanya ia sangatlah senang, “kau, jangan mati dulu,, kau harus hidup agar aku mendapatkan jantung sihir itu dan..”


“Tuan,” seketika pengelihatanya buyar saat seseorang memanggilnya, “aghhhh ! penganggu !,” umpatanya sembari


menyibak jubah kebesarannya dengan marah. “ada apa menganggu ku ! cepat katakan !” teriaknya dengan marah karena ketenaganya di ganggu.


“Situa dan Wuyu telah berhasil mencegah wabah yang anda sebar, mereka berhasil mematahkan lingkaan sihir itu


Tuan,” laporny dengan menunduk


“ah !! tak berguna ! kalian tidak berguna ! bagaimana bisa merka mematahkan lingkaran sihir ku !” ucapnya sembari


berteriak marah,


“ahhhh ! kutukan itu ! lelaki sialan itu berhasil mematahkan kutukan ku ! agghhh ! sial !!” ucapnya masih


dengan intonasi tinggi, “ha ha ha ha, taka pa itu tak apa, karena masih ada kutukan Erlac ! bonekah ku kau yang harus memecahkan kutukan itu agar jantung sihir menjadi milik ku ! aku akan menguasai dunia ini ha ha ha ha ha ha,” tawanya menggelegar “kau selamatkan bonekah ku, aku akan sangat senang, jantung sihirku dia mempunyai jantung sihir, ayo bawa dia kepada ku,” ucapnya sangat senang.


“baik Tuan ku,” ia bergegas pergi di mana della berada.


****


Jika kesempatan hidup itu datang aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, akan aku buat hidupku sebaik


Tubuh itu terus terperosot ke dasar sungai, ia sungguh tak mengira jika sungai itu dalam tak berpangkal,


matanya mulai mengkabur dan paru-parunya penuh terisi oleh air sungai, tubuhnya sudah lemas tak bertenaga, iya. rasa Ini seperti saat ia terjatuh ke lautan, kelam, sunyi, ia sudah tak lagi mempunyai pemikiran bukan, bukan tak mempunyai pemikiran akan tetapi sudah buntu untuk bagaimana lagi, hingga akhirnya pandanganya semakin memburam dan kemudian.


Gelap.


Sementara itu, di sisi lain tempat itu berada Situa dan kakek wuyu mereka telah sigap dengan sihir merka,


benar. Mereka sat ini sedang perang sihir dengan murid yang berambisi itu, terlihat disana telah banyak memakan korban, darah yang bersimbah bagai air bak di siram dengan sengaja, puing-puing rumah yang berserakan bagai di sapu oleh terjangan angin topan, tempat yang porak-poranda bagai sunami yang menerjang, kalian tentu tahu bagaimana tempat itu sekarang hanjur lebur !


Situa berdiri dengan baj yang sudah compang-camping, tak kalah juga kakek wuyu yang membawa pedang di tangan kanannya, goresan-goresan tampak menghiasi tubuh mereka. Sementara orang yang berdiri tak terlalu jauh di hadapan mereka tak kalah mengenaskan, baju yang sudah robek-robek, darah yang keluar dari luka di tubuhnya seakan tak terasa sakit dan perih barang tak mengganggunya sedikit pun.


Nafas mereka memburu, tatapan mereka tajam bagai parang yang baru di asah. “sudah ku katakan aku tak akan


mundur sampai darah titik penghabisan !” ucap murid yang berambisi itu, “kalian menyerahlah, kalian tak akan mampu mengalahkan ku,” ucapnya sembari tertawa sinis.


“Mo Yan, kau harus ingat batasan mu,” teriak kakek wuyu yang terlihat menarik nafas karena memendam marahnya


itu. Mo yan mendengus tatkala mendengar tuturan dari kakek wuyu “batasan ? batasan apa yang kau maksud hah ? batasan bahawa aku ini hanya manusia biasa dan tidak bisa apa-apa ?” ucapnya yang sembari mengeratkan kepalan di tangannya.


“Mo Yan !,” teriak kakek wuyu yang sudah tak tahan menahan amarahnya. Sedangkan Mo Yan hanya terkekeh, “Wuyu, Wuyu, kau itu naïf sekali, aku kasihan dengan dirimu yang sekarang, berkelana dan hanya menjual obat-obatan ke kota, seharusnya kau itu menjadi ketua perguruan pengobatan di kastil  Herlac,” cerocosnya Mo Yan sembari terkekeh melihat kemarahan Wuyu.


Aura kakek wuyu sudah hampir ke ubun-ubun, namun dengan cepat Situa menahan amarah Kakek wuyu, sehinga ia tidak kelepasan akan amarah, “kendalikan dirimu ! apa kau ingin mati di dengan diri mu sendiri !” ucapya sarkas, dan itu mampu sedikit meredakan amarah kakek wuyu. Sedangkan Mo Yan ia semakin terkekeh di buatnya.


“Yo, kalian memang masih seperti dulu, dua sahabat yang saling membantu, cih. Memuakan mata,” ucapnya berdecih melihat situa yang meredakan amarah kakek wuyu. “Mo Yan,” panggil situa lembut, “kembalilah, kita bisa selesikan ini dengan cara baik-baik, dan tak harus saling melukai,” jelasnya mencoba meredakan suasana yang sengit itu.


“bicarakan baik-baik ? tak saling melukai ?” tannyanya sembari mengangkat sebelah alisnya, “heh, kau lucu Situa,


kau Lucu,” ia melangkahkan kakinya mendekat, sedangkan situa dan kakek wuyu diam-diam mereka telah siaga dengan sihir mereka. Dan tampa mereka sadari pergerakan mereka terbaca oleh Mo Yan, ia terhenti dua meter di depan mereka sembari tersenyum kecut.


“kau bilang bicara baik-baik ? tapi kalian pengecut ! bukankah kalian sendiri yang was-was kepada ku,” ucapnya


mampu mebuat situa dan kakek wuyu terkejut dan seketika menyimpan sihir mereka kembali. Terlihat mo yan tersenyum pahit saat mereka menyimpan sihirnya kembali, ada rasa tak suka dan ada rasa sedikit sakit ketika mereka menimpan sihirnnya kembali dan ketika ia tak diam, ia mengepalkan tanyannya di belakan badan. Situa mengambil nafanya lalu mendekat kearah mo yan, ia berhenti di jarak satu meter. Situa menjulurkan tanganya dan metatap Mo Yan.


“bagaimana dengan kesepakatan, Fino Baskara,”


Seketika mata Mo Yan Terkejut, saat situa menyebut nama aslinya itu. “kembalilah di jalan yang benar, dan kita


bangun kembali Kastil Herlac bersama,” ucap situa masih menggantungkan tangannya kepada Mo Yan. Terlihat mohan memjamkan matanya sejenak, wajahnya sedikit mengelak akan ajakan Situa, “mustahil,” ucapnya sembari tersenyum


kecut.


Situa menurunkan tangannya, “apa kau tidak rindu dengan Anak kesayangan mu dan keluarga mu ?” Tanya situa dengan sendu melihat salah satu sahabatnya itu. ya dia adalah salah satu sahabatnya sewaktu masih menjadi seorang pengabdi, dia adalah jiwa yang datang dari dunia yang sama dengan Della, awal mereka bertemu ialah ketika Situa berada di danau kehidupan tampa sengaja ia menemukan orang tenggelam disana, dan itu ialah Fino


Baskara yang menempati tubuh Mo Yan semenjak saat itu situa membantu Mo Yan beradaptasi dengan dunia yang baru ia tempati, mereka masuk terpilih menjadi murid guru mereka saat pelelangan murid. namun suatu tragedy menimpa kastil herac dan jadilah mereka seperti ini, kesalah pahaman akan sesuatu yang memuncak membuat persahabatan mereka retak.


Situa tahu bagaimana seluk beuk sahabtanya itu begitu juga Mo Yan, dia juga menceritakan dunia moderen yang


belum pernah Situa tahu, gedung yang megah permainan sepak bola, lapangan glof yang luas, pesawat terbang, computer dan sebagainya.


Mo Yan terdiam mendengar kata-kata situa, “bukankah kau rindu dengan anak mu ? putri semta wayang mu ?,


aku telah menemukan keberadaanya dan tahu cara bagaimana agar kalian bisa bertemu,” seketika Mo Yan terbelalak dengan perkataan situa, ia menatap situa dengan tatapan nanar.


“pembohong,” ucapnya tak percaya serta tatapanya nanar.


“kau tahu siapa diriku Mo Yan, aku tak pernah mengingkari janjiku,” kata situa dengan sendu, dia berharap


sahabatnya itu kembali kejalan yang benar dan peselisihan antara mereka terselesaikan. Jujur saja situa merindukan sosok sahabtnya itu, ia tak mau bila sahabatya itu hancur karena seorang penyihir Hitam itu.


“cih, berikan liontin bintang kepadaku, aku baru akan perceya kepadamu,” seingainya kepad situa.


“kau masih tetap saja terbobsesi dengan keinginan mu itu Mo Yan, sadarlah sebenarna ia hanya mengelabui mu, dan memecahkan kita semua, dia hanya memanfaatkan mu” jelasnya sembari mendekat namun,


Brak !


“Mo Yan !,” teriak kakek wuyu karena terkejut dengan tindakan Mo Yan yang menyerang sengaja.


Sita terhempas karena Mo Yan menggunkan kekuatannya, situa batuk darah dan memegang dadanya yang terasa


pereih itu. situa meberi isyarat ke kake wuyu dengan tangannya. “Kau tahu Mo Yan, putrimu sebenarnya ada di sini, dia ada disini,” ucapnya sembari beranjak berdiri,


“jangan asal bicara kau !” ucapnya meraih kerah baju situa, maanya nyalang.


Sementara itu di tempat lain,matanya mengerjap, ia mendengar seseorang berbicara sendiri, matanya mulai


jelas menetatap orang yang membuknginya itu sembari membakar beberapa ikan bakar.


“ugh,” keluhnya sembari memegang kepalanya yang terasa pening itu. “kau sudah sadar ?,” suaranya lelmbut lalu


mendekat  ketika mendengar perkerakan della. Ia membantu della duduk dan bersandar di batu. Della melihat sekeliling keningna mengkerut karena asing dengan keadaan sekitar.


Wanita itu tersenyum lembut menatap della, wajahnya yang cantik menambah kecantikan bagai dewi yang turun


ke bumi. “ini di goa, ak melihatmu tenggelam jadi aku bawa kau kesini,” jelasnya yang tahu dengan eksprsi della. “ini makanlah dulu,kau pasti lapar,” sembari memberikan ikan bakar beralaskan daun pisang serta air putih bergelas bambu.


Della meraih gelas bamboo dan meminumnya, lalu ia memakan ikan yang di sediakan kepadanya itu, ia sadar jika


ia belm makan sendari di bekap oleh penculik itu. ia memakanya dengan lahap sedangkan wanita itu tersenyum melihat della memakan dengan begitu lahapnya.


Della menoleh karena merasa di perhatikan sendari tadi, “apa ada yang salang dengan ku ?” tannyanya sembari


menghentikan makanannya. Wanita itu hanya menggeleng pelan, “tidak ada, kau habiskan dulu makanan mu jika kurang kau bisa nambah lagi, aku memasak empat ekor ikan besar,” ucapnya lalu membalik ikan pangangnya di api unggun.


Della melihat arah api unggun itu yang terdapt empat ikan yang lumayan besar disana sedang di bakar, della


menelan ikan dalam mulutnya. “apa aku terliha sangat kelaparan ?” ucapna dalam batin lalu melihat ke daun pisang di tangannya, benar saja kini ikan bakar di depnya itu sudah ludes, tampa ia sadari ia sudah makan dua iakan bakar yang lumayan besar, “heh, ternyata aku selapar itu,” gumamnya sembari tersenyum kikuk.