MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Jalan jalan



Brukk!!


Della merebahkan diri di kasur.


"Beraninya dia mengambil ciumanku, ceroboh ceroboh,"


Ahh... rasanya inginku cincang orang itu telah berani menciumiku tiba-tiba. Lihat saja sampai dia muncul dihadapan ku, habis kau Junjie sialan !


Della duduk rambutnya sedikit acak acakan. Sekelebat pikirannya teringat Andika dan Shella, mereka bermain api di belakangnya.


Masih tak ku sangka Shella kamu teman dekatku tapi kau menikung pacarku dan kau Andika, beraninya kau mempermainkan perasanku.


Bermain Api bersama teman dekatku disaat kau masih menjadi pacarku !. Kalian sungguh serasi sekai bermain api di belakangku. hah, aku masih tak terima.


Ahh. Kenapa harus mengingat kejadian itu. Ayo move on Della ingat mereka telah berkhianat kepadamu.


Sambil mengacak rambutnya. "Lupakan dia lupakan mereka !, Sekarang fokus bagaimana aku harus kembali,"


"Nona" Neri sembari masuk kedalam. "Nona sudah bangun ? Kenapa nona memakai baju seperti itu sepagi ini. Apa nona mau latihan ?


Della menatap arah pintu lalu melihat bajunya.


Ah. Sial aku belum mengganti pakaianku.


"Tidak hanya mencobanya saja," ujarnya dengan malas.


"Apa nona akan berlatih dengan tuan muda Zian Atau tuan muda Zixin ?,"


Della mengerutkan kedua alisnya. Boro-boro latihan bersama, melihatnya saja ingin ku tamplek wajahnya. Aku masih marah padanya mana mungkin aku mau menemuinya.


"Tidak, malas sekali melihat wajah mereka,"


"Ku lihat tadi tuan muda Zian dan tuan muda Zixin menyiapkan tempat latihan. Ku kira anda akan berlatih bersama sama dengan tuan muda,"


Della mengerutkan alisnya.


menyiapkan area ? Apa akan ada tanding ? Ah terserah aku tak peduli. Aku ingin keluar dari rumah ini. Aku ingin jalan jalan...


"Neri."


"iya nona."


"Temani keluar yuk, bosen nih,"


"Tapi nona anda tidak boleh keluar," Ujarnya membuat kecewa.


"Kita keluar diam diam," Sahutnya.


"Tapi nona. Tuan akan bertanya kepadaku,"


"ya udah kamu jangan kasih tau. Maka mereka tidak akan tahu"


"Ta tapi.."


"Hais, udah diam jangan beri tahu siapapun,


Agkk.. orang ini kenapa sedikit penakut. Tinggal tidak mengatakannya saja bereskan.


"Sudah pokonya kamu ikut aku," Della berdiri membuka lemari mengambil baju.


"Pakai ini" melemparkan ke Neri.


"Ini pakaian lelaki ?"


"Pakai itu kita akan menyamar keluar,"


“Baik nona,”


Neri dan Della bergegas mengganti pakaiannya.


"Bagaimana ?," Della memutar badannya.


"Wah.. anda terlihat seperti tuan Zian dan tuan Zixin, tapi terlihat lebih cantik," ujarnya.


Seketika ekspresi Della mengkerut. Kenapa harus mirip mereka sihhh... apa tidak ada yang lainnya gitu.


"Apa begitu mirip ?"


Neri mengangguk segera Della menghampiri kaca. Ah. benar dilihat lihat memang mirip juga. Ah. Aku punya ide. Della mengambil mak-up ia merias wajahnya.


Beberapa menit kemudian.


"Bagaimana menurutmu ?," sembari membalikkan badan.


"wah.. Nona..anda..terlihat seperti lelaki cantik"


Della tersenyum.


"Sudah tak mirip mereka lagi kan ?,"


Neri mengangguk pelan


"Ya…hanya sedikit berbeda, tapi masih tetap mirip,"


Seketika Della membuang nafas kasar. Apa maksudmu itu, sedikit berbeda tapi masih mirip lalu apa bedanya itu ?? Ah. sepertinya tidak bisa dirubah deh.


"Sudahlah, ayo berangkat," Della menarik tangan Neri mereka keluar mengendap-ngendap lewat pintu belakang.


"Akhirnya...." Della tersenyum lega.


"Nona.. apa tidak apa apa begini ?," Neri mulai khawatir.


"Tenanglah, tidak akan ada yang mengenali kita. Ayo kita lihat lihat harta karun.." berjalan mendahului.


Dipusat kota orang berlalu lalang. pedagang kaki lima berjejer, ruko ruko penuh dengan orang.


Della berjalan mengingat ruko penjual kain waktu itu kakinya terhenti saat apa yang ia cari ketemu.


"Nona. kenapa anda kesini lagi ?,"


"Diamlah kamu hanya perlu mengikuti ku saja," titah Della dan berjalan masuk ke ruko kain itu. Para pelayan wanita terkesima melihat Della masuk ke ruko mereka.


"Tuan.. ada yang bisa saya bantu ?," Sambut pekerja wanita itu dengan wajah terkesima.


Kenapa mereka begitu memperhatikanku.


"Aku hanya ingin melihat lihat dulu apa boleh ?," Ujar Della.


"Te.tentu saja Tuan.. silahkan..kami akan menemani tuan sambil memilih kain,"


Aduh. Sebenarnya kenapa sih wanita wanita ini, risi tauk dengan tatapan mereka. Mengerikan.


"Tidak usah aku bisa sendiri," Della beralih meninggalkan para pekerja itu ia sibuk melihat kain.


Neri yang mengikutinya mulai tidak nyaman. "Nona..apa kau tak merasa aneh ? Lihatlah mereka mengamati kita.. terus menerus"


"Abaikan saja," Della masih memilih memilah kain. Ia sudah terbiasa dengan para orang yang mengamatinya.


Dirinya teringat sebelum terlempar kesini. Ia selalu menjadi sorotan publik, jadi Della menghadapi ini masalah kecil buatnya. namun berbeda dengan Neri yang berasal dari jaman bahulak ini.


Aku mengerti Neri kamu pasti sangat tidak nyaman dengan tatapan mereka.


"Sudahlah biarkan saja jangan terlalu di pikirkan. Ayo pergi," setelah memilah beberapa kain akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan.


mereka pergi meninggalkan ruko kain itu. Di setiap perjalanan mereka tak pernah lepas dari sorotan mata orang terutama para wanita.


Della berjalan tanpa menghiraukan mereka sedang kan neri ia sedikit tak tenang dengan tatapan mereka. Yah walaupun bukan ia yang di tatap melainkan tuannya, namun itu sama saja


tiba tiba Della terhenti.


"Neri,"


"Iya nona,"


"Belum nona, ada apa ?," Tanyanya selidik.


"Ayo kesana," Seketika mata Neri terbelalak.


"Nona," Della menggeret Neri tampa membiarkan Neri menolak.


Rumah wangi adalah tempat dimana para pria melepaskan hasrat bejatnya dengan para wanita penghuni rumah wangi yang dengan suka rela menyerahkan dirinya untuk pelampiasan hasrat.


"Nona jangan kesitu itu tempat yang tidak pantas di masuki.." Neri berusaha mengingatkan tuanya namun sayang ia tak bisa berkutik ketika Della menyeretnya.


Oh Dewaaa... tolonglah hamba dan nona hamba....


Della memasuki tempat itu. baru saja ia melangkahkan kaki ia sudah di sambut oleh seorang wanita.


Ah benar benar mereka berpakaian seperti tak berpakaian, seperti kekurangan bahan, dan ah ! Pakaian model apa itu, kenapa buruk sekali ?, Sekali tarik saja sudah lepas tuh baju.


Soro mata para wanita disana langsung tertuju pada Della. Mereka seperti mendapatkan sebuah emas dan al hasil mereka langsung mendatangi Della dan Neri.


"Tuan...anda tampan sekali,"


"Tuan..kemarilah biar aku yang menemani anda.."


Ah. Benar-benar. Mereka.


Bagaimana aku mau menggambarkan mereka. Kalian pasti tau sendiri tempat apa ini. Pikirkan sendiri.


"Dimana bos kalian ?," Della sembari menyingkirkan beberapa tangan yang menggelayuti nya..


Tak lama seorang wanita yang lumayan berumur dengan dandanan dikatakan sedikit menor menghampiri mereka.


"Kalian, pergilah cepat layani para tamu lainya," wanita itu memerintah dan seketika para wanita yang menggelayut itu meninggalkan dengan kecewa dan sedikit jengkel mereka menggerutu tak rela.


"Maafkan Tuan. Tuan tuan sepertinya anda pendatang baru,"


"Benar, siapkan kami satu bilik kamar,"


wanita itu tersenyum.


"Baiklah tuan mari ikuti saya,"


wanita itu mengantarkan mereka ke bilik yang mereka pesan.


"Silahkan tuan tuan. Ini bilik kamar yang anda pesan dan kami akan memberikan sebuah bonus kepada Tuan tuan sebagai pelanggan baru keluarlah," tak lama dua wanita yang lumayan cantik mendekat.


"Ini adalah Yulin dan Xian mereka akan menemani anda,"


Della mengerutkan keningnya, sedangkan Neri wajahnya tak bisa terbaca campur aduk.


"Maaf nyonya kami tidak membutuhkannya saat ini. Kami hanya ingin minum disini maka antar kan minum saja," Della memasuki bilik kamar yang sudah di pesan meninggalkan para wanita wanita itu.


Della duduk di kursi di ikuti Neri yang wajahnya sudah mulai campur aduk.


"Nona kenapa kita masuk ketempat ini ?," Ujarnya dengan wajah sudah tak nyaman.


"Penasaran saja,"


Tak lama seorang wanita masuk ke bilik mereka dengan membawa pesanan. Wanita itu menaruh dimeja dengan gaya centilnya sembari melirik Della mencari perhatian.


Della diam tak menggubris. Pikirannya terfokus pada pakaian wanita itu.


Baju yang mereka kenakan panjang. namun tidak di bagian atas memamerkan belahan dada atas dan terekspos begitu saja, dan belahan kain bawahnya sampai ke paha mungkin sekali tarik saja baju atas itu sudah tidak berada di tempatnya.


Pantas saja para lelaki betah dirumah seperti ini.


Wanita yang di perhatikan Della menjadi tambah centil dan semakin menunduk memperlihatkan kedua belahan dadanya semakin terlihat.


Ah. Sepertinya jika mendesain lingerie disini bakal untung banyak dan tentunya tidak seribet itu. ha ha ha ha. (Pikiran jahat tidak untuk ditiru)


"Emt..tuan.." wanita itu bergelayut malu dan manja memudarkan lamunan Della.


"Keluarlah kami tidak ingin di ganggu,"


Wanita itu terlihat kecewa ia sembari keluar dan menatap ulang Della dengan wajah mengiba. Namun sayang Della masih normal ia tak menggubris wanita itu.


Della mengambil gelas yang sudah berisi itu.


"Nona. jangan." Della melirik ke Neri. "Tenang saja aku tidak akan meminumnya,"


"Nona kita pulang saja ya.." Pinta Neri.


Della tersenyum.


"Ah sebenarnya aku hanya ingin mencari inspirasi saja disini," Ujar Della membuat Neri penasaran.


"Inspirasi ?"


"Iya, aku pikir jika aku merancang sebuah Lingerie pasti akan untuk banyak disini,"


Neri tak paham dengan perkataan Della


"Li.Ling erie ? Apa itu nona ?,"


Della tertawa melihat kepolosan Neri. ah. Ia tak mengerti Lingerie.


"Lingerie sejenis baju tidur yang sangat spesial. apa kamu mau coba ?,"


"Baju tidur ? Sepesial ?"


"Iya itu sangat nyaman dipakai apa kau mau coba ?, Aku bisa membuatkanya padamu,"


"Benarkah ?,"


"Iya" dalam hati Della tertawa terbahak bahak mengerjai Neri. Oh Neri Neri kamu terlalu polos. Aku tidak bisa membayangkan ekspresimu jika tahu apa itu Lingerie.


"Akan aku buatkan saat kamu menikah nanti, sebagai hadiah pernikahanmu," ujarnya.


"Kenapa harus sampai menikah dulu ?," Tanya Neri mampu membuat Della ingin tertawa.


"Ya, itu akan lebih bermanfaat jika dipakai dihadapan suami,"


"Kenap begitu ?, Bukankah baju tidur bisa dipakai setiap hari ?,"


"Ini baju yang berbeda, Sudahlah kau akan tahu setelah menikah nanti, dan.." belum sempat ia menuntaskan kalimatnya namun terhenti karena terganggu dari ruang sebelah.


"Brukk"


"Suara apa itu nona ?," Neri berdiri


"Sepertinya dari ruang sebelah,"


"Ah..!!,"


“Hah, Tu.tuann. pel..lan, !,” Terdengar samar samar namun jelas dari ruang sebelah.


"Nona," Neri menutup mulutnya ekspresi wajahnya terkejut.


"I itu.."


Della paham dengan apa yang mereka dengar. ya suara laknat orang bergulat ranjang.


“Jang…an..Ah. pelan ! Ahhh,”


Muka mereka terlihat memerah. AH. Sungguh sial kenapa harus mendengar hal seperi ini !.


Della menghelai nafas kasar ia beranjak dari duduknya. Seketika moodnya rusak. Suara laknat itu mengingatkan tentang penghianatan sahabatnya.


"**** !, Kenapa harus begini,"


"Ayo pergi. Disini terlalu bising," Ujarnya berlalu pergi dan Neri segera mengikuti Della keluar.