MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Episode 95



pangeran ke tujuh melirik ke arah junjie dan tersenyum devil.


Kita lihat saja, bagaimana kau akan menolak perintahku dan berkerja sama denganku, kau tak akan bisa lari dari genggamanku Junjie. ucap pangeran ke tujuh dalam batin.


"maaf jendral weizhe telah mengundang kalian secara mendadak," ucap pangeran ke tujuh.


"tak apa pangeran, mohon maaf atas ketidak nyamanan anda," jawab jendral weizhe, sedangkan Junjie masih diam tak menjawab ataupun menyahut.


"langsung saja jendral, sebenarnya aku memanggil kalian karena titiah sang Raja," Ucap pangeran ke tujuh sembari mengisyaratkan bawahanya untuk memberikan gulungan surat untuk mereka [Junjie dan jendral Weizhe]. Jendral Weizhe mengambil surat yang di berikan kepadanya.Ia mulai membuka lalu membacanya dalam hati.


"Raja menitahkan agar Jendral Junjie khusus membantu hamba untuk mengikuti hamba selama peperangan disini maupun di peperangan dengan kerajaan Sangu dan juga menitahkan anda agar memimpin pasukan perang di sebelah barat laut perbatasa kerajaan Han dan kerajaan grungu." ucap pangeran ke tujuh menjelaskan.


Jendral Weizhe menatap Junjie, ada kilatan amarah dimata ananya itu. Junjie mengepalkan kedua tanganya di bawah meja.


Licik sekali kau pangeran ke tujuh, menikam dengan titah Raja ! aku terlalu memberi luang kepada mu ! seharusnya aku membereskamu. ucap Junjie dalam hati.


"titah saya terima," ucap junjie dingin matanya menyorot tajam ke arah pangeran Ketujuh. pangeran ke tujuh tersenyum devil lalu ia meminum teh yyangberada di tangannya.


"Titah hamba terima paneran," ucap jendral Weizhe.


"akan ku sampaikan kepada raja, kalian menyetujui titah raja," sahut pangeran ke tujuh.


"baiklah pangeran, ijinkanlah kami undur diri" ucap jendral weize kemudian mereka memberi hormat dan pangeran mengangguktanda persetujuan lalu mereka berlalu pergi.


paneran ke tujuh melihat kepergian mereka.


"Qiu," panggil pangeran ke tujuh kepada yang menyadari kedatangan bawahanya, seketika bawahanya munjul tepat di sampingnya.


"hamba pangeran," ucapnya sembari membungkuk memberi hormat.


"informasi apa yang kau dapatkan ?"


"lapor pangeran, wanita yang berada di tenda jendral Junjie adalah Nona Lingxiu, putri dari kediaman Zhu dan rumor yang beredar mereka telah menikah beberapa bulan terakhir," jelasnya sembari menunduk.


"SIAL !" umpat pangeran ke tujuh sembari mengepalkan tanganya kuat. "bagaimana mereka bisa menikah ! seharusnya dia menjadi target ku dan harus menikah denganku ! sihirmu adalah milikku, nyawamu adalah milikku ! SIAL, KAU ******** JUNJIE MENGAMBIL YANG HARUS MENJADI MILIKKU !" ucap pangeran ketujuh dengan marah, ia mengobrak abrik barang yang berada di depannya.


"aghhh ! Sialan ! Lihat saja aku akan merebut Lingxiu darimu dan dia akan menjadi miliku seorang. hahaha ! hanya milikku seorang ! milikku seorang ! QIU !" Teriak pangeran ke tujuh memangil bawahanya.


"hamba pangeran,"


"Awasi terus gerak-gerik wanitaku itu, laporkan setiap apa yang di kerjakanya ! cepat !"


"laksanakan pangeran," ucap Qiu dan berlalu pergi


saat mereka sudah keluar, saat sudah jauh dari tenda pangeran ke tujuh, Jendal Weizhe terhenti sejenank. "Tunggu Jun," henti jendral Weizhe kepada anaknya. Junjie terhenti,


"kau, Ada perseteruan apa dengan pangeran ketujuh." ucap jendral yang menyadari jika anaknya itu tidak begitu suka dengan pangeran ke tujuh, namun ia tak tahu alasan di baliknya itu.


"Ayah, masalah seperti ini tak baik di bicarakan di umum. kita bicaar di tenda ku" ucap junjie ampa membalikan badannya, lalu melangkahkan kakinya pergi menuju tendanya.


sedangkan jendral Weizhe mengikutinya.


Anak ini,, sikapnya berubah setelah kecelakaan itu, aku bahkan tak mengerti jalan pikirannya. ia semakin jauh tak tergapai.


Junjie memasuki tendanya dan terlihat Della yang duduk di kursi sembari melipat kedua tagannya. Junjie erdiam sejenak. "apa yang dia lakukan ? bukankah dia sudah tidur ?" ucapnya dalam batin.


"katakan,." uacp jendral weizhe sembari masuk dan kemudian terhenti melihat menantunya duduk di di kursi sembari menyilangkan tanganya.


"Kenapa dia bisa disini," ucapnya sembari menatap sekilas ke arah Junjie dan Della meminta jawaban.


"Ayah.." Ucap Della sembari berdiri menghampiri jendral Weihe.


"kau, bagaimana bisa kau sampai kesini ? disini berbahaya," ucap jendral weizhe sedikit panik.


"Ayah tenang saja, aku baik-baik saja," jawab della, "ayo ayah duduklah dulu"


"tidak menantu, ayah hanya sebentar disini,"


"kau, jangan begitu, Hormatilah orang tua," sahut Della sembari melototi Junjie.


"dia berkata benar, ayah hanya sebentar disini.


"Baiklah,," jawab Della


Junjie mengambil nafas lalu membuangnya kasar. mereka [Jendral WeiZhe dan Dela] menleh ke arah Junjie.


"Katakan," ucap jendal weizhe yang tiba-tiba serius. suasana menjadi dingin.


"sudah ku katakan dan ayah juga sudah tau, siapa pangeran ke tujuh itu, dia hanya ingin memanfaatkan, untuk merebut tahta. aku tidak tertarik dengan hal seperti itu."


"Tapi bukankah itu hanya rumor, pangeran ke tujuh bagiaman mungkin bisa melakukannya dengan kondisi yang seperti itu" ucap jendral weizhe.


"Dia bermuka dua, ayah seharusnya lebih mengerti kehidupan dalam kerajaan. tapi entah apa ang membutakan mata ayah," ucap junjie dengan kata yang sedikit ambigu dan di paksakan.


della mengangkat sebelah alisnya. Apa yang dia ucapkan, kata-katanya seperti di paksakan. Batinya.


suasana sunyi tak da yang berbicara.


lima menit kemudian.


Della menepuk jidadnya. aku sebal dengan suasana seperti ini. ternyata mereka mempunyai masalah tempramental yang sama.


"Baiklah jika begitu, berhati-hatilah." ucap jendral weizhe tiba-tiba dan berlalu pergi.


Junjie masih terdiam. della mendekatinya. aneh, sepertinya hubungan mereka tak begitu akrab. ucap della dalam hati.


"apa yang terjadi ?" ucapnya memandang kepergian jendal weizhe.


seketika Junjie merangkulnya dan menyandarkan kepalanya di celengkuk Della.


Della sedikit terkejut dengan Junjie yang tiba-tiba memeluknya.


"Ada apa ?" ucapnya kebingungan.


"sebentar saja, biarkan sebentar saja begini," ucap junjie masih diam memeluk Della. Ahh, aku nelangsa jika harus


begini. aku tak sanggup pergi jauh darimu. ucapnya dalam batin, dan menghirup dalam bau tubuh yang ia peluk. ku kira ini akan mudah tapi ini terlalu rumit. Junjie mengmbil nafas dalam lalu membangnya.


"Ayo kita akhiri semua ini dan pulang ke dunia kita"ucap junjie yang tiba-tiba melepaskan pelukanya dan menatap della.


"Caranya ?" tanya della heran.


"pedang erlac dan fire mereka kunci kita untuk kembali,"


"benarkah ? bagamana bisa kau tahu ?"


"kau terlalu kepo," ucapnya sembari tersenyum.


"aku serius, tuan muda adarsya."ucapnya menekan.


"aku juga serius Nona Desainer, tunggu aku menyelesaikan perang setelah itu kita fokus memecahkan kutukan mereka dan kita akan kembali,"


Della menaikan satu alisnya, "Baiklah, aku akan menunggu mu," "emt, dan aku mau berpamitan kepadamu, malam ini kami akan pulang,"


"pulang ?, malam ini ?" ucap junjie terkejut.


"benar, dan sekarang kakek wuyu dan situa telah menunggu, jadi aku pergi sekarang, bay-bay,," ucapnya sembari menepuk pundak junie beberapa kali. lalu melangkahkan kakinya namun baru beberapa langkah, ia terhenti dan badanya ke tarik ke belakang.


dan, cup.


junjie mengecup kening della. seketika ia terkejut dengan yang di lakukan junjie secara tiba-tiba.