
“penerus kecil, kenapa kau menangis ? hei, katakan sesuatu,” Tanya kakek Wuyu sembari duduk di samping della, della diam tak menjawab. Sungguh ia tak mampu membendung air matanya. ia terus menangis sesak sekali di dada, sesekali ia memukul dadanya yang sesak dan sakitnya tak tertahankan.
puk puk puk kakek Wuyu menepuk pundak Della, menenangkan si empu yang menangis tak kunjung reda. "cup..cup cup, berhentilah menangis ayo cerita kepada kakek, ada apa ?" ucapnya masih mencoba menenangkan Della. Della masih diam dan sesegukkan. ia tak tahu harus bagaimana ia tak sanggup bercerita sungguh !.
pangeran Fang qi mendekat, lalu duduk di samping Della dan memeluknya, "tenanglah, jangan bersedih ada kita disini" ucapnya pelan dan seketika Della tambah terisak di pelukan pangeran Fang Qi, "dia pergi.. dia pergi... hiks hiks " adu nya dalam tangis "kenapa.. kenapa !"
sembari memukul sembarang arah.
kakek Wuyu dan pangeran Fang Qi saling menatap, isyarat tanya, namun mereka saling kembali melontarkan tatapan tak tahu.
"untunglah, aku menemukanmu," ucap seseorang, membuat pangeran Fang Qi dan kakek Wuyu menoleh ke asal suara.
orang itu bergegas mendekat, ya. mereka adalah kakek wuyu dan Yuan Fu. terlihat wajah tanya kedua orang itu [kakek Wuyu dan pangeran Fang Qi] ketika melihat Yuan Fu.
dengan isyarat Yuan Fu meminta pangeran Fang Qi melepaskan pelukannya dan dengan segera ia melepaskannya, lalu Yuan Fu mengambil alih posisi Pangeran Fang Qi, ia memeluk erat dan menenangkan Della, menepuk pelan punggungnya dan sesekali mengusapnya lembut, menyalurkan kasih sayang layaknya seorang ibu.
"apa yang terjadi ?," tanya Kakek Wuyu kepada Situa, namun sayang pertanyaan itu tak disahutinya sedikit pun, Situa tetap diam Tampa mau berbicara. Kakek Wuyu beranjak kemudian menarik Situa sedikit menjauh dan tak lupa pangeran Fang Qi yang membuntuti.
"apa yang terjadi ? kenapa si penerus kecil menangis ?" tanya kakek Wuyu setengah berbisik dengan wajah yang begitu penasaran.
"dia baru mengetahui kalau suaminya meninggal," jawab Situa.
deg. jantung kakek wuyu berhenti sejenak. kemudian ia menarik nafasnya dalam. "jadi dia baru tahu ? kenapa kau tak memberi tahuku, Tua sialan, aku malah menyinggung masalah tadi." sembari memukul lengan Situa.
"bukankah kau juga sudah tahu, jenggot putih !, lalu apa kau singgung tadi !" sahutnya juga tak mau di salahkan ya mereka memang begitu.
sedangkan pangeran Fang Qi diam berfikir. jika baru tahu, berarti selama ini tidak ada yang memberi tahunya, lalu bagaimana bisa hal seperti ini tak segera di beri tahu ?, keluarga ? sahabat atau lainnya ? dan bagimana dia tidak tahu akan hal sepenting ini ?.
"bisakah kalian diam !" ya. itu perintah dari Yuan Fu, ia sedikit kesal dengan mereka yang malah ribut sendiri. mereka menoleh, dilihatnya Della yang tertidur di pelukan Yuan Fu. yah, sebenarnya Yuan Fu memberinya mantra ringan agar Della tertidur.
"pangeran, kau siapkan tempat untuk dia, dan kalian kesini, bantu ada hal yang harus aku bicarakan."
Sementara itu di kediaman Tuan Zhu, selimut duka masih terasa di sana, diruang tengah mereka berkumpul, semua terdiam saat lelaki tua duduk memimpin dengan sorot mata tajam, tangannya bersedekap. ya, dia adalah sosok ayah dari Nyonya Zhu seorang detektif kepercayaan raja.
hening..
"ayah,." ucap nyonya Zhu terhenti tatkala ayahnya mengangkat tangannya sebelah perintah akan diam. ia menghelai nafasnya pelan. "kenapa tak kau beri kabar kepada ku akan masalah ini ?, dan sebesar ini"
diam tak ada yang menjawab, dan tak ada yang berani menyela, karena tipikal ayahnya nyonya Zhu ini tidak suka bila sedang bicara di sela, ucapannya mutlak tak bisa di bantah.
"sesibuk apapun serepot apapun aku pasti akan membantu kalian, apa lagi menyangkut kedua cucu ku yang berharga !,"
semua masih diam tak ada yang berani menyela, seorang Kasim menghampiri lalu berbisik kepada ayahnya nyonya Zhu, terlihat ia menganggukkan kepalanya setelah itu Kasim itu pergi.
"Qiao Zhu, putriku kalian ikut aku ke sekarang," ucapnya sembari beranjak berdiri "dan kau," sembari menunjuk ke arah Quan Zhu, "kau Quan Zhu bukan ? seorang tabib ? pasti kau mengetahui beberapa macam obat, aku butuh kau ikut bersamaku juga," ucapnya lalu berbalik badan, namun baru beberapa langkah kakinya terhenti dan kembali membalikan badannya.
"Zian, kau pandai dalam berbisnis bukan ?" tanyanya lalu di angguk i oleh Zian.
"baik kakek," jawabnya lalu mereka beranjak pergi.
"toko obat baru ? kenapa kakek menyuruhku bekerjasama dengan toko obat ? memang siapa yang sakit ? apa kakek sakit ? tapi mana mungkin ? dia sehat bugar begitu dan jika sakit pasti sudah menggunakan tabib kerajaan, tapi ini tabib baru dan baru membuka toko di pasar pula, tapi masak Raja ? itu tambah tidak mungkin mana mungkin raja menggunakan tabib pasar dan lagi mana mungkin kakek sembarangan mencari tabib untuk raja di pasar emang mau beli jajanan pasar ? tapi aku sangat penasaran kenapa kakek harus mencari tabib baru itu," gumamnya Tampa titik koma sembari berjalan lalu berhenti sejenak.
"toko baru dan seorang tabib, pasti tabib itu sudah sangat tua dan sedikit menjengkelkan aku harus mencari strategi untuk memenangkannya ah aku punya ide koin emas pasti mereka akan tergiur dengan itu" gumamnya lalu segera pergi ke pasar mencari toko obat yang baru saja buka.
setelah beberapa waktu akhirnya ia sampai di pasar, hiruk Priuk orang memenuhi pasar dari yang sedang berbelanja pedagang yang membelanjakan dagangannya semua bercampur menjadi satu. Zian mengusap kepalanya yang pening melihat keadaan sekitar.
"bagaimana aku bisa menemukan toko obat itu ! baru saja sampai kepalaku pening dengan ocehan pedagang kaki lima akhh rasanya kepalaku mau pecah !" gerutunya.
"eh, lihat pemuda itu sangat tampan," bisik-bisik orang mulai terdengar di telinganya.
"benar sekali, dia sangat tampan tak kalah tampan dengan pemuda yang datang beberapa hari yang lalu,"
"benar sekali, bahkan menurutku dia lebih tampan dan manis, ah, dia tipeku sekali,"
"dia calon suamiku,"
"hei, enak saja dia itu calon suamiku, ngaku-ngaju saja kau itu,"
"eh ! apa kau bilang ? dia itu calon suamiku, dan hanya milik ku !"
keributan mulai terdengar dari beberapa wanita yang berkerumun melihat Zian yang sedikit kebingungan, gerah dan risih, masam dengan keadaan sekitar membuat Zian ingin meluap menceramahi orang-orang itu !.
sesekali Zian mempercepat langkahnya karena tak tahan dengan percakapan mereka yang menurutnya sangat risih. mendaku-daku sesukanya dan mengeklaim sesukanya !. emang Zian mau sama mereka ? ha ha ha tanyakan saja pada Zian.
🐨author: Zian.. pembaca pada tanya nih, emang Zian mau sama mereka yah ?"
Zian: Jangan macam-macam thur aku sudah punya tunangan dan tak peduli tentang mereka manusia-manusia berisik yang berbicara Tampa henti menggosipkan orang sesukanya jika thur mau atau pembaca mau sana ambil sana kalau aku ogah ya permisah sudah sana tur lanjut sana ketik ceritanya katanya mau tamat tapi awas kalo nggantungin siap-siap sehari menghadap kepadaku.
🐨 authur: (kabur tak kuat mendengar ucapan Zian Tampa titik koma seperti sepur Tampa lampu merah dan stasiun singgahan)
sedangkan Zian masih mencari toko obat itu, hingga akhirnya ia menemukanya, dirinya berdiri tak terlalu jauh dari toko tersebut. tempat yang bisa di bilangan sederhana berada di tempat yang tak terlalu ramai.
Zian memasuki toko tersebut,
"selamat datang tuan, anda mau berobat atau mencari obat ?" sambut seorang di sana.
"saya mencari pemilik toko ini, ada hal penting yang akan saya bahas, bisakah saya bertemu dengannya," tuturnya memberi tahu.
"tentu saja bisa, kebetulan saya pemilik toko ini, mari silahkan duduk," sambutnya lalu menghampiri Zian menyilahkannya duduk di kursi.
dia pemilik toko obat baru ini dan seorang tabib ? masih muda rupanya ku kira pemiliknya adalah seorang kakek-kakek "Perkenalkan saya Zhu Zian," sembari mengulurkan tangan.
"Huali," sahut ia sembari menjabat tangan Zian.