
Della mencoba melepaskan ikatan di tubuhnya, ia penuh tekat akan menemui Junjie, namun ada satu hal yang tak ia tahu, bahwa orang yang akan ia temui penuh tekat itu sudah tiada dan tekadnya itu tak akan pernah menemukan dirinya.
Setelah sekuat tenaga akhirnya ia bisa terlepas dari ikatan. “untung saja ikatan ini tidak menggunakan sihir,”
gumanya sembari meregakan badanya. Ia melihat sekeliling di sebelah kanan terdapat sebuah jendela, ia menghampiri jendela itu dan mengintip ke luar, memastikan jika pengamanan disana tidak ketat, dan benar saja di sana tidak ada seorang pun.
Bagus. Di sebelah sini tak ada penjaga. Aku harus segera pergi.
Ia membuka jendela itu dan
melompat keluar, ia tengok kanan kiri, terlihat di depan sana ada dua orang penjaga dan satu ekor anjing, setelah di pastikan aman ia segera berlari ke arah hutan dengan sembunyi-sembunyi. Ia terus berlari dari area tersebut dengan tertatih-tatih ia melangkahkan kakinya. Kenapa ia tidak menggunkan kekuatanya ? jawabanya karena sihir yang berada di dalam tubuhnya sengaja di segel oleh situa karena ia harus memecahkan kutukan dan segel itu akan terbuka jika kutukan itu terpecahkan tampa sihir.
Sudah seperti penjelasan di sebelumnya “pecahkan kutukannya maka kebenaran akan terungkap” dalam syarat pemecahan kutukan mereka harus menyegel kekuatan agar kutukan itu tidak menyerang berbalik ke pemecah kutukan.
Kita kembali ke cerita,
Della terus menyelusuri hutan itu, sudah begitu lama ia melarikan diri mungkin saat ini mereka tidak menyadari bahwa dirinya kabur, tapi tidak dengan esok hari atau sore nati, makanya ia harus pergi sejauh mungkin, agar ia tidak di temukan.
Della melewati pepohonan yang rindang dan semak-semak belukar, sepertinya ia masuk jauh ke dalam hutan.
sesekali ia terhenti mengusap peluh yang keluar yang telah memenuhi pelipisnya. Ia terhenti .
“huff,” ia membuang nafas lalu melihat sekeliling “sepertinya aku jauh masuk ke dalam hutan,” ia menyibak tanaman belukar yang menutupi jalanya. Berjam-jam ia menelusi hutan itu akhirnya ia terhenti di sebuah sungai yang jernih, seratus meter dari tempatnya terdapat air terjun yang tinggi, airnya sangat jernih dengan bebatuan di bawahnya menjadikanya sangat indah, della menyebrangi sungai yang arusnya tidak terlalu deras airnya jernih bahkan ikan-ikan yang berenang dapat terlihat oleh mata, ia memijaki batu-batu besar untuk menyebrang.
Setelah samapi di sebrang sungai ia di kejutkan dengan tempat yang ia pijaki, tempat itu terlihat sangat bersih dan terawat seperti ada yang mengurusnya, tak jauh dari sana ada pohon manga yang rindang yang berbuah rimbun. Della segera mendekati pohon itu dan meraih beberap buah mangga untuk ia makan, mengisi perutnya agar tubuhnya memiliki tenaga untuk pergi selanjutnya.
Setelah memakan beberapa buah ia meniti tempat tersebut, di lihatnya sebuah abu tak jauh darii tempatnya berada ia mendekat, “bekas bakaran, dan masih hangat, sepertinya ada yang singgah kesini sebumnya,” ia meniti ke sekeliling memastikan jika ada jejak manusia selain dirinya namun ia tidak menemukan siapapun.
Ia mendekat ke arah air terjun. Ia mencucui mukanya dengan air yang jernih itu. rasa segar langsung menyusuri
pori-pori yang mengeluarkan keringat, dan langsung merasuk membersihkan keringat yang menempel pada kulit, berapa kali ia membasuh muka.
“Sial ! bagaimana dia bisa kabur, dasar pengawal tak berguna !” terdengar suara dan langkah kaki yang mendekat,
sektika ia menyeburkan dirinya ke dalam air dan bersembunyi dibalik batu besar,
“cih, seharusnya ku paksa dia memberikan liontin itu ! tinggal sedikit lagi dan semuanya berantakan gara-gara
Situa Sialan !” umpat orang itu lalu melihat sekeliling. Ia meniti sekitar, lalu mengerutkan kedua alisnya.
“bukankah ini tempat singa gila itu ? gawat, aku harus segera pergi dari sini sebelum ketahuan,” terlihat wajahnya sedikit panic dan bergegas pergi.
Della muncul dari balik batu.
“apa maksud dari perkataannya ? singa gila ?” ia berenang ketepian namun saat mengijakkan kakinya ke batu, ia terpeleset dan kembali terjebur ke dalam air yang cukup dalam, berusaha ia menggerakkan kaki dan tangannya namn sayang, kalian pasti tahu bahwa Della tidaklah bisa berenang dan bukannya naik ke atas tapi ia semakin merosot ke dalam dasar air.
Sementara itu, Zixin akhirnya dengan terpaksa setuju dengan permintaan Huali, jika di pikir ada benarnya juga
mengajak siluman singa itu, lebih tepatnya jika ada kejadian yang tak terduka atau orang pamanya mengetahui keberadan mereka, masih ada orang kuat yang bisa membantunya.
Mereka bertiga berjalan beriringan, dengan keranjang huali di baw oleh siluman singa itu. “penyelamat, apa kau lelah ?,” Tanya sang siluman singa ke Huali. Huali menghembuskan nafasnya, pasalnya sudah beberapa kali siluman itu menanyakan hal yang sama secara beruntun dan itu berjarak tidak terlau lama.
“sudah berapa kalai kau menanyakan pertanyan yang sama ?, kuping ku jengah mendnegarnya tauk ! dan aku
punya nama, namaku huali, panggil aku huali,” gerutu huali ke siluman itu.
“tapi penolong, aku takut kau kelelahan,”
“Huali. Panggil aku Huali, aku punya nama huali ! Siluman !” cerocos Huali.
“dan aku juga punya nama Penyelamat, kenapa kau tidak menanyakan namaku dan memanggilku siluman,” rengkeknya sembari menunjukan wajah imut. Bisa kalian bayangkan bukan wajah tampan bak dewa itu menunjukan wajah imutnya.
Zixin terlihat tak suka dengan sikap siluman yang berada di sampingnya itu, “tidak tahu malu merengkek seperti anak kecil,” ucap Zian pelan namun masih bisa di dengar oleh huali dan singa itu.
pikirkan sekarang ialah bagaimana penyelamatnya itu mau mendengarkata-katanya serta menjawab pertanyaanya.
“kalau begitu siapa nama mu, beri tahu aku,” sahut huali sembari berkacak pinggang.
Singa itu terdiam, enggan memberitaukan namanya, atau ia sudah lupa dengan namanya, “aku,” ia terhenti
“namaku,” ucapnya terhenti lagi, terlihat wajahnya memikir keras.
“siapa cepat beri tahu,” ucap huali tak sabar menunggu. Terlihat wajah tampan itu sedikit kebingungan,
“aku, aku lupa dengan namaku, aku tak tahu namaku,” ucapnya sembari mengerutkan keningnya seakan menginggat sesuatu namun tak tertemukan.
“sudah ku bilang, dia itu mencurigakan, masak namanya sendiri aja tidak tahu ?” bisik Zixin ke Huali namun masih bisa di dengar oleh siluman singa itu.
“aku merasa ucapan mu benar, tapi sepertinya dia mempunyai penyakit pikun ?,” balas huali setengah berbisik namun juga masih bisa di dengar oleh siluman singa.
“pikun ? tuh kan, apa kataku, kita harus hati-hati denganya,” sesekali mereka melirik kearahnya,
“benar pikun, kau lihat saja rambutnya yang putih semua, bukankah rambut putih itu hanya dimiliki oleh kakek-kakek,” bisik huali, dengan merka yang sesekali melirik kearah orang di sampingnya yang sedang berpikir keras mengingat namanya.
“benar katamu, aku baru menyadarinya dan sepertinya dia memiliki penyakit pikun yang akut, namanya saja dia tidak ingat, dan lihat dia, dia seperti kebingungan, sama seperti kakek-kakek melupakan sesuatu,” Mereka masih sesekali meliriknya dan membicarakanya sedangkan orang yang di bicarakan seakan tak peduli dengan apa
yang ia dengar atau bahkan ia tidak mendengar karena focus dengan menginggat namanya sendiri.
“kita panggil saja dia kakek, toh dia tidak ingat namanya, dan lihat saja penampilannya,” ucap Huali sembari
menahan tawa dan memberi kode mata. “rambut putih dengan mahkota kuno, baju putih dengan jubbah abu-abu muda dan tua, pakaianya mengingatkan ku dengan situa,” jelasnya membuat zixin ingin tertawa terbahak-bahak namun ia tahan
“kakek ? pff” Zixin menahan tawanya “aku setuju dengan dirimu, haha,”tawanya lepas lalu dengan segera ia
membungkam mulutnya. Hingga orang yang mereka bicarakan menoleh.
“ehem, bagaimana apa kau sudah ingat nama mu ?” Tanya Huali dengan menetralkan diri. Sang empu yang di tanyai hanya mengeleng imut sembari mengerucutkan kedua bibirnya. Bisa bayangkan bukan kayak apa, gemes deh author menghayalnya, wkwkwk, author terlalu halu.. emang, wkwkwk.
Kembali ke topic,
Setelah bertanya Huali menoleh ke arah Zixin sekilas, lalu kembali menoleh ke arah siluman singa, ia berdehem
sebelum berucap, “jika kau lupa tidak apa, aku akan memberimu nama yang bagus,” ucap huali sebisa mungkin untuk tidak tertawa, dan Zixin yang sudah mesam mesem menahan tawa sendari tadi.
“memberiku nama ?,” tanyanya polos seperti anak kecil,
“benar nama, nama yang bagus,”
“benarkah penolong, kala begitu siapa nama ku ?,” ucapnya antusias dan sangat bersemangat
“Nama mu adalah,…..”
Bersambung........
hayo.... siapa yang tertawa.... ? ketahuan kan...
ayo jangan Lupa Like anda komen yaa, dan kalo bisa beri vote and ranting, biar uthor tambah semangat nulisnya..^!^