
Malam ini ialah malam yang dinanti bagi para wanita-wanita. Bagaimana tidak ? Pada malam ini di kediaman jendral sedang melakukan sebuah acara untuk mencarikan istri untuk anak pertamanya yang bernama Junjie. Para perempuan yang belum mempunyai pasangan itu berlomba lomba berdandan secantik mungkin agar dapat memikat sang anak jendral untuk menjadi Istrinya.
Tamu undang yang hadir menikmati berbagai hidangan yang telah ada, diantara mereka ada yang bercengkrama dengan yang lain, bergosip dan menunjukan kelebihannya dalam ke cantikan.
Malam itu semuanya terpesona ketika yang mereka nanti-nanti yang mereka idamkan pemeran utama malam ini keluar dari persembunyiannya berjalan di samping sang jendral. Wajah tampannya mampu menyihir para perempuan yang memandangnya. Terlihat jelas soro kagum tak terelakkan saat melihatnya.
"Lihat-lihat dia begitu tampan!"
"Sungguh tampan, oh calon suamiku.."
"Ahh... malam ini ia terlihat sangat sangat- tampan. Aku selalu jatuh hati kepadanya.."
"Ah. itu dia suamiku!"
"Siapa yang suamimu dia malam ini milikku!"
"Enak aja dia itu calon suamiku," sahut salah satu perempuan tidak terima.
"Hei, apa yang kau bilang ?, Mana mungkin jendral mau sama kamu,"
"Wah.. ternyata memang tampan seperti rumor."
Mereka tak hentinya memuja lelaki yang disamping jendral bahkan mereka ribut akan kedatanganya.
Wajah diam tampa ekspresi itu mampu memikat siapapun, walaupun terlihat dingin tidak pernah mengurangi sedikitpun ketampanan pada wajahnya.
"Junjie malam ini malam mu. Nikmati pestamu," jendral menepuk bahu anaknya sembari tersenyum berlalu pergi.
Setelah jendral itu pergi meninggalkan Junjie para perempuan itu mendekatinya mencari perhatian dan simpati darinya berharap bahwa malam ini mereka dapat menjadi wanita paling beruntung.
Junjie terlihat risih dengan beberapa wanita yang selalu mencari perhatiannya bergelayut manja dan sok kenal. Ia berusaha menghindar dari para perempuan yang menurutnya gila dan mengganggu dan jujur malam ini kepalanya begitu terasa pening, ia berjalan terhuyung mencoba menghindari keramaian.
BRRUKK!
Semua panik dan berteriak histeris membuat orang orang berkumpul mendekat. Jendral yang mengetahui hal tersebut segera menghampiri anaknya yang tak sadarkan diri.
"Junjie ! cepat bawa dia kekamar !," para pelayan laki laki bergegas memindahkan junjie ke kamarnya dan beberapa orang segera memanggil tabib.
"Jendral" sang jendral pun membalikan badanya.
"Ahirnya, selamatkan anakku," ujar Jendral Weizhe, tabib itu segera memasuki kamar Junjie ia segera memeriksa keadaannya. menyentuh denyut nadi wajah tabib itu berkerut dan sesaat menggelengkan kepalanya pelan.
"Jendral," suara tabib itu serius.
"Bagimana keadaanya ?"
Kening tabib itu mengkerut "dia terkena racun. Racun ini sangat berbahaya, kinin kondisinya sangat kritis," terlihat wajah kaget jendral. Sang tabib mengeluarkan kertas dan alat tulisnya ia mulai menulis beberapa bahan obat.
"Untuk sementara waktu aku akan berikan obat khusus tapi selebihnya anda silahkan cari tanaman ini," Seraya menyerahkan tulisan yang baru saja ia selesai tulis.
Sang jendral menerima lembaran kertas dan membacanya. "Harus cari dimana semua ini ?," Tanya sang jendral.
"Di gunung Bintang, jenis tanaman itu berada di gunung bintang sisi utara, tapi tanaman itu sangat sulit di temukan," jelas sang tabib.
Tatapan jendral begitu dalam memandang kertas yang ada di tangannya.
Gunung bintang ? Itu kawasan penyihir tua. Gumamnya.
"Lebih cepat tanaman itu di dapat maka lebih cepat pula proses penyembuhan putra anda jendral," ujar tabib seraya menulis beberapa obat.
"Rebus beberapa tanaman herbal, setelah itu ambillah beberapa rempah rempah," ucapnya seraya menyerahkan ke asistenya.
"Jaga putraku aku akan segera kembali membawa tanaman itu," Ujar jendral berlalu pergi.
Ia tahu memasuki gunung bintang taka akan semudah itu si penyihir tua itu tidak akan tinggal diam apabila area kekuasaannya di injak seseorang. Penyihir itu tidak menerima tamun. Menurutnya orang orang yang memasuki gunung bintang itu hanya merusak dan mencari keuntungannya saja.
Gunung bintang ialah tempat kediaman Situa sihir Penjaga tempat itu dari ratusan tahun. Tak ada yang tahu pasti wajah Situa sihir, karena ia suka menjelma menjadi seorang anak kecil, orang dewasa serta kakek kakek tua. hanya niat yang mirni yang dapat memasuki gunung bintang itu.
Sekali seseorang memiliki niat yang kotor maka orang itu tidak akan pernah bisa memasuki kawasan gunung bintang, sebuah ilusi akan menyerang mereka membutakan jalan hingga ia kehilangan arah berputar putar di tempat.
Namun berbedan dengan orang yang berniat Murni, Mereka akan lebih mudah memasuki kawasan gunung bintang itu dan jika keberuntungan berada di pihaknya maka mereka akan di temui langsung oleh si penyihir itu.
Jendral terus mengendalikan laju kudanya dengan cepat ia terhenti sejenak saat sampai di kawasan gunung bintang. Ia memejamkan mata sejenak lalu melanjutkan memasuki kawasan gunung bintang.
Kuda terus berlaju melintasi beberapa pohon yang tumbang yang menghalangi jalan sejenak ia terhenti untuk menyingkirkan pohon yang tumbang di tengah jalan, lalu melanjutkan perjalanannya sampainya di perbatasan sihir.
Kuda itu terhenti secara tiba tiba ia tidak mau bergerak terpaksa jendral turun dari kudanya dan mengikatkan kuda di pohon.
Jendral melangkahkan kakinya melewati pembatas sihir itu dan.
Slig.
Ia menghilang di pandangan mata
jendral melihat sekeliling
"Dimana ini kenapa aku berada di halaman rumah, bukankah tadi hanya hamparan pepohonan kenapa bisa berpindah tempat secepat ini," Ujarnya keheranan.
"Pulanglah," Ucap seseorang dari belakangnya.
Seketika jendral membalikan badannya seorang lelaki tua berdiri tepat di belakangnya.
"Dari mana datangnya orang ini kenapa tiba tiba berada di belakangku," Batinya
"Maaf tuan," jendral itu membungkuk hormat "Kedatangan saya kemari untuk..." belum sempat jendral melanjutkan kalimatnya Situa itu sudah memotong pembicaraanya.
"Disini tidak ada tanaman seperti itu," ia tersenyum tangan yang di belakang telah menggengam sesuatu.
Jendral terdiam, mencoba memahami situasi yang terjadi, "lalu apa yang harus aku lakukan untuk menyembuhkan anakku,"
Situa itu menjulurkan tanganya "Berikan anakmu ini," sembari melempar sebuah botol kaca bening yang bercahaya putih di dalamnya.
"Pulanglah, sebelum benda itu menghilang di pelupuk mata atau aku usir dari sini dan tidak mendapatkan apapun,"
Jendral mengamati botol bening itu lalu menganggat kepalanya kembali namun Situa itu sudah menghilang dari pandanganya.
"Kemana perginya orang itu dan,.." iamelihat sekeliling.
Hutan ini masih dimana kakiku melangkah menginjakkan kaki di perbatasan.
Ia melihat botol yang ada di gengamanya lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari perbatasan sihir ia meraih kudanya dan bergegas berlalu pergi.
Di sisi lain Seseorang mengamati dari atas pohon sambil bersandar dan tersenyum.
"Tinggal menunggu penerus kesayanganku datang," ia menghirup udara sembari memejamkan mata.
Sesampainya di kediaman jendral bergegas turun dari kuda dan langsung menuju kamar anaknya ia membuka pintu. terlihat bebrapa orang menoleh ttermasuk tabib.
"Bagaimana tanamanya,"
Sang jendral bergegas menghampiri tabib dan mengeluarkan botol bening itu.
"Apa ini ?,"
Jendral menceritakan singkat kejadian aneh saat ia ke gunung Bintang.
"Saat di gunung bintang si kakek kakek tua memberikan botol ini dan menyuruhku pulang" Tabib itu terkejut.
"Anda sungguh beruntung Tuan jendral, berikan itu kepada anak anda"
Tampa menunggu lama jendral pun memberikan ramuan itu kepada anaknya.
setelah beberapa saat sebuah kilau cahaya keluar dari tubuh anaknya dan perlahan Junjie membuka matanya.
"Ahirnya kau bangun nak," Terlihat wajah lega dan gembira di ruangan itu.
Sang tabib segera memeriksa keadaan junjie.
"Ini ajaib. Kondisinya telah kembali seperti semula Jendral," ujar Tabib terkejut.
Jendral tersenyum lega "Benarkah ?," Ujarnya dan dijawab sebuah anggukan kepala tabib dengan yakin.
Sedangkat Junjie mengkerut tak mengeri sendari sadar matanya melihat sekeliling "Temapat apa ini ? Kenapa aku bisa berada disini ?,"
"Bagaimana kondisimu lebih baikan ?," Tabib itu sembari meringkaskan peralatanya.
Junjie masih mencerna perkataan orang yang berada di sampingnya.
"Dimana ini. Kenapa aku berada disini ?," Ujarnya lirih namun masih bisa didengar oleh orang yang ada disana.
Seketika semua orang mengerutkan keningnya kepadanya.