
malam menjelang, Della sendari tadi mondar mandir didalam kamar.
"apa yang harus kulakukan," gumamnya. "aku tidak bisa berdiam diri terus, " ia sedikit mengacak rambutnya. setelahnya ia mengambil jaket, lalu mengucur rambutnya menjadi satu. ia keluar kamar.
"mau kemana malam-malam begini ?," tanya mom Fi, yang melihat anaknya bergegas keluar.
"Kantor, ma. ada berkas yang ketinggalan," ucapnya sembari memakai alas kaki berhak lima cm.
"kenapa tidak menyuruh Fery saja, atau lainya ?," saran Mon fi.
"tidak ma, mereka sibuk malam ini,"
"Mama temani ya, masak maki keluar sendiri," pinta mom fi yang sedikit khawatir.
"tak usah ma,.. mama istirahat aja, Della tak lama kok. Della berangkat dulu yah," sambil cium pipi mom fi.
"hati-hati, kalau ada apa-apa telepon mama,"
Della hanya mengangguk, kemudian ia keluar dengan mobilnya.
mobil Della kelar dari halaman rumah, dengan kecepatan sedang mobil itu membelah jalanan yang lumayan ramai. Tepat dilampu merah mobil itu berhenti dan sebuah panggilan masuk.
"halo fer, ada apa ?," ucap Della mengangkat telepon.
"ini masalah gaun yang akan digunakan untuk acara talk show mendatang,"
"ada apa ?, dengan itu ?," Della sembari melihat lampu merah yang sudah berganti warna kuning dan bersiap melajukan mobilnya.
"aku tidak bisa menjelaskannya ditelefon, ini rumit," ucapnya disebrang sana.
"kau bisa jelaskan nanti," ucapnya mematikan telepon sepihak. lalu ia fokus mengemudikan kendaraannya.
Satu setengah jam kemudian ia sampai di kantor. ia turun dari mobil, jangan lupakan saat ini ia memakai masker dan hanya memakai baju kasual berlapiskan jaket. beberapa orang masih di kantor menyiapkan persiapan acara yang akan mendatang, mereka menyapa Della ketika berpas-pasan.
Della naik ke lantai dua, dan masuk kedalam ruangannya. "Nona, akhirnya kau datang juga," sambut Fery.
"ada Maslah apa ?," tanya Della langsung keintinya. ia sembari mengambil dokumen di dalam laci.
Fery mendekat sembari membawa beberapa dokumen, lalu menjelaskannya kepada Della.
Tok. Tok. Tok
"permisi, Nona,. Tuan boleh saya masuk ?,"
diskusi mereka terhenti saat ada orang yang mengetuk pintu kantor.
"masuk," ucap Fery setelah ada perintah dari Della.
seorang karyawan itu masuk "maaf nona, ada seorang yang mengotot ingin menemui anda," laporannya. "dan sekarang sekuriti sedang menahan orang tersebut," jelasnya kembali.
"siapa dia," tanya Della singkat.
"Namanya Zhenita, Nona," jawabnya membuat Della terdiam sejenak. Zhenita ?, apa dia orang itu ?, tapi ada apa dia kemari. ah aku jadi penasaran dengannya. "biarkan dia masuk," ucapnya Tampa ekspresi,
"baik nona," karyawan itu kemudian bergegas pergi.
"kau selesaikan yang ini, aku ingin mereka menyetujui persyaratannya dan tidak ada tawar menawar, jika mereka masih mengelak maka cari yang lain saja," jelas Della dan diangguki oleh Fery.
Della meregakan ototnya lalu ia menuju ruang fitingroom Menganti baju membenahi penampilannya. masak seorang Della ingin menemui tamu dengan pakaian kasual. apalagi tamu yang ini sedikit berbeda. yah, kalian taulah.
setelah beberapa menit ia telah usai mengganti baju dan memberikan makeup tipis diwajahnya. Dengan segera ia menuju ruang khusus tamu yang telah disiapkan.
Didepan pintu ada seorang ajudan yang membukakan pintunya. Della masuk dan hal pertama yang ia lihat adalah sosok seorang wanita muda, wajahnya cantik, hidungnya runcing, bulu matanya tebal dengan bulu mata pasangan, terlihat make-upnya yang sedikit tebal. ia duduk sembari melihat katalog dan bergumam kecil, "bukankah ini katalog desain gaun di perusahan SS, sepertinya ia menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan ini"
perhatian wanita itu teralihkan dengan kedatangan Della. "apa kau yang bernama Della, seorang Desainer disini ?," tanyanya langsung saat melihat Della.
"Benar," jawab Della lalu Della melirik kesamping seorang pelayan mendekat sembari menyiapkan teh di atas meja.
Della duduk, "duduklah jika kau ingin bicara denganku," ucapnya lalu meminum teh hangat di meja.
Zhenita mendengus, lalu bersedekap tangan "hah, tak perlu. aku disini hanya ingin memperingatkanmu, jauhi Ade karena dia milikku," ucapnya menekan kata-katanya. "kau tahu bukan besok adalah hari pernikahan kami, jadi jangan macam-macam !, orang sepertimu tak pantas menginjakkan kaki di keluarga ternama,. Hanya seorang perancang baju kecil sepertimu, hah. mimpi apa kau ?!, ingin menjadi Cinderella ?!," ucapnya sembari memandang rendah.
Della menghelai nafasnya. "apa kau sudah selesai bicara ?," Della beranjak berdiri. "aku tak mengeri apa yang kau katakan,"
"jangan mengelak !, akui saja dasar wanita murahan !, kau tak beda dengan ja**ng-ja**ng lainya !," umpatnya menaikan nada bicaranya.
Della memijit pelipisnya. "kau sungguh berisik." Della mengeluarkan ponselnya, lalu menekan panggilan "Fery, bawakan dokumennya," ucapnya singkat.
"Nona, aku tak mengenal kamu dan aku tak mengerti apa maksudmu datang Tampa permisi dan marah-marah tak jelas. Kau tahu waktuku terbuang sia-sia karena anda," ucap Della menghelai nafasnya.
"Kau mengelak lagi !, Dasar wanita tak tau diri, muka tebal !," ucap Zhenita yang tangannya mulai mengepal.
Della menatap wanita yang ada di depannya itu. lalu melirik ke bodgrad "bawa dia keluar," seketika bodygrat itu memaksa Zhenita keluar.
"Lepas !, lancang sekali kau mengusirku !," Zhenita memberontak "awas kau !, kau akan menyesal !."
Della diam menatap apa yang terjadi.
hal ini yang tak aku inginkan. Rasa yang datang tak tepat pada waktunya, rasa yang membuat hati manusia terlena, rasa yang membutuhkan keputusan yang berat, rasa yang harus menanggung keadaan dan takdir.
"Nona," Della tersadar saat Fery memanggilnya.
"ya," Fery menyerahkan berkas yang diminta. dan Della memeriksanya.
"Nona, wanita itu," Fery terhenti
"kau mengenalnya ?," tanya Della balik sembari melirik sekilas.
"hubungi bagian tata busana, Besok aku sendiri yang akan mengurus gaun pernikahan di tempat wanita tadi," ucapnya lalu beranjak pergi.
"ya. eh apa ?!," jawab Fery kaget. "Nona, apa kau yakin ?," tanya Fery sembari menyusul Della.
Della membalikan badannya dan hanya memberi isyarat dengan telunjuk di mulutnya dan Fery terdiam.
- - - -
Della mengemudikan kendaraannya lajunya membelah jalanan malam,.. ia mengemudikan mobilnya berlawanan arah pulang. lumayan jauh hingga ia berhenti disebuah danau buatan, pemandangan disitu terlihat indah dengan lampu menghiasi sekitarnya. Malam ini cukup ramai, resto dan cafe di sebelahnya terlihat lumayan penuh.
Della keluar dari mobilnya dan memilih masuk kedalam rumah makan yang langsung menghadap ke danau ah lebih tepatnya tempat makan namun lebih kecil. Ia memilih tempat yang terlihat lebih sepi, Susana menjajakan makanan khas dan harganya terjangkau.
"pak seblak super pedasnya 1, tambah ceker ayamnya yang super pedas satu porsi, jus alpukat ya satu, dan juga kentang goreng pedasnya satu porsi," pesan Della.
"baik mbak ditunggu ya,"
"ya," jawab Della singkat.
telepon berdering, della melihat panggilan masuk, "mom," ucapnya lirih.
"Hallo ma," jawabnya mengangkat telepon.
"kamu tak apa kan nak ?, kenapa belum pulang ?, ini sudah jam sepuluh malam, kamu masih di kantor kan ?," tanya mom Fi khawatir.
"aku baik-baik saja kok ma, oh iya ma, malam ini aku pulang ke apartemen ya karena sudah terlalu malam jadi lebih dekat kalau aku pulang ke apartemen lagi pula besok akan ada pekerjaan penting" jelas Della sembari menunggu hidangan datang.
"baiklah, hati-hati, jangan lupa makan malam, inget jangan makan pedas-pedas dulu, dan jangan lupa obatnya diminum,"
"aku tak lupa kok ma obatnya," jawabnya Della sembari tersenyum kikuk. "ya udah ya ma, Della tutup dulu, Miss you mom, Bey Bey," Della mengakhiri panggilannya.
ia mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya. "permisi mbak, ini pesanannya," ucap sang pelayang sembari meletakkan pesanan di atas meja.
"oke, terimakasih," jawab Della dan berbinar dengan makanan yang ada di atas meja.
"ah makannan pedas, aku kangen kamu, seblak pedas ceker pedas, kentang goreng pedas, kalian sangat cocok menjadi temanku malam ini, ayok temani aku," gumamnya lalu menyantap seblak di mangkuk.
"emt,.. enaknya,,," gumamnya.
Della asyik memakan makanannya dari hingga ia tak sadar seseorang memperhatikannya sendari tadi, orang itu mendekat.
"Ella,"
panggilan itu membuat Della menghentikan memakan ceker pedasnya dan ia menoleh ke sumber suara. dan
Gleg. ia menelan tulang jari ceker dan tersedak. ukhurk ! Ukhuk ! matanya berair dan segera ia meminum jus di sebelahnya hingga tandas !. kalian tahu kan bagaimana tersedak makanan pedas ? sakit perih di tenggorokan dan hidung !.
Orang itu kaget dan menepuk pelan pundak Della, "makanya kalau makan itu hati-hati," omelnya.
Della mengambil nafasnya dan kemudian.
Buk !
"agrhh !" Della menyikut keras kearah orang tersebut. "kenapa kau memukul ku hah ?!," umpat orang itu.
"ZHEN !, SIALAN...!" umpat Della, dan beberapa orang di sana memperhatikan mereka.
"Kau tau aku hampir mati tersedak tulang ayam gara-gara kamu !," umpat Della kembali memukul Zhen. "kau ingin aku mati lagi hah ?, dasar kau jahat, jahat. Jahat !," sembari memukul sembarangan.
"La, Ella, eh, hentikan, ampun Ella, aku tak sengaja, tolong hentikan !, maafkan aku, ampun,.." ucap Zhen yang menjadi sasaran Della yang semakin gencar memukulnya.
beberapa orang memperhatikan mereka dan ada yang merekam dan berbisik-bisik.
"ih mbak kasian atuh pacarnya di pukulin,"
"iya, bener mbak nanti kalau masnya sakit mbaknya bingung lagi."
beberapa orang mencoba menasihati Della terdiam dan melihat sekeliling dan ternyata dia telah menjadi tontonan orang di sana. seketika Della mendengus dan langsung duduk dan menyembunyikan mukanya. Jujur saja kali ini ia tersadar dan sangat malu ingin rasanya ia nyempung ke kolam biar tidak ketemu orang ! ah !mungkin kalau ada yang punya karung bisa bantu Della bersembunyi.
orang-orang sudah berbubaran dan Zhen ikut duduk di depan Della.
Della masih menaruh kepalanya di atas meja. Rasa malu masih bersemayam mengelilingi dirinya. Zhen tertahan tertawa melihat Della yang seperti itu.
"kau punya malu juga rupanya," ucapnya sembari menahan tawa.
"Diam kau, ini semua gara-gara kamu," sahut Della masuk menyembunyikan mukanya.
"masih malu rupanya ?,"
"Diam, bangsat !," gerutu Della ingin sekali melempar wajah Zhen dengan sambal.
"oke deh aku diam,.." jawab Zhen, "kau Kenapa Hem ?," tanya Zhen kemudian.
"Diamlah, aku tak mau mendengar suaramu !, Diam,." ia menjawab dengan masih menyembunyikan mukanya.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like, Vote and komen yaa.