
“Diberi ?,” Ucapnya tak percaya. Huali melirik sekilas ke arah siluman itu
“kau tahu, kita di beri gratis katanya dia orang yang sangat tampan,” sembari melirik kearah Siluman singa dan Zixin ikutan menatapnya sekilas
“jadi ya kita ambil saja, lumayan makanan gratis, jadi tidak perlu ngeluarin duit,” seketika Zixin menepuk jidatnya.
“hehehe, udah, sepenting kita makan gratis,” ucapnya tampa beban “lagi pula jika kita lapar tinggal suruh dia aja minta ke penjual ibu-ibu itu, pasti di kasih gratis,” pletak. Seketika Zixin mendaratkan jitakannya di kepala Huali.
“hei ! sakit tau ! kenapa juga kau pukul kepala ku hah ?” umpatnya sembari menggosok kepalanya itu.
“Hidup itu jangan tergantung meminta-minta, mau jadi pengemis seumur hidup hah ?,” Icapnya berkacak pinggang karena ia paling anti meminta-minta. Zixin selalu di tanamkan sifat berkerja keras, “dengar ‘lebih baik memberi daripada menerima, dan lebih baik bekerja dari pada mengemis’ itu yang Ayah ku selalu bilang, selama masih ada kaki dan tangan untuk bergerak kenap harus mengemis dan bermalas-malasan,” tuturnya menceramahi Huali. Dan sedangkan huali mendengus di buatnya.
“Hei, besok-besok saat kau di perintah yang tidak-tidak dengan dia jangan mau,” ucapnya sembari merangkul pundak siluman singa itu.
“ingat, lelaki itu harus gentle, kata kakak ku sih, tapi sebenarnya aku juga tidak tahu apa itu gentle,” lanjutnya seraya berbicara berbisik. Sedangkan yang di bisik hanya manggut-manggut saja.
“Jadi gentle ?”
“iya gentle,” sembari menunjukan ototnya.
******
Sring !
Druar !
Suara dentuman hebat tercipta tatkala, serangan sihir itu saling bertabrakan. Sringzz, cetar !, “Awas !” teriak Wuyu, seketika Situa dengan reflek menghindar dan Dungg ! Brak !, “Mo Yan, kendalikan diri mu !” teriak Situa
namun tak di hiraukan oleh Mo Yan, dirinya malah semakin tak terkendali, “Wuyu menghindar !” Srk, duar ! benturan sihir kembali meledak. Situa mengerutkan keningnya, “Sial, sihir pengendali Jiwa,” gumamnya sembari bangkit,
“ha ha ha ha !,” tawanya menggelegar di sana. “ah, aku ketahuan,” ucapnya sembari berucap sarkas “situa, situa, ck, ck ck, kau masih sama seperti dulu keras kepala,” gumamnya sembari menyeringai.
Situa menatap Mo Yan tajam, dia tahu orang yang sedang di hadapannya ini bukanlah sahabatnya, jiwanya di kendalikan oleh seseorang. “pengecut,” ucap situa “dan kau masih pengecut sekali pengecut kau akan tetap menjadi pengecut, bermain trik agar mendapatkan segalanya,” ucapnya membuat orang di depannya itu mengarang.
“aku bukan pengecut !” teriaknya dengan penuh amarah, “bukan pengecut !”
“mengutuk guru, merebut kastil, mengunakan seseorang untuk menyerang, dan menggunakan ilmu hitam, kau terlalu terobsesi dengan nafsu mu, berlindung di belakang punggung seseorang untuk menyerang, kau terlalu pengecut dae san,” ucapnya sembari waspada, situa melirik sekilas kearah kakek wuyu dan kakek wuyu mengangguk. Sepertinya mereka telah merencanakan sesuatu.
“itu bukan pengecut bodoh, itu sebuah prestasi ! itu sebuah kebanggaan, bukankah aku lebih pantas menempati kastil itu aku lebih kuat di bandingkan guru ! aku mampu mengutuk guru ! ha ha ha, aku lebih pantas menjadi pemimpin klan sihir, aku lebih pantas dan aku lebih unggul !,” ucapnya sangat sombong dan membanggakan diri sendiri.
“tidak ada yang lebih hebat dari pada aku ! ingat itu ! aku yang paling terkuat sekarang ! ayo situa kau berikan liontin bintang itu agar aku menyempurnakan Kekuatan ku,! Ayo situa, berikan kepada ku, ayo !” ucapnya terkekeh sembari mendekati situa dengan gaya sombongnya dan jangan lupakan ia masih mengendalikan jiwa Mo Yan.
“kau ingin liontin bintang ?, heh, mimpi saja, jika kau tak pengecut mintalah kepada guru jangan kepada ku,” seringai situa, dan itu mampu memancing amarah “Kau ! diam bodoh ! Ahggg !” teriaknya memekikkan telinga dan
Bruk !
Situa terhempas menatap pohon dan mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya. “ha ha ha ha, kau lemah, jaga ucapan mu itu ! kau hanya seekor semut yang tak berguna !”
Situa di sana terkekeh mendengar ucapan dari dae san, “benar, aku hanya seekor semut di mata mu dan kau lebih kuat daripada ku,” situa mencoba beranjak “tapi yang membedakan kita, kau tetaplah pengecut dae san, berlindung di balik bayangan hitam lalu apa bedanya kau dengan semut ?”
“Situa Bangka ! cari mati kau !” brak ! situa kembali terhempas,
“kalian semua buta ! apa kalian tidak lihat bagaimana kuatnya diri ku ! ak bahkan bisa meruntuhkan istana ini dan dunia menjadi milik ku ! aku penguasa dunia ini !”
Lagi-lagi darah keluar dari mulutnya, kini dadanya semakin sesak. Namun situa kembali terkekeh saat melihat kemarahan dae san. “tapi tetap saja kau pengecut,” seketika kemarahan dae san memuncak, ia tak segan segan sekarang auranya timbul semakin besar, ia bahkan mengepalkan kedua tangannya, telinganya panas di panggil pengecut.
“Tua Bangka !”
Situa terkekeh, ia masih sempat berdiri walah dadanya terasa sesak, “apa kau masih ingin menjadi pengecut dae san ? keluarlah jika kau ingin membunuhku dan juga ini bukan ?,” ucapnya menyeringai sembari mengeluarkan leontin bintang ditangannya.
“Kau serahkan itu pada ku !”
“ambil saja jika kau mampu,” ucapnya menyeringai “Tua Bangka ! Sialan Kau !” ia menyerang situa dengan kekuatannya.
Bumm ! suara ledakan menggema saat kekuatan sihir itu saling bertabrakan. Situa menggunakan sihir penagkis serangan, ya walaupun hanya sihir sederhana namun itu sudah termasuk kuat karena memakai tenaga dalam yang lumayan besar, tergantung seberapa besar lawan menggunakan kekuatan sihirnya.
Duar !
Ledakan kembali menggema di udara. Memilukan telinga. Serangan itu datang bertubi-tubi dan suar ledakan itu menggema di seluruh kerajaan, memilukan setiap telinga warga, mereka resah dengan suara ledakan ledakan dahsyat itu, bahkan anyak warga yang mengunsi dan bersembunyi. Bahkan sura itu terdengar sampai ke dalam
istana.
“Suara apa itu penasihat ? darimana asal ledakan yang begitu dahsyat,” tanya raja yang gelisah akan ledakan yang terjadi di wilayahnya.
“sihir ?” gumamnya, “selidiki apa yang terjadi di sana” perintahnya mutlak tak bisa di bantah. Seketika beberapa kasim di sana pergi sesuai perintah raja.
Kembali dimana situa dan dae san berada, mereka masih berperang dengan sihir mereka, terlihat beberapa luka telah membekas di tubuh Situa, “keluarlah dae san apa kau yakin tak ingin leontin bintang ini hah ?” dae san tak menghiraukan perkataan situa ia semakin menyerangnya dengan brutal.
“akan ku dapatkan setelah aku membunuh mu tua Bangka !” “Aghh !”
Srang !
Duar !
Situa memutar badannya dan Srang ! Pyas ! benturan sihir itu pecah tat kala situa menyerangnya. Dae san terkekeh melihat usaha dari situa. “hebat, hebat kau bisa menghindar dari serangan ku. Tapi sayang kau di takdirikan mati di tangan ku. Ha ha ha” gelak tawanya menyambar. Ia seperti orang gila dan tempramentalnya sangat
buruk.
Srak !
Bruk !
Dae san menyerang situa dengan kekuatanya hingga situa terpelentang jauh membentur pohon, darah keluar dari mulutnya. Srak. Seketika situa terikat di batang pohon. Kondisinya saat ini sunguh sangat mengenaskan.
Bruk ! tubuh Mo Yan yang di kendalikan dae san terjatuh. Dae san muncul di sebelah tubuh yang terjatuh itu dengan menyeringai. “Sudah ku katakan tua Bangka, kau akan mati di tangan ku,” ia mendekat perlahan, dengan tongkat yang berada di sisi kananya dan jangan lupakan topeng yang menutupi setengah wajahnya itu.
situa tersenyum menyungging sebelah saat melihat dae san.
“kau ! masih saja sombong saat mau mati ?” ucpanya saat melihat situa menyeringai kepadanya.
****
“Apa ?!,” beo Della tak percaya dengan penjelasan Yuan Fu. “ada apa, kenapa kamu terkejut ? bukannya dia sudah menjelaskannya kepada mu ?” tanya Yuan Fu sembari meraih pisau kecil di sampingnya lalu memotong bambu menjadi seperti lidi.
“tapi pedang erlac bilang :Lebih tepatnya kami satu kesatuan. Kami terwujud dari penyatuan kekuatan Dewa Dewi, darisana terciptalah dua pedang, sang Dewa memberi nama salah satu perujudan pedang bernama Erlac dan Sang Dewi memberi nama pedang satunya Fier. Pedang fier di bawa sang Dewa di hutan Kabut dan pedang Erlac di bawa sang dewi ke hutan Bintang.”
Jelas della mengulangi ucapan erlac di awal mereka bertemu.
Yuan fu tergelak mendengar pertuturan della, “kenapa kau tertawa ?,”
“tidak, aku hanya mengenang masa dulu, ternyata ia masih saja sama suka mengerjai orang, kau tahu Ling xiu ? dia telah berbohong kepada mu, dia itu sangat gengsi jika sebenrnya kita mendapat kutukan dari muridnya itu, hah, begitulah,” ucapnya lalu menghelai nafas.
Della mengerutkan keningnya, “ya, tapi ada benarnya juga, satu kesatuan,” ucap Yuan fu terdiam sejenak “kami memang di takdirkan untuk bersama, sang dewa merestui kami dan menjadikan kami sebagai keseimbangan,”
“ke seimbangan ? maksud mu ?”
“keseimbangan cinta,” ucapnya dan tampa ia sadari ia menitikan air mata saat melihat kearah della. Apa yang harus aku jelaskan dengan mu, aku tak sanggup. Demi mebebaskan kutukan kalian harus berkorban nyawa kalian, dan kau tahu ? kekasihmu telah mengorbankan dirinya demi mematahkan kutukan itu. bagaimana aku mengatakanya dewa ! bagaimana aku mengatakan kebenaaran ini kepadanya. Hatinya pasti akan sangat terluka.
“Yuan Fu,” panggil della namun yuan fu masih tak bergeming.
“Yuan fu, kau tak apa ? kenapa kau menangis ?”
“Yuan fu ?” della sedikit menggoyangkan pundak yuan fu.
“I ya, ah maaf, aku ngelamun,” ia mengusap air matanya yang meleleh. “maaf, kau pasti terkejut, ah ini aku sudah membuat bambu ini, katanya kau sangat suka dengan sate,” ucapnya sembari menunjukan bambu yang ia buat. “kita akan buat sate rusa, lihatlah kita tinggal membersihkan rusa itu” ucapnya mengalihkan pembicaraan. Ia beranjak dan mendekat kearah rusa yang berada di dekat mulut goa, sedangkan della mengikuti yuan fu.
“kau tahu aku suka sate ?,”
“tentu saja, dia yang bercerita,”
“junjie ?,” tanyanya. Ah, aku jadi teringat dia, sepertinya perang telah usai, setelah ini aku harus menemuinya
dan mengatakan yang sebenarnya. “bagaimana kabarnya ? ah, aku sepertinya merindukannya, bukankah perang telah usai, apa kau tahu dimana dia sekarang ?” Tanya della dengan antusias,
Deg.
Tanganya terhenti dan Seketika hati Yuan fu tersetrum oleh listrik. Apa yang harus aku katakan. Yuan fu tak mampu
melihat ekspresi della yang sangat mengharapkan jawabanya itu, senyumnya yang cerah itu ia tak sanggup mengatakannya, entah apa yang akan terjadi jika ia tahu kebenaran yang pahit ini.
*******
jangan lupa like, comen and vote