MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Episode 86



"ada apa mencariku. apa ada urusan penting mengenai strategi perang ?" ucapnya tampa ekspresi.


"jangan terlalu serius, aku hanya ingin mengunjungiu saja," ucapnya sembari menepuk pundak junjie beberapa kali namun tatapanya penuh dengan seringai.


 junjie diam dan melirik tangan pangeran yang memegang pundaknya dengan tatapan dingin.


 pangeran ke tujuh itu melihat sekeliling, ia melangkahkan kakinya menuju ke persembunyian della. junjie tak


senang dengan kehadiran pangern ke tujuh itu. ia masih mengamati setiap gerik pangeran.


"katakan hal penting apa yang membuatmu kesini pangeran"


panggeran terhenti. ia membalikan badanya. "aku masih membuka tawaranku, ikutlah bergabung denganku dan


memenagkan tahta, aku tahu kau mempunyai potensi yang hebat. akan sangat sia-sia jika kau hanya menjadi jendral biasa. tenang saja setelah keberhasilan itu akan ku pastikan kau menjadi salah satu orang yang berkuasa di negri ini." ucap pangeran ke tujuh. "dan kau bisa mendapatkan apa yang kau mau harta, tahta, wanita.. semua akan mudah di dapatkan jika kau bergabung denganku"


junjie diam namun tatapanya tajam.


pangeran ke tujuh itu masih melihat ke sekeliling. ia mengangguk kecil. "tenang saja pikirkan baik-baik, kapan


pun itu pintu masih terbuka untukmu yang mempunyai potensi" ucapnya sembari menepuk pundak junjie lalu melangkah pergi.


 saat pangeran ke tujuh melangkahkan kakinya dan hampir sampai ke pintu.


"tunggu pangeran." ucapan junjie menghentikan langkah kaki pangeran ke tujuh. ia membalikan badanya.


 "aku sudah meikirkannya. tawaranmu memang sangat mengiurkan bagi siapaun, siapa yang tidak tergila


dengan harta, tahta dan wanita. tapi itu semua tidak berlaku denganku. berikan saja tawaranmu itu kepada orang lain. dan simpan saja rencana pemberontakan mu itu. karna semua itu tak akan pernah terjadi. kau tak akan mampu melakkannya"


 pangeran ke tujuh mengepalkan tanganya di balik badan. "sunguh sangat disayangkan.. kau orang yang berbakat." ucapnya berlalu pergi.


setelah kepergian pangeran ke tujuh, della keluar dari persembunyianya.


"wah, ternyata tradisi sogok menyogok ada juga di dunia ini"


junjie menaikan satu alisnya.


"kau beneran tak tertarik oleh tawaranya ?" tanya della ke junjie.


"apa kau ingin aku menstujinya ?"


seketika della menggeleng.


 tiba-tiba situa masuk ketenda "berhati-hatilah dengan dia" della dan jnjie menoleh.


"dia memiliki tujuan tertentu, bukan tawaran itu yang ingin dia cari memastikan sesuatu.." ucap situ.


"memang apa yang dipastikannya ?" tanya della yang tidak tahu.


"sihir, dia memiliki sihir, sebaiknya kau berhati-hati denganya" ucap situa kepada junjie.


"aku juga tidak  suka dengannya, wajahnya terlihat sangat play boy and fack boy" sahut della sembari melipat kedua tanganya.


situa menggerutkan dahinya "apa ? fak boe ? sejenis apa itu ?" ucap situa asing dengan kata yang di lontarkan della.


Junjie tersenyum tipis melihat ekspresi Situa.


"hahaha.. itu sejenis hewan liar" sahut della dengan tertawa. sedangka junjie ? ia diam tanpa ekspresi. dan seketika ia mebungkam mulut della dengan ke dua tangannya.


"jika kau masih terawa karenanya. aku tak akan membiarkan mu" ucapnya dengan wajah yang cemburu.


della melepaskan tangan junjie yang membungkam mulutnya.


"aku hanya tertawa apa yang salah ?"


"aku biang jangan tertawa karenanya !"


"hais... memang kenapa ?  lelaki jenis dia itu memang pantas di samakan dengan...." seketika ia memeluk tubuhdella dan membungkanya dengan bibirnya.  "mm..." kecupan itu berubah menjadi *******.


situa menghelai nafasnya pelan dan menggeleng. anak muda sekarang. tak mengenal tempat dan situasi jika bermesraan. "aku akan pergi kalian lanjutkan saja" ucap situa sembari melangkahkan kaiknya keluar tenda.


junjie melepaskan kecupanya. "ka.kau ! lepaskan aku. " junjie tak menghiraukan perkataan della ia semakin erat memeluk pinggangnya. "tidak."


junjie tersenyum "mulai sekarang, itu sudah tidak berlaku lagi."


"a.apa ? tidak itu masih berlaku" della menggunakan sihir untuk melepaskan pelukan dari junjie. dan al hasil ia berhasil melepaskan diri. terlihat wajah terkejut junjie.


"ingat. perjanjian itu masih berlaku adarsya." ucap della tegas.


"apa, kau belum bisa menerimaku ?"


della diam. bohong jika dia bilang iya dan dusta jika ia bilang tidak. sebenarnya hatinya sudah mulai tergerak untuknya dan sudah mulai terbuka. namun belum sepenuhnya, dan ia masih agak ragu.


"baiklah... jika begitu..." ucap junjie lalu terdiam, ia membalikan badannya dan keluar tenda.


della ia tediam pikirannya saat ini entah ia merasa bimbang dan bingung dengan rasanya sendiri. ia terduduk di kursi sembari menyangga kepalanya. frustasi. bukan. bukan frustasi lebih tepatnya ia sedang bimbang akan perasanya. rasanya serba salah.


"harus bagaimana aku Tuhan. yakinkan hati ini. bukakan hatiku agar aku bisa menerimannya dan membuka hatiku untuknya. jika itu yang terbaik baik. mudahkan. mudahkan untuk ku, agar aku dapat membuka lembaran baru, hidup yang baru." della menyandarkan kepalnya di meja dengan bertumpu kedua tangan yang terlpa di atas meja,


"kenapa aku begitu susah jantuh cinta, dan sekali jatuh cinta sangat sulit untuk melupakannya, dasar aku ini manusia yang setia, terkadang aku bingng sendiri akan kerasnya hatiku. entah aku yang tak rela melepaskan atau aku takut untuk tersakiti kembali."


sementara itu. junjie ia berada di perbukitan. disana terlihat tenda perkemahan perang pasuanya. dan dari situ ia juga dapat melihat tenda perkemahan perang musuh. dengan diam ia melihat langit malam, dinginnya angin malam terkalahkan dengan rasa sendunya di hatinya saat ini.


"malam berbintang terlihat hambar,


dinginnya malam tak mampu menmbus rasa sendu di hatiku


cintai aku, terima aku,


aku mencintai mu kau tak mencintaiku


aku mengharapkan mu kau tak mengharapkan ku


aku mengejar mu, kau lari dari ku


aku merindukan mu kau tak merindukan ku


ada yang terluka tapi tak terlihat


kau membuat rasa dan kau menghambakannya


ku tapaki hati yang berbenteng itu


namun ku terjatuh lagi


kau seperti tak tersentuh oleh ku..


aku ada namun tak seperti ada..


luka yang ku rasa.."


"maafkan aku"


suara itu membut junjie menoleh ke belakang dan sedikit mendongak. ia sedikit terkejut dengan kehadiran della di belakangnya.


sejak kapan dia datang ? apa dia mendengar semuanya ?


della mendekat ia terhenti tepat disamping junjie. tatapanya tak lepas darinya. "apa kau mau memaafkanku dan meberiku waktu ? aku akan mencoba sebisa hatiku ?" ucap della sembari mengulurkan tagan kanannya.


junjie masih menatap lekat mata itu. perlahan ia meraih tangan della dengan posisi ia masih duduk di tanah. merka berjabat tangan. namun tak lama.


"Aaakk." teriak della kaget karena tiba-tiba tanganya di tarik oleh junjie dan membuatnya jatuh menimpa tubuh junjie. mata mereka saling bertemu. lama tatapan itu terjadi. hingga junjie menuarakan suaranya.


"apa kau akan berada di atasku setiap malam disini ?"


seketika della tersadar ia melihat posisinya.


Aaaaa ! apa yang terjadi ! bagimana bisa aku terjatuh dnmenindihnya ?! ini sanga memalukan !. ucapnya dalam hati menjerit.


ia gelagapan meihat posisinya yang sekarang. "ma.maafkan aku, ak.ku akan segera berdiri" ucap della yang sudah siap akan beranjak berdiri. namun tiba-tiba ia di tahan oleh junjie dan di tarik dalam pelukannya dan kini kepalanya berada tepat di dada junjie. hingga ia dapat merasakan detak jantung itu berdetak tak karuan. della terdiam dan menurut. jantung  della berdetak tak karuan dan mukanya bersemu merah.


"jangan pergi. biarkan begini. sebentar saja." ucapnya sembari memejamkan mata.