
DUAR !
suaa ledakan menggema di seluruh kota, benuran sihir itu membuat efek yang sangat dasyat. BLUNG ! DUAR !
beberapa kali ledakan terdngar oleh masyarakat sekitar membuat mereka berlari keakutan memiliih bersembunyi di dalam rumah mereka masing-masing.
"ayo cepat ! selamatkan diri kalian ! peperangan sihir terjadi !" eriak beberapa orang sembari berlari memberi tahu. riuk priuh orang di pasar bagaikan semut yang tak terkendali.
"cepat lari ! selamatkan nyawa kalian !"
mereka lalang tunggang bergegas menelamatkan diri, perempuan yang berteriak histeris, anak kecil yang menangis. sungguh kacau.
"cepat !"
"cepat !"
"ibu,,, huwa,,huawa,," teriha anak kecil menagis di tengah-tengah riuk priuk orang di sana, ia terpisah dari orang tuanya.
"cepat-cepat !"
SRAT ! CETAR ! DUARRR !
Sebuah ledakan terdengar lagi dan lebih keras !
SWESSS !
BRAKK !
Agin kencang datangang dengan sangat cepat dan merobohkn bebrapa toko.
"cepat lari ! cepat laari !"
"Huwaa...hwaa..." anak kecil itu semakin menangis sejadinya. meringkuk ketakutan.
"keselatan ! lindungi para orang disana !" teriak kakek wuyu, dan beberapa orang bergegas kesana.
"hwaa..hwa...whaa.. hiks.hiks... i,bu,, akut, hwa,," Yuan fu melihat sekeliling ia mendengar tangisan seorang anak kecil. matanya terhenti ketka melihat anak kecil dudk menetis di pojcokkan dengan merangkul kedua kakinya. sedangkan dari arah samping terlihat sebuah kayu terbang kearah anakkecil tersebut. dengan cepat Yuan Fu menghadang kayu itu dengan sihirnya.
BRAKK !
kayu itu terlempar jauh dan mengenai ruku yang tak berpenghuni. anak keil itu semakin menangis dan menjadi. dengan segera Yuan Fu menghampirinya lalu menggendong anak kecil tersebut.
"hwaa... i,ibu. hiks, hiks," tangis anak itu sampai sesegukan.
"cup..cup..cup.., tenang nak jangan takut," ucap Yuan Fu menenangkan anak kecil tersebut mengendonnya memeluknya erat.
dilihatnya situasi semakin buruk, anak buah Dae san memporak porandakan kota.
SRATT !
Brukk !
reflek Yuan fu menggunakan sihirnya ketika ada orang yang menyerangnya dari belakang, orang itu terbujur kaku di tanah dengan bersimbah darah. ia melihat ke samping ternyata ia di kepung oleh tiga orang bawahannya dae san.
"wah, wah, wah, kita menemukan wanita yang sangat cantik,"
"hehehe... benar katamu, sunguh cantik sekali," ucapnya sembari menjilat bibir atasnya.
"sunguh santapan yang sangat bagus, mari kita bersenang-senang cantik," ucap salah satu dari mereka dan mereka mulai mendekat perlahat.
terlihat tatapan tajam dari Yuan Fu.
SRAKKK ! seketika sebuah kilatan menyambar leher mereka dan kepala mereka menggelinding di tanah.
BUK !
BUK!
BUK!
Yuan Fu melihat kearah depan. "berani menganggunya ? tanggung saja konsekuensinya," ucapnya lalu menghampiri Yuan Fu. "kau tak apa ?," tanyanya khawatir, Yuan fu mengeleng pelan, "aku tak apa". Ya dia adalah Changyi, wujud asli dari pedang Erlac setelah terbebas dari kutukan.
"sukurlah, ayo segera kembali," ajaknya terhenti ketika melihat anak di gendongan Yuan Fu. Yuan Fu mengikutiarah mata changyi. "siapa dia ?," tanyanya tak suka ketika yuan fu menggendong anak lelaki dengan begitu erat. Yuan Fu menaikan satu alisnya. ia tersenyum geli melihat perubahan orang di depannya itu. sifatnya yang pencemburu tak pernah berubah.
"anak ku," jawab Yuan fu mengerjainya dan berlalu pergi sambil tersenyum menahan tawa, sudah lama semenjak kejadian besar itu ia tak bisa menjahili orang yang sekarang berada dibelakangnya.
"anak ?," guman changyi tersadar lalu mengejar Yuan Fu.
"kau bilang apa ?, jelaskan padaku Yuan Fu,"ia masih megejar langkah kaki yuan fu, tak ada sahutan dari yuan fu, ia semakin jalan tampa henti.
"yuan fu, katakan, jangan menghindari ku," ucapnya masih megejar.
disisi lain
pangeran fang qi, situa dan lainya mereka melawan dae san. peperangan yang sengit membuat hutan porak poranda,
crang !
DUARR !
ledakan itu menggema, sudah kesekian kali dentuman hebat itu menggema di langit tampa batas. pertahanan dae san tak melemah, ia menggunakan seluru kekuatanay di tambah degan menyerap seluruh kekuatan anak buahnya,
"serahkan pedang itu bocah !" seru dae san sembari melayagkan sebuah serangan ke arah pangeran fang qi.
Duar !
dentuman hebat kembali mengema, pangeran fang qi terpental beberapa meter kebelakang, sungguh seangan dae san sangatlah kuat. untung pangeran fang qi terbantu dengan pedang yang sudah disatukan dengan liontin kehidupan, pedang itu bisa menjadi perisai.
"ukhuk," paneran fang qi terbatuk seteguk darah. karena kekuatanya telah terkuras melawan mereka tiada henti. situa ? ia tertangkap oleh daesan, terken jebakan licik dae san. sekarang situa terkuai lemas di tanah, ia terikat mantra hitam dan badanya juga penuh luka. sama halnya dengan pengiku situa mereka bernasib sama, bahkan ada bebrapa yang merengang nyawa,
"keras kepala, berikan pedang itu bocah," ucapdae san sembari mendekat dan BUMM ! serangan itu kembali menyerang pangeran fang qi, dan lagi-lagi pangeran fang qi bertahan sekuat tenaga dengan siswa tenaganya yang tersisa. lagi-lagi ia terbatuk mengeluarkan seteguk darah. ia berdiri dengan tubuh yang bergetar karena tenaga terkuras habis. "jangan harap," ucapnya masih kukuh dalam pendiriannya. dia harus bisa bertahan sampai Lingxiu sadar diri,karena anya dialah yang bisa menghancurkan kutukan itu.
BUMM !! duarr !!
lagi-lagi pangeran fang qi terpental cukup jauh, ia memegangi dadanya, terpejam dan menggigit bibir dalamnya menahan sakit yang tak terkira. dengan kekuatan yang tersisa ia mencob berdiri. hanya bisa dengan ini ia mengulur waktu.
aku harus kuat. batinya sembari memgang pedang itu erat-erat.
dae san kembali mengumpulkan kekuatanya dan akan menghntam kembali pangern fang qi.
"dasr keras kepala," ucapnya sembari mengelarkan gulungn sihir yang amat kuat di tangannya. situa yang meihat itu hanya takpercaya, ia tak bia berbuat apa-apa, jika serangan itu terjadi maka yawa pangeran fang qi tak akan bisa di seamatkan lagi, situa meronta dengan sia-sia. "sialan kau dae san !" umpatnya tak berdya.
dea san berjalan mendekat ke arah paneran fang qi, senyum devilnya menghias wajahnya yang angkuh, "ucapkan selamat tingal bocah batu," ucap dae san dan mengankat tangannya.
"HENTIKAN !"
terikan itu mampu menghentikan dae san dan mereka menatap ke umber suara.