
Mereka terus berlatih hingga matahari telah berubah posisi ke arah barat.
junjie terus menyerang dan tampa henti mengayunkan pedangnya.
" Apa kau ingin membunuhku Jie ?!. kau terus menyerangku tampa henti."
Junjie tak menjawab. ia terus mengayunkan pedangnya.
Cring !
Cring !
Brukk !
junjie terjatuh membentur pohon. Nafasnya memburu.
"hais.hais.hais. Lihatlah.. kau sendari tadi kalah denganku.. dan menyerang membabi buta. tak seperti kau yang hebat biasanya. ada apa denganmu ?"
Junjie merebahkan dirinya terlentang ditanah dengan membuang nafasnya kasar. Pikirannya saat ini terus terusik, karna terus memikirkan Della.
Pangeran Fang Qi sembari menghampiri.
"ada apa denganmu Jie ? kau tak seperti biasanya."
"Bukan apa-apa. Pikiranku hanya sedikit buyar"
pangeran fang qi menyadari perubahan pada diri Junjie. Ia kini sangat berbeda dari dirinya yang dulu. ia menjadi semakin dingin dan tertutup. biasanya ia akan banyak bicara dan tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka sudah seperti saudara sekandung walau mereka tak sedarah.
Tapi perubahan itu terasa sangat jelas saat terahir kali mereka bertemu.
Junjie meraih pedangnya dan ia berdiri.
"waktuku telah habis. Aku pergi"
Junjie langsung pergi meninggalkan pangeran fang qi.
"he. lagi-lagi kau pergi begitu saja." karna tak ada sahutan ahirnya
pangeran fang qi memilih diam melihat kepergian Junjie.
Ada apa dengannya ? bagaimana ia bisa berubah begitu. apa yang telah aku lewatkan ?.
*****
Junjie terus melompat ke pohon satu ke pohon lainnya. lalu terhenti di salah satu pohon yang rindang.
Jarinya langsung beruit dengan mulut memanggil sesuatu.
"Cwiiiiitttt" (anggap saja suara suitan😅)
Tak lama kemudian datanglah sebuah elang terbang menghampirinya.
Itu Elang Api. sebuah hewan legenda di hutan kabut.
"pergi ketingkat 7 hutan kabut."
junjie segera menaiki elang itu. dan seketika sang elang terbang dengan sayap kokohnya.
Hutan kabut ialah hutan yang sangat berbahaya. pasalnya tiada orang yang berani memasuki hutan itu karna ke mistiruasan hutan itu. Hutan Kabut selalu di selimuti kabut tebal maupun tipis. lapisan-lapisan kkabut itu sesuai tingkatan hutan kabut itu tersendiri. semakin tinggi tingkatan hutan kabut maka semakin tebal dan semakin berbahaya pula tingkatannya. setiap tingkatan mempunyai penjaganya masing-masing dan di penuhi dengan tanaman beracun sesuai dengan tingkatan hutan itu. jika tak hati-hati saat memasuki hutan kabut maka kau akan terkena racun dari pohon yang tak sengaja tersentuh kulit.
Banyak sekali para pendekar yang memasuki hutan ini namun sayang saat keluar mereka tak terhindar dari racun-racun itu. banyak sekali orang yang menjadi korban racun hutan kabut dan mereka mencari penawar racun di hutan kabut itu namun sayang mereka tak pernah bisa menemukannya sama sekali.
"Tuan kapan kau akan mengenalkan istrimu kepadaku." ucap sang Elang api saat sampai di tingkat tujuh.
"dari mana kau bisa tahu Eagle ?"
tak menjawab namun kembali bertanya.
"Tuan sendiri."
"kapan aku memberitahumu ?" selidik junjie sembari mengambil tanaman beracun.
"e. Saat anda melatih orang yang terbuang itu"
Junjie ingin tertawa mendengar kata 'Orang terbuang' yang dimaksud adalah pangeran fang qi.
"kau menguping ?" sembari melirik kearah eagle.
"Ti.tidak tuan, hanya saja aku mendengarnya." Eagle sedikit gugup karna ketahuan telah mendengar percakapan mereka.
"Sejak kapan ?"
"awal."
Junjie hanya diam dan melanjutkan mengambil beberapa tanaman beracun. Ia memaklumi eagle tentang mendengar pembicaraannya. wajar saja ia adalah pemimpin penunggu hutan kabut jadi ia bisa mendengar apapun dan merasakan apapun saat berada wilayahnya. pendengaran dan pengelihatannya sangat tajam.
setelah selesai mengambil tanamaan beracun ia langsung menyimpanya di ruang penyimpanan.
"antar aku ke tempat pangeran fang qi"
Junjie terkekeh.
"kenapa ? sepertinya kau tidak menyukainya ?"
"ya. aku tidak terlalu suka denganya. karna tuan selalu menemuinya dari pada saya."
Junjie tertawa di punggung Eagle.
"baik-baaiklah dengannya. dia adalah saudaraku"
"Huh. saudara bagaimana jelas saja tuan tak ada hubungan darah denganya."
"aku tidak mau tahu. sejak kecil kami telah bersama ya walu umur kita hanya beda satu tahun tapi ia sudah ku anggap seperti adikku sendiri. hidupnya berat sendari kecil, jadi jangan tambah memberati hidupnya karna sifatmu itu, ingat kalian haris menjaganya di hutan ini kalau sedikit saja ia terluka atau gimana-gimana. kalian akan tahu akibatnya."
"Hem," eagle sedikit malas menjawabnya.
ahirnya merekapun sampai di tempat pengasingan pangeran fang qi. Ia segera turun dan melangkah masuk ke gubuk sederhana itu namun ia tak menemukan fang qi di dalam.
Junjie menaruh tiga tanaman beracun di meja beserta beberapa kepingan emas.
kemudian ia bergegas keluar.
"kita pergi sekarang" ucap junjie sembari menaiki Eagle.
sementara itu di sisi lain.
setelah mengemas beberapa barangnya Della beralih ke ayunan pohon persik. saat ini pohon itu tak berbuah ataupun berbunga. hanya ada dedaunan yang jatuh.
ia membuang nafasnya pelan lalu duduk di ayunan tersebut. ia masih terniag perkataan terahir Erlac di dekat danau.
"tuan, bisakah aku meminta permohonan kepadamu ?"
"apa ?"
jawab Della sembari memainkan daun dengan sihir.
"bisakah anda membawa saya ke hutan kabut ?"
Seketika Della menghentikan sihirnya dan daun jatuh perlahan ke rerumputan.
"What ??! Ngapain ? jangan ngaco deh." jawab della sepontan karna ia tahu hutan kabut bukanlah hutan biasa yang seenaknya dengan mudah dimasuki. masuk kesana sama saja mencari mati perlahan karna terkena racun yang penawarnya sangat mustahil untuk di temukan. bertambah lagi apa bila bertemu dengan hewan-hewan yang menunggu hutan kabut. tak ada harapan hidup. walaupun ia mempunyai ilmu yang tinggi keluarpun ia akan keadaan yang penuh luka.
"ayolah tuan. hanya anda yang bisa memasuki hutan itu"
"what ! Do you want me to die? "
(apa ? apa kau ingin aku mati ?)
"anda berbicara apa tuan ?"
"kau ingin aku mati terkena racun di hutan kabut ?"
erlac membuang nafasnya. "aku merasa pedang fier telah menemukan tuannya dan itu berarti tuan dari hutan kabut telah muncul. jika itu benar-benar kami harus di satukan untuk penyempurnaan kekuatan untuk bisa di gunakan"
"jadi maksudmu ? kau tidak berguna sebelum penyempurnaan ?"
"cih. mulut anda ini sangat tajam dan mudah menjatuhkan orang tuan. bukan saya yang tak berguna namun anda yang tak bisa menggunakan saya tampa adanya penyempurnaan." jawab erlac yang mendengar perkataan della yang bisa membuat ia ingin menyumpal mulutnya. tak hanya keras kepala tapi mulutnya juga berbisa.
" apa bedanya. itu sama saja kau yang tak berguna."
"cih. terserah kau. aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
"jangan terlalu egois tuan, masalah hati siapa yang bisa menolak. semakin engkau egois semakin pedih pula yang akan terasa"
itu adalah ucapan erlac sebelum ia benar-benar menghilang.
Della terdiam.
"Nona anda ternyata disini, tuan Junjie telah menunggu Nona." ucap Neri membuyarkan lamunan Della.
"Baiklah. kau bisa pergi neri."
Neri yang melihat Nonanya sedikit berbeda ia merasa gelisah.
"apa nona tidak apa-apa ?" ucap neri kawatir.
"aku tidak apa-apa neri. kau bisa pergi dan bilang aku segera kesana."
ucap Della yang sedikit tak nyaman.
melihat ekspresi nonanya yang tak ingin di ganggu ia segera pergi.
"baiklah nona kalo begitu saya undur pamit"
setelah neri pergi. Della membuang nafasnya dengan kasar.
"Tuhan. bisakah aku mengelak takdirmu sekali saja ?" ucap della. setalah itu ia pergi menyusul Neri.