
Dikamar tangan Della sedang di perban oleh Neri, rasa nyeri di lengan itu terasa saat obat bersentuhan langsung di kulit yang terluka ""ahk. Pelanlah Neri,"
"Sabarlah nona ini akan segera Selesai," Neri masih sibuk mengobati luka tuannya pintu kamar terbuka nyonya Zhu buru buru masuk di ikuti oleh Zian.
"Xiu’er.. lenganmu," sembari melihat luka yang sedang di obati.
Della sesekali menahan perih saat obat di oles ke lukanya. Zian mendekati Della, wajah tampannya kini sedang diselimuti rasa bersalah.
Della melirik Zian dengan penuh rasa kesal.
Dasar Lelaki sialan ! kenapa dia mengikuti kesini ?
"Kenapa Kamu masuk kesini hah! Pergi sana ! Maa dia yang membidik diriku dengan anak panah dan mau membunuhku !," Della mengadu sembari menunjuk ke Zian Nyonya Zhu mengerutkan kening tak terkecuali Neri juga mengerutkan kening.
"Bu.bukan seperti itu.. aku tak bermaksud melukaimu" Zian mencoba menjelaskan.
"Lalu kenapa kau membidik ku kalau bukan ingin membunuhku !" Mulai naik pitam
"aku hanya menguji mu.."
"Hah. Bohong. ! Serangan berturut-turut seperti itu menguji ? Apa matamu itu buta ? Aku hanya seorang pemula !. ahk.! Lenganku !, kenapa kau menekannya Neri ?!,"
"Sudah selesai," Sahut Neri
"Lingxiu.. tenanglah.. Kakakmu tak bermaksud begitu.." nyonya Zhu mencoba menentang kan.
"Tapi dia..." Della terhenti.
Kakak ?. Ia menoleh ke nyonya zhu sembari mencerna kata kakak. "Ka.kak ?" Alisnya mengkerut lalu menoleh sebentar ke arah Zian. dan kembali lagi menatap nyonya zhu.
Nyonya Zhu mengangguk "iya dia Zian, Kakakmu."
Della semakin mengerutkan alis tak percaya menoleh ke Zian sembari berkerut alis.
Zian mengangguk menyakinkan.
"Kakak ?." Seketika Della menghembuskan nafasnya kasar.
Lengkap sudah kekonyolan hidup yang aku jalani ini. sembari menepuk keningnya.
"Lingxiu.. kau tak apa nak ?"
Zian mendekati Della..
"Maafkan Kakak Xiu'er.. kakak janji tidak aka begitu lagi..yaa.. tapi benar tadi gerakan mu sungguh bagus, tangkas dan lugas, hiyah,hiya,hiya (sembari mempraktekan gerakan ) eh tapi siapa yang mengajarimu bermain pedang ? Dan bela diri ? Gerakannya terlihat berbeda, sedikit, aneh dan bukanya kamu punya trauma pada pedang ? Lalu apa rasa trauma mu sudah sembuh ?? Sejak kapan ? Kenapa tidak kau ceritakan kepadaku? (sifat kepo dan ceriwisnya mulai muncul)
Della mulai menyadari. Memang. Dia memang cerewet. Seperti yang dikatakan. Duck. melebihi perempuan. Ah. Rasanya aku ingin memplaster mulutnya dengan lakban !
"......."
Nyonya Zhu melihat ketidak nyamanan Della.
"Zian," Seketika Zian menoleh "kamu keluar dulu,"
Ia membuang nafas kasar lalu ia berdiri meninggalkan kamar dengan berat, ia masih belum mendapatkan jawabnya. Kenapa harus mengusirku…
"Xiu'er.."
Della menoleh.
"Ibu tahu kamu masih syok dengan apa yang terjadi.. tapi.. mengertilah, sebenarnya ia sangat khawatir dengan dirimu.. dia sering menyalahkan dirinya sendiri bila terjadi sesuatu denganmu ataupun Zixin,"
Della masih diam.
Mungkin karena rasa sayang kepada adik yang terlalu besar hingga membuatnya begitu terobsesi menyalahkan dirinya aapa bila terjadi sesuatu membuat tak keseimbangan dalam berfikir.
"Akan ku mengerti ibu, pelan pelan akan kucoba.”
***
Sudah hampir menjadi kebiasaan setiap pagi buta Della selalu pergi ke danau untuk berlatih. Waktu untuk pergi gunung bintang tinggal menghitung jari ia tak bisa untuk berleha-leha, Walaupun masih pagi keringat sudah mengucur deras di tubuh Della menjadikan saksi bisu di setiap gerakan.
Kini ia sudah mampu menggunakan pedang walau tak terlalu lihai namun cukup untuk melindungi diri.
Ia berhenti sejenak membaringkan tubuh di rerumputan sekitar danau sunyi kesunyian kini menjadi teman di waktu pagi menjadi sahabat di kala pikiran kacau.
sunyi. begitu tenang Della duduk membasuh mukanya dengan air danau.
"Ah. segarnya."
"Ehem,"seketika Della melonjak kaget.
"Ka.kau!" wajah terkejut Della tak terhindar. Sial. dasar tengik junjie. hampir jantungan aku.!
Lelaki itu tersenyum.
"Bisakah tidak mengagetkanku !," Della mencoba mengatur nafasnya.
"Aku tidak mengagetkan mu, kamu saja yang penakut,"
Della menghentak kan kakinya karena kesal "Siapa yang penakut ?!. Kamu saja yang datang tampa suara.!"
Lagi lagi dia hanya tersenyum sepertinya memang sengaja Junjie membuatnya kaget.
"Kenapa kau kesini ?" Tatapan Della menghardik.
"Aku mau menagih janji"
Della mengerutkan kening. janji ?
"Ah. sepertinya kau lupa dengan janjimu ?"
della semakin dalam mengerutkan keningnya.
"Aku tak pernah ingat kalau aku punya janji kepadamu" sial dia pasti mau menguji apa diriku perihal tehnik pedang itu.
Junjie membuang nafas.
"Baiklah sepertinya harus aku yang mengingatkan."
Sring !
Sebuah pedang mengayun ke arah Della. dengan terpaksa seketika Della menghindarinya.
Sial dia benar benar datang untuk itu.
"Kenapa menghindar ?,"
Tang! Pedang berhantaman, Della berhasil menangkis serangan dari Junjie.
Sring ! ia kembali mengayunkan pedangnya. Tring ! Della menangkis dan menahan serangan itu.
“Dasar lemah”
“Siapa yang kau bilang lemah !.” ia kembali menyerang.
Sring ! sring ! sring !
“Siapa lagi kalu bukan dirimu,” Della mulai geram, ia menggenggam pedang dengan kuat.
"Aku ?, Heh kau saja yang pengecut, bisanya menyerang kepada seorang perempuan," Sargah Della.
Junjie langsung menyerang dengan lebih sedikit serius Dan akhirnya duel pun berlangsung cukup lama.
Mereka saling menangkis dan menyerang.
Ah ! sial. Lenganku begiku nyeri.
Genggaman Della mulai melemah merasakan rasa nyeri di tanganya.
Trang!. Duk!. "Ah..!" gangang pedang Junjie mengenai lengan Della yang terluka.
Dan seketika pedang yang di tangan Della terjatuh. Ia menahan rasa sakit di lengannya lalu memegang langannya sebuah darah merembas di lengannya yang terluka.
Lukaku terbuka lagi !.
Wajah Junjie terkejut melihat darah merah merembas di lengan baju berwarna putih itu ia segera menghampiri Delladan meraih lengan Della. dan Krrekk !. Della terkejut
Junjie merobek lengan baju Della terlihat luka yang terbuka dan mengeluarkan darah perban yang berada di lengannya merembas darah.
luka itu terlihat bukan luka lama. Ini luka baru. Junjie menatap Della sekilas.
"Kau berani sekali !" Della mencoba melepaskan tangannya. namun tak berhasil.
"Diam" suara lelaki itu dingin.
"Siapa yang melukaimu sampai seperti ini" tanyanya mengintrogasi.
"Siapa yang melukaiku itu bukan urusanmu," Della mencoba menarik tangannya lagi namun Junjie menahannya dengan erat.
"Lepas."
"Diamlah, tanganmu terluka !"
"Ya aku tahu makanya lepas !,"
Junjie tak bergeming.
"Ini juga karena mu andai saja kau tidak memukul lenganku ini tidak akan terjadi dan lukaku tidak terbuka,"
Junjie diam tak menggubris ia perlahan pembuka perban yang sudah berganti menjadi warna merah lalu mengganti perban di lengan della.
"Agh, Kenapa kau menekannya !,"
"Tahanlah sebentar,"
"Sakit Tau !"
"Iya aku tahu, maka diam lah agar cepat selesai"
"Makanya pelan pelan.!"
Junjie tak membalas ia fokus memaki luka itu dengan serius.
"Selesai," junjie selesai memperban tangan Della
"Istirahatlah jangan berlatih terlalu lelah,"
"Semua ini karena mu!"
"Aku tak tau. Maaf" junjie membantu della berdiri.
Della mengambil pedang namun ia sedikit kesusahan membawa beberapa barangnya
junjie yang melihat langsung mengambil alih.
"Ehhh."
"Cepat jalan biar aku yang bawa."
Della masih terdiam.
"Apa kau mau kita di pergoki orang ?, Kalau aku sih untung-untung saja," ucap Junjie yang melihat Della masih terdiam.
"Idih. Aku bisa bawa sendiri," Della berusaha mengambil barangnya namun junjie menjauhkannya.
"Sudah jalan saja, sebentar lagi semua orang akan bangun bukan ?,"
Della terdiam. Benar juga apa yang di katakanya matahari mulai menampakkan sinarnya. Tak apa kali ini saja.
"Baiklah."
mereka bergegas meninggalkan danau selama perjalanan mereka terdiam antara satu dengan yang lainya tidak ada pembicaraan sedikitpun diantara mereka.
Tiba-tiba Della berhenti.
"Pergilah, sampai sini saja terima kasih telah membantuku," Sembari mengambil barang di tangan Junjie namun lelaki itu tak melepaskan gengamanya.
"He..berikan barangku.." Della masih mencoba mengambil barang yang berada di tangan junjie.
Tiba-tiba lelaki itu tersenyum ia sedikit menunduk mendekatkan wajahnya ke arah Della sangat dekat.
"Berikan aku imbalan aku akan memberikan barang mu,"
"Jangam main main aku tak punya apa apa untukmu, Cepat pergilah," suranya lirih menekan agar tidak kedengar orang Della mulai kesal karena Junjie tak bergeming sedikitpun.
"Kalau begitu aku yang ambil sendiri," ujarnya seraya tersenyum dan dengan cepat Junjie mengecup bibir Della dengan cepat hal itu mampu membuat Della terkejut membelalakkan kedua matanya.
"Sampai bertemu lagi, " ujarnya dan pergi meninggalkan Della begitu saja dengan cepat sebelum ia mendapat serangan dari Della.
Della tersadar dari rasa terkejutnya. dan junjie telah jauh pergi.
"Ka.Kau ! Setan !!, Lancang sekali kau !," Teriak Della tak terelakkan, ia tidak peduli lagi jika membuat beberapa orang terganggu dengan teriakannya.
Tidak ! Ini gila ! Beraninya dia menciumku ! Junjieee ! SIALAN KAU !