MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Bertemu II



Takdir memang tak bisa di tebak dan Tampa kita sadari sebenarnya kita hidup itu adalah takdir, tapi manusia terkadang lupa akan hidup itu juga pilihan, ingatkan diri jika hidup itu pilihan, pilihan bagaimana kita menjalaninya. dengan senyuman atau dengan kesengsaraan.


semua penuh dengan timbal balik, baik maupun buruk.


Hujan kali ini lumayan deras mengguyur bumi, mengingatkan jika Tuhan sedang memberi kehidupan pada semua ciptaanya. sementara itu di sebuah rumah di tengah hutan salah satu mahluk Tuhan duduk menatap derasnya hujan, tatapannya penuh kesedihan yang mendalam.


sementara itu beberapa orang di balik pintu menatap dengan perasaan sedih. ya. mereka Situa, Yuan Fu, Kakek Wuyu, pangeran Fang Qi. Situa dan kakek Wuyu saling menyenggol lengan mereka dan menyalahkan satu dengan lainnya. yah begitulah mereka kelakuannya tak tahu umur.


"bisakah kalian diam ?!," peringati Yuan Fu karena sudah kesal melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil, padahal jenggotnya sudah memutih.


"diam Situa, gara-gara kamu ini," ucap kakek wuyu


"kamu yang harusnya diam !" sahut Situa tak mau kalah.


"Berhenti ! apa kalian tidak malu dengan umur ?," kini pangeran Fang Qi yang berbicara, jujur saja ia malas mendengar perdebatan mereka. "pikirkan dulu bagaimana masalah berikutnya kita hadapi, kita masih ada satu hal penting yang harus samapikan kepadanya," sembari menunjukan isyarat dengan kepala ke arah Della.


"masalah apa ? masalah apa lagi ?" tanya Situa sembari mengusap kepalanya yang tak gatal.


"Dia memang sudah Tua jadi wajar dia lupa," sahut kakek wuyu. "Sialan kau, ingat diri kau juga sudah tua," balasnya tak terima di bilang tua. yah mulai lagi mereka berdebat.


"lanjutkan saja kalian berdebat, kepalaku pusing mendengar kalian, Yuan Fu meninggalkan mereka dan mendekat ke arah Della berada.


dan tentu saja pangeran Fang Qi membuang nafasnya berat. sebenarnya dia juga lelah mendengar mereka berdebat, tapi dia satu-satunya manusia yang waras saat ini, jadi mau tidak mau ia harus menengahi mereka.


sementara itu di kediaman keluarga tuan Zhu, terlihat seperti hari-hari sebelumnya, hanya saja bedanya hari ini ayahnya Nyonya Zhu berada di sana, ia sudah menginap beberapa hari di sana.


terlihat Zian berdiri di depan pintu kamar kakeknya dan langsung mengetuk pintu, namun belum sempat ia mengetuk pintu, pintu telah terbuka dan berpas-pasan dengan Quan Zhu.


"paman," sapa Zian namun sayang sapaan itu tak di indahkan, Quan Zhu langsung pergi Tampa menghiraukannya.


Zian sedikit bingung lalu segera masuk lalu menutup pintu dan langsung menemui kakeknya yang sedang duduk bersandar di kursi. ingin rasanya ia menanyakan dengan apa yang baru saja terjadi, namun niatnya ia urungkan, ada hal penting dari itu yang harus ia sampaikan pada kakeknya itu.


Tampa di suruh ia langsung duduk di kursi, ia sudah tak tahan ingin memberi tahu apa yang ia temui, sungguh mulutnya sudah gatal tak tahan ingin mengoceh ! "kakek.. ada sesuatu yang sangat penting ini soal.." belum sempat melanjutkan bait selanjutnya perkataanya langsung di potong oleh kakeknya dengan mengisaratkan tangan.


Zian terdiam sejenak "Tapi kakek dengar kan per.." sekali lagi ucapannya di hentikan. ia diam sejenak. dan melanjutkannya lagi.


"aku harus memberi ta.."


"Diam. kau terlalu cerewet. katakan saja bagaimana apa kau berhasil mendapatkan kerjasama dengan tabib muda itu ?," tanyanya memastikan.


Zian mengambil nafas dalam, "ada hal yang lebih penting dari pada itu kakek, aku me.."


"ku bilang diam, mulut angsa !, kau hanya perlu menjawab dipertanyakan ku..." sembari menjewer kuping sebelah kiri Zian. dengan ringkisan Zian menahan sakit di kupingnya yang terasa panas..


"ampun kakek.., baiklah aku jawab aku jawab.. tapi lepaskan kupingku.." rengkeknya sembari memelas. sang kakek melepaskan tangannya.


"cepat jawab, bagaimana ? kamu berhasil bekerja sama dengannya bukan ?,"


Zian mengelus kupingnya yang terasa panas, ia sedikit mengerutkan dahinya, lalu ia menelan ludahnya paksa. ia baru sadar jika ia tidak berhasil mendapatkan kerjasama dengan huali.


"itu...," Zian tersenyum kikuk.


"hais," kakeknya itu membuang nafas dan menjitak kepala zian karena tahu apa maksud dari Zian. pletak ! "dasar sejak kapan kau menjadi kacau begini ha ?,"


"au !," Zian meringis di buatnya. "maaf kakek, dia tidak ingin menjual tokonya, dia sangat keras kepala dan juga sangat sangat cerewet di bujuk tidak mau, aku tidak suka dia lebih suka bicara dariku !"


"siapa yang suruh membeli toko itu ?!" Pletak ! sekali lagi jitakan mendarat di kepala zian. dan sekali lagi Zian mengumpat atas kebodohannya. "Kerja sama ! Kerja sama Zian, bukan membeli, kenapa kau semakin kacau Zian ?! dimana otak pintar mu itu ?, kecewa aku, " kakeknya itu menangis tak terima cucunya itu menjadi kurang mencerna kata-katanya entah apa yang membuatnya jadi begini biasanya ia adalah orang yang sangat pintar.


"sorry," ucap Zian sembari jarinya membentuk huruf V. kakeknya itu menatap Zian dengan kerutan.


"apa kau ucap ?," tanyanya yang tak paham dengan perkataan Zian. "dan apa itu ?," sembari menunjuk tangan Zian.


"maaf," sahut Zian. kakeknya itu menaikan satu alisnya, "ini yang mengajari xiu'er, yang artinya maaf," kakeknya itu mengangguk mengerti.


"kembalilah, dan dapatkan kerja sama dengan tabib itu, bilang ini perintah dari detektif raja," sembari memberikan surat ke pada Zian. "berikan ini segera" Zian menerima surat itu lalu mengangguk dan bernajak pergi. sang kakek tersenyum sangat tipis saat melihat kepergian Zian.


kembali dimana Della berada sekarang. semuanya telah bersiap. yah mereka akan ke kediaman keluarga Zhu, baru saja pangeran Fang Qi mendapatkan surat dari pengawal pribadinya. jika mereka harus segera datang kediaman Zhu. dan kakek Wuyu mendatangi cucu angkatnya, Huali. dengan kekuatannya Situa membuat perjalanan mereka menjadi sekejap.


dan disinilah mereka berada di danau kediaman keluarga Zhu. mereka membuka matanya, "Situa aku akan memisah menemui Gen dan kalian harus berpencar sesuai rencana, kecuali Kau," sembari menunjuk kearah Della, "kau akan pergi menemui keluarga mu di temani Yuan Fu, ingat jangan sampai ada yang mengetahui keberadaan kalian," Della hanya mengangguk sekilas.


"dan kita akan bertemu kembali disini," setelah berucap pangeran Fang Qi beranjak pergi, Situa memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali, "kita masih punya waktu sebelum Dae san menemukan kita, kalian harus bergegas aku akan mengurus lainya," Della tak menjawab ia hanya diam dan kemudian berjalan mendekati pintu dimana jalan masuk ke kediaman keluarga nya.


"tunggu," henti Yuan Fu memegang lengan Della, ia terhenti dan kemudian Yuan Fu membaca mantra dan kemudian di arahkan di punggung Della. "apa yang kau lakukan ?," tanyanya sedikit kaget saat punggungnya seperti terkena Es.


"pelindung," jawabnya singkat dan mereka bergegas keluar dari area danau, saat mereka keluar benar saja tak ada yang melihat mereka para pelayan seakan buta akan keberadaan mereka, sesekali mereka merasa dingin merasuk mengenai kulit mereka saat Della dan Yuan Fu melintas di dekat mereka.


mereka terhenti ketika melihat Nyonya Zhu sedang berbincang dengan seseorang.


"sudah lama dan disini sudah banyak berubah," ucapnya sembari melihat sekeliling, Nyonya Zhu tersenyum tipis "Itu karena ayah terlalu sibuk dengan kerajaan dan hampir lupa dengan anak sendiri,"


nyonya Zhu menghelai nafas"Ayah, itu masa lalu jika ayah masih bersedih ibu akan sedih di sana," ucapnya juga sendu, namun dengan tegar ia masih tersenyum. siapa yang tak pilu jika orang terkasih mereka tiada di hadapan mereka atas kesalahannya. dan efek dari kesalahan itu tak hanya menimpa pada istrinya saja melainkan kepada cucunya.


ayah nyonya Zhu menepuk punggung anaknya pelan. "maafkan ayah nak, seandainya dulu ayah tidak ikut campur akan dunia sihir ini semua tidak akan menimpa kepadamu dan keluargamu, maafkan ayah," ucapnya dalam hati. ia menatap anaknya dengan penuh rasa bersalah.


nyonya Zhu tersenyum tipis. "Ayah, ayo masuk angin sore tidak terlalu baik untuk kesehatan ayah," ucapnya untuk mengalihkan suasana yang terlalu kalut untuk dirasa, ia tak mau. cukup kejadian kelam masa lalu terkubur dengan seiringnya waktu.


dan akhirnya mereka masuk ke kediaman, dan Tampa mereka sadari pembicaraan itu di dengar oleh Della dan Yuan Fu.


Della mengikuti nyonya Zhu masuk ke kediaman.


"Maaf tuan, Jendral Weizhe berkunjung kemari dan ingin menemui anda," seorang Kasim menghentikan mereka.


"suruh dia keruangan ku," perintahnya. Kasim itu mengangguk lalu beranjak pergi.


"ada beberapa hal yang harus ayah bahas, kau bisa lanjutkan kegiatanmu," ucapnya kepada Nyonya Zhu.


Nyonya Zhu hanya mengangguk. ia tahu apa yang sedang terjadi ini menyangkut masalah akan keluarganya. dan akhirnya ia memutuskan untuk melangkah pergi dari sana. langkah nyonya Zhu terhenti ketika di depan kamar Zixin, dengan perlahan ia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar anaknya itu.


ia melihat sekeliling lalu duduk di kursi bersandar dan matanya terpejam.


"Ma.,"


seketika nyonya Zhu membuka matanya, dan Della telah berada di hadapannya, dengan cepat nyonya Zhu beranjak berdiri dan Della memeluknya erat.


"Ma...," ucapnya lirih, suaranya tercekat oleh Isak tangis. jujur saja nyonya Zhu sedikit kaget dengan kedatangan Della yang tiba-tiba.


"Ma..," lirihnya lagi terisak di pelukan ibunya. "sayang.. kau tak apa ?, tenanglah," nyonya Zhu terlihat panik dengan anaknya yang terisak, dia ingat, jika anaknya ini baru saja mengalami duka yang begitu dalam. sungguh hatinya ikut pilu, kenapa keluarganya harus di uji sebesar ini.


Della menggeleng di pelukan ibunya, tangisnya masih tercekat karena di tahan dan ia menahan Isak sungguh itu mengiris hati.


nyonya Zhu mengusap kepala anaknya sayang, meredakan rasa yang pilu sungguh hatinya ikut teriris melihat ini semua ! apa lagi anak perempuannya yang mengalami ini semua, hati ibu mana yang sanggup melihat anaknya terluka ?, tidak ada. "menangis lah, jangan di tahan,"


Della semakin terisak. setelah sekian saat nyonya Zhu melepaskan pelukannya dan menangkup wajah anaknya.


"Dengar, dengarkan ibu, nak dengarkan ibu, kau harus kuat, nak," ia mengusap peluh dan air mata anaknya. Della mengangguk pelan, lalu nyoba Zhu kembali memeluk anaknya.


sementara itu tempat dimana Huali berada, toko itu lumayan rame dengan pengunjungnya dan sedangkan Zian mengantri di antrian pengunjung yang ingin berobat. sudah lama ia berdiri mengantri dan sekarang adalah gilirannya. "Ada yang bisa saya ban..." seketika ekspresi huali berubah saat melihat siapa orang yang berada di hadapannya.


"Hai.." sapa Zian dengan mengangkat tangannya sekilas dengan senyum kudanya.


"perlu apa lagi kau datang kemari ?," tanyanya yang mulai badmood. Zian melihat kanan kiri lalu dengan isyarat ia berbicara "Zixin, dimana dia ?,"


"Di belakang kau langsung saja ke sana, dan segeralah karena mereka menunggu antrian di belakangmu," sembari menunjukan antrian di belakang Zian.


Zian menoleh ke belakang kemudian ia kembali bertanya dan tak kunjung beranjak, "berkerjasama lah dengan ku,"


seketika Huali menghentikan aktifitasnya, "tidak," ucapnya kemudian kembali dengan kesibukannya. "ayolah, apa masalahnya kau menolak, ini kerjasama yang menguntungkan,"


"tidak, kau sebaiknya segera kebelakang jika kau terus disini pelanggan ku akan pergi jadi silahkan kebelakang sekarang," ucapnya sembari menunjukan pintu belakang.


Zian menghelai nafasnya lalu beranjak pergi. dia harus lebih bersabar bagaimanapun ia harus bisa mendapatkan kerja sama itu.


Kini Zian berada di ruangan belakang. dilihatnya adiknya yang sedang sibuk memilah tanaman herbal, dengan segera ia menghampiri dan menariknya menjauh.


"Ka.."


"Diam, sekarang dengarkan kau harus menolongku mendapatkan kerjasama dengan huali kau dekat dengannya bukan ? pokonya kau harus mendapatkan kerja sama itu ayolah bantu kakak jika tidak kakak akan binasa di hadapan kakek hanya kau yang bisa menolongku Zixin berhadapan dengan dia, ayolah ini demi keluarga kita juga dan semuanya kau harus bisa membantu" ucapnya Tampa memberi Zixin untuk menyela. duh itu meminta bantuan atau paksaan ?,


Zixin menepuk kedua tangannya menghilangkan debu di telapak tangannya. "akan kupikirkan," ucapnya lalu kembali ke tempat semula.


"jangan di pikirkan tapi harus di jalankan kau tahu betapa pentingnya ini.."


Zixin menghelai nafasnya lalu menarik kakaknya untuk membantunya memilah beberapa tanaman herbal.


"tunggulah sampai sedikit senggang kak, dia paling tak suka jika diganggu saat mengobati pasien nya, kita tunggu saja tenang," ia sedikit melirik kesamping Temat siluman singa itu berada. "aku punya cara agar dapat membujuknya," ucapnya dengan berbisik kepada Zian lalu mengarahkan pandanganya kepada siluman singa, dan di ikuti oleh Zian.


Zian mengerutkan keningnya isyarat apa yang kau rencanakan, namun Zixin hanya tersenyum tapi senyumnya penuh mencurigakan.


Jangan Lupa Like, Vote and Komen.


haduh.. maafkan blue yang sudah lama sekali belum bisa update..


dan akhirnya sekarang bisa haduh.. leganya...


maaf ya pasti kalian nunggunya lama dan Ndak ada kabar...