MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
mencari



"Apa ?!" ucap Situa dengan terkejutnya. dan tentu saja kini wajah mereka sudah pucat pasi tak ada yang berani berkutik sedetik pun mereka hanya menelan ludah susah payah.


"dimana murid yang bertanggung jawab kepadanya," tanya situa dengan muka yang terlihat suram itu.


"dia ju juga menghilang di saat bersamaan, kami sudah mencari di setiap gunung ini namun tidak menemukannya," jelas Wen sembari menitikkan peluh sebiji jagung.


Situa membalikan badannya dengan wajah yang suram. ia melirik tajam ke samping seolah menemukan sesuatu yang mencurigakan. "cari lagi di setiap detail gunung bintang, jangan kembali sebelum menemukannya," ucapnya dingin dan tajam.


dengan segera mereka menganggukkan kepala dan kabur secepat kilat. kesempatan kabur dan mencari sampai ketemu, dari pada mereka mendapat hukuman mencabut i rumput seluruh gunung Tampa sihir.


Situa berjalan menyelusuri setiap ruangan dan terkadang ia melirik ke samping, ia tahu saat ini sedang di awasi seseorang dan ia tahu siapa pelaku itu. Situa terus berjalan hingga akhirnya terhenti di belakang halaman ia berpura-pura seakan tidak tahu akan ke hadiran orang tersebut. sekilas Situa tersenyum devil.


"ahkk ! sialan siapa yang menculik penerus ku ! hancur sudah semuanya ! seharusnya sihir itu di sempurnakan hari ini," Situa mengeluarkan sebuah liontin bunga kehidupan. "Liontin ini terpaksa harus di simpan kembali," ucapnya dengan keras sehingga orang penguntit itu mendengarnya.


cwiiitt...!


seketika burung Phoenix biru itu datang menghampiri Situa, "pergi ke arah timur," ucapnya sembari naik di punggungnya. dan seketika burung itu terbang sesuai perintah dari Situa.


penguntit itu muncul dan mengikuti kemana Situa pergi. ia terus mengikuti melompat dari pohon satu ke pohon lainnya. dan sampailah mereka di sebuah danau yang airnya sangat tenang dan terlihat sangat indah. samping danau tersebut ada semak-semak belukar yang tingginya setengah badan orang dewasa asal kalian tahu danau tersebut sebenarnya adalah rawa dan sarang buaya, namun saat di atas tadi Situa membuat sihir ilusi di sana sehingga siapapun akan terkecoh dengan keindahan tersebut.


Situa mengeluarkan sebuah kotak kayu lalu menaruh liontin kehidupan di dalamnya. setelah menutupnya Situa berjalan mendekati danau tersebut lalu melemparkan kotak ke tengah danau dan setelah itu Situa menaiki burung phoenix terbang keatas.


penguntit itu segera mendekati danau yang sebenarnya rawa. penguntit itu ada dua orang "kau beri kabar ke kastil, aku akan mengambil kotak itu di danau." salah satu dari mereka mengangguk lalu segera pergi.


aura kekuatan itu terasa sangat kental mereka rasakan dan tampa pikir panjang orang itu langsung mencebur diri ke danau.


Byur !


seketika ia terbelalak saat menceburkan dirinya ke dalam danau, ilusi itu menghilang dan berganti dengan sebuah rawa, ia melihat sekeliling, dan seketika matanya terbelalak lebar, jantungnya berlari maraton. ia melihat buaya muara yang besar bahkan panjangnya sekitar lima meter dan tak hanya itu, ternyata buaya itu tak hanya satu melainkan ada begitu banyak.


Sial !


umpat orang itu. karena ia terjebak di sarang buaya dan sudah di pastikan jika nyawanya akan melayang seketika !


wajahnya sudah pucat pasi melihat buaya yang begitu besar dan banyak itu. Tampa pikir panjang dengan segera ia berenang ketepian, namun apa daya pergerakannya memancing buaya-buaya itu semakin gencar mengincarnya. ia sudah kehilangan akalnya sudah di pastikan jika dirinya akan habis di cincang oleh buaya tersebut.


"Akkhh !" teriak orang tersebut saat kakinya terkena gigitan buaya, dengan sekuat tenaga ia berusaha melawan dan Tampa sengaja ia melihat Situa di atas sana menonton dengan khitmad. orang itu meminta tolong kepada Situa,


"to. tolong !"namun Situa hanya diam, orang itu berusaha sekuat tenaga namun apa daya ia kalah besar dan kalah jumlah, bayangkan saja bagaimana seseorang menghadapi buaya dan buaya itu bukan buaya bisa melainkan buaya muara yang besarnya tiga kali lipat buaya biasa. sekali telan tamat sudah.


"tinggal menunggu umpan selanjutnya," ucap Situa lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke kediamannya.


Situa berjalan mengelilingi tempatnya itu, dengan tampang datar, ia memeriksa di setiap sudut ruangan, sepertinya ia sedang mencari sesuatu. saat di tempat dimana penerusnya singgah ia melihat seluruh isi ruangan dengan intens. matanya terhenti di sebuah meja di sana terdapat tanaman bonsai kecil namun anehnya tanaman itu tercium bunga Azalea.


Situa meniti bonsai yang ada di depannya, ia menyentuh tanahnya lalu mencium bau tanah dan seketika raut wajahnya terkejut seakan menemukan sesuatu.


"ini racun bunga Azalea," gumamnya sambil mengerutkan kening. ia kembali meniti setiap isi ruangan itu, terlihat di sana terdapat bekas sihir yang sudah mulai memudar. ia mengenali aura sihir itu. sihir dari Mo Yan. dan sudah ia duga ternyata benar kediamannya itu sudah tercium oleh Dae san dan terlebih parahnya ia bisa menyusupkan orang ke dalam sembunyiannya.


Situa keluar dari batas sihir, ia meniti setiap hutan itu, "rusa emas," ucapnya lirih lalu menuju ke sebuah danau nan indah dan terawat.


"Rusa ! keluarlah !" ucapnya keras saat menginjakan kaki di atas rumput yang hijau.


terlihat sang rusa yang sedang tidur mengangkat kepalanya karena teriakan dari Situa.


rusa itu menatap Situa malas. pengganggu ketenangan. batinnya dengan mata malas.


"ada apa datang mengganggu tidur ku, kau seharusnya menghormati mahluk suci penjaga gunung bintang," cerocosnya saat Situa berjalan mendekat.


Situa menghiraukan perkataan rusa emas itu. ia menatap serius "dimana penerus ku pasti kau tahu dimana dia berada,"


rusa itu beranjak berdiri lalu berjalan menuju pinggiran danau ia meminum air itu dengan khidmat. setelah itu menatap Situa. "bukannya kau punya sihir kenapa tak kau gunakan, apa sihir mu melemah karena telah kecolongan, " ucapnya sembari menunjukan senyum setengah bibirnya.


Situa membuang mata malas. ingin rasanya ia menghajar binatang di depannya namun ia sadar saat ini bukan waktu yang tepat untuk berkelahi. "cepat katakan saja, aku sudah tak punya waktu, sebelum mereka menemukan keberadaan ku, kutukan harus segera di patahkan," jelasnya to the poin.


"kutukan akan di pecahkan ? ya itu lebih baik kau segera melakukannya karena aku sudah tak sabar ingin bertemu Sang Dewi.." ucapnya sembari berjalan santai membayangkan sang Dewi [Yuan Fu] mendatanginya dan mereka bermain bersama, dan mengelusnya dengan kasih sayang.


Situa mendengus melihat hewan suci yang menurutnya kelakuannya tak seperti hewan suci. ia terlalu kekanakan dan suka bermain. "makanya katakan dimana penerus ku berada, " ucapnya yang sudah hilang kesabaran.


"ya ya ya, dia berada di.." ucapnya terhenti lalu membuka matanya lebar terkejut dengan keberadaan orang yang di dekat si cantik.


"go...a," ucapnya tak percaya "dia dia sudah terbebas, Dewi ku sudah terbebas dari kutukan, ha ha ha, ye ye, akhirnya setelah sekian lama akhirnya aku bertemu dengannya," ucapnya sangat gembira sembari melompat lompat.


Situa menepuk dahinya melihat tingkah penjaga suci gunung bintang.


"goa, goa yang mana ? di hutan ini banyak goa !" teriak Situa menghentikan tingkah konyol rusa itu, dan seketika sang rusa berdehem dan berlagak berwibawa, "akan ku tunjuk kan jalan, kau cukup mengikuti ku di belakang," ucapnya sembari berjalan mendahului Situa, ia agak menghiraukan muka Situa yang menahan jengkel sendari tadi, yang ia pikirkan sekarang ialah bertemu dengan Dewi Hutan ! ia berjalan mengangkat kepala tinggi dan tersenyum secerah mentari pagi.


Situa di sana sudah menahan jengkel karena tingkah hewan di depannya itu. ingin rasanya ia mencincang dan menjadikannya rusa bakar ! jika ia tak ingat pesan penerus nya itu sudah di pastikan ia sudah melakukannya sendari dulu. jujur saja ia rusa yang sangat menjengkelkan.