
"berhenti !" seketika Huali meraih kerah baju belakang kakek wuyu.
"kakek bisa jelaskan kuda itu dari mana ? apa uang hasil obat kau gunakan untuk membeli kuda ?" tanya huali dengan tatapan penuh curiga dan sangat ngeri..
"hehehehe.... itu lepaskan bajuku dulu"
Huali menggeleng "tidak, jika ku lepaskan kakek akan kabur"
"ayolah, ini bukan dari uang penjualan obat"
"bukan utang penjualan obat ? apa kakek menggunakan tabungan kita ?!"
pletak !
"aduh.. kenapa kakek memukul ku !" umpat huali dengan memegangi kepalanya
"makanya dengerin kalau orang tua sedang berbicara, jangan berprasangka dan mengada-ngada, mau tiru-tiru Bu Tejo ?"
Huali memanyunkan mulutnya dan mengikuti kakek wuyu duduk di depan api unggun. kakek wuyu mengambil ikan bakar di wadah daun dan di ikuti oleh Zixin dan Huali.
"kau tahu anak muda tadi sewaktu kakek ini menjual obat kakek bertemu dengan seorang wanita cantik,..."
"sudah tua masih saja membicarakan wanita cantik, ingat umur kek sudah bau tanah tak usah mencari istri apa kakek ingin menghianati nenek ?." sahut Huali dengan mengangkat ubi bakar.
"kau itu selalu saja memotong pembicaraan dan berprasangka buruk, laki-laki mana yang akan mau dengan mu yang seperti itu,"
"itu urusan lain, tak ada sangkut pautnya kek. lebih baik kakek yang ingat umur jangan terlalu bergaya, ingat tulang sudah rapuh." sahut Huali dengan menaruh ubi bakar dengan keras.
Zixin menikmati makanannya dengan menyimak perdebatan kakek dan cucunya itu
"terserah kamu kakek itu masih sehat dan kuat" sembari menunjukan lengan tangannya.
"anak muda, ini makan ubi bakar ini rasanya sangat manis dan lembut" sembari memberikan ubi bakar ke wadah Zixin.
(terimakasih kek) ucap Zixin dengan isyarat.
"sekarang dengarkan ceritaku, tadi kakek bertemu anak muda yang sangat baik hati dia memberiku kuda itu saat mengobatinya,"
(benarkah kek ? seperti apa dia ? pasti dia orang baik )
"benar mereka orang baik, dan istimewa, aku beri tahu sesuatu rahasia tapi jangan bilang kesiapa-siapa ya" sembari berbisik namun masih bisa di dengar oleh Huali.
"paling juga rahasia umum, jangan dengarkan itu rahasia tak penting." timpali huali dengan kesal.
"jangan dengarkan orang iri itu, sekarang dengarkan kakek ini, kau tahu, tadi kakek bertemu seorang penyihir cantik, dan baik hati dia itu yang memberi kakek sebuah kuda yang gagah ini" ucapnya bangga.
"ukhuk." Zixin tersedak mendengar perkataan kakek wuyu. ia bergegas meraih air minum lalu meminumnya dengan rakus.
"pelan-pelan, makanya" ucap kakek wuyu sembari memakan ubi bakar bercampur ikan bakar.
"apa aku bilang jangan dengarkan cerita kakek, itu tidak baik untuk pendengaran" sahut huali sembari memasukan makanannya ke dalam mulut.
"diamlah habiskan makananmu baru bicara apa kau mau tersedak juga,"
"isih, kakek selaku pilih kasih setelah kedatangan dia." gerutu Huali sembari melirik sebal kearah Zixin.
(air,) ucapnya dengan isyarat lalu memegang lehernya. ia ketulangan duri ikan.
"kau ketulangan ?" tanya Huali memastikan. Zixin mengangguk tanda kebenaran.
"makan tuh ubi banyak-banyak," sahutnya sembari melempar ubi bakar ke arah Zixin.
dengan cepat Zixin menangkap ubi bakar itu.
hap.
bruk. seketika ia melemparkan ubi itu karena kepanasan.
Aduh ! panas!. panas!. panas!.
Ucap Zixin dalam hati sembari mengibas ngibaskan tangannya. ia menatap ke arah Huali yang tertawa terbahak-bahak.
(dasar perempuan sialan !" akh. tenggorokanku.) ia kembali memegangi tenggorokannya.
"duduklah dan makan ubi ini secara terus menerus biar duri yang menyangkut itu lekas turun" ucap kakek wuyu yang sudah mengupayakan ubi bakar untuknya.
dengan segera Zixin meraih ubi itu dan memakannya.
"pelan-pelan jangan tergesa-gesa"
Zixin mengangguk.
artcvic dan Della singgah di perbatasan pelindung gunung bintang
"apa kau yakin disini tempat Situa ?" ucap Della sembari melihat sekeliling yang hanya terdapat pepohonan saja.
"benar tuan, disini tempat perbatasan pelindung hutan bintang. anda tinggal masuk saja dan akan bertemu langsung dengan Situa"
"kau tak ikut bersamaku, ?"
"aku sibuk dan tak mau bertemu dengan Situa yang kekanakan itu" elak artcivc sembari memalingkan wajahnya.
Della lagi-lagi membuang nafasnya dan menepuk jidatnya. "ya.ya.ya aku tahu pasti kau mempunyai masalah seperti dengan kakek wuyu, oke kau bisa pergi sekarang, tapi lain kali kau harus bertemu dengan Situa ada suatu hal yang harus ku bahas dengan mu dan Situa." ucap Della lalu melangkahkan kakinya.
Sling..
seketika keadaan tempat itu berubah. yang tadinya hanya pepohonan sekarang menjadi sebuah halaman dengan beberapa tanaman hias, rumah yang sederhana namun terkesan elegan itu terpampang indah dengan berbagai bunga gantung di setiap celah pilar.
"siapa kamu ?!" ucap salah satu pengikut Situa yang bertugas menjaga halaman. bukan. lebih tepatnya membersihkan halaman.
Della menoleh ke sumber suara.
"aku mencari Situa"
pengikut itu mengerutkan dahinya. "apa kau penerus Situa ?"
"penerus ?"
"Wen ! kemana kau ?! siram bunga yang sebelah sini dia kekurangan air apa ku tidak menyiramnya dengan benar ?!" teriak Situa sembari menghentakkan kakinya.
"kumat lagi. hah ! " keluh si Wen sembari menyabarkan dirinya sendiri. akhir-akhir ini permintaan Situa mampu membuatnya menahan sabar yang begitu membuncang.
"apa itu Situa ?" tanya Della yang melihat Wen mengelus dadanya.
"tenang saja biar aku yang tangani" ucap Della sembari menepuk pundak Wen.
ia bergegas menuju ketempat Situa berada.
"Situa. i'm coming !"
situa menoleh. "penerus ku.. akhitnya kau datang juga.." ucapnya ceria namun seketika wajahnya berubah serius "kenapa baru menemui ku ?" ucapnya serius dan penuh penekanan.
ya sepertinya Situa ini memang mempunyai masalah dengan tempramental nya. cepat sekali berubah dalam waktu sekejap. harus sabar ya para pengikut Situa. hehehe..
Della berdehem, "sekarang aku sudah menemui mu apa kau tidak menyilahkanku duduk Situa ?"
situa mengelus jenggot hitam bercampur putihnya. "benar juga, dia baru datang.. ya. ayo duduk di belakang pemandangannya sangat indah pasti kau sangat suka" ucapnya kembali ke ekspresi gembira.
sepertinya mood Situa ini sedikit bermasalah.
" Sewi siapkan teh merah ke halaman belakang" ucapnya berteriak. ia berjalan menuju ke halaman belakang.
arsitektur bangunan Situa ini memang sangat elegan. setiap dindingnya memiliki berbagai motif yang berbeda di setiap pagar terlilit tanaman yang indah. ya ahir-ahir ini Situa memang lagi demen dengan menanam tanaman bunga dirumahnya. kini rumahnya seperti kebun bunga bunga apa saja ada disana.
"ini sangat cantik" guman Della sembari melihat setiap bunga yang menghiasi di setiap pilar, pagar serta dinding.
"kita sudah sampai" ucap Situa sembari melihat sekeliling pemandangan yang tak pernah membosankan mata.
Della membelalakkan kedua matanya.
"ini..." tempat ini sangat nyaman untuk bersantai. indah pemandangannya. mungkin aku akan betah bila berada disini.
"bagaimana bagus bukan ini adalah tempat terindah di gunung bintang hahaha. dan kau tahu aku juga sudah menyiapkan teh terenak disini." ucapnya dengan bangga dan menyombongkan diri.
Della ke sana kemari melihat pemandangan yang ada menghiraukan perkataan Situa.
"kyaa di sana ada air terjun, wah disana juga ada kebun seribu bunga.. disan juga ada bukit telletubis ! kyaa ini bisa membuat inspirasi desain bajunku..."
situa melihat kearah Della yang berjalan ke sana kemari yang menghiraukan perkataanya.
"ehem... Lingxiu."
"penerus kecil kau mendengarkan ku ?"
Della masih tak menggubris dan masih asik dengan kesenagganya melihat pemandangan begitu indah.
Situa : sepertinya telah salah aku mengajak dia kehalaman belakang. -_-...
para pengikut Situa : hehehehe bagus nona penerus bagus ! akhirnya ada juga yang bisa membalas situa.. teruskan kami mendukungmu.. !