
deg.
seketika Situa menghentikan mengunyah. ia lupa akan kabar duka yang menimpa, dia lupa memberi kabar kepada
Della. "dia.." belum sempat melanjutkan perkataanya namun telah di potong dengan isyarat gelengan kepala Yuan Fu, Situa terdiam menatap Yuan Fu dan sekilas menatap ke arah Della.
"ada apa ? kenapa kalian diam ?, apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan ?" tanyanya penuh selidik curiga dengan ekspresi mereka saat ini.
"ha ha ha, tidak, tidak ada, kau jangan terlaucriga penerus," elak situa sedikit gelagapan. della memejaman matannya sejenak, "jangan berbohong situa," sahutnya dengan tatapan tajamnya.
"kenapa ? aku hanya kaget dengan masakan yuan fu yang begitu enak, aku sangat merindukan masakannya
ini," jelasnya sembari memakan sate itu dengan begitu lahap. Yuan Fu tersenyum "dia memang begitu Lingxiu, sendari dulu ia sangat menyukai masakan ku," sahut Yuan Fu mencoba mengalihkan pembicaraan mengenai
Junjie. jujur saja dia masih belum yakin akan memberi kabar ini kepada lingxiu, ia tak mampu melihat orang di depannya ini menunujkan rasa kesakitan yang mendalam. Namun sayang, seberapa rahasia itu di simpan cepat atau lambat dan dengan jarak dekat ini pasti dia akan mengetahuinya.
della menghelai nafasnya. hatinya masih tak tenang dan terus kepikiran. entah kenapa sudah lama hatinya selalu
merasa tak enak dan gelisah setiap saat. perasaan tak tenang selalu menyelimutinya namun ia selalu menepis rasa itu, menutupinya seakan tak tejadi apa-apa tapi hatinya gelisah tak kauruan.
"yah, yah, kali ini aku percaya," gumamnya. "tapi situa, apakah kau sudah selesai menyelesaikan masalahmu ?," tanyanya kembali karena penasaran. situ masi asyik dengan makananya itu.
"belum," gumamnya disela-sela makan. "hah ? belum ? kenapa lama sekali ? lalu kenapa kau mencari ku ?" tanyanya tak percaya dan sebenarnya ia sedikit sebal juga dengan situa mengingat kejadian yang menimpanya saat di gunung bintang.
"kau harus mematahkan kutukannya baru masalah terselesaikan, jadi aku mencarimu untuk membantu
memecahkan kutukan itu," jelasnya to the point. terlihat della sedikit menyungging senyumnya.
"apa aku bilang, aku mau ikut tapi kau tolak dan sekarang kau mencari ku ?, makanya jangan asal ambil keputusan dengarkn diriku," cerocosnya karena ia masih sediit sebal.
terlihat situa sedikit mendengus. "jika Junjie tak mematahan kutukannya dan pergi dari sini, sudah ku pastikan aku tidak akan mencari mu sebelum masaah seleasi,"
“apa katamu ? junjie pergi ? apa maksud mu ? dia kabur gitu ?,” entah kenapa della akhir-akhir ini sedikit cerewet dan suka mengomel, mungkin karena siklus hatinya yang sedang sangat labil.
“ish, kenapa kau begitu cerewet, apa kau pura-pura lupa ? jika dia mati di bunuh pangern ke tujuh ! padahal
pemakamanya belum lewat dua minggu,”
Deg !
Hatinya seketika seakan terhenti, tersentak mendenar pernyataan itu. Apa ? mati ? dia, dia. Batin della memandang dengan tatapan tak terbaca, “apa kata mu ? dia, dia apa maksud mu ?!,” tanyanya tak percaya.
Deg. Seketika situa membungkam mulutnya yang lepas control itu, dan yuan fu menatapnya tajam situa.
“jelaskan situa, apa aksud mu ? kau tak sedang bercanda bukan ?!”
Bungkam, semua bungkam tak ada yang menjawab. “kenapa kalian diam ? apa benar itu ? cepat jawab situa !, Yuan Fu kau pasti tahu sesuatu bukan, jelaskan yuan, kau dulunya jelmaan pedang fire pasti kau tahu, katakan jika dia berbohong, katakan, ayo katakan dia berbohong,” matanya sudah berkabut menahan peluh yang akan tumpah, tatapanya penuh menuntut penjelasan.
Diam semua diam, entah bagaimana mereka akan menjelaskannya serasa mulut mereka kelu.
“Ahh !” della membuang nafasnya kasar mengambil nafasnya dalam lalu membuangnya secara kasar, menahan hati yang seraya di hempaskan, ia memijit keningnya “oke, kalian diam, memang benar apa yang kau ucapkan, kenapa bisa, kenapa bisa. kenapa kalian tidak memberi tahku tentang hal ini kenapa !” ucapnya terhenti, ia beranjak berdiri.
“Xiu,” pangil yuan fu
“diam, aku ingin sendiri, jangan ikuti aku !” potongnya lalu bergegas pergi. Sungguh hatinya tak kuasa mendengar
benturan kata dari situa, mendengar kenyataan ini.
Tuhan, apa lagi ini Tuhan. Kenapa kau membolak balikan hati seseorang ? kenapa tuhan ? kenapa kau ambil dia disaat dirik mulai menerima ? kenapa kau ambil dia disaat cinta bersemayam di dada, kenapa kau ambil dia di saat hati kami mulai percaya, kenapa tuhan ? kenapa ? Tuhan hatiku lara, tak kuasa membendung amarah yang menggelora, hatiku terluka meninggalkan janji yang belum sempat dijalani.
Ku susuri hutan tampa arah, mencari jalan pulang. Entah aku sudah tak terpikirkan apapun selain kembali, kembali
mencari kebenaran yang di ucapkan situa. Piiranku menolak akan ucapannya. Enah sudah sejauh mana aku berjalan tanpa arah menari jalan pulang hingga tampa aku sadari sebuah anak panah melesat tepat di samping mukaku.
Srak ! cap !
Anak panah itu menanap di pohon. Jika tidak segera menghindar sudah ku pastikan jka ank panah itu akan sempurna menancap di kepalaku. “siapa disana !” ucapku keras. Kulihat sekeliling dengan tajam. Seketika beberapa orang dengan pakaian serba hitam muncul dengan cadar mereka, ah. Lebih tepatnya lima orang tiga di antarannya membawa pedang dan dua lainnya membawa anak panah.
“siapa kalian ?”tannya ku yang sudah memendam peluh didada. Sungguh sebuh suasana yang tidak tepat dan sangat mengganggu !
“kau tak perlu tahu kami, yang kau harus tah adalah hari ini adalah hari kematian mu,” ucapnya sombong sembari
terkekeh.
peduli. Hingga salah satu pedang itu menggore lengan kiriku aku tersentak dan langsung menghindar. Kesadaran ku kembali, namun masih dengan hati yang kacau.
Darah mengalir dari lengan kiri ku, perih. Ya itu yang aku rasakan. Namun luka itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan luka hatiku. Orang itu kembali menyerang dan yang bisa ku lakukan ialah menangkis dan menghindar. Aku sadar saat ini aku hanya bisa mengunakan ilmu bela diri saja, kekuatan sihirku tersegel dan pedang erlac entah sudah sekitar dua minggu ini aku tidak bisa memangil dan merasakan kehadirannya. Bagaimana lagi ? aku hanya bisa menyerang dengan tangan kosong, sungguh pertarungan yang tak
seimbang.
Srak !
Sembilah pedang itu menggores lengan ku kembali. Tenaga ku habis. Jujur saja beladiri mereka bukanlah
main-main, buktinya tak ada dari merka yang bisa aku lumpuhkan dan yang ada hanya diriku yang terluka oleh pedang mereka. Kulihat pedang itu mengayun kearah ku dan. Trang !
Ku lihat ada sebuah pedang menaan serangan itu. “apa kau gila ? diam saja saat di serang ?!” ucapnya sarkas lalu
melawan serangan dari mereka. Aku tak tahu dia siapa. Tapi entah mengapa ia membantu ku. Tak ku hiraukan perkataannya, sekarang adalah bagaimana mengalahkan mereka semua. Bisa ku lihat orang itu melawanya dengan begitu gesit bahkan baru sebentar saja ia sudah bisa merobohkan tiga dari mereka. Dan tak selang begitu lama ia sudahmampu mengalahkan mereka.
Orang itu menghampiri ku. Ku lihat ia melihat lengan ku yang terluka. “terima kasih,” ucapku padanya dan berlalu
pergi, namun langkah ku terhenti ketika ia menahan tanganku. “tunggu, lengan mu terluka, biar aku bantu mengobati mu,” ucapnya kepadaku. Mungkin ia merasa ngilu denan luka yang berada di lengan kiri ku itu.
Aku melihat lengan kiriku, benar saja lengan kiriku penuh dengan darah, dua sayatan pedang itu sunguh bukanlah
luka sederhana pantas saja wajahnya terlihat kawatir. Namun sungguh ku tak merasakan sakit saat ini, sepertinya sakit di lenganku itu tak seberapa dari sakit yang ada di dalam hatiku.
“hei, kau taka pa ?” ucapnya menyadarkan lamunan ku, dan aku hanya mengangguk. “ikutlah dengan ku biar aku
obati lukamu, tenang saja aku adalah seorang tabib,” ucapnya menyakinkan ku.
“baiklah,” jawabku menurut saja, karena tidak mungkin aku membiarkan luka itu, bila ku biarkan bisa-bisa darah
dalam tubuhku terkuras habis.
Krekk !
Ia merobek baju jubahnya dan kemudian mengikat lenganku. “pakai ini dulu agar darah mu sedikit tersumbat,” aku hanya diam saja membiarkan ia mengikat luka dengan kain itu. orang itu membawaku ke sebuah rumah, rumah sederhana di tengah hutan. namun bisa ku lihat tempat itu terawat.
“guru !, kau di dalam ? “ ucap orang itu sembari membuka pintu dan bergegas masuk. Aku mennggu di luar duduk di kursi panjang.
“kau sudah kembali ? mana buruan mu ? apa kau bertemu situa tadi ?” tanyanya, yang melihat muridnya tengah
cepat-cepat mencari bahan obat. “kenapa kau terburu-buru dan obat ntuk apa itu ? apa ka terluka ?’ tannyanya lagi karena muridnya itu mengabakannya.
“tidak semua,” ucapnya lalu bergegas pergi.
“hei, kau, walapun kau seorang pangera tidak seharusnya kau mengabaikan aku,” gerutunya sembari menyusul muridnya sat di depan pintu ia segera membukannya dan mendapati muridnya sedang mengobati luka seseorang dan orang itu adalah perempuan, ia tak melihat muka perempuan itu hingga “hei, bujang, kau mengabaikan ku dan membaw seorang perempuan kemari ?” ucapnya dengan keras dan sontak muridnya dan della menoleh.
“Kau !,” ucapnya kaget dengan apa yang ia lihat. Dengan segera ia mendekat, “penerus kecil, kau ternyata, oh
yampun kenapa dengan tangan mu ? kenapa bisa terluka ?” ucapnya sembari memegang lenan yang baru saja di obati.
“bisakah guru hati-hati, aku baru saja selesai mengobatinya jika kau seperti itu lukanya tak akan sembuh,” ya,
dia adalah kakek wuyu dan pangeran fang qi. Terlihat della menatapnya sekilas lalu kembli mengalihkan pandanganya tampa menjawab pertannyaan. Terlihat jelas sekali sorot mata della yang seperti kosong. “lalu bagaimana kalian bisa bertemu ? apa kau bertemu dengan situa ?” tannyanya tampa henti karena penasaran.
Pangera fang qi sedikit mengerutkan keningna karena bisa membaca pergerakan della yang enggan menjawab.
“tadi di tengah jalan tampa sengaja aku menemukanya sedang di kepung beberapa orang, dan yah untung saja mereka sudah di lumpuhkan,” sahut pangeran fang qi. “oh ya guru, kalian saling kenal ? bagus deh jika begitu,” ucapnya lalu menguap.
Pletak !
Seketika jitakan mendarat di kepala pangeran fang qi. “aduh,” gerutunya sembari mengusap kepalanya. “apa kau
buta, jelas saja, dia adalah penerus sihir situa, dan istri dari alm. Junjie !” ucapnya sembari menegaskan.
“benarkah ?” ucapnya tak percaya. Terlihat disana della tatapanya semakin terluka. Baru saja ia mereda hatinya
sebentar namun pernyataan itu kembali muncul, dengan ucapan mereka, alm. Benarkah dia sudah pergi dari dunia ini meninggalkan dirinya. Tampa terasa butiran bening itu kembali menjuntai, membasahi pipi tampa bersua. Sungguh hatinya terhimpit dan sesak.
“penerus kecil, kenapa kau menangis ? hei, katakan sesuatu,” Tanya kakek wuyu sembari duduk di samping della, della diam tak menjawab. Sungguh ia tak mampu membendung air matanya.