
mereka menoleh kepada Situa.
"temukan dia" lanjut situa.
"temukan dia ?" tanya della
"dengan menemukan dia dan mengendalikan dia maka dengan mudah kita bisa memasuki hutan kabut"
"tapi bagaimana caranya ? dia menghilang bagai tertelan kabut, di terlalu pintar ntuk bisa kita serang" sahut kakek wuyu.
"bukan menyerangnya tapi menangkapnya, dan akan hal itu kita perlu umpan untuk memancingnya keluar" situa melirik kearah kakek wuyu "tapi ini sedikit berbahaya dan memilii resiko tinggil jika gagal, namun jika berhasil hasilnya tidak main-main"
"hei, anak muda, aku merasa pasanganku tidak ada di hutan kabut sekarang"ucap pedang erlac kepada della
"apa kau serius ? lalu dimana dia ? kau tahu ?" ucap della membuat kakek wuyu dan Situa menoleh menatapnyan.
"kau tahu suamimu itu ? saat kalian bersama aku selalu merasa kehadiran pasanganku berada disana, aku berfikir mungkin pasanganku telah menemukan tuannya. tapi yang membuatku marah kenapa tuannya haru lelaki !" jelas erlac dengan sebal. perkataanya hanya bisa di dengarkan oleh Della.
"hei ! kau pikir aku tidak sebal juga ?! siapa juga yang rela jika suamiku memiliki pedang wanita ! makanya kau itu keluarlah dan ambil dia dari suamiku !" ucap della menaikan nada suaranya.
"aku hanya merasa tapi tidak pasti dia bersamanya tau bukan !"
"hah. baiklah. setelah dia pulang dari perang aku akan menanyakanya"
"apa kau waras ling-ling kecil ?" tanya kakek wuyu yang membuat della menoleh.
terlihat situa dan kakek wuyu melihatnya heran dengan wajah sedikit datar.
"aku sedang berbicar dengan erlac. dia bilang bahwa pedang fire kemungkinan besar telah menemukan tuannya." jelas della.
"benarkah ? berarti kita harus menemukan orang itu." sahut situa "aku heran sebenarnya siapa orang menemukannya ? hebat sekali dia bisa memasuki hutan kabut" guman situa namun dapat di dengar oleh della.
"emt... itu sepertinya suamiku situa, kau kenal dia bukan ?"
"Apa !" ucap situa kaget.
"bukankah itu kabar baik situa ?" sahut kakek wuyu
"aku tidak menyangka anak dari seorang jendral itu dapat menemukan peadang fire. bagaimana bisa, aku bisa kalah dengannya" gerutu situa yang dapat di dengar oleh mereka.
he he he ternyat situa ini orangnya tidak terimaan. batin della. tapi benar juga yang di katakan situa. bagaimana bisa ia mendapatkannya ?.
"ayo temui dia," sahut situa sembari berdiri.
"eh ?"
"kenapa ? ayo temui dia sekarang."
"tapi situa, dia sekarang berada di bagian utara dia sedang perang.." ucap della.
"itu tidak masalah. ayo temui dia sekarang"
della dan kakek wuyu saling pandang
"kenapa ? lebih cepat lebih baik bukan ?"
"apa itu tidak mengganggu mereka berpeang ?"
"itu masalah kecil. kita bisa membantunya dengan jarakjauh itutidak akan mempengaaruhi mereka" jawab situa enteng. "ayo berangkat" situa telah siap dengan jubahnya.
"kakek wuyu berdiri, akan ku siapkan kuda"
"kelamaan. gunakan sihir menghilang." sahut situa.
"aku tidak bisa !" sahut della sembari membuang nafasnya.
seketika situa menjentikkan tangannya dan Artcvic muncul.
"kalian dengan dia, aku tunggu di perbatasan utara" ucap situ menyibakkan jubahnya lalu menghilang.
terlihat artcvic mendengus.
"stop. berdebatnya nanti. sekarang ikuti Situa" sahut della yang mengetahui ekspresi mereka aura permusuhan.
"aku bilang tidak adayang boleh berbicara selama perjalanan !" sahut della kembali.
mereka [kakek wuyu dan artcvic] mengelak satu dengan lain. kakek wuyu akan naik tapi diam-diam arcvic berdiri dan membuat kakek wuyu terjatuh. alhasil kakek wuyu mengadu kesakitan dan artcic tertawa devil.
"klian diam! ini bukan saatnya bermain" ucap della yang telah berada di punggung Artcvic.
kakek wuyu mengejek Artcvic lalu ia segera naik ke atas.
setelah memastikan semua siap Artcvic segera meluncur menyusul Situa.
sementara itu situa telah sampai di perbatasan sebelah utara. ia melihat situasi di sana. ia melihat pasukan perang sedang berjaga.
di mana tempat jendral itu berada ?. ia mengelus jengotnya. aku tahu.
seketika situa turun dari atas pohon ia membuat sihir penyamaran lalu menghampirilah beberpa prajurit.
"hei kau tahu di mana jendral JunJie ?"
para prajurit itu saling menoleh.
"ada apa mencari jendral ?" sahut alah astu dari mereka.
"saya di suruh untuk menampaikan pesan dari pangeran"
"jendral berada di tendanya. kau kesana saja"
seketika Situa mencari tenda milik Junjie. selama mencari tenda itu Situa sembari mengelilingi markas perang, ia mapir ke beberapa orang dan berbincang-bincang melihat persenjataan, tempat kuda. setelah meneliti semua tempat itu ia tak bergegas langsung masuk. ia memilih keluar dari arena perkemahan mencari tempat dan waktu yang tepat.
alam telah menunjukan sore hari.
Disana tempat persembunyian Situa dan lainya berada. mereka masih mengamati keadaan sekitar.
"saat matahari tenggelam kau masuk ketendanya,"ucap situa menunjuk kearah della.
"bak, tapi bagimana jika ketahuan ?"
"apa kau meragukan kekuatan ku" sahut situa.
"bukan itu maksudku, tapi bagaimana jika ada yang tahu tentang sihir yang aku gunakan"
"tenang saja itu masalah kecil. yang kau lakukan hanya masuk ketenda suamimu itu" ucap situa malas.
malam pun tiba. della telah bersiap dengan peyamarannya.
"kau sudah siap ?"
della mengangguk. kemudian situa menggunakan sihirnya. setelah selesai della langsung menuju tempat perkemahan.
"lalu apa yang harus aku lakukan ?" tanya kakek wuyu.
"kau mencari informasi mengenai angota pengikut siracun itu, sepertinya mereka mepunyai beberapa informasi tentang hal itu"
kakek wuyu mengangguk paham, lalu ia menggunakan penyamaran.
"kau harus waspada, aku merasa ada yang jangal disini. jika terjadi sesuatu langsung kabari aku"
"aku mengerti" kakek wuyu melangkahkan kakinya ke para prajurit itu.
sementara itu della telah sampai di depan tenda junjie, ia masuk tampa ragu. saat masuk yang pertama kali ia lihat adalah junjie dan jendral weizhe. ternyata mereka sedang membahas beberapa strategi perang. della diam tak melakkan apapun iamenungg waktu yang tepat untuk menunjukan diri.
"....rencana penyerangan seperti rencna awal, dan bagian pemana mereka harus di sebar di setiap kelompok, tambahkan pula pemanah rahasia mereka akan membantu jika situasi kita terjebak mereka bisa menahan beberapa musuh untuk kita. untuk mengecoh lawan kita harus memancing mereka menuju tempat x....." jelas junjie panjang lebar.
della masih menunggu dan mendengarkan penjelasan yang sama sekali ia tak tahu dan menurutnya sangat membosnkan hingga ia hampir tertidur.
"tiga hari lagi, kita akan menyiapkan semuanya" jendral weizhe menepuk pundak junjie. "istirahatlah besok masi banykyang harus di kerjakan" setelah mengucapkan itu ia bergegas pergi. terlihat Adarsya menyandarkan tubuhnya di kursi.
"sepertinya kau sangat sibuk"
seketika ia terbangun dan menoleh ke sumber suara. terlihat wajah terkejut Adarsya. Della ?! "Kau ?!"
Della mendekat "ya ini aku,"