
acara malam itu terhenti di tengah jalan. semua orang terlihat panik dengan kejadian yang menimpa sang tuan rumah. al hasil acara yang dilangsungkan itu harus dibubarkan.
rasa kecewa menyelimuti beberapa para tamu undangan karena acara harus diberhentikan. mereka kehilangan kesempatan untuk menjadi calon suami sang anak jendral nan tampan itu.
ditengah tengah kesibukan Para pelayan yang membereskan sisa sisa acara, ada sekumpulan orang yang sedang panik menunggu di luar ruang kamar.
"Tuan," tabib keluar dari ruangan.
jendral langsung mendekat. "semua racun sudah sirna dalam tubuhnya, tetapi, sepertinya tuan muda kehilangan ingatanya"
jendral mengerutkan keningnya "Bagimana bisa ? ia hanya terkena racun. bagimana bisa ia kehilangan ingatanya ?" ia mengambil nafas dalam.
"sebelum Tuan kembali, tuan muda sempat kritis Tuan, dan tidak sadarkan diri, racun itu hampir mengambil nyawa tuan muda, untunglah saat itu tuan datang tepat waktu jadi Tuan muda bisa selamat."
jendral mengambil nafas berat. Tanpa bicara
jendral langsung masuk ke kamar anaknya.
terlihat Junjie sedang duduk bersandar di ranjangnya terlihat wajah pucat anaknya
perlahan Jendral mendekati. dicermati anak lelakinya itu.
"apa kau juga melupakan Ayahmu ini ?"
sang anak menatap tanpa suara.
Jendral membuang nafas beratnya. ia menepuk bahu anaknya "istirahatlah. setelah kondisimu lebih mendingan. ayah akan menemui mu lagi"
jendral beranjak keluar dari kamar anaknya.
yang di tinggal memegang kepalanya karena rasa nyeri yang tiba tiba datang.
Ia memejamkan matanya sejenak.
Mencoba menetralkan fikirannya yang sedang campur aduk memori memori asing berputar di ingatannya.
"aggkh.!" sembari memegang kepalanya.
ingatan ini..bagimana bisa berada di ingatanku.
setelah rasa sakit itu mereda, ia beranjak dari ranjangnya. melihat sekeliling interior ruangan yang sangat kuno namun memiliki kesan elegan dan tak asing. ingatan yang tiba tiba datang itu membantu menjelaskan semua yang ada di sana.
ia terhenti di jendela. tanganya membuka jenda kamar.
seketika hembusan angin lembut menerpa wajahnya. ia menghirup dalam udara segar yang menerpanya mampu meringankan pikiran yang sedang berkecamuk di kepalanya.
sejenak ia memejamkan mata. menikmati nikmat fasilitas Bumi yang ada, semilir angin yang menerpa mengibarkan beberapa helai ramput yang terurai menampakkan wajah yang tampan nan tenang itu menjadi lebih berkarisma tanpa mengurangi wajah ketampanannya.
"Kakak !"
Seketika ia terbangun dari lamunannya. ia menoleh ke sumber suara. terlihat seorang gadis berjalan kearahnya. wajah gadis itu terlihat ceria sembari membawa busur dan anak panah. seketika ingatan mengenai gadis itu terputar dikepalanya.
"kakak pertama sudah sembuh ? bagimana keadaan kakak sudah baikan ?"
Gadis ini, anak ketiga jendral.
"sudah baikan." sembari tersenyum simpul.
"kalau begitu kakak istirahat saja. aku mau lanjut latihan dulu. jangan terlalu lama terkena angin itu tidak bagus untuk kesehatan kakak pertama." gadis itu sembari melangkah pergi.
ia mengingat kembali kejadian terahir. ia ingat saat melompat terjun ke laut untuk menyelamatkan Della. saat ia berhasil meraih tubuh Della di dalam air, dan berenang keatas tiba tiba kedua kakinya kram dan tidak bisa digerakkan. ia berusaha sekeras tenaga namun yang ada tenaganya semakin terkuras tak membawakan hasil, tubuh mereka seperti ketarik kebawah ia masih berusaha sekuat tenaga agar bisa muncul ke permukaan.
memegangi erat tubuh Della dalam pelukanya supaya tidak terlepas, namun sebuah tenaga akan habis jika digunakan terus menerus, hingga ahirnya kalah dengan terjangan arus laut dan perlahan tak sadarkan diri.
Ku kira diriku mati di telan arus laut. tak kusangka setelah aku tersadar. sudah berada di tempat aneh ini.
**
sore hari ia keluar dari kamarnya, beberpa pelayan membungkuk hormat ketika berpaspasan denganya.
"sudah baikan ?" seorang paruh baya menghampirinya.
Orang ini. ingatan asing itu berputar di kepalana. Jendral negri ini ayah Junjie dan ayah anak gadis tadi. memang negara yang sungguh asing. dari interior rumah sampai pakaian mereka sangat berbeda, ini seperti filem kolosal. walapun gaya orang orang disini aneh mereka telah menyelamatkanku.
"sudah" jawabnya singkat.
"Kemarilah" jendral berjaln menghampiri sebuah gazebo dan duduk disana dan ia mengikutinya.
jendral memerintahkan para pelayan menyajikan teh untuk mereka.
"Sebelumya, Terimakasih tuan telah menolong saya,"
jendral mengerutkan keningnya. Tuann ? apakah kau benar benar melupakan ayahmmu ini ?.
"Jangan panggil Tuan. kamu ini anakku. Kenapa harus berterimakasih ?"
adarsya berfikir keras. Anak ?
"tapi maaf Tuan, bukankah anda yang menyelamatkan kami saat hanyut ?"
jendral semakin mengerutkan keningnya
hanyut ?. kenpa otak anakku ini semakin kacau setelah sadar. dari gaya bicaranya juga berubah. seperti bukan dirinya.
"sepertinya kamu butuh istirahat penuh untuk memulihkan ingatanmu junjie."
ia diam sembari meminum teh digelas.
anaknya ? ingatan hilang ? dan ingatan siapa yang berada di kepalaku ini.
tapi di fikir fikir kenapa mereka berambut panjang semua.
seketika ia meliat pakain yang ia kenakan. ini aku juga berpakaian seperti mereka. dan. dan.
ia memegang kepalanya. tangannya memegang rambut.
ini.
kenapa rambutku menjadi panjang seperti ini. bagaimana bisa ?!
ia masih bingung memperhatikan pakain yang ia kenakan.
ia terlihat bingung.
jendral semakin mengerutkan kening dan kawatir dengan kelakuan aneh anaknya.
"pelayan panggil Tabib sekarang!"