
"jangan pernah memancing atau memprovokasi ku , aku bisa lepas kendali" ucapnya masih menatap dalam.
"siapa juga yang memancing mu." elak Della sembari mengalihkan pandanganya. "kau lepaskan aku. aku sudah mengantuk" ucapnya sembari mencoba melepaskan diri. sungguh ia tak tahan jika begini terus lama kelamaan dia bisa terlena.
tangannya mendorong tubuh junjie. namun tak berhasil malah tangan junjie merangkulnya dengan erat.
"mau kemana hah ?"
"Beser !" ucap Della lalu melepaskan tangan junjie yang melingkar di pinggangnya.
junjie terdiam mendengar jawaban Della. ia menahan tawa. saat Della melangkahkan kakinya pergi. "alasan yang konyol" ucapnya menggeleng kepala pelan dan tersenyum lalu duduk di kursi.
Della berjalan dengan menghentakkan kakinya.
Dia selalu seenaknya. tidak tahu apa perbuatanya itu bisa membahayakan jantung ku.
Disisi lain..
kediaman keluarga Zhu
terlihat Zian berjalan sendiri di halaman belakang. ia terhenti menatap langit malam. tatapannya tak terbaca. ada sebuah pesan tersirat dimatanya kerinduan, sakit hati, tak percaya, ragu, bercampur menjadi satu.
"apa benar, yang di katakan paman ? kedua orang tua ku. ayah ibu. mereka. " kata-katanya terhenti. ia menahan sakit di dadanya tangannya mengepal. "hah. aku masih tidak percaya hatiku menolaknya tapi. ini semua kenyataan. aku bukan anak kandung mereka. dan orang tuaku mati di tangan mereka ! bagaimana bisa ?! mereka telah merawat ku begitu baik selama ini tapi bagaimana bisa mereka membunuh orang tua kandung ku !"
ia mengambil nafas dalam tangannya mengepal. "Tidak. aku tidak boleh gegabah. disaat seperti ini aku harus berfikir jernih. aku tidak bisa menambah beban keluarga ini. keadaan sangat kacau sekarang. akan banyak peluang orang menghancurkan keluarga ini jika aku tidak bisa berfikir jernih, di saat seperti ini tidak ada yang bisa di percaya."
"Yun," panggilnya.
seketika seseorang muncul di sampingnya.
"siap tuan muda,"
"cari tahu, tentang paman Quan Zhu. dan penyerangan Zixin. cari sedetail mungkin, jangan ada sampai kesalahan. aku tidak menerima kesalahan sedikit pun. jangan sampai ada orang yang tahu. manfaatkan waktu sebaik mungkin. tiga hari aku menunggu hasil penyelidikan mu." cicitnya panjang kali lebar kali tinggi. sifat cerewetnya tak bisa lepas dari dirinya.
pengawal rahasianya itu membuang nafas pelan. "memang. tidak ada yang bisa menandingi cerewet mu tuan" ucapnya dalam hati.
Zian melirik tajam pengawal pribadinya itu.
"maaf tuan. hamba tidak sopan. saya akan segera melakukannya sekarang" pengawal itu segera bergegas pergi sebelum tuanya itu berucap. bisa gawat dirinya jika tuanya berucap, bisa sampai pagi jika itu terjadi.
sementara itu
Nyonya Zhu masih sibuk di ruangan kerja tuan Zhu. ia masih meneliti beberapa kertas di atas meja.
"pohon bercabang berdaun hijau. batang itu patah karena angin. angin berhembus dari Utara berdiam di pohon rindang" ucapnya lirih membaca surat lama. ia membalik kertas. Fu ?
"Sayang, istirahatlah kau harus menjaga kesehatan mu." ucap tuan Zhu menghampiri istrinya yang masih serius duduk di kursi.
Nyonya Zhu memegang kepalanya yang pening.
"kenapa kakak mu memberikan kode berupa puisi seperti ini,"
"Dia orang berbakat. sastranya sangat terkenal di kerajaan ini, bahkan saat ia masih berumur 16 tahun raja pernah mengundangnya langsung untuk melihat keterampilan sastranya. bahkan karyanya banyak di bukukan." ucap tuan Zhu sembari memakaikan pakaian tebal ke pundak istrinya.
Nyonya Zhu mendongak "di bukukan ?"
"benar,"
"Siapa nama bukunya ?"
"Fu ? jadi sastrawan terkenal itu adalah kakak ipar ?" cicit nyonya Zhu yang baru tahu identitas idolanya itu.
"Benar, kamu kenapa kaget sekali ?"
"tidak, aku hanya tidak menyangka bahwa dia adalah seorang sastrawan yang jenius, bahkan aku sangat menyukai karyanya. dan ingin bertemu meminta tanda tangan namun tak pernah berhasil. eh tidak ku sangka ternyata itu adalah kakak ipar. sungguh gajah kasat di depan mata. kenapa dulu aku tidak menanyakan saja ke padamu"
tuan Zhu duduk sambil tersenyum ke arah istrinya itu. "karena kau tak pernah bertanya kepadaku"
"hah, aku tak bertanya karena ku pikir kau tak akan tahu, kau selalu mengelak saat ku ajak diskusi tentang sastra"
"itu karena aku tak suka sastra, ribet."
"makanya itu. aku tak pernah bertanya kepadamu" nyonya Zhu menyilangkan ke dua tangannya. dan tuan Zhu tertawa. ternyata ia masih suka melihat wajah kesal istrinya itu, kebiasaan lamanya masih mendarah daging suka menjahili istrinya dan melihat wajah kesalnya.
"ayo istirahat, lanjutkan besok saja, aku tak mau kau jatuh sakit." tuan Zhu sembari mengulurkan ke dua tangannya.
nyonya Zhu menghelai nafasnya seakan ia tak mau meninggalkan ini begitu saja. ia masih kepikiran akan keselamatan putranya itu.
"dia akan baik-baik saja percayalah," ucap tuan Zhu yang sebenarnya dia juga khawatir tentang Zixin, sebagai kepala keluarga dia harus bisa menata hati dan tegar dan mengambil keputusan yang bijak untuk melindungi keluarganya. apa jadinya jika ia menunjukan rasa rapuhnya itu ? siapa yang akan menjadi sandaran keluarganya ? apa jadinya jika pilar keluarga itu goyah ? ia tak mau itu terjadi. menjadi seorang suami dan ayah bagi anak-anaknya ia harus tetap tegar dalam situasi apapun, walau sebenarnya hatinya itu juga rapuh tapi jangan sampai mereka mengetahui itu. jika mereka mengetahui sandaran mereka rapuh maka mereka akan bertambah bersedih.
nyonya Zhu meraih tangan suaminya itu.
"kau juga harus beristirahat, aku tak mau kau jatuh sakit juga."
"tenang saja aku akan baik-baik saja" tuan Zhu mengecup kening istrinya. "ayo," ajaknya sembari merangkul pundak istrinya menuju bilik peristirahatan.
"suamiku, apa kau punya buku terakhir yang di tulis kakak ipar ?" tanyanya saat di dalam bilik.
"tidak, tapi buku-bukunya masih tersimpan rapi di kediamannya"
nyonya Zhu duduk bersemangat di atas kasurnya.
"besok, bisakah aku melihatnya ?"
"tentu, tapi untuk apa kau mencari buku terakhir itu ?" ucapnya mendekat sembari membawa satu gelas air putih di tangannya.
"seorang sastra atau seorang penulis, sebagian tulisannya ialah kisah hidupnya yang nyata, dan aku rasa kakak ipar menuangkan salah satu kisahnya di dalam tulisannya itu, jadi kemungkinan besar kita bisa mendongkrak kasus ini" ucapnya sembari meraih gelas yang di berikan tuan Zhu kepadanya.
"jika begitu, besok kita pergi ke sana sesegera mungkin, dan besok kita harus mengajak Zian ke sana, sudah saatnya dia tahu tentang dirinya yang sebenarnya." ucapnya sedikit sendu di akhir.
Nyonya Zhu meletakkan gelas yang sudah kosong di meja. ia meraih tangan suaminya. dan mengelusnya penuh kasih sayang.
"tak ku sangka waktu berjalan begitu cepat, hingga tak terasa dua puluh tujuh tahun telah berlalu, dulu dua masih bayi merah di tinggal kakak, dan sekarang dia sudah sangat dewasa. dia sudah seperti anak kandung ku, aku takut jika dia akan bersedih dan tak menerima kenyataan,"
Nyonya Zhu memeluk suaminya itu. "Dia anak yang baik dan cerdas, pintar seperti kakak ipar, dan sangat pengertian. Dia pasti akan bisa menerima kenyataan yang sebenarnya, aku juga sangat menyayanginya, kau tahu dia anak kesayangan walau bukan darah daging kita, dia sangat istimewa untuk kita, dan sudah ku anggap sebagai anak kandungku sendiri, aku tahu dia, dia pasti akan menerima ini, yakinlah suamiku," ucapnya sembari memeluk suaminya itu dan mengelus lembut punggungnya dengan penuh kasih sayang, membuatnya menjadi sebuah ketenangan.
tuan Zhu mengangkat badannya, "kau, istirahatlah, aku akan mengabari Zian untuk besok." ucapnya lalu mengecup kening istrinya. nyonya Zhu mengangguk pelan lalu membaringkan badannya di peraduan.
tuan Zhu menutup pintu kamar itu dan bergegas ke kamar Zian. ia terus berjalan tanpa suara. beberapa pelayan yang berpas-pasan dengannya mereka menunduk memberi hormat. tak jauh dari halaman belakang tuan Zhu berhenti melihat Zian berdiri sendiri di halaman belakang ia mendongak ke langit malam.
"sikapnya, bahkan perilakunya sangat mirip dengan mu kakak, dia sangat mirip denganmu, saat aku melihatnya aku selalu melihat dirimu sewaktu muda. hanya saja di cerewet seperti kakak ipar. dia juga sangat suka melihat langit malam seperti mu." tuan Zhu melanjutkan langkah kakinya mendekati Zian yang terdiam itu.
"Zian," panggil tuan Zhu dari arah belakang.
Zian membuka matanya dan menoleh.