
Di ruangan tertutup terdapat seseorang duduk dengan bersila. bajunya serba putih rambut putihnya panjang menjulang ke bawah tersibak Anging bak semilir yang menari, dengan mahkota berwarna perak di atasnya, menunjukan bahwa ia bukan dari seorang kalangan biasa.
"Yuan Fu"
Seketika ia membuka matanya perlahan, bulu mata yang lentik seakan menyibak udara lembut, bibirnya yang ranum dan tipis tersenyum simpul menambah kecantikan bak surgawi.
"Erlac," ucapnya lembut saat mengetahui siapa yang memanggil. ia beranjak dan mendekat ke arah pedang erlac.
pedang Erlac berubah menjadi manusia.
"Yuan Fu," ucap pedang erlac sembari tersenyum melihat orang yang berada di depannya itu.
pedang Erlac tersenyum lembut, "kau sudah terbebas, aku turut bahagia," ucapnya lalu tersenyum.
"aku.." belum sempat melanjutkan perkataanya. pedang erlac mengisaratkan untuk diam dengan telunjuknya. "tunggu diriku, aku akan menjemputmu segera, dan kita akan bersama selamanya," ucapnya lembut menghanyutkan hati bagi yang mendengarnya.
Yuan Fu mengangguk pelan, lalu tersenyum, senyum yang mampu melelehkan siapapun.
bayangan pedang Erlac yang berwujud manusia itu mulai memudar perlahan demi perlahan, ia menatap Yuan Fu Tampa berkedip begitu juga Yuan Fu, tatapan mereka begitu dalam, hingga akhirnya wujud erlac menghilang tak terlihat.
****
Zixin berjalan di belakang Huali dengan menggerutu, pasalnya Huali memaksa membawa hewan ganas itu ikut mereka pergi,
sedangkan Mereka [Huali dan Singa itu ] asyik dengan candaan mereka dan Zixin terabaikan.
"dasar merepotkan, setelah hewan dan sekarang aku di tinggalkan, pemaksaan, dan seenaknya sendiri," gerutu Zixin sembari cemberut.
"kau ternyata mengerti bahasa manusia ?," ucap huali yang mengelus kepala singa itu,
singa itu terlihat berbinar mukanya. ia sangat suka dengan huali.
"mengapa tidak ?, aku bahkan lebih terkenal," batin singa itu sembari tersenyum, menikmati elusan di kepalanya.
Krukkk..
seketika mereka terhenti. mendengar suara perut yang kelaparan, huali dan singa sontak menoleh ke belakang.
"Zixin, kau lapar ?"
seketika Zixin tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tak gatal,
"bagaimana aku tak lapar ? sendari berangkat Aq belum memakan apapun, hingga sekarang," ucapnya dalam hati.
"baiklah, kita istirahat cari makan,"
"grerr.." ucap singa itu, huali menoleh,
"grerrr..." sembari menunjukan kepalanya ke sisi Utara,
"ada apa ?"
seketika singa itu menggigit pucuk baju huali dan menariknya.
"hei," ucap huali yang sontak ikut tertarik.
"kau tahu tempat untuk kita beristirahat ?"
singa itu mengangguk, "baiklah kau pimpin jalan, kami akan mengikuti mu," ucap huali sembari mengelus kepala singa itu, seketika singa itu memimpin jalan.
Zixin buru-buru menyusul ke Huali,
"Hei, apa kau yakin ? apa kau tak curiga jika dia akan memangsa kita ?" ucap Zixin dengan setengah berbisik.
"aku juga tak tau, sepenting ngikut saja, bukankah dia tahu tempat untuk kita istirahat dan makan," jawab huali enteng tanpa masalah.
seketika Zixin kaget "Apa ! apa kau tak takut jika ia akan memakan kita, mengantar kita ke peristirahatan terakhir ke dalam perutnya!, aku tidak mau, ayo kita kabur saja, tinggalkan dia di sini," Tengkek Zixin sembari menarik tangan huali.
"aku tak mau, aku juga lapar jadi ikuti saja dia," jawabnya sembari mengikuti langkah singa.
"apa kau gila ! kita bisa mati !, aku tak mau mati muda," umpat Zixin yang setengah berbisik.
"ah ! berisik, kau itu cerewet, jika tak mau pergi saja sendiri," timpali huali dengan berjalan cepat meninggalkan Zixin.
"Huali, tunggu, hei, kau mau meninggalkan ku di tengah hutan seperti ini ?!" ucapnya sembari menyusul huali,
singa itu tersenyum mendengar percakapan mereka. "Huali yang polos," ucapnya dalam batin.
setelah berjalan beberapa saat akhirnya mereka sampai di tempat mereka untuk istirahat, air terjun, sungai yang mengalir jernih serta terdapat beberapa batu besar di sampingnya, tempat itu bersih dan terawat,
singa itu, meloncat ke salah satu batu besar namun landai, lalu membaringkan tubuhnya di sana.
Huali meletakkan keranjang berisi obat di bawah pohon, ia melihat ke atas,
"ini pohon mangga, dan sudah berbuah," ia menoleh ke singa yang sedang berbaring di batu besar tengah sungai.
"terima kasih singa, kau memang yang terbaik," ucapnya lalu mengambil buah mangga yang sudah masak.
Zixin mendekat ke arah sungai, ia membasuh wajahnya dengan air sungai yang jernih itu.
"ah, segarnya," ucapnya. ia beranjak berdiri, terlihat ikan-ikan berenang dengan riang di aliran sungai itu.
"Huali, apa kau punya panah ?" tanya Zixin yang sudah berada di dekat huali.
"panah ?"
seketika Zixin tersenyum menampakan giginya.
***
perlahan Della membuka matanya, rasa sakit di kepalanya terasa hingga ia mengerutkan keningnya. ia mencoba menggerakkan badannya namun tak bisa, ia melihat keadaan badannya. matanya terbelalak saat mengetahui dirinya di sekap, tangan dan kakinya terikat di kursi.
ia teringat, terakhir kali ia sadar setelah bertemu dengan burung Pipit, lalu murid yang bernama Fu Yu itu mengantarkan makan, setelah ia makan tak sadarkan diri.
"ah, Damt !" ucap Della sembari membuka matanya. "dia menyekap ku, apa lagi trik yang ia mainkan !"
terdengar langkah kaki mendekat.
Krekkk..
pintu terbuka dan tampaklah beberapa orang mendekatinya.
"oh, jadi ini penerus Penyihir itu, sungguh sayang sekali, lemah dan tak berguna." Ucap lelaki yang sudah berumur itu sembari mendekat.
Della menatap nanar.
"dan juga bodoh tuan," sahut wanita yang muncul dari belakang.
"Fe Yu," ucap Della lirih namun dapat di dengar oleh mereka.
"Hahaha, kaget ? kau tak menyangka bukan ?," ucapnya dengan sombong.
Della tersenyum sebelah, "heh, benar aku tak menyangka, kau penghianat," ucapnya sembari menatap Fe Yu.
"wanita bodoh, kau itu tak pantas menjadi seorang penerus sihir, dengan badan mu yang lemah itu, dan lebih lagi, kau bukan berasal dari sini bukan ? di duniamu tak ada sihir bahkan kalian tak akan mampu menggunakan sihir, dan jiwa pendatang sepertimu tak pantas menjadi penerus sihir !" ucap Fe Yu sembari memegang dagu Della keras.
Della Tampa sengaja melihat ekspresi lelaki yang sudah lumayan berumur itu, ekspresi yang tajam mendengar perkataan dari Fe Yu.
"sepertinya ia tersinggung, atau.." batin Della.
seketika Della tersenyum devil yang sulit di artikan.
"benarkah ?," ucap Della santai sembari tersenyum.
"kau masih bertanya ?!, kau menang benar-benar bodoh ! hahaha jiwa sepertimu tak pantas ! jiwa pendatang sepertimu hanyalah sampah tak berguna ! yang pantas hanyalah Tuan kami ! Mo Yan !," teriaknya dengan sarkas.
di dalam hati, Della tersenyum devil. saat mengetahui ekspresi lelaki yang berdiri tegak itu.
kena kau ! sudah ku duga, dia juga sama seperti ku. batin Della.
"DIAM !," bentak lelaki itu naik pitam mendengar ucapan dari Fe Yu. wajahnya sudah menghitam menahan amarah.
"tu.tuan," ucap Fe Yu ke takutkan.
"Minggir," ucapnya dingin. seketika Fe Yu minggir. orang itu melirik tajam ke arah Fe Yu, "hukum dia segel sihirnya !" ucapnya lalu mendekat ke arah Della.
"tu.tuan, tidak. maafkan hampa, tu.tuan" ucap Fe Yu ketakutan saat ia di seret keluar oleh mereka.
"tu.tuan. apa salahku ? mohon ampuni aku, jangan segel sihir ku, tuan Mo," pintanya memohon, namun hanya hiraukan oleh lelaki tersebut.
lelaki itu menatap Della intens, lalu mengerutkan kedua keningnya.
"kau, tidak di takdirikan hidup disini, bagaimana kau bisa kesini," ucapnya masih menatap Della intens.
"dan kau, jiwamu sama seperti bukan ?" sahut Della menatap lelaki itu.
jangan lupa Like and komen ya,