MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Sebuah janji



Setelah kejadian tak terduga di Rumah wangi itu. Mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Della berjalan dengan perasaan tak menentu.


Ia berjalan menuju tempat yang sepi menghindari keramaian entah kenapa hatinya saat ini bisa berubah tak menentu, kenapa dia sering teringat kenangan masa lalu yang mengiris hatinya.


Rasanya sakit. Della menyentuh dadanya rasanya sakit hingga memaksa air mata keluar dari persembunyiannya. Ia benci kenapa belum bisa melupakan kejadian itu.


Tuhan kenapa begini.


Della meremas bajunya memejamkan mata mencoba meredamkan rasa nyeri yang mendalam.


Kenangan buruk tentang Shella dan Andika yang menghianati dirinya, melihat dengan mata kepalanya sendiri perselingkuhan, penghianatan yang begitu nyata.


Della menepuk dadanya pelan. Seharusnya ia sudah bisa melupakannya namun apa ini ?, Entah kenapa hatinya akhir-akhir ini sedikit melow dan bawa perasaan.


"Nona.. anda baik baik saja ?" Neri khawatir dengan sikap Nonanya.


Della diam tak menanggapi ia masih terfokus dengan hatinya saat ini mencoba meredamkan rasa sakit yang begitu mengiris setiap bagian jantungnya.


"Nona..Nona.." Neri sangat khawatir dengan Nonanya.


Della mengambil nafas dalam. "Neri tolong diam jangan ganggu aku saat ini aku ingin sendiri tolong jangan ganggu !," Della sembari melangkah meninggalkan Neri berhenti di balik pepohonan lalu bersandar.


Sadar Della. Sadarlah. Lupakan mereka. Lupakan. Move on.


Air mata itu tiba-tiba memaksa keluar dari persembunyiannya.


Della meremas baju di dadanya tangan satunya mengepal menghantam pohon Ia tak merasai tangannya berdarah rasa sakit di tangannya rasa sakit itu terkalahkan oleh rasa perih di dadanya yang begitu menyayat hati. Ia benci rasa sakit ini.


Della benci dengan hatinya yang begitu mudah percaya. Dia benci dengan keadaan hatinya yang tidak bisa menerima.


Neri terlihat bingung dan cemas melihat tuanya begitu ingin rasanya menghampiri namun tuannya menolak.


Ingin ia mengabari tuannya di kediamannya namun itu mustahil saat ini mereka sedang diam diam menyelinap keluar.


Saat ini Neri benar benar cemas dan bingung ia bingung hal apa yang harus ia lakukan sekarang.


Della berlari tanpa arah tanpa menghiraukan Neri yang sedang cemas terhadapnya.


Menutup semua akal sehatnya sang hati kini membutuhkan sebuah sandaran, sebuah penguat jiwanya yang sedang terguncang.


Langkah kaki itu terus melangkah tanpa terhenti hingga menuntun sang pemilik masuk ke dalam hutan. Ia terhenti. Nafasnya memburu.


Della mengusap keringat di dahinya. Huh. Huh


Della melihat sekeliling hamparan pepohonan.


"Dimana ini ?," Gumamnya baru menyadari, ternyata ia berlari Tampa arah Della menghelai nafas panjang.


"Karena melampiaskan rasa sakit, tanpa sadar ternyata aku berlari kedalam hutan tapi lumayan juga berlari mampu sedikit melampiaskan rasa sesak ini,"


Ia bersandar di pohon mengatur nafasnya agar stabil dirinya terduduk di tanah meluruskan kedua kakinya.


Angin semilir perlahan menyentuh permukaan muka meniup sayu nan lembut membuat kedua kelopak mata itu perlahan terpejam.


Suasana yang sunyi hembusan angin yang berhembus mengalun memberikan suasana tenang hingga membawa sebuah mimpi.


Terdengar suara masuk ke gendang telinga. perlahan membuka mata terlihat samar samar beberapa orang berdiri tak jauh darinya


"Bagaimana keadaanya ?, Kenapa dia belum sadar ?," Suara itu terdengar sangat panik.


"Biarkan aku menjaganya, aku bertanggung jawab atas kecelakaannya, aku akan merawatnya," ujarnya.


"Anda aneh, urusi saja istri anda jangan membuat keributan disini," sahut Fadil.


Della bisa mendengar orang berbicara namun kedua matanya tidak bisa dibuka dan mulutnya terasa kelu.


"Fadil, Fadil tolong," Della berusaha berbicara namun tidak bisa.


"Fadil tolong aku, Momy, Momy tolong mom," Della berusaha namun tetap saja dia tidak bisa berbicara hanya bisa mendengar percakapan mereka.


Terlihat Fadil membuang nafas kasar "Jika kau kesini hanya membuat ribut lebih baik kau keluar Della butuh istirahat,"


"Kau mengusirku, memang kau siapa hah ?!"


Sambil menunjuk.


"Tidak tahu malu," Fadil tersenyum sinis.


Bruk! Andika memukul muka Fadil dan membuat darah mengalir di sudut bibirnya dengan segera Fadil mengusap darah di pucuk bibirnya.


"Tau rasa kau, sudah ku bilang biar aku bertemu dengannya, aku ini orang spesial dihatinya,"


Fadil terkekeh seraya mendekat, "Spesial ? Spesial selingkuh ?,"


Andhika mengepalkan tangannya dan melayangkan pukulan kali ini Fadil menghindar menangkis, mencengkram tangan lalu memutarnya membuat Andika kesakitan.


Momy yang baru masuk langsung pun terkejut. "Andika Fadil. Hentikan ! Apa apaan kalian hentikan sekarang !"


Fadil terhenti melepaskan cengkramannya dengan mendorong Andika sehingga terjelungkap kedepan.


"Andika," panggil Momy seketika Andhika menoleh.


"Pergi,"


"Tapi Tante," ia masih berusaha.


"Pergi, atau aku menghilangkan namamu," momy membalikan badannya.


"Fadil bawa dia pergi."


Fadil mengangguk lalu membawa paksa Andika keluar dari ruang.


"Momy.. Mom, tolong Della mom,"


Della berusaha membuka matanya namun berat. ia merasakan sekujur tubuhnya lemas tak berdaya.


"Momy, Fadil," Della berusaha bersuara berkali kali namun sepertinya sia sia mereka tak mendengarnya.


"Momy, Fadil, tolong aku,"


"Momy Fadil"


"Hei bangun. Lingxiu," Lelaki itu mencoba membangunkan Della namun tak bereaksi ia masih mengigau dan mengeluarkan air mata Lelaki itu panik.


"Lingxiu bangun Hei," lelaki itu sudah hilang sabarnya.


"Della.! Bagun !," Seketika Della membuka matanya dengan terkejut nafasnya memburu.


"Kau tak apa, apa kau mimpi buruk ?," Tanyanya memastikan.


Della mendongak.


Junjie ?


"Minumlah," sembari menyodorkan air Della meraih dan meminumnya.


"Kenapa kau bisa ada disini ?," Tanya Della setelah nafasnya teratur.


Junjie terkekeh, "Seharusnya aku yang bertanya itu, kenapa kau bisa tidur sembarangan di hutan ha ?,"


Seketika Della terdiam bingung mau jawab bagaimana. Disaat kebingungan itu seketika ia teringat junjie yang mencuri ciumannya. Seketika matanya melotot.


"Kau !, Junjie brengsek," Sarkas Della dan langsung menyerangnya.


Junjie kaget karena wanita didepannya itu tiba-tiba menyerangnya untung saja ia dapat menghindar dan menangkis serangan.


"Kenapa kau menyerang ku ?,"


"Masih bertanya ?!,"


Junjie semakin kebingungan dengan sikap Della. "Ya karena aku tidak tahu, kamu tiba-tiba menyerang,"


"Dasar lelaki brengsek, lelaki mesum !," Umpatnya dan terus memberikan serangan.


"Brengsek ?, Mesum ?,"


"Jangan berlagak bodoh, akan ku tuntut kau atas mencium ku waktu itu," ujar Della masih menyerang.


Seketika junjie terkekeh saat mengetahui alasan wanita ini menyerangnya. Ia tersenyum smrik.


"Kau mau menuntut ku, Dengan apa ?, Atau kau mau mengambil kembali ciumannya ?, Silahkan aku tidak menolak," ujarnya dengan santai diiringi senyum smriknya.


"Kau kira aku wanita bodoh ha ?, Dasar pria cabul !," Ia masih gencar menyerang dan Junjie menghindar dan menangkis.


"Memang kau bodoh,"


"Apa kau bilang ?,"


"Tidur ditengah hutan tanpa kesadaran tinggi, itu namanya bodoh dan teledor,"


"Kau mengatai ku," ia semakin gencar.


Junjie mulai jengah dan segera mengunci pergerakan Della. Karena Della belum sadar dengan yang ada disekitarnya saat ini.


"Jika aku tak segera datang mungkin kau telah mati menjadi santapan harimau," ujarnya seraya melepaskan Della.


Della membuang nafasnya lalu berakting.


"Oh kalau begitu terima kasih tuan anda telah menyelamatkan nyawa saya, saya sangat beruntung telah diselamatkan oleh anda,"


Seraya membungkuk dan seketika Della terkejut melihat darah segar mengalir di tanah matanya mengekor i darah itu matanya terhenti dan terbelalak, mulutnya melongo melihat apa yang ia lihat.


"Ke kepala Macan!," Seketika Della mengangkat tubuhnya kembali dengan cepat ia menatap Junjie dengan wajah bingung dan terkejut.


"Apa ?," junjie mengangkat sebelah alisnya Della menelan ludahnya ia mengamati tubuh Junjie yang penuh noda darah dan ada beberapa luka.


Nyutt. tiba tiba kepalanya pening sebuah memori asing berputar di kepalanya.


Darah.


Darah.


seketika. Gelap. Ia tak sadarkan diri.


Junjie segera menangkap Tubuh Della ia membuang nafas kasar Junjie membopong Della berpindah menjauhi area yang penuh darah.


"Aku mengerti pasti kamu terkejut dengan apa yang kamu lihat kamu masih syok dengan semua ini kan ?, Kamu pasti merindukan rumah bukan, aku juga sama Della. Kita sama sama terjebak di dimensi lain menempati tubuh seseorang, dan anehnya kau dengan wajahmu sedangkan aku,.." ujarnya terhenti.


"Sebelumnya aku juga sempat frustasi dengan apa yang terjadi namun semua itu akan sia sia jika kita terus terpuruk yang harus kita pikirkan sekarang adalah mencari jalan untuk kembali ke dunia kita."


Junjiie menyibakkan rambut Della yang menutupi di wajah Della.


"Kau tahu ? Di saat pertama kali aku menemukanmu, betapa kagetnya diriku saat pertama kali kau langsung mengenaliku sebagai orang lain, memanggil namanya tapi bagaimana lagi jujur aku kecewa tapi ada rasanya lega saat aku menemukanmu,"


Junjie membuang nafas pelan.


"Maaf waktu itu aku berbohong tak menenalimu karena kau memanggil nama orang lain. Yah, sejujurnya aku juga sempat syok juga melihat wajahku ini, sudah kuduga kau pasti akan berkata begitu"


"Maaf untuk saat ini aku belum bisa memberi tahu diriku sebenarnya karena sekarang belum waktunya, tapi tenanglah aku akan memberitahumu di waktu yang tepat nanti aku pastikan itu dan kita akan kembali pulang bersama"


"Aku akan mencari jalan untuk kita pulang bersama,"