
Pagi yang cerah.
pagi pagi sebelum ayam berkokok Della sudah terbangun dari tidurnya sepertinya ia akan tersibuk kan dengan rencananya. Entah rencana apa ia telah siap dengan pakaian lelakinya.
Berpakaian seperti laki laki dan alhasil wajahnya mirip dengan Zian dan Zixin bila di sandingkan mungkin mereka akan terlihat anak kembar.
"Segarnya.." Della menghirup udara dan kemudian membuangnya dengan tenang ia melangkah meninggalkan kamarnya menuju danau yang Zixin tunjukan beberapa waktu lalu kakinya terus melangkah tidak menimbulkan suara hingga ke tujuan.
Keadaan sekitar sunyi dan langit masih petang Della menaruh lampu penerang di dekatnya
perlahan ia mulai mengeluarkan pedang yang ia ambil diam diam di ruang persenjataan, ia mengamati pedang di tangannya perlahan ia menarik pedang itu.
"Tajam," ini sungguh pedang beneran Della membuang nafasnya. Sewaktu sebelum terjun ke dunia fashion Della adalah seorang atlit bela diri dan sering mendapatkan juara. Dia sering berkelahi di atas ring pertandingan dengan di saksikan beberapa juri berkelahi secara liar tak pernah terpikirkan olehnya.
Mengingat masa lalu Lingxiu sepertinya tak akan mudah dihadapi oleh Della.
Ahhh bagaimana ini berkelahi secara langsung pakai pedang beneran. Membayangkannya saja ngeri apa lagi kalau terluka dengan ini bisa mati mengenaskan !.
Della bergidik ngeri Ia masih teringat kejadian di pengumuman membuatnya ngilu namun penekanan dari keadaan membuatnya harus bergulat menggunakan pedang sungguhan.
Tuhan aku manusia beradab mana mungkin bermain senjata tajam kaya gini kalau di tangkep polisi bagaimana.. ??.
Della mengambil nafas dalam tangannya mantap memegang pedang itu ia bertekad demi hidup, melindungi diri. Alias the power of kepepet ia mulai berlatih sebisanya berkali kali ia berlatih semampunya ia mencoba mengingat kembali sewaktu ia belajar ilmu bela diri.
Ah lama tak gerak badanku pegal semua
Della duduk.nafasnya memburu karena kelelahan.
"Hah. hah. Waktuku tak banyak !, tinggal enam hari lagi dengan kemampuanku yang seperti ini akankah selamat ?," Ia mengusap keringat yang bercucuran di wajahnya dan rebahan di rumput.
Ia mengangkat tangannya mengamati jari jarinya dan terpikirkan sesuatu di kepalanya
lalu ia bangun terduduk ia menyentuh dahinya.
Simbol bintang kehidupan di kepala Lingxiu ada simbol bintang kehidupan dan di punyaku tidak kenapa mereka tidak curiga akan hal itu ? Dan kekuatan itu ah. Kenapa tidak kepikiran aku harus tanyakan ini. Ya aku harus tahu.
ia perlahan menoleh kebelakang.
Seketika orang itu tersenyum dan seketika itu pula Della menjerit namun mulutnya langsung dibungkam oleh orang itu.
"Shutt. Jangan teriak nanti terdengar orang" lelaki itu berbicara dengan tenang mata Della masih tercengang dengan apa yang ia lihat.
"Sekarang tenang jangan teriak tenang aku tidak akan berbuat buruk," Della mengangguk pelan perlahan lelaki itu melepaskan tangannya.
Hah. Della bisa bernafas lega dan mengatur nafasnya. Sembari sesekali melirik ke laki laki itu ya lelaki itu mirip dengan Adarsya orang yang di temui di bawah pohon persik.
"Sudah tenang ?"
Della mengambil nafas tak menjawab pertanyaan
"Kenapa kamu bisa ada disini," Tangannya penuh selidik.
Lelaki itu tersenyum "Kebetulan lewat dan melihatmu sedang berlatih,"
Della diam Tampa ekspresi.
"Buatlah alasan yang masuk akal, tak sembarangan orang tahu Tempat ini, katakan yang sejujurnya tuan Adarsya" katanya penuh dengan penekanan.
"Ah. Aku sangat sedih nona Lingxiu, bukankah sudah ku bilang namaku bukan Adarsya."
Cih dia mengalihkan pembicaraan. Tapi wajahnya sangat mirip dengan Adarsya sama persis.
"Junjie."
Della lalu menatap lelaki itu masih Tampa ekspresi
"Kau bisa panggil aku Junjie," jangan panggil nama orang lain di depan ku Ella aku juga benci wajah ini.