MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
menemukan



"Huali," sahut ia sembari menjabat tangan Zian.


"jadi apa yang anda butuhkan disini ? tuan," tanya huali sembari duduk.


"aku ingin melihat semua macam obat disini," ucapnya ingin melihat bagaimana kualitas obat, hingga kakeknya itu ingin bekerja sama disini, sungguh ia penasaran.


Huali sedikit mengerutkan keningnya. mendengar pernyataan itu,


"aku hanya memastikan kualitas obatnya, kenapa kakek ku begitu kekeh ingin membeli obat disini, cepat tunjukan saja semuanya, jika bagus aku akan membeli semuanya beserta tokonya," sahutnya saat membaca ekspresi huali.


Terlihat Huali semakin mengerutkan keningnya. membeli toko ? mentang-mentang orang kaya seenaknya saja kalo bicara. tak lihat bagaimana perjuangan ku dan kakek menabung selama ini hah ?!, kau pikir mencari tempat ini itu mudah ?!. "maaf tuan, saya tidak menjual toko obat saya, saya hanya menjual obat dan menyembuhkan orang yang benar-benar membutuhkan, jika anda ingin membeli toko obat silahkan mencari toko lain, karena saya hanya menjual obat bukan toko saya," ucapnya sembari beranjak berdiri,


"saya tidak bisa menemani anda berbincang lama karena saya harus meracik obat untuk pasien saya, anda tahu kan seorang tabib itu sangat sibuk apa lagi tabib sukarelawan, saya harus mengelilingi satu desa mengunjungi setiap rumah ke rumah, jadi anda silahkan pulang saja daripada sia-sia disini," tuturnya panjang lebar lalu menunjukkan pintu keluar dengan sopan walau dengan hati yang gerundel.


apa ?. Zian dibuat tertegun olehnya, baru saja ia duduk dan sudah di usir ? apa kata dunia ?!.


"dengar kan penjelasan saya, saya sangat butuh obat dari toko anda, dan saya juga me.." belum sempat Zian meneruskan kalimatnya sudah di potong oleh Huali,


"tapi maaf tuan kedatangan anda tidak saya terima disini apa lagi maksud tua yang ingin membeli toko obat saya jadi silahkan meninggalkan toko obat saya,"


ternyata ada ya yang bisa memotong perkataan Zian ya permisa. wk wk wk.


Apa ? kedatangan ku tidak di terima ?, beo Zian dalam hati. jujur saja baru pertama kali ada yang mengatakan kepada dirinya jika kehadirannya tidak di harapkan.


"apa kata mu ? kau tidak mengharapkan kedatangan ku ?, dan kau mengusirku dari sini ?," tanyanya heran sembari mendekat. jujur saja ia sangat kaget dengan pernyataan Huali.


huali memutar bola mata jengah, "lalu siapa anda yang ingin saya harapkan kedatangan anda ?, saya memang cantik tapi maaf saya tidak tertarik dengan anda jadi silahkan pergi, ah dan lagi jangan membuat alasan untuk membeli obat dari saya apa lagi, membeli toko saya," dengan segera huali mengepang Zian dari tokonya dan


Brak !


ia menutup pintu dengan keras.


"dasar pengganggu jalanan !" gerutunya sembari mengenaskan tangan menepuk tangan seperti menghilangkan debu.


"ada apa ? kenapa kau terlihat kesal ?" tanya Zixin yang baru masuk dari belakang di sampingnya ada siluman singa yang menaruh keranjang obat.


kedoran pintu terdengar "hei keluar kau beraninya kau mengusir ku dengan tidak terhormat ! dan beraninya kau menghinaku ! keluar kita perlu bicara apa kau tak tahu kau berurusan dengan siapa hah belum tahu aku siapa hah kalau berani sini kau buka pintu dan bicara dengan ku buka pintunya !"


ternyata Zian juga bisa bersikap labil dan terkoyak saat ada orang yang bisa memotong bicaranya dan lagi dia di usir dengan tidak etisnya !


sementara di dalam saling memandang bertanya. "biarkan saja dia hanya pengganggu," ucapnya lalu duduk di kursi lalu menyibukan diri dengan memilah bahan obat di ranjang.


sedangkan suara gedoran pintu dan cacian Zian masih terdengar. sedangkan zixin tertegun dengan suara di luar. ia mengenali suara ini namun ia sedikit ragu dengan seksama ia menajamkan pendengarannya dan kemudian.


Deg.


Zixin terhentak mendengar suara yang ia dengar, ia menatap Tua dengan mata tak terbaca sedangkan nyali mengerutkan keningnya, "ada apa dengan mu ?" tanya huali penasaran dengan ekspresi Zixin yang terlihat terkejut.


dan.


"oh akhirnya kau membuka pintu hah ? sudah sadar atau ingin me.."


"Kakak.."


seketika Zian terdiam ia menatap orang yang berada di depannya itu.


deg.


jantung Zian seakan terhenti melihat orang yang berada di depannya itu bukanlah perempuan pemilik toko, melainkan dia, dia orang yang selama ini ia cari. orang yang menghilang dan tak tahu akan keberadaanya, orang yang selalu ia khawatirkan akan keadaanya masih hidup atau mati, sehat atau tidak, sakit atau tidak, selamat atau tidak, sungguh sesayang itu dan seberharga itu di kehidupan mereka.


Zian terdiam Tampa kata sungguh ia tak bisa berkata saat ini. dengan segera Zixin memeluk kakaknya erat, ada Isak tangis di sana sungguh ia tak bisa berkata, ia bahagia tapi sedih juga ia senang tapi perih jua.


dengan segera Zixin melepaskan pelukannya,


"Zixin ini kamu ? bagaimana keadaan mu ? kau selamat ? kau tak apa ?" ucapnya Tampa jeda memegang kedua lengan Zixin.


Zixin melihat sekeliling menoleh ke kanan ke kiri mengamati sekitar jika ada yang mengenalinya. Zixin mengangguk "benar kakak ini Zixin, ayo masuk biar semuanya aku jelaskan," ucapnya lalu membawa Zian masuk kedalam.


terlihat di sana huali terperanjat saat Zixin membawa orang yang ia usir tadi. "kau kenapa kau membawanya ia masuk ?!,"


"dan kau ! beraninya kau mengusir ku hah ?! minta maaf kepadaku segera ! apa kau tak tahu kau berbicara dengan siapa hah ? dan kau biang apa tadi aku tertarik kepadamu ? jangan harap melihat wajahmu saja aku sudah eneng," sahut Zian tak terima.


suasana mulai memanas dengan tatapan tajam dari kedua belah pihak. Zixin mendengus melihat mereka yang sama-sama cerewet bertemu dan bertempur, mungkin sebentar lagi toko ini akan runtuh jika tak segera di lerai.


"kalian diam !," sela Zixin dan Tua menghelai nafas malas, ya dia sebenarnya malas mendengar ataupun mendengar keributan.


"penolong, jika kau menggenggam erat lagi kau akan menghancurkan tanaman herbal yang aku cari susah payah," ucapnya nanar melihat tanaman herbal yang di genggam erat oleh Huali. dengan segera huali melihat tangannya dan menaruhnya di meja dengan kasar. lalu duduk dengan tak kalemnya.


"Kakak, mari duduk biar aku jelaskan semuanya," ajak Zixin duduk di kursi semeja dengan mereka. terlihat Huali mencebir dibuatnya.


"Huali dengarkan, perkenalkan ini kakak aku namanya Zian, kakak perkenalkan dia Huali yang menyelamatkan ku waktu itu dia," ia terhenti meliaht siluman singa, ia bingung mau mengenalkannya apa. masak siluman singa ? tentu saja kakaknya tak akan percaya.


"Bingjie, itu namaku" sahut siluman itu Tampa menoleh ia fokus menyelamatkan tanaman herbal nya kedalam keranjang. huali dan Zixin saling menoleh dan mengerutkan kening, pasalnya selama ini ia tak pernah tahu akan namanya dan sekarang dengan mudahnya ia memberi tahu. entah mereka tak tahu mereka merasa sedang di bohongi atau sedang merasa heran karena selalu saja siluman singa itu berpura tak tahu namanya ketika mereka tanyakan.


Zian mengangguk kecil,


dengan cepat huali tersadar, "Tunggu, Zixin kau bilang apa tadi ? dia, dia kakak mu ?!," tanyanya kaget mendengar pengakuan dari Zixin tangannya menunjuk ke arah Zian.


Zixin hanya mengangguk saja, Tampa mau berdebat dengannya. terlihat Huali yang menganga tak percaya dengan kesaksian Zixin. "Hem," sahut Zixin.


"tidak ! kau harus jelaskan, mana mungkin dia kakakmu ! aku tak percaya !," timpali huali yang tak bisa menerima semua ini, orang yang mau membeli tokonya dengan seenak jidatnya ini adalah makanya Zixin ?!. dia sungguh sangat menolak kenyataan yang tidak bisa ia tolak !


Haduh huali emang kamu bisa memilih kakaknya Zixin ? ha ha ha, Huali huali...