
Della melanjutkan jalannya menuu kamar.
"silahkan nona" pelayan itu sembali membukakakn pintu.
"oke terimakasih. kau bisa pergi."
pelayan itu membungkuk memberi hormat lau beranak pergi.
Della masuk kedalam kamar lalu menutup pintu tersebut. Ia melihat sekeliling. Hemtt.. bagus juga interior
kamar ini, sangat terlihat elegan wala bernuansa kuno. ia segera merebahkan dirinya keranjang.
"Haaaah.. nyaman sekali," ucap Della sembari memejamkan matanya dan tertidur.
sementara itu disisi lain.
Jendral weizhe dan Junjie beradad di ruang jendral membahas tentang surat perintah perang.
"Raja memberikan titah kepada dirimu untuk ikut bersama ayah perang di perbatasan utara, seperti yang sudah
beri tahukan kepadamu musuh kita ini sangat licik. dia mampu membuat rencana yang begitu mulus tak terlihat. jika kita lengah sedikit saja kita akan musnah"
"kalu begitu buat strategi penyerangan." Junjie mengambil kertas dan kuas. " tulis strategi anda disini" sembari meletakkan kertas dan kuas di meja. Jendral weizhe mulai membuat gambar di kertas itu.
"ini adalah kondisi perbatasan utara, pasukan musuh membaa 3000 pasukan untuk menyerang dari utara dan ini
posis pasukan kita berada di selatan, kita mempunyai 10.000 ribu prajurit dan aku akan menurunkan setengah dari pajuritku untk kemedan perang., jadi 5000 prajurit dibagi dua kelompok setengah di antarnya menyerang dari arah barat dan setengahnya dari timur kedua kelompok ini menyerang secar bersamaan"
Junjie mengamati kertas itu. tiba-tiba tatapanya menjadi tajam melihat kesamping. lalu tersenyum devil.
oh. rupanya ada lalat yang menguping.
"baiklah. aku setuju" ucap junjie sedikit keras. lalu ia memberi kode ke ayahnya. dengan isyarat bahwa ada yang sedang mengawasi.
ia menlis di kertas. strategi jendral terlalu kuno dan mudah di tebak oleh musuh. aku akan mengganti strategi
jendral dan memberikan kepada anda saat di markas peperanagn. kita sedang diawasi. kita sudahi saja ini.
Junie meberikan kertas itu kepada jendral weizhe. seketika jendral weizhe terbelalak, bagaimana bisa ia kecolongan seperti ini.
"Baiklah jika kau setuju, maka kita tinggal melaksanakan perang tampa perlu rasa kawatir." ucap Jendral weizhe sembari menatap junjie.
"kalau begitu mari kita makan malam bersama, dan ajak menantuku aku ingin berbicara banyak denganya" ucap jendral weizhe sembari beranjak dari korsinya.
Beberapa saat kemudian...
Mereka telah berkumpul diruang makan. Della mengambil ayam bakar di meja dan memakanya. sesaat ia tercenggang dengan rasa yang begitu nikmat.
"Bagaimana apa kau suka dengan ayam ini menantu ?" ucap jendral weizhe yang membuyarkan wajah terkejuan Della dan seketika Della menoleh.
"Ini benar-benar enak Jendral, aku baru merasakan ayam seenak ini" ucap Della.
Jendral weizhe tersenyum puas. "kau sudah menjadi anakku jadi pangil aku ayah"
"Baiklah ayah," ucap Della sembari tersenyum
"Kakak ipar ayo coba ini, ini rasanya juga sangat enak" ucap Xiuying sembari menaruh Daging di wadah nasi Della
"Terimakasih Xiuying."
"Kakak juga harus merasakan ini, ini lebih enak dari pada itu," Jinhai sembari menaruhkan lauk di wadah Della.
"Tidak kakak jangan makan itu, makan ini saja" sahut Xiuying tidak terima
"punyaku lebih enak ini baru saja aku dapatkan dari berburu sore tadi" Jinhai sembari menaruh lauk kewadah Della
"Tidak Kakak ipar jangan makan itu. makan punyaku saja lebih segar dn enak" ucap Xiuying kembali menaruh lauknya lagi kemangguk Della.
"tidak pnyaku lebih enak."
mereka terus berdepat dan menaruh lauk terus menerus ke wadah Della. Della diam tercengang dia binggung dengan sikap mereka yang terus berdebat dan terus menaruh lauk ke wadahnya hingga menggunung. bagaimana aku mekaan ini. bisa-bisa aku takakn bisa bangun lagi. batin Della menelan ludah.
Junjie yang melihat ekspresi Della langsung menatap suram kedua adiknya dan berdehem sangat keras. "makanlah makanan kalian." ucapnya suram. Namun sayang ia terabaikan. Junjie semakin geram. Lalu ia mengambil wadah bar megambil nasi dan lauk. "Makan ini saja" ucap junjie sembari menyodorka makanan di depan mlut Della.
Della menoleh.
"Makan. aku tau kau menghindari lemak dan kolestrol" ucap junjie sembari menyodorkan sendok yang berisi makanan kemulut Della.
"Biar aku makan sendiri." ucap Della sembari meraih sendok yang di pegang Junjie. namun dengan Segera Junjie menjauhkan tanganya hingga Della tak menangkap sendok itu.
"makan biar aku yang suapi"
"Tida.."
"makan. aku tak mau di tolak" ucap junjie memotong perkataan Della. Della dengan terpaksa membuka mulutnya dan memakan makanan yang disuapi oleh Junjie.
Dengan telaten Junjie menyuapi Della sendok demi sendok. Mereka saat ini tak sadar jika mereka menjadi tontonan semua orang.
"tidak. Kau harus habiskan makananmu, apa kau mau sakit hah"
"Tapi, aku sudah kenyang jangan memaksa"
Ehem.
sebuah deheman membuyarkan mereka sontak Mereka menoleh dan seketika mereka terkejut karna baru menyadari bahwa mereka telah menjadi tontonan.
Karna menahan malu Seketika Della mengambil alih sendok dan wadah makan yang di pegang junjie "Ka.kau habiskan makananmu sendiri" sembari menyendok nasi dan memakanya. Apa ini Della ! sungguh memalukan !
Junjie pun juga meraih makananya sendiri dan segera memakanya. wajahnya berseu mereah karna malu. Bagaimana aku bisa hilang kendali seperti ini.
****
"Anak muda. Apa yang kau lakukan istirahatlah kau sendari tadi telah mengapak kayu ini" ucap seorang kakek tua sembari menghampiri seorang pemuda dari belakang, Pemuda itu lalu menoleh dan tersenyum, ia lalu meberikan sebuah isyarat (tidak apa-apa kakek). sang kakek pun menepuk pundak anak muda tersebut.
"Kau selalu berkata seperti itu, kemarilah istirahat dan minum obatmu"
seketika ia meberi isyarat (baiklah kakek terimakasih) lalu ia mengikuti sang kakek duduk di korsi panjang yang terbuat dari kayu.
Ya. dia adalah Zixin. Ia telah sadar dari komanya, namun dia kehilangan suaranya saat bangun karna racun yang menyerangnya membuat ia tidak bisa berbicara.
sang kakek lalu memeriksa keadaan Zixin. "keadaanmu sudah semakin membaik," ucap sang kakek sembari mengeluarkan botol porselin berisi obat. "minumlah obat ini, agar tubuhmu semakin membaik" Zixin menerima obat itu lalu segera meminumnya setelah itu ia memberi isyarat. (terima kasih kakek, Kau sangat baik kepadaku, setelah aku sembuh nanti dan kembali kekeluargaku aku aan meminta ayah untuk memberikan hidup yang berkecukupan kepada kakek dan membukakan sebuah toko obat"
sang kakek tersenyum namun juga terlihat pancaran kesedihan dimatanya "Terimakasih anak muda hatimu sungguh mulia, Tapi tidak usah repot-repot kepada kakek tua ini, kakek membantu dengan iklas," sembari menepuk pundak Zixin.
Zixin memberi isyarat lagi (tidak kakek. Aku telah berhutang nyawa kepada kalian, Anggap saja itu untuk kehidupan masa depan cucu kakek)
"Terima kasih anak muda"
(tidak, jangan katakan itu, seharusnya aku yang mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada kakek dan cucu kakek. Kakek dengar, aku selalu memegang kata-kataku dan tak pernah mengingkarinya. jadi kakek bisa memegang kata-kataku.) ucap zixin dalam isyaratnya.
"baiklah anak muda, jika itu keinginanmu, kakek ini tidak bisa menolak"
Zixin melontarkan senyumnya.
Tiba-tiba mereka menoleh saat mendengar suara yang memecahkan suasana.
"Apa kalian akan terus berbincang-bincang. Cepatlah aku sudah selesai memasak untuk sarapan pagi" ucap permpuan itu sembari melipat kedua tangnya.
"Ah, cucuku kau sudah selesai memasak ?. ayo anak muda kita makan kau pasti laparkan" ajak sang kake sembari berdiri
Zixin segera mengikuti sang kakek dan memberi isyarat (Tentu kakek, ayo kita makan aku sudah sangat lapar)
ahirnya mereka memasuki rumah yang sederhana itu.
Hai... apa kabar kita ketemu lagi...
sudah lama autor tidak menyapa kalian.. ya..
maafkan author yang sok sibuk ini...*^*
Author mengucapkan banak-banyak terima kasih kepada kalian semua yang telah setia membaca karya author yang masih amatiran ini.. dan memberikan dukungan dalam bentuk Like, Comen, subscrate, vote serta memberikan ranting..ataupun yang lainya.. semogga kalian selau diberikan nikmat kesehatan..
Author ucapkan banyak terima kasih...
jangan lupa jaga kesehatan dan jangan lupa selalu cucu tangan dan jaga jarak saat keluar rumah. karna kesehatan itu amat mahal harganya...
salam Sehat dari author...