
malam yang sunyi memang sangat cocok untuk merenung dan menyendiri. malam yang sunyi memang sangat sepi, namun sangat indah bagi orang sang sedang merana atau yang ingin menyendiri. malam sunyi itu memiliki daya tarik tersendiri. malam yang sunyi itu terkadang mengiris hati namun juga dapat menenangkan diri.
seperti halnya Zixin saat ini ia terduduk di luar seorang diri. matanya menyala merah tangannya mengepal beberapa kali ia memukul tanah di bawahnya.
seharusnya aku harus cepat kembali memberi tahu semuanya ! tapi bagaimana ?! bagaimana aku menjelaskannya ! bicara saja tidak bisa !
paman ! paman Quan Zhu ! dia yang melakukan semua ini ! dia ingin menghancurkan keluarga kita ! dia yang merencanakan semuanya !
ia memukul tanah beberapa kali dengan keras.
di sisi lain Huali melihat zixin dari arah belakang. ia melihat pundak yang penuh amarah itu ia melihat tangan yang menghantam tanah itu. terlihat jelas dari belakang bahwa dia sangat terluka.
"maaf Zixin. maaf kan aku" ucapnya lirih. ia mendekat dengan membawa semangkuk obat.
"Zixin."
seketika Zixin menoleh dan segera ia mengusap wajahnya yang sempat mengeluarkan air mata.
"kau tak apa ?"
Zixin mengambil nafas. [ada apa mencari ku ?] ucapnya dalam bahasa isyarat.
"minumlah obatnya," sembari memberikan mangkuk berisi obat ke Zixin.
Zixin meraih mangkuk obat lalu meminumnya hingga tandas. sedangkan Huali ia melihat zixin yang meminum obat itu hingga tandas.
Maaf Zixin. maafkan aku. jika bukan karena obat ini kau tak akan kehilangan suara mu. maafkan aku. aku terpaksa melakukan ini semua. aku takut suatu saat hari nanti kau mengetahui semua ini dan kau membenci ku. aku mohon pada mu jangan membenci ku kau teman satu-satunya. aku terpaksa melakukan ini demi keselamatan mu. aku mohon jangan benci kepada ku kelak.
[Hei ! kau mendengar ku ?] ucap Zixin dengan bahasa isyarat. beberapa kali ia melambaikan tangannya di depan muka Huali namun ia tak merespon. Huali tetap saja bengong melihatnya.
seketika Zixin memegang pundak Huali dan Huali sedikit terkejut.
"eh. i.iya Zixin ?."
[kau bengong ? ada apa menatap ku seperti itu ?]
"bukan. tak apa. sudah malam kenapa kau di sini ? apa kau tak kedinginan ? di sini sangat dingin lebih baik kau membawa selimut saat keluar"
Zixin membuang nafasnya. ia beranjak berdiri.
[aku sedikit lelah mau tidur] ia berbalik lalu melangkahkan kakinya menuju rumah yang di bilang sangat sederhana itu.
tiba-tiba langkah kakinya terhenti. ia membalikan badannya [di mana kakek wuyu ? kenapa beberapa hari ini dia selalu pergi meninggalkan kita dan hanya kembali beberapa saat saja]
Huali mendekat.
"dia memang suka pulang dan pergi sesukanya dia orang yang sibuk. ayo lebih baik kita membakar ubi rambat pasti sangat enak di makan saat malam hari."
akhirnya mereka kembali ke halaman.
Zixin menyiapkan kayu bakar.
"ayo kita bakar ayam panggang malam ini" ajak huali sembari melihatkan ayam di tangannya.
Zixin mengangguk semangat.
[berikan pada ku aku akan mengurusnya, kau nyalakan apinya saja]
Huali memberikan seekor ayam ke Zixin.
sementara itu di sisi lain.
"hei. Situa. kau tak merasa lapar kah ?" ucap kakek wuyu sembari bersandar malas di pohon.
"HM. Kau punya makanan ?" seketika Situa bangun dari tidurnya.
"tidak. tapi Aq punya tempat yang bagus untuk makan." ucapnya sembari tersenyum menyeringai.
"ayo ke sana !" ucapnya turun dari dahan pohon.
kakek wuyu tersenyum menyeringai. "kita pulang ker umah q aku yakin cucuku pasti sudah memasak enak"
Situa berhenti dan kakek wuyu otomatis mengikutinya berhenti.
"kenapa kau berhenti ?!" tanya kakek wuyu heran.
"kenapa kita harus jalan kaki ? saat kita bisa menghilang ?" ucapnya baru sadar jika ia memiliki kekuatan.
"benar juga katamu kenapa tidak kepikiran sedari tadi ?"
setelah itu mereka mengibaskan jubahnya dan menghilang.
sedangkan itu..
Della terduduk bosan ia mengetuk meja dengan jarinya. sembari menyangga kepalanya.
"huff.. sungguh membosankan. kemana dia pergi sih. gitu aja ngambek. dikit-dikit ngambek. seperti anak kecil. pergi seenaknya. suka memotong perkataan orang lain. tiba-tiba muncul dan tiba-tiba pergi. pantas saja tidak ada wanita yang mau dengannya, sifatnya sangat impulsiv dan terlalu posesif. orangnya menyebalkan !" gerutu Della jari tangannya masih mengetuk meja.
tiba-tiba Della tersenyum menyeringai. "jangan-jangan dia selama ini jomblo karatan. hahaha tak pernah berpacaran dengan seseorang. hahaha. aduh kasian sekali dia. hahaha Adarsya. Adarsya." ucapnya sembari tertawa bahagia. eh bukan hanya bahagia ia sangat senang pokoknya.
Della tertawa terpingkal dan memegang perutnya. "hah..perut. ku.."
"sudah puas mengatai ku di belakang ?" suara bariton itu mengagetkan Della dan seketika ia menoleh kebelakang.
Deg.
Adarsya ? sejak kapan dia berada disitu ? apa dia mendengar perkataan ku ? mati aku.
Junjie mendekat.
"he.he.he kau, sejak kapan kau berada di situ ?" ucap Della sembari melihat junjie yang mendekat ke arahnya.
Junjie berhenti tepat di samping Della. ia membungkukkan badannya dan mendekat ke wajah Della kini wajahnya hanya berjarak sekitar sepuluh cm saja. kedua tangannya memegang sisi meja dan korsi.
"kau tadi bilang apa ? jomblo karatan ?"
Della melihat kesamping "e.. siapa. ti.tidak. kau kau salah dengar" elaknya ketahuan.
junjie tak membalas perkataanya ia masih menatap Della dengan raut butuh penjelasan akan perkataanya.
Della melirik kearah junjie, dan seketika ia membalikan mukanya lagi.
"kenapa dia masih menatapku seperti itu. plise. deh. jangan menatapku seperti itu, jantungku bisa tidak sehat." ucapnya dalam hati.
"Hem, ada apa dengan jantung mu ? apa kau mempunyai penyakit jantung ?" ucapnya menggoda sembari tersenyum. ia sedikit bisa membaca pikiran seseorang setelah berada di jaman ini, karena bawaan kekuatan yang ada di dalam jasad ia tempati. bisa di bilang istimewa.
Della menoleh matik mata mereka saling bertemu. wajahnya sudah memerah.
bagaimana dia.. bisa tahu apa yang aku pikirkan !
"apa kau mempunyai penyakit jantung ?" tanya Junjie sembari tersenyum.
"a.apa. yang ka. kau katakan. kau gila." ucapnya menoleh ke samping.
cukup. bila begini terus jantungku tak akan kuat. aku tak akan bisa mengelak karismanya.
junjie tersenyum "kenapa jantung mu tak akan kuat ?"
Della memejamkan matanya "kau terlalu dekat." lalu mendorong tubuh junjie menjauh. lalu ia berdiri lalu menyilangkan kedua tangannya.
Junjie terdorong. ia tersenyum lalu mendekat ke arah Della dengan tatapan dalam dan tak terbaca.
"A.apa lagi ?" ucap Della was-was dengan tingkah junjie, entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa sifat Junjie berubah menjadi lebih posesif terhadapnya. perlakuannya yang sangat berbeda membuatnya kalang kabut.
Della memundurkan badannya.
"A.apa." ucap Della sembari mundur.
"kau tadi bilang aku jomblo karatan bukan ?" ucapnya menyeringai masih berjalan mendekat ke arah Della dan Della masih berjalan mundur perlahan.
"memang kenapa ? kau mengakuinya ?."
dak.
Della terpojok. dia sudah tak bisa melangkah mundur karena belakang adalah almari.
dak.
tangan junjie mengunci tubuh Della dengan meletakkan satu tangannya ke lemari. tatapannya dalam. tatapan itu sangat dalam hingga dapat membius siapa saja.
"mau apa hah ? jomblo karatan." ucap Della mencoba menetralkan detak jantungnya.
Junjie tersenyum menyeringai "akan aku tunjukan bagaimana jomblo karatan sedang marah." ucapnya lalu langsung memeluk pinggang Della dan mengecup bibir Della.
della terbelalak. ia mencoba memberontak namun
junjie semakin mengeratkan pelukannya dan memperdalam ciumannya dan menjadi sebuah *******. membuat Della tak bisa berkutik. dan membuatnya hanyut dalam permainannya.
Pautan itu akhirnya terlepas dan mereka mengambil nafas dengan rakus.
junjie tersenyum memandangi wajah semu Della. ia mengangkat dagu Della hingga manik mata mereka saling menatap. detak jantung yang saling bertautan menjadi saksi keberadaan hati mereka.
"jangan pernah memancing atau memprovokasi ku , aku bisa lepas kendali" ucapnya masih menatap dalam.