
"Nita !," teriak Adarsya mengejar Zhenita yang berlari "Nita, berhenti," ucapnya sembari mencekal lengan zhenita
"Lepas !," berontaknya
"dengarkan penjelasan ku Ta, bukan itu maksud .." belum selesai ia berkata sudah di potong oleh Zhenita
"Bukan maksud apa ?, kau membentak ku karena wanita sepertinya ? dan kamu membelanya dari pada aku ?!,"
"Nita,.. aku minta maaf tapi Dengarkan aku dulu, aku tidak bermaksud membentak mu, tapi tidak seharusnya kamu mengatainya seperti tadi," jelasnya
"Terus saja kamu bela dia ?!, sepertinya rumor itu benar !, dan sekarangpun kamu mencegkram lenganku," Adarsya tersentak dan seketika melepaskan cengkramannya, Zhenita memegang lengannya lalu beranjak pergi meninggalkan Adarsya
"Nita !," panggil Adarsya namun tak di hiraukan olehnya.
Zhenita masuk ke dalam kamar lalu membanting pintu kamarnya, ia langsung menjatuhkan diri di kasur sembari menangis.
"Jahat kau Ade, Jahat !, aku kurang apa sih ?, belum cukupkah kau selalu menggantungkan tunangan ini !, mana janjimu yang hanya akan menjadi milikku ! mana ! kau jahat Ade !,"
Prang !!
Zhenita melempar benda yang ada di meja rias.
Prang !!
suara pecahan Samapi keluar kamar.
"Nita !, apa yang terjadi ?!, buka pintunya !," Zhen terlihat khawatir dan terus mengetuk pintu kamarnya,
"Nita ?!," panggilnya namun tak ada sahutan yang terdengar hanyalah suara pecahan dari dalam kamar.
"Nita !, berhentilah, buka pintunya !,"
tak ada sahutan dari dalam, "Nita kau baik-baik saja ?! Nit, jawab Nit !," teriakan Adarsya yang terlihat khawatir namun masih tak ada sahutan dari dalam.
Sial !, Adarsya mengacak rambutnya, terlihat beberapa pelayan mengintip dari jauh tak ada yang berani mendekat kecuali kepala pelayan,
"Tuan, ini," pelayan itu sembari menyerahkan kunci serep kepadanya. "Kenapa tidak dari tadi !," terimanya sembari menatap bak mata serigala. dengan segera ia membuka pintu itu seketika ia terkejut dan langsung menghampiri Nita yang di sekelilingnya banyak pecahan guci.
"Nita," dengan segera ia mengangkatnya namun Zhenita memberontak, dengan paksa Adarsya membopongnya dan keluar dari kamar.
"Bersihkan jangan sampai ada yang tersisa, dan bawakan kotak P3K ke kamar saya," perintahnya kepada kepala pelayan,
"baik tuan," ucapnya sembari membungkukkan sebagian badannya.
.
.
Adarsya membalut luka yang berada di tangan dan kaki Zhenita.
"kenapa ?," tanya Zhenita di sela Adarsya membalut lukanya.
"apa maksudmu ?," tanyanya balik.
"kenapa kau mengobati ku ?," Adarsya terdiam, ia memilih menyelesaikan membalut luka yang tinggal sedikit.
"apa perlu aku menjawabnya ?," jawabnya sembari menatap Zhenita. Zhenita mengangguk "ya," jawabnya singkat,
"dan aku ada pertanyaan kepadamu," ucapnya masih menatap Zhenita.
"katakan,"
"kenapa kau datang kemari ?,"
Zhenita terdiam ia malah membuang muka, "jangan terlalu percaya dengan rumor itu belum tentu pasti,"
Zhenita tidak membalikan mukanya, "bagaimana tidak khawatir jika pernikahan kita akan berantakan gara-gara rumor itu,"
"apa maksudmu ?," tanya Adarsya kaget. pernikahan ?,
.
.
.
"kakek galak," gumamnya "bagaimana bisa tamu tidak boleh di persilahkan duduk. Ella Ella bagaimana bisa kau mempunyai kakek seperti itu, ah sepertinya aku akan menjadi patung bila bertemu terus dengan kakek mu,"
ia beranjak berdiri meninggalkan jasnya lalu membersihkan diri. Dengan baju kasual ia duduk santai di balkon kamar sembari meminum kopi yang telah ia pesan dari pekerja rumahnya. Ia bersandar di kursi sembari menatap langit kemudian memejamkan matanya.
sementara itu di rumah dimana Della berada, mereka semua berkumpul diruang tengah, sembari berbincang-bincang.
Della sendari tadi tak banyak bicara dan hanya mendengarkan saja, ia sibuk mengemil makanan ringan kesukaannya.
"Apa kau yakin tidak mau mengambil alih, dan memilih hidup sederhana ?, sampai kapan kau akan menutupi identitas mu Hem ?," ucap kakek Della kepada mom Fi.
mom Fi masih terdiam santai lalu ia mengambil nafasnya dalam. "ayah," ucapnya terhenti sejenak "biarkan aku menenangkan diri, dan juga ini tidak terlalu baik untuk Della jika terungkap identitasnya, ayah tahu sendiri bukan apa yang akan terjadi, aku tidak mau hal itu terulang lagi, ayah," ucapnya tak menatap lawan bicara, ia memalingkan wajah kearah lain dan terlihat sorot mata yang penuh luka, seperti ia mengingat kenangan yang memilukan.
Istri ayah mom fi, memegang lengan suaminya dan menggeleng pelan. Terlihat ayah mom Fi menghelai nafasnya pelan.
"Baiklah, tapi jika terjadi sesuatu hubungi ayah, ayah akan selalu melindungi kalian," ucapnya.
mom fi hanya mengangguk sekali.
"Ella, sebenarnya apa kau tahu siapa Adarsya itu ?,"
Della di sana menoleh sembari memakan camilannya, "tidak kek, kami hanya pernah bertemu dua kali saja, dan entah kenapa dia seperti itu, menganggu," ucapnya jengah tak terlalu suka dengan pembicaraan.
"Kakek tau kau tak nyaman, tapi beberapa waktu lalu dia mencari sumber kebenaran akan dirimu, kau harus berhati-hati," tuturnya.
"Kenang saja kek, aku akan baik-baik saja kan ada kakek," jawabnya sembari tertawa.
"Ya, iya, kalau itupun kakek tau," sahutnya membuat Della semakin tergelak.
"Ngomong-ngomong kau dekat dengan anak kucel tadi," sahut neneknya Della membuat Della menoleh dan berpikir sejenak.
Anak kucel ?,.
"Yang mengantarmu kesini," imbuhnya dan seketika itu membuat Della tertawa terbahak-bahak "anak kucel ?, ha ha ha, maksud nenek Zen ?,"
"iya, itu siapa namanya nenek lupa,"
Della masih tak habis pikir jika Zen akan mendapat julukan anak kucel dari keluarganya, pasti karena seharian ia mengurus beberapa hal dan belum sempat mengurus diri ditambah lagi ia juga harus mengantar dirinya pulang ke rumah kakeknya yang jaraknya bisa dibilang lumayan jauh.
"Namanya Zen, nenek," sahutnya Della sembari membenarkan duduknya.
"hemm.. Zen, baiklah kau bisa tidur sana," perintahnya sembari duduk bersandar,
"ngak mau, aku bukan anak kecil lagi nenek," jawab Della sembari manyun.
"iya, iya, sekarang sudah berani membantah nenek ya,.. sudah sana tidur, besok nenek tidak mau kamu bangun kesiangan," ucap sang nenek.
"oke, oke, nenek ku yang cantik,.." jawab Della sembari beranjak berdiri. Della berjalan menuju kamarnya sembari melirik sekilas ke belakang lalu menghelai nafas pelan.
Sesampainya di kamar Della mengambil kertas kerjanya, ia mulai mencoret-coret kertas putih itu, pola-pola mulai terlihat dan akhirnya terciptalah sebuah desain dress panjang sederhana namun terlihat elegan.
Della mengerutkan keningnya sekilas, ia tak habis pikir akan membuat gambar di kertas itu.
"kenapa aku malah menggambar ini ya, dan sepertinya ini seperti tidak asing," gumamnya lirih,
Nyut,.
seketika Della memegangi kepalanya yang terasa pusing, sebuah ingatan samar muncul di pikirannya, terlihat seorang wanita memakai baju berwarna putih berkombinasi dengan warna merah marun, sama persis dengan desain yang baru saja ia gambar.
"apa ini," gumamnya masih memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia membuka matanya lalu meneguk air putih di sampingnya.
"kenapa akhir-akhir ini selalu saja begini, dan ingatan apa itu, ini sangat menganggu ku," ia menyandarkan kepalanya di kursi. "sepertinya harus periksa ke dokter, makin hari makin membuat kepalaku pening," Della beranjak dari duduknya ia mengambil kertas hasil coretannya menatapnya dengan intens.
"xiu," ucapnya Tampa sadar.
_
tekan tombol Like !
tulis komentar !
dan jangan lupa vote nya🤗