MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Episode 97



Aku adalah angin di bumi, laksana jiwa bebas tampa henti.


Aku adalah air di bumi, mengalir deras hingga kedasar tanah.


Aku adalah karang di lautan, tak pernah goyah dihantam badai.


Aku laksana tanah yang memberi pijakan, namun tak pernah di pandang.


###


dua minggu lebih telah berlalu,


Della masih dalam kurungan, tangan dan kakinya terikat,


"Sialan ! bagaimana aku bisa keluar ! Situa Licik menyegel keuatanku hingga kau tak bisa menggunakannya walaupun sekecil apapun !. lihat saja jika kau kembali lagi aku kutuk dirimu !" hah. kenapa semakin hari keadaan diriku semakin memburuk. badanku terasa lemas dan tak bertenaga.


cekrek,,,


pintu terbuka, dua orang murid perempuan membawa makanan dalam nampan,


"makanlah," menaruh nampan di meja, dan murid yang satunya melepaskan ikatan tanganya.


Della mencoba berdiri,meregangkan bebrapa ototnya.


bagaimana caranya aku bisa kabur ?! beberapa kali aku berusaha namun gagal terus !.


batinya kesal sembari duduk di kursi. turuti mereka dulu saja dan pikirkan lagi caranya.


della memakan makanan itu dengan diam tampa berbicara, setelah selesai dia diam duduk di kursi. menyilangkan keduatangannya.


"aku ingin alat tulis," pintanya dengan dingin.


"untuk apa ?" sahut salah satu murid disana.


"apa itu penting alasanya ?"


"penting, karna anda hanya ingin membuat alasn dan ingin kabur"


della membuang nafasnya kasar.


"aku adalah seorang desainer, dan pekerjaanku adalah mendisain sebuah baju, jika aku tidak memiliki alat tulis bagaimana ak bisa mengerjakanya !"


"pekerjaan apa itu dan desain apa itu ?"


della menepuk jidatnya karena kesal. hah ! sngguh menyebalkan !.


"sudah siapkan saja apa yang aku pinta !"


salah satu murid itu memberi isyarat mata ke temannya.


"Aku tidak akan kabur, tenang saja !" gerutu della dengan kesal.


beberapa saat apa yang diminta della teredia, dengan segera ia mengambil kertas putih dan mencoretnya dengan kuas, dua murid itu masih berdiri mengawasi.


"duduklah, jika kau lelah, apa kau akan berdiri selamnya mengawasiku." ucapnya tampa melihat kedua orang berdiri."tenang saja aku tak akan kabur,"


dua orang perempuan itu, hanya saling pandang dan teap memilih berdiri, Della melirik sekilas.


"terserah kalian saja, aku tak pedulijika kalian lelah." dasar keras kepala. lanjut batin della.


ia fokus menggambar desain baju,


"tidak, ini kurang, cocok dengan tema putri, ah ! apa yang aku lakukan" ia mengepal kertasnya lalu membuang kesembarang tempat, dan menambil kertas lagi, mebuang lagi mengambil lagi hingga berulang.


"aku butuh kertas lagi !" ucapnya kepada kedua perempuan yang berdiri.


della menyandarkan badanya di kursi kayu,


"kanapa, aku tak bisa berpikir jernih !"


beberapa saat kemudian keras yang ia minta sudah tersedia di meja. ia memandang baju murid yang memberikan kertas kepadanya,


"kau, apa pakain kalian semuanya bermodel seperti itu semua ?"


mereka saling memandang dan mengertukan keningnya,


"maksud anda ?"


della tersenum,


"berikan aku beberapa kain, aku akan membuatkan kalian baju yang indah,


beberapa saat kemudian,


Della selesai mendisain baju yang akan di buat. kebetulan, apa sekalian saja aku buatkan baju untuk adarsya, di pikir-pikir aku belum pernah memberinya sebuah baju, atau hadiah apapun.


della kembali mendisain baju untuk adarsya.


setelah beberapa saat,


"apa alat yang aku pinta sudah kalian siapkan ?"


"sudah," jawab salah satu dari mereka, terlihat beberapa murid juga ikut nimbrung disana karena penasaran.


della mulai menguur mereka. setalh itu meminta mereka membantu mengunting kain yang telah di siapkan.


Della mengambil kain yang telah di potong dan menjahitnya dengan teliti, dan hati-hati,


setelah beberapa saat yang cukup lama, dan di bantu oleh mereka akhirnya baju yang di desain telah selesai di jahit,


"cobalah," ucap della kepada keda orang tadi,


mereka dengan segera menganti pakaiannya,


"wah ini sangat indah," ucapnya dengan kagum,


"benar baju yang indah,"


"benar, sunguh indah, aku juga mau yag seperti ini,"


della tersenyum samar, dan membalikan badanya mengambil kain yang ia pesan khusus, kain itu kain baju khusus dela buat unuk Adarsya.


"kau ahli dalam membuat baju,"


della menoleh sejenak dan tersenyum samar, "sudah keahlianku,"


dan beberapa diantaranya menoleh, "apa yang terjadi ?"


della menoleh, "tidak, hanya tertusuk jarum," ucapnya lirih, dan memegang dadanya yang sangat gelisah. ada apa ini kenapa perasanku tak tenag dan terus gelisah.


seketika della berdiri, ia menghampiri cendella menatap kecakrawala, sembar memgang dadanya.


"junjie," ucapnya lirih, ia menoleh ke arah para murid wanita itu berdiri dan menatapnya, wajah gelisah della terpampang jelas di wajahnya.


"apa yang terjadi ?" ucap salah satu dari mereka,


"Hatiku gelisah, ijinkan aku keluar," pintanya masih dalam suasana hati sangat gelisah.


"maaf, kami tidak bisa,"


"kalian telah mengurungku disini selama dua minggu lebih, ijinkan aku keluar ! aku harus ke cam peperangan sekarang !"


"maaf, nona penerus kami tidak bisa. kau harus berada disini sampai situa kembali"


"Aku ingin menemui suamiku ! dia dalam bahaya !"


"maaf nona penerus, kami tidak bisa menlanggar perintah Situa,"


della mengepalkan tanganya. "Masa bodoh, peraturan macam apa itu, minggir," seketika della melompat keluar jendela dan berlari, namun baru beberapa langkah ia berlari, ia telah di kepung oleh mereka.


"minggir !"


"tidak, anda harus mematuhi diam disini,jika anda masih nekat anda akan kehilangan kekuatan anda sepenuhnya"


"aku tidak peduli ! minggir !" della mencoba menerobos dan memberontak saat dirinya di tali dengan sihir.


"Lepaskan aku !"


Aghh ! sialan !


"maaf, nona penerus,"


dak.


seketika salah satu murid itu menotok akunputur della dan della tak sadarka diri.


sementara itu di sisi lain dunia


angin kali ini berhembus sedikit kencang, mengibarkan dedaunan yang terjatuh dari dahang. kicauan burung memberi isyarat akan kawanya untuk segerah meneduh. langit mulai menghitam menandakan hujan akan jatuh lebih deras. di sebuah mansion seorang lelaki berdiri di balkon, menatap jauh ke cakrawala, dirinya seakan tak acuh akan dunia saat ini, angin yang bertiup semakin kencang hingga mebuat jas yang ia pakai berkibar, awan yang menghitam pertanda akan hujan, tak menggoyahkan dirinya.


Bresss !


air hujan turun tampa di minta. membasahi dirinya yang masih terdiam.


"Tuan, masuklah, berhujanan tidak baik untuk tubuh tuan, Tuan baru sa.." belum sempat ucapan sang pelayan laki-laki yang menghampiri selesai, Dia  mengisaratkan tangan, dan pelayan itu terdiam lalu pergi.


pelayan itu kembali ke dalam, terlihat beberapa pelayan wanita berdiri tak jauh dari pintu,


"bagaimana ?" tanya pelayan peremuan kepada pelayan lelaki.


pelayan lelaki itu hanya menggeleng lalu berlalu pergi dan di ikuti pelayan wanita.


"ini sangat buruk, setelah tuan sadar dia sering melamun dan menyendiri" ucap pelayan perempuan A


"betul sekali, bagaimana membuuk dirinya,"


"Kalian diamlah." potong pelayan lelaki yang berada di depan.


mereka berhenti ketika melihat seseorang membuka pintu,


"selamat datang tuan," ucap mereka serentak. namun lelaki itu tak menjawab namun malah mengomel.


"Apa kalian bodoh, membiarkan Tuan kehujanan di balkon ?!"


"mafkan kami tuan, kami telah mencoba membujuk Tuan muda namun tak bisa."


"tak berguna. segera pergi menjalani hukuman."


lelaki itu bergegas ke ke lantai atas menuju balkon, baru saja ia melangkah menghampiri. Lelaki yang berdiri di balkon itu menghentikan dengan isyarat tangannya.


"Tuan muda, anda.."


"Pergi."


"anda baru sadar, berte.."


"Pergi ! apa kau tuli ? ku bilang pergi !"


"tidak, ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


Dia terdiam.


"ini mengenai Nona Della,"


seketika Dia menoleh,


"keadaanya semakin melemah, dan.."


brak !


seketika Dia menarik kerah baju lelaki yang sedang berbicara, "Jangan asal bicara kau !"


"tuan muda, adarsya, dengarakan ucapank dulu,"


"Tidak perlu, cepat siapkan mobil dan pergi kerumah sakit sekarang !" seketika ia melepaskan cengkramanya lalu berlalu pergi,


pintu mobil terbuka dan ia segera masuk kedalamnya,


setelah beberapa saat mobil sampai di rumah sakit dan ia bergegas turun, berlari menuju ruangan VIP, terlihat disana beberapa orang menunggu di luar dengan gelisah.


ia berjalan mendekat,


"kenapa kau kemari ?" sahut Zen sinis,


semua orang menoleh,


Jangan lupa tinggalkan jejak ya para pembaca yang Budiman😁