MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Berita



"mau jeruk ?," tawar Zen kepada Della dan ia mengupas jeruk itu.


"mau," sahut Della sembari mengangguk "tapi awas kalau tak manis," sambungnya lagi mengancam.


Zen terkekeh "tenang saja, jeruknya manis seperti diriku," ucapnya langsung membuat gelak tawa di ruangan itu, Senda gurau pun terjadi di ruangan serba putih. Zen yang menceritakan kejadian kejadian lucu agar Della tersenyum, dan terkadang membuatnya tertawa.


sementara itu di balik pintu kesakitan itu, ada seorang yang mengamati mereka dengan tatapan yang sangat sulit di artikan, ya, dia adalah Adarsya, tatapan sedih rindu sakit semua bercampur satu dari balik jendela pintu ruang kesakitan.


kenapa kamu tak ingat semuanya, bahkan tentang diriku sedikitpun.


Adarsya memejamkan matanya sejenak lalu membalikan badannya dan wajahnya kembali dingin, berjalan tanpa mempedulikan orang sekitar yang memandang kagum, namun saat sampai di lobi rumah sakit kakinya terhenti ketika melihat segerombolan wartawan.


"itu dia, di sana tuan muda Adarsya," ucap salah satu mereka dan seketika mereka menoleh dan menemukan keberadaan Adarsya.


media ? kenapa mereka sampai kesini ?,


batin Adarsya,


batin Adarsya, akan menghindar namun sudah kalah cepat dan ia telah di kerubungi para wartawan itu.


"tuan apakah anda baru saja menjenguk Nona Della, ?"


"bagaimana apakah nona Della telah sadar ?"


"menurut informasi anda terjun menolong nona Della, dan beberapa hari anda juga koma benarkah itu ?,"


"terlihat anda menemui nona Della setiap hari benarkah itu ? apa mempunyai hubungan anda dengan nona Della ?"


Adarsya diam tak menjawab tatapannya masih dingin Tampa ekspresi, dia menggerutu Ki dirinya kenapa ia tidak membawa sekretarisnya atau pengawalnya itu.


sial.


umpatnya dalam hati. "minggir," satu kalimat itu yang keluar dari mulutnya dengan tegas dan dingin, semua orang terdiam karena kaget. sungguh ia sangat terganggu dengan para wartawan itu. ia menerobos dari para wartawan itu namun para wartawan itu mengikutinya hingga ia sampai di parkiran,


"tuan jawablah,"


"berikan jawaban atas pertanyaan kami,"


"tuan, jawablah, apa benar anda menemui nona Della setiap harinya ?"


"bukankah nona Della sudah mempunyai kekasih ?"


"apa benar terjadi cinta segi tiga diantara Anda, nona Della dan tuan muda Zen ?,"


Adarsya yang sudah memegang pintu mobil itu terhenti, ia menoleh ke belakang tatapan matanya menajam, "bubar atau pilih kehilangan pekerjaan kalian," ancamnya lalu masuk kedalam mobil, dengan cepat ia mengemudi menjauh dari para wartawan.


para wartawan itu terdiam kikuk mendengar perkataan Adarsya. kehilangan pekerjaan ? what ?, apa yang harus mereka lakukan, pekerjaan kepo mengepo adalah pekerjaan seorang wartawan.


sementara itu di dalam mobil Adarsya terlihat sangat kesal.


sial. bagaimana para wartawan itu bisa tahu semuanya.


ia menekan satu panggilan, "selidiki, para wartawan itu," perintahnya lalu mematikannya, ia kembali menekan satu panggilan lagi,


"tambah pengamanan di rumah sakit, jangan biarkan sembarangan orang datang," panggilan itu di akhiri dan ia menancap pedal gasnya dengan cepat.


.


.


seorang dokter masuk ke dalam ruangan, menuju kepada beberapa orang yang sedang berbincang-bincang.


"selamat sore, bagaimana keadaanmu ?," tanya dokter itu kepada Della, yang di tanya tersenyum "baik dok,"


"syukurlah, kau sudah bisa pulang setelah menghabiskan satu kantong infus," kata dokter itu dan di sampingnya ada seorang suster mengganti kantong infus yang memang harus di ganti.


"syukurlah, kau bisa segera pulang nak," sahut ibunya Della, sembari mengelus lembut rambut putrinya itu.


sang dokter memeriksa keadaan Della, "istirahatlah yang cukup, jangan terlalu berpikir terlalu keras," saran sang dokter,


"baik dok,"


setelah selesai dokter itu beranjak pergi. Della mengambil nafas dan kemudian membuangnya pelan.


akhirnya aku bisa pulang juga. aku sudah rindu bekerja dan mendisain karya baru.


akhirnya ia menyandarkan tubuhnya. ia teringat sosok Adarsya yang datang menjenguknya.


"mom," panggil Della dan mommy nya itu menoleh ke arahnya, "iya sayang kenapa ?,"


"apa benar yang menolong ku saat jatuh, adalah tuan muda Adarsya ?,"


"benar," jawab mommy "dan dia bahkan sempat tak sadarkan diri beberapa hari,"


Della terdiam.


"tak sadarkan diri ?," gumamnya, "lalu berapa lama aku tak sadarkan diri ?,"


"lima hari, sayang, kau tahu kau tega membuat mommy mu ini sangat khawatir ku kira kau tak akan sadar," ucapnya sendu,


Della sedikit mendengus mendengar jawaban dari momnynya itu, "mom, aku sudah sadar tauk, jadi jangan ngada-ngada deh," ucapnya sembari cemberut.


mommy terkekeh melihat putrinya itu. "salah siap kau lama banget sadarnya, buat mommy mu ini khawatir," ucapnya masih dengan terkekeh, "oh, iya, sayang, apa kau dekat dengan tuan muda Adarsya itu ?," tanyanya kepada Della.


Della membenarkan duduknya, "mom tanya seperti itu emang ada apa mom ?," ucapnya balik bertanya.


"tidak ada, hanya saja mom sedikit aneh saja, setelah dia sadar ia langsung menunggumu di sini setiap hari sampai kau sadar,"


"dia menunggu sampai aku sadar ?," gumamnya.


"iya, mom pikir kalian mempunyai sebuah hubungan, tapi itu tidak mungkin bukankah kau sekarang sedang berpacaran dengan Zen ?,"


sahut mommy sembari menuang air mineral ke gelas lalu meminumnya.


Della terdiam. pikirannya terputar ke pesta pernikahan Andhika dan Sella. hubungannya dengan Zen hanyalah manipulasi belaka untuk mempertahankan harga dirinya di hadapan mantan, hubungan mereka hanya sebatas sahabat tak lebih. dan terlebih lagi ia belum menyelesaikan dramanya dengan Zen di depan awak media. sudah pasti dirinya saat ini menjadi perbincangan dunia.


Della menepuk jidatnya saat mengingat kembali kejadian itu.


seharusnya aku melihat berita tentang kehebohan yang aku buat, tapi sayangnya aku malah terjatuh. sial.


"entahlah mom," sahutnya sembari memegang kepalanya yang sedikit pening.


"sayang kau mikir apa lagi, jangan memikirkan yang aneh-aneh," peringati mommy kepada Della.


"tidak kok mom. oh iya mom, di mana hp ku mom,"


"untuk apa lihat berita ?," Taks, tebakan mommy benar sekali.


"he he he," Della hanya terkekeh, sembari menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"tak ada gawai sebelum sampai rumah," ucap mommy tegas. ia tak ingin anaknya itu memikirkan apa-apa dulu sebelum ia sembuh total.


"ayolah mom, sebentar saja,"


"tidak," mommy mengambil koran di meja lalu memberikannya ke Della, "baca dari sini saja,"


Della cemberut sambil meraih koran yang di berikan mommynya.


ia melihat halaman pertama, matanya langsung membulat di buatnya. ya berita utama adalah tentang dirinya yang terjatuh ke laut, ia melihat koran berikutnya isinya tentang dirinya yang tak sadarkan diri dan di rawat di rumah sakit, kemudian sebuah superhero yang menyelamatkan dirinya. ia mengambil koran terbaru di hari ini, seketika matanya terkejut kan oleh berita halaman pertama itu.


"Misteri kisah cinta segi tiga seorang desainer ternama dengan dua pengusaha," di situ tertulis jelas nama siapa saja. ia membacanya sampai tuntas.


"Apa-apa an ini ?!," ucap Della sembari melempar koran yang ada di tangannya.


"tuh kan, untung koran yang kau lempar bukan gawai," sahut mommy melirik anaknya itu.


.


.


.


satu minggu telah berlalu, kini Della telah kembali bekerja di kantornya. sekarang ia duduk di ruangannya sembari bersandar di kursi kebesarannya.


tok


tok


tok


"masuk," jawabnya masih bersandar di kursi dan memainkan bulpoinnya. terlihat Ferry masuk,


"ada apa ?," tanyanya,


"media R ingin mengundang anda di acara mereka, dan," ucapnya terjeda "Andika dan Sella datang kemari ingin menemui mu," lanjutnya tak seformal di awal. Sebenarnya Ferry tak terlalu suka jika mereka berkunjung kesini tapi demi keprofesionalannya dalam bekerja ia haru menjalankan tugas nya sebagai sekertaris. Della pernah bilang, jika berada di kantor harus berlaku sesuai tempatnya.


Della membuang nafasnya, lalu membenahi duduknya, "untuk media katakan saja aku tidak bisa, dan untuk masalah mereka,". ucapnya terhenti. "berikan mereka seperti tamu biasanya,"


Ferry mengangguk dan kemudian berlalu pergi. sedangkan Della ia mengumpat di sejadinya.


"kenapa lagi mereka ?!, sungguh aku bosan menghadapi mereka, enaknya harus bagai mana ya.." ia berpikir keras.


"apa aku telfon Zen saja ?, ah, tapi dia sedang di luar kota, duh bagaimana ini, pasti mereka mengejek ku habis-habisan," ia berpikir keras.


sementara itu Ferry akan memasuki ruangan tunggu namun langkahnya terhenti ketika ada seseorang yang mencekal bahunya dari belakang. dengan segera ia menoleh namun sayang ketika ia menoleh ia di bekap oleh seseorang. ia di tarik ke salah satu ruangan yang tak ada orangnya. di sana ia di lepaskan.


"siapa kalian ?!," ucapnya tengis. setelah itu seseorang masuk dengan tatapan menyeringai.


"kau," ucap Ferry ketika tahu siapa yang telah membekap dirinya itu.


"shuttt, kau harus ikuti perintah ku, jika ingin kakakmu selamat dari mereka," ucapnya.


sementara itu Della masih mondar-mandir dan kemudian "tak ada pilihan lain, aku harus menghadapi mereka sendiri," akhirnya ia memutuskan dan langsung melangkah menemui mereka. namun langkahnya terhenti ketika ada panggilan masuk.


"mom ?," gumamnya dan kemudian ia mengangkat telepon.


sedangkan di ruang tunggu di sana terlihat ada lima orang yang sedang menunggu, Andhika dan Sella tiga lainya dari media R, yang masih menunggu kabar dari sekertaris Ferry. pintu pun terbuka semua mata tertuju ke pintu.


"semuanya silahkan ke ruang tamu," ucap seorang lelaki dengan pakaian serba hitam dan berkacamata hitam. mereka beranjak berdiri dan mengikuti pria tersebut, kemudian mereka memasuki ruangan setelah itu pria tersebut. menutup kembali pintunya.


setelah selesai telepon akhirnya Della menuju ruang tamu, saat di dekat pintu ia mengambil nafas dalam kemudian masuk, saat masuk dirinya sedikit mengerutkan keningnya.


kenapa media R masih berada di sini. apa Ferry tidak memberi kabar yang aku perintahkan.


semua orang berdiri, menyambut kedatangan Della "duduklah, jangan terlalu sungkan," ucapnya sembari duduk dan di ikuti mereka.


di sana telah di hidangkan makanan ringan dan sebuah teh hangat.


Della terdiam sejenak. kemana Ferry kenapa tamu di jadikan satu seperti ini.


ia mengambil nafas, "apa kalian menunggu lama ?,"


"tidak Nona, kami sangat berterimakasih anda telah mau menerima tawaran kami," sahut salah satu dari media R


"tunggu, menerima tawaran ? tawaran yang mana ?," sahut Della yang merasa belum pernah menjawab atau menerima sebuah tawaran dari mereka.


"mewawancarai tentang anda,"


Della terdiam sejenak, ia memegang pelipisnya sejenak, "siapa yang memberi kabar tersebut ?," Della kembali menatap ketiga orang tersebut,


"Della, kenapa kau terlalu mempermasalahkan mereka, ini hanya sekedar wawancara seharusnya kau bangga dengan mereka dengan begitu bukankah kau bisa menjadi terkenal," sahut Sella yang sekarang bergelayut manja di samping Andika.


"benar, bukankah ini kesempatan emas, media R adalah media yang sangat terkenal," sahut Andika menyakinkan.


Della kembali memijat pelipisnya sejenak.


"sudah terima saja, jangan terlalu gaya menolak tawaran besar, nanti menyesal low, seperti kau menolak Andika saat dulu," ucap Shella yang mulai membuat benang merah.


"saran yang bagus, tapi sayang aku memiliki pilihan ku sendiri," sanggah Della.


para media itu terdiam mendengarkan perdebatan mereka.


terlihat Shella menatap tak suka, sebenarnya Shella sangat iri dengan Della saat ini, dan ia masih menyimpan dendam dengan keberuntungan Della di datangi media R.


"jangan terlalu sombong, bukankah begitu sayang," sahut Shella sembari melirik kearah Della.


"dan seharusnya tamu tahu tempat berbicara saat bertamu di tempat orang," balas Della tak mau kalah,


"kau menyindir ku ?!," ucap Shella tak terima, ia sangat dongkol saat ini. Beraninya kau Della !,


Della menaikan satu alisnya, ia tak menanggapi ucapan Shella "apa jawab kalian ?, siapa yang menyetujui permintaan kalian ?" ia mengabaikannya dan bertanya kepada media.


"tadi.." belum sempat salah satu orang dari media itu menjawab perkataanya sudah di potong oleh Shella.


Brak !


"beraninya kau mengabaikan ku," ucapnya cukup keras. Andika memegang pundak Shella.


para media itu terdiam dan tercengang.


inilah yang tak ingin Della dengar, ia sangat malas berdebat dengan kedua orang di sampingnya itu.


"kau pikir kau itu siapa hah ?, berani mengabaikan ku ?," ucapnya sembari menunjuk ke arah Della,


Della membuang nafasnya lalu beranjak berdiri.


"kau bertanya aku siapa ?, bukankah kau sudah tahu ?," jawabnya santai


"Kau !," ucap Shella mengngepalkan tangannya erat kemudian tangannya menampar Della. namun tangannya terhenti, tak sampai menampar wajah Della, tangan itu di tahan oleh seseorang.


"beraninya kau menyentuhnya dengan tangan kotormu itu !," ucapnya sangat dingin kemudian melepaskan tangan itu dengan kasar.


semua orang terkejut melihat siapa yang menahan tangan Shella.


"Adarsya ?," ucap Della dalam hati.


sementara media dibuat terkejut dengan semua adegan langka di depan mereka yang mereka lihat secara live.


"kau,. sebaiknya jaga wanita mu itu, jangan sampai melukai tunangan ku !," ucapnya dingin dan merangkul tubuh Della dari samping dengan sebelah tangannya.


Della tercengngang dan semua orang pun sama. bagai Sambaran petir bagi mereka.


"tu. tu. tunangan," ucap Della pelan. dan Adarsya melirik kearah Della, "jangan lupa, seminggu lagi kita akan menikah," sahutnya menambah wajah terkejut orang di sana


"tunangan ?"


"menikah ?,"


para media itu bagai mendapat ikan paus. ini ini berita yang sangat langka, tak sia-sia datang saat ini. batin mereka menggebu-gebu.


"apa !, bagaimana bisa ?!, baru beberapa hari kau jalan dengan Zen dan sekarang kau akan menikah dengan dia ?," kata Andika tak percaya


"me.menikah ?, bagaimana mungkin ?," ucap Shella tak terima.


bagaimana bisa dia mendapatkan orang yang selama ini aku sangat kagumi itu. tidak bisa. aku tidak terima,


"Dasar ja**ng!. tak tahu malu dan Gonta ganti lelaki !," umpat Shella sembari menunjuk Della.


"beraninya kau mengatai kekasih ku !," ucap Adarsya dengan tajam.


Della meraih lengan Adarsya, ia maju selangkah, "Shella, Andika, jika kalian datang hanya untuk mencari masalah, silahkan kalian keluar, pintu ku sangat terbuka untuk kalian, dan jangan lupa Minggu depan aku mengundang kalian, " ucapnya tersenyum manis lalu melambaikan tangannya.


Shella sangat baik pitam sekarang harga dirinya seperti di hentakkan, sekarang dia di usir ! ingin rasanya ia meluapkan amarahnya namun hal itu sia-sia ketika Andika menariknya keluar dari sana. ia berjalan dengan penuh amarah. "lihat saja nanti kau Della," ucapnya. Andika menghelai nafas, niat ia ingin berkunjung baik-baik menjenguk Della namun berakhir pertengkaran yang membuncah.


sementara itu di ruangan, orang dari media R itu masih terdiam menyaksikan drama secara live. Adarsya melirik ke arah mereka dan mereka menelan ludahnya. Della menatap kearah mereka "maaf kalian menyaksikan keributan ini, kalian kembalilah dan datang kembali besok,"


"terimakasih atas waktunya nona Della," ucap mereka lalu buru-buru undur diri.


sementara itu kini tinggal mereka berdua di ruangan tersebut. Della membalikan badannya menghadap adarsya lalu melipat kedua tangannya "kau," ucapnya kepada Adarsya. "bukankah kau berhutang kepadaku atas perkataan mu," ucapnya menyelidik.


tak ada jawaban, Adarsya diam dan langsung memeluk Della.


____________________


ini dia episode aku jadikan satu,🤐


.


.


ayo dukung author dengan like, komen and vote..