MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
kedatangan Zhenita



sebuah mobil melaju dengan cepat membelah jalanan sepi, laju mulai perlahan saat memasuki sebuah jalan yang curam, mobil itu terhenti di tanah lapang pinggir jurang, seorang lelaki turun.


Blam.


ia menutup pintu mobilnya keras, kemudian duduk di atas mobil bagian depan, terlihat raut wajah sesal amarah gelisah kecewa menjadi satu. ia sungguh merasa kesal akan dirinya dan keadaan sekarang.


klarifikasi ?!,


lagi-lagi ia membuang nafas kecewanya. ia mengacak rambutnya frustasi. ya. dia Adarsya. setelah keluar dari gedung. ia memilih mengemudi mobilnya sendiri meninggalkan para ajudannya, ia menelisik jalanan sepi dan akhirnya sampailah di sini.


sebuah tanah lapang di atas bukit, ah bukan belum sampai bukit tapi ketinggiannya setengah dari bukit. di sana udaranya masih segar dan sangat jarang di lewati kendaraan, sangat cocok untuk menyendiri, apa lagi di depannya terlihat pemandangan danau dan airnya terlihat sangat biru.


ia menatap jauh ke depan, pikirannya buyar.


"seharusnya aku lebih mempertahankan lagi, kenapa !, kenapa dia tidak ingat semuanya ?!, seharusnya aku lebih berusaha dan berjalan perlahan."


"kau sungguh ceroboh Adarsya !, kenapa jadi bego ?!," umpatnya kembali sembari mengacak rambutnya. ia masih tidak menyangka keluarga Della ada yang melindungi dan sangat kuat. media yang ia pegang dalam semalam kantornya mengalami kendala. dan juga konferensi press tadi ada belah pihak yang menekan dirinya, namun identitas itu tersembunyi dan tidak bisa di lacak.


"sebenarnya siapa mereka ?," ucapnya lirih. "Della,.." ucapnya lalu membaringkan tubuhnya dan kemudian menutup matanya dengan lengan.


kring..kring..


ia membuang nafasnya jengah, karena suara ponsel yang berdering tiada henti.


"cih, menganggu !," dengan segera ia meraih ponsnya dan melihat siapa yang mengganggunya.


"Zhenita, " gumamnya lalu membuang nafas lalu mengangkatnya.


"Sayang,..!," hal pertama yang ia dengar mengangkat telepon, dia adalah tunangan Adarsya yang berada di luar. "sayang, kamu dimana ? kenapa lama sekali mengangkatnya ?, halo sayang kamu di sana kan ?, aku sangat rindu kamu, kamu lama tidak bisa di hubungi," jelasnya panjang lebar


"kenapa ?," jawabnya dingin.


"ih, sayang, aku rindu kamu cepatlah pulang, aku mempunyai kejutan untukmu,"


"jangan aneh-aneh Nita, kau membuat kepalaku pusing," jawab Adarsya Tampa ekspresi. terdengar di sebrang sana mendengus


"begitu aja terus, kenapa sih kau itu pasti dingin ke aku," ia kembali mendengus "aku sekarang berada di Manson mu, jadi cepatlah pulang," ucapnya kemudian ceria dan mematikan panggilannya sepihak.


Adarsya semakin mengacak rambutnya.


"agrhh !, kenapa dia malah kemari !," umpatnya.


kemudian ia segera memasuki mobil dan melajukan mobilnya kembali ke mansion.


sementara itu, disalah satu mobil berwarna hitam. terlihat Della masih tertidur di bahu Zen, mobil itu memasuki sebuah halaman dan terhenti di sana. perjalanan yang lumayan lama membuatnya Zhen menahan kantuknya karena Della tertidur.


Zhen melihat sekitar, bangunan yang sederhana namun elegan, terlihat sangat enak di pandang mata.


"La, bangun, udah nyampe," Zen mencoba membangunkannya namun tak berhasil, Della masih terlelap dalam tidurnya.


"Ella, bangun kita sudah nyampe," Zen mencoba mengusap kepala Della agar ia terbangun, namun tetap saja tidak bangun.


Zen membuang nafasnya. terpaksa ia harus membopongnya masuk ke dalam. terlihat mom Fi menghampiri. Zen menurunkan kaca mobilnya.


"kenapa tidak segera turun ?," tanya mom fi.


Zen memberikan isyarat agar mom fi bertanya pelan, jika Della tertidur pulas.


"ya udah, gendong ia masuk ke dalam," ucap mom Fi, dan geleng-geleng melihat anaknya yang tertidur lelap.


Zen menggendong Della dan mom fi mendahului masuk rumah, terlihat seorang lelaki yang sudah berumur duduk di kursi beserta istrinya.


"dimana cucuku ?," tanyanya ketika melihat mom Fi masuk, kemudian di susul oleh Zen yang menggendong Della. seketika lelaki yang berumur itu berdiri "siapa kau, seenaknya menggendong cucuku ?!," ucapnya tegas,. mom Fi menghampiri dan menenangkan ayahnya.


"biar ku antar dulu ayah," seketika mom Fi menunjukan jalan dan di ikuti Zhen.


mom Fi membuka pintu kamar, terlihat nuansa kamar bergaya klasik namun terlihat sangat elegan. jujur saja Zen kagum dengan gaya arsitektur kamar itu, apa lagi ketika ia masuk ke dalam rumah, ia sudah di buat kagum dengan nuansa kuno sederhana namun sangat elegan.


"tidurkan ia di sana," seketika Zhen menidurkan Della ke kasur dengan pelan agar tidak terbangun.


"kau keluarlah," perintah mom Fi dan Zen langsung menunggu di luar Tampa bertanya.


mom Fi menyelimuti anaknya, lalu mencium kepala Della. ia menatap sekilas dan kemudian berlalu pergi. Mom Fi menutup kamar Della.


"ikut aku ke depan," ucapnya, ingin sekali Zhen berbincang dan menanyakan berbagai hal namun ia tahan, entah kenapa rasanya seperti tertekan dan tertahan. ia menurut saja mengikuti Mom Fi.


sampailah mereka di ruang tamu, di sana ayah mom Fi berserta istrinya duduk, Zen menyusul duduk setelah mom Fi duduk.


"siapa yang suruh kau duduk ?!," ucapnya tegas dan Zen menoleh serta melirik ke arah mom Fi, namun mom Fi mengabaikannya.


"ti.tidak ada," jawab Zhen sedikit gerogi karena ucapan dari kakeknya Della sungguh tegas dan galak, raut wajahnya yang tegas serta tatapannya yang tajam membuatnya merinding di tambah lagi lirikan neneknya Della yang terlihat seperti akan mencabik-cabik mangsa, ia menelan ludahnya kasar.


"berdiri," perintahnya dan dengan cepat Zhen langsung beranjak berdiri.


.


.


.


lain tempat beda cerita


mobil Adarsya memasuki halaman mansionnya, dengan segera ia memalingkan mobilnya. terlihat ada sosok perempuan telah menanti kedatangannya. Adarsya keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah saat beberapa langkah ia terhenti karena langsung di peluk oleh seseorang


"sayang,.." ucapnya sangat senang, "kenapa kau lama sekali aku menantimu, bagaimana apa kau suka hadiah ku," ucapnya masih memeluk,


Adarsya terdiam kaget, akan sosok perempuan yang memeluknya.


"Zhenita," ucapnya lirih sembari melepaskan pelukan Zhenita, ia agak risih dengan sifat Zhenita yang selalu menempel kepadanya.


"kenapa ?, apa kau tak suka hadiah dariku ?, padahal aku sudah jauh-jauh datang kemari,." ucapnya ngambek dan manja,


"bukan begitu, tapi.." belum sempat Adarsya melanjutkan katanya Zhenita langsung menyahut,


"aku tak mau alasan, pokoknya kau harus menemaniku, ayo temani aku ke taman," ujarnya langsung merangkul lengan Adarsya dan memaksanya berjalan, dengan terpaksa Adarsya mengikutinya.


"kau tahu aku sangat merindukan mu, kenapa lama sekali kau tak bisa di hubungi," Zhenit membuang nafasnya, "dan," kalimatnya terhenti ia semakin kencang merangkul lengan Adarsya.


"aku tidak suka berita yang tersebar itu, bagaimana bisa wanita seperti itu berani menggoda mu ?, seorang pembuat baju ?, besar sekali nyalinya," gerutunya tak suka dan sangat geram.


"cukup Zhenit, jika kau datang kemari hanya untuk bergosip, lebih baik kau kembali saja," henti Adarsya yang tidak suka dengan perkataan Zhenita, apalagi merendahkan Della di hadapannya. Ingi ia murka dan membela della namun ia tidak bisa melakukannya sembarangan, Zhenit mudah cemburu dan tersinggung di tambah lagi ia terlalu posesif, jika terang terangan ia membela della maka akan berujung rumit.


Zhenit cemberut dan mendengus mendengar perkataan Adarsya. "kau membelanya ?, jangan dekat-dekat dengan wanita kampungan itu, aku tak suka, kau itu tunangan ku, aku tak mau kau di rebut oleh wanita murahan itu !,"


"cukup Zhenit," bentak Adarsya karena tak tahan dengan perkataannya. Zhenita terdiam mendengar bentakan dari Adarsya, baru kali ini ia di bentak olehnya, "kau membentak ku ?, hanya karena wanita itu ?, hiks" ucapnya sembari berlinang air mata dan kemudian pergi sembari menangis.


"Zhenit," panggil Adarsya, ia tak sadar baru saja membentaknya, Zhen mengacak rambutnya "ah, sial," umpatnya lalu mengejar Zhenit yang meninggalkannya.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak..


like, komen, vote, yaa pembaca yang BudimanšŸ¤—