MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Merelakan



Malam semakin gelap, mereka masih duduk di restoran. "jadi, apa yang akan kau lakukan ?," tanya Zhen dan hanya di jawab dengan pundak.


"aku tak tahu, ini seperti mimpi namun terjadi, menurutmu apa yang harus aku lakukan Zhen ?," tanya Della kembali sembari memandang ke air danau.


Zhen membuang nafas pendek, "mau ku bantu lagi ?," tawarnya ke Della, ia menatap dengan tatapan sedikit aneh.


Della menoleh " apa ?, menjadi kekasih palsu lagi ?," tanya Della sembari menyandarkan kepalanya di pagar.


Zhen terkekeh, "ingat Ella, sandiwara kita belum selesai Hem, kau ingat kejadian saat di kapal pesiar ?, kau tahu rumor itu sampai sekarang masih hangat dan sedikit panas dan terbumbui oleh manusia itu," ucapnya terhenti sejenak "jadi kenapa tidak selesaikan dulu yang ada, melanjutkan sandiwara itu sampai tuntas," jelasnya. Dan mengakhiri sandiwara ini melanjutkan kejenjang yang lebih serius. lanjutnya dalam hati.


"Hemt..." Della sedikit memikirkan "Benar juga, tapi ini sedikit berbeda,.. apa bisa," gumamnya sedikit tak yakin.


Zhen menyandarkan badannya ke pagar, "terkadang manusia harus berkali-kali merasakan luka, agar ia bisa berdiri tegak menentang badai," ucapnya lirih.


.


.


Malam semakin kelam. Della kini telah terlelap di apartemennya. Esok entah apa yang akan terjadi biarlah waktu yang menunjukkan.


pagi menjelang, semua orang melakukan aktivitasnya masing-masing. Tak terkecuali dengan Della yang kini telah berada diruang ganti pengantin, tangannya sibuk mengecek gaun yang akan dipakai.


"bagaimana dengan make-upnya ?," tanya Della ke salah satu karyawan MUA nya dan sesekali mengecek jam tangan di pergelangan tangannya.


"sebentar lagi akan selesai, nona," jelasnya lalu mengambil beberapa alat rias lainnya.


Della kembali melihat jam tangannya, "Selesaikan tepat waktu," perintahnya "baik nona."


Della menatap wajah yang dirias oleh karyawannya, ia menatap intens lalu memalingkan wajahnya.


"Sani, setelah selesai kau bisa panggil diriku," ucap Della dan di iyakan oleh Sani salah satu karyawannya.


Della beranjak meninggalkan ruangan itu ia terhenti tatkala sebuah panggilan masuk kedalam telepon genggamnya. "Zhen ?," gumamnya lalu mengangkat teleponnya.


"Hem, ada apa Zhen ?," tanya Della langsung.


"Lihatlah kebawah," perintah Zhen.


"Ngapain ?, haduh Zhen jangan main-main sekarang oke, aku lagi sibuk nih," jelas Della yang sedikit memijit keningnya.


"jangan mengelak, aku tahu kau sekarang sedang berada di luar ruangan, lihatlah kebawah,"


Seketika Della melihat kebawah, dan matanya sedikit terbelalak mendapati Zhen yang sudah berada disana "kenapa kau bisa disitu ?!," tanya Della penasaran.


"apa kau lupa ?, tentu saja bisa," jawab Zhen dibawah sembari menaik turunkan alisnya menatap Della.


"Dasar,.." jawab Della. "Hei, sudah sana kau,.."


"Della," belum selesai ia melanjutkan perkataannya namun ada yang memanggil dirinya dari arah samping. Terpaksa Della menghentikan ucapannya dan menoleh kesamping.


"iya," seketika ia terdiam melihat siapa yang memanggil namanya barusan. Adarsya. ya. Dia Adarsya.


Ingatan itu mengalir sempurna diingatan Della ketika melihat sosok di depannya, teringat kenangan janji suci yang mereka ucapkan. Kini Ia memakai jas pasangan pengantin, rambutnya yang ditata rapi. Rasa campur aduk membuncah didalam diri Della. Ia diam kata, mulutnya terasa kelu. Ingin rasanya air matanya keluar namun tak sanggup. Hatinya seperti dikoyak perlahan dan pasti. Kenapa Sesakit ini.


Sungguh tatapan itu dalam menatap Della, matanya menggambarkan jika hatinya terluka dan merasa bersalah. Della memalingkan pandanganya. Hatinya ingin menjerit. Ia tak mau melihat sorot mata itu. Ia tak mau.


"Del," panggil Adarsya lirih. Della mengambil napas dalam. Kuat La, kau bisa, jangan tunjukkan kelemahan mu, jika tak ingin tambah terluka, kau bisa. Ucapnya untuk menguatkan dirinya sendiri.


Della tersenyum "Anda memanggil saya ?, apa ada sesuatu yang anda butuhkan ?, biar saya panggilkan yang.."


"Dirimu,." potongnya memotong perkataannya.


Della terdiam.


"yang ku butuhkan dirimu,"


Deg.


Della terdiam merasakan jantungnya seakan terhimpit batu besar. Rasanya sesak dan semakin sesak.


"yang aku butuhkan dirimu, bukan per.."


"Diam," sahut Della tak tahan lagi, ia mengambil nafas dalam meski susah. Dan Tampa sadar sebuah air mata diam-diam menetes dari persembunyiannya.


"kau, menangis ?," ucap Adarsya kaget, tangannya ingin meraih della "ka. Kau, Ing.."


"Ella," panggilan itu memotong perkataan Adarsya. Zhen datang menghampiri dan langsung memeluk Della dalam dekapannya. Adarsya terdiam kaku.


"kau kemana saja ?, kan sudah kubilang jangan pergi jauh-jauh," ucap Zhen lalu menatap Adarsya.


"Selamat atas pernikahan anda tuan muda Adarsya," ucap Zhen yang masih memeluk Della. "Maafkan kami tidak bisa terlalu lama disini, karena kekasih saya sedang tidak terlalu sehat," ungkapnya lalu berpamitan dan pergi dari sana. Zhen mendengar semuanya dari telepon yang belum sempat terputus dan lalu bergegas menyusul Della keatas.


Zhen membawa pergi dari tempat tersebut dan masuk keruang istirahat bagi tamu. Della langsung duduk dan menangis tertahan. Zhen duduk disamping Della sembari menepuk pelan pundak Della. Membiarkannya menangis melepaskan semua yang dirasanya.


"Sudah ?," tanyanya dan hanya diangguki Della.


Della bersandar di sofa, sembari memejamkan matanya, menghirup udara dan membuangnya.


Perasaanya sudah sedikit lega.


"Kau mau ?," Zhen menawarkan puding strwobery dan memakannya. Della melirik dan Zhen menyodorkan sendok berisikan puding.


Della menggeleng.


"yakin ?, enak Lo," kemudian memasukannya kedalam mulut dan mengunyahnya. Zhen terus mengimingi Della memakan puding strwobery kedalam mulutnya. Della melirik Zhen yang memakan puding strwobery.


Ah. Sial. Umpat Della, karena itu adalah puding kesukaannya. Lalu ia mengambil puding di meja dan memakannya. Seketika Zhen tersenyum membiarkan Della memakan puding strwobery dan dirinya melanjutkan makannya.


ditengah mereka menikmati puding, sebuah panggilan masuk, Della menghentikan makannya dan beralih mengangkat telepon tersebut.


"Hallo, nona,.. Nona dimana ?, semuanya sudah siap," jelas dari panggilan tersebut.


"baiklah, aku segera kesana," jawab Della lalu mematikan panggilan tersebut.


"ada apa ?," tanya Zhen yang meletakkan gelas dimeja.


"Aku harus bergegas keruang rias," jelas Della sembari berdiri.


"aku antar," ucap Zhen ikut berdiri dan bergegas.


"baiklah,"


.


Waktu terus berjalan, rangkaian demi rangkaian acara terlewati dengan sempurna, kini memasuki acara ini, tokoh utama pesta itu telah datang menuruni anak tangga mencuri perhatian.


Disisi lain ada sosok yang melihat itu semua, ia terdiam Tampa sua, sorot matanya memancarkan luka yang tercipta begitu nyata, setiap jam ditempat itu adalah luka, setiap menit di tempat itu adalah lara, di setiap detik tempat itu adalah racun.


Matanya masih tak berpaling melihat seorang yang turun tangga bersandingan seorang wanita. Ia tak berkedip sedikitpun, hingga Tampa sengaja tatapan mereka bertemu. Dengan cepat Della memalingkan wajahnya dan menghapus peluh yang keluar Tampa permisi.


Della kembali melihat kearah pasangan yang kini berada di singgasananya.


...Kasih,...


...aku relakan perasaanku yang terpendam...


...aku relakan rasaku yang hanyut kelautan...


...aku relakan cintaku yang terkubur dalam...


...aku relakan kasihku yang tak mungkin tersampaikan....


...Kasih,...


...terimakasih atas ketulusan...


...cinta yang tergambar tak sampai diutarakan...


...rindu yang menghampiri harus dibuang dipaksakan....


...karena kita adalah kasih yang tak sampai....


Della bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Sungguh ia tak akan sanggup berlama-lama di sana. Ia langsung pergi menggunakan mobilnya membelah jalanan yang lumayan ramai.


Ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menyalip kendaraan-kendaraan yang menghalangi, mobil itu terus melaju di jalanan yang lumayan sepi. Ia terus menyetir entah kemana ia pergi iapun tak tahu, Tatapan matanya kosong dan Tampa ia sadari ada seorang anak yang berlari kejalan dengan kaget Ia membanting setir kearah kanan jalan.


"Raka ! Awas !," teriak seseorang dengan keras dan.


BRAKK !,


"ELLAAAA !!," Teriak Zhen panik. Ia membuntuti Della dari belakang karena ia merasa tak tenang dengan Della yang keluar sendirian. Dan akhirnya firasat itu terjadi, Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, mobil itu masuk ke dalam jurang.


.


.


.


Bersambung....


.


...yuk tekan tombol Like, Komen and Vote...