MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
PANGERAN FANG QI



 "Tunggu.." tahan della dengan memegang tangan Junjie.


"ada apa ?" tampa menoleh.


 “bisakah kau menatapku saat berbicara ?"


Della sungguh tak bisa diabaikan saat ia berbicara dengan orang.


Junjie menyungging senyum sebelah.


"apa kau lupa. kau hanyalah istri konspiransi. jadi untuk apa aku harus menatapmu."


Deg. hati terasa tercubit.


entah kenapa ia tidak suka mendengar kata itu. istri konspiransi ?. della tersenyum kecut


apa dia juga merasakan seperti ini saat aku berbicara kepadannya tadi ? ini bagaimana bisa terjadi. aku tak suka


ia berkata seperti itu. hatiku seperti tersandung batu.


Junjie melepaskan tangannya dari genggaman della.


"Kau persiapkan saja barangmu, dan jangan kemana-mana" ucap Junjie sembari meninggalkan Della.


"Junjie !" panggil Della. Namun tak ada sahutan ia diabaikan.


dengan segera Della mengejar Junjie.


Junjie bergi ke arah danau di mana biasanya Della berlatih setiap pagi.


"Junjie. berhenti." ucap Della sembari menahan tangan Junjie saat mereka telah sampai di danau.


junjie memballikan badannya


"Apa lagi ?!"


"tak bisakah kau dengarkan aku dulu ?!"


"Apa ?! hak apa yang yang dimiliki istri kospiransi ? "


PLAKK!


Sebuah tamparan mendarat di pipi junjie. mata Della memerah. hatinya teriris. Sakit.


"Tak bisakah kau tak mengucapkan itu ! Tak bisakah Kau Tak mengulangi Kata-kata menyakitkan itu ?!"


umpat Della ke Junjie.


Bibir Junjie tersungging sebelah. dengan cepat ia meraih dagu Della. mata mereka bertemu. ia menatap dalam mata itu. " apa kau merasakan sakit ? apa kau tak terima ?" ucap Junjie.


Della terdiam.


Bohong jika ia mengatakan tidak. ia merasakan itu semua. hatinya terasa sakit saat kata istri konspiransi terucap


dari bibir Junjie. itu sangat sakit.


"iya." ucap Della.


Junjie kembali menyungging sebelah bibirnya. "apa kau mulai mencintaiku ?"


Deg.


Della terdiam.


apa benar aku mencintainya ? tapi bagaimana mungkin ? tidak ini tidak benar. tapi hatiku. Tidak. ini tidak benar.


detak jantng della mulai cepat saat wajah Junjie semakin dekat dengan wajahnya.


"A.apa kau gila !" umpat Della sembari menjauhkan diri, menghindari tatapannya.


"kita sudah sepakat aku tidak akan jatuh cinta kepadamu !"


Junjie tersenyum tipis. " Lupakan. kembalilah, dan jangan ikuti aku. aku masih ada urusan." ucap


junjie sembari membalikan badannya. dan kemudian berlalu pergi.


Della masih mematung di tempat dan melihat Junjie pergi begitu saja.


ada apa dengan diriku ?. ini tidak mungkin. bagaimana bisa aku mulai mencintainya.


ayo sadarlah Della. Tidak Della. Tidak ! pernikahan ini hanyalah konspirasi ! bagaimana bisa kau terjebak rasa


kedalam pernikahan yang semu ini.


“ wow, sungguh pasangan yang menarik”


“Siapa ?!” ucap della menatap sekeliling.


“ini aku tuan. Pedang tampanmu”


“kau bisa bicara ?”


“hamba ini bukanlah pedang biasa, hamba ini sangat istimewa dan selalu didamba.”


“percaya diri sekali kamu.”


Seketika cahaya putih biru muncul di sebelah della dan muncllah sosok pria tampan rambutnya putih pakaiannya biru muda beraduwarna putih.


“kenapa kau bisa muncul aku tidak memanggilmu ?”


Catatan : pedang erlac mempunyai keistimewaan dan kelebihan tersendiri lain dari pedang lainnya. ia bisa


menghilang dan tak terlihat.  hanya bisa di panggil oleh sang pemiliknya. Ia juga mempunyai keistimewaan wujud manusia.


“entahlah tuan, aku merasa terpanggil sendari tadi, aku merasakan saudaraku juga berada di dekatku”


“sendari tadi ? sejak kapan ?”


“saat lelaki tadi datang.”


Della terdiam sesaat.


Erlac membuang nafasnya alus. “ya. Lebih tepatnya kami satu kesatuan. Kami terwujud dari penyatuan kekuatan Dewa Dewi, darisana terciptalah dua pedang, sang Dewa memberi nama salah satu perujudan pedang bernama Erlac dan Sang Dewi memberi nama pedang satunya Fier. Pedang fier di bawa sang Dewa di hutan Kabut dan pedang Erlac di bawa sang dewi ke hutan Bintang.”


****


Junjie terus melangkahkan kakinya membelah hutan. Ia terhenti di sebuah rumah sederhana di hutan.


“ Ku pikir kau sudah melupakanku.“


 seketika junjie membalikan badannya dan langsung memberi hormat.


“hormat kepada pangeran ke 3”


“sudahlah jie. Apa kau akan begitu selamanya. Ini bukan Istana. Kau tak perlu seformal itu. apa kau mau mengejekku ?”


Seketika junjie mengangkat tubuhnya.


“Maaf”


“hanya kata maaf ? hah. sudahlah aku lagi tak ingin berdepat denganmu.”


Pangeran ketiga meregakan otot-ototnya.


Junjie menghampiri sembari melempar sebuah pedang kearahnya dan denan sigap pangera ketiga menangkapnya. “berlatihlah, waktuku terbatas disini”


“hais. Tak bisakah kau istirahat sejenak ? apa kau tak merasakan lelah ?”


Junjie tak bergeming, sembari meniti pedang miliknya.


“aku tak punya waktu untuk itu. lusa aku akan pergi perang”


“ Apa kau bilang ?! setelah berminggu-minggu kau baru kesini dan langsung pergi lagi ?! katakan kenapa kau


tak datang beberapa minggu ini seperti menghilang tertelan bumi. ”


Sring!


Junjie menyerang pangeran ketiga.


“cih. Kebiasaan.” Umpat pangeran ketiga sembari menangkis serangan junjie.


“Bagaimana acara pemilihan istri untukmu itu apa berjalan dengan lancar ? apa kau sudah menemukan gadis impianmu ? “


Sringg! Sring!


Junjie memuar seraganya. Sringgg.! Gesekan pedang terdengar nyaring.


“sudah.”


Pangeran ketiga menyeringai. Ia menyerang junjie. Gerakan tanganya sangat lihai memainkan pedang.


Penyerangan demi penyerangan ia berikan, dari menyamping, memutar balik, hingga gerakan rumit untuk mengecoh junjie.


Pangeran melihat celah dan ia memanfaatkanya dan..


Sringgg!


Pangeran dapat mengunci pergerakan junjie. “hahaha. Bagaimana permainanku ?”


Junjie hanya menyunging sebelah bibirnya. “tak jauh berbeda dengan istriku.”


Seketika mata pangeran terbelalak. Istri ??


Seketika pangeran menarik pedangnya menjauh. Bukan untuk menyerang melainkan karena terkejut dengan ucapan junjie.


“Istri ?? apa kau sudah menikah ? sejak kapan ? kenapa kau tidak memberitahuku ? kau tidak mengundangku ? bagaimana rupanya apa dia cantik ? seperti apa dia ? Siapa namnya ?”


Kini serangan pedang itu beralih dengan serangan pertanyaan yang tak terhitung darinya.


Junjie membuang nafasnya malas. Cih kenapa aku harus keceplosan sial. sendari tadi aku terus memikirkannya.


“ceritanya panjang.”


Junjie melangkahkan kakinya menuju rumah itu dan segera ia merebahkan tubuhnya.


Pangeran mengikutinya dan duduk antusias menungu jawaba dari junjie.


“katakan bagaimana kakak iparku ? siapa namnya ?”


“apa itu perlu ? kau tak akan tahu jika aku katakan ?”


“Cih. Aku hanya penasaran wanita mana yang berhasil memikatmu dan membuatmu begitu memikirkannya.”


“apa kau iri ? makanya keluar sana ke kota kembali keistana, bagaimana bisa kau menemkan wanita di tegah hutan


seperti ini.”


“Cih. Sial kau. Kau selalu saja menyerang ketidak mampuanku. Dengar. Aku akan menemukan wanita yang cantik di


hutan ini.”


Junjie hanya menyungging senyumna mengejek. “Yaaa. Lakukan. Aku menunggu keberhasilanmu Fang Qi”


“Lihat saja.”


kebersamaan Junjie dan pangeran ketiga adalah teman sendari kecil. Ia juga sering datang kehutan ini untuk


menjenguk temanya ini. Mereka sudah seperti saudara.


*****


Sepertinya…akan ada hal mengejutkan


yang dialami mereka di episode selanjutnya..


Apakah itu ?


Penasaran ?


Tunggu episode selanjutnya…