
Diatas kasur terlihat seorangperempuan terbaring tak adarkan diri. di sampingnya terdapat seseorang dengan memakai jubah berwarna silver ia duduk di kursi sembari menalurka tenaga dalamnya. "bagaimana guru ?" tanya situa yang melihat ketika gurunya telah usai menyalrkan tenaga dalamnya.
"sementara waktu biarkan ia istirahat dulu," ucapnya lalu bergegas berdiri. sedangkan seseorang
membuka pintu kamar, terlihat yuan fu datang dengan pangeran fang qi.
"guru," ucap pangern fang qi memberi hormat ke kakek wuyu, kakek wuyu mengangguk."berilah salam kepada kakek gurumu" suruh kakek wuyu kepada pangeranfang qi.
"salam kakek guru selamt datang," sambutna sembari membungkuk, terlihat lelaki yang memakai jubah
silver itu sedikit terkejut namun hanya sebetar kemudian ia tertawa. "berdirilah anak muda, ucapnya sembari menepuk pundak pangeran ang qi.
"wah, tak ku sangka kau mau mengrekrut murid juga wuyu" ucapnya sembari tertawa.
kakek wuyu melipatkan taganya, "karena dia jenius, makanya aku angkat dia menjadi muridku,"
"jadi jika aku tak jenius guru tak akan mengrekrutku ?" sahut pangean fang qi sembari berkacak pinggang.
"ya bisa jadi," sahutnya. dasar guru yang pemilih, untung kau guruku, jika bukan sudah ku cincang.
Sementara itu
Di dunia della berasal.
Selang infus menjalar di tangan seorang perempuan yang terbaring di ranjang kesakitan. Sementara itu di sisinya terdapat seorang lelaki menunggunya dengan penuh harap jika gadis yang terbaring itu segera sadar. Ya. Sadar dari mimpi panjangnya. Beberapa kali lelaki itu memegang tagan Della yang bebas dari infus dan mencium tangan itu penuh kekawatiran.
Sementara itu ibnya della berada luar ruangan tepatnya di depan pintu ia melihat dari balik jendela pintu itu, tanganya berhenti memegang handel pintu dan menatap orang yang berada di samping anaknya yang terbaring. Lama ia panangi kemudian ia berbalik dan beranjak pergi.
“tante, ada apa ?,” Tanya Zen yang menyusul dan melihat ibunya della tak jadi masuk ke dalam.
“Zen, bisa temani tante ke kedai ?,”
“bisa tante, biarkan aku menaruh ini di dalam sana,” jawabnya sembari menunjuka buket bunga di tanganya.
“biarkan mereka saja yang menaruhnya, kau ikut dengan tante sekarang,” sahutnya dan kemudian mengisyaratkan salah satu bodygrad mengambil buket bunga yang berada di tangan Zen.
Zen sedikit mengertkan keningnya tat kala mengenali salah satu wajah bodygrad “tante, bukankah mereka,.” belum
sempat ia melanjutkan kalimatnya namun perkataanya udah terpotong oleh ibunya Della.
Sementara itu di dalam ruangan kesakitan, lelaki itu terus berguman seraya memegang tangan yang bebas inpus, “sadarlah, ku mohon,” cup, ia kembali mencium tangan itu.
Ceklek, seorang bodygradnya masuk dengan membawa buket bunga dan lelaki itu menoleh,
ya dia adalah Adarsya. Ia menatap bodygradnya itu.
“buket dari tuan Zen untuk nona Della, Tuan muda,” jelasnya saat ditatap oleh tuannya. Tatapanya menajam
tatkala mengetahui buket itu berasal. “buang. Dan pesan bunga mawar merah sekarang.” Jelasnya dengan dingin terpancar jelas kekesalan pada matanya.
“baik tuan,” sahut bodygrat itu dengan merinding dan berlalu pergi.
“sungguh sangat menyeramkan, baru kali ini aku melihat tuan begitu menyeramkan, seakan akan melahap orang secara bulat-bulat,” batin bodygrat itu.
“sungguh disayangkan, bunga secantik ini hars di buang,” ucapnya pelan sembari menatap buket bunga di tanganya lalu membuangnya kemudian ia memesan bunga sesuai perintah tuannya.
kembali ke dalam ruang kesakitan,
Adarsya memajukan kursinya, della ia kembali mengecup tangan della, “lihatlah, aku sungguh tak suka ada pengganggu di antara kita, jadi cepatlah bangun, aku tak sanggup jika kau jauh dariku,” ia mengelus kepala della dengan lembut lalu mencium keningnya.
“setelah kau sadar kita menikah ya, merajut kisah kita tampa ada kebohongan lagi, kamu mau kan ?,” ucapnya lalu
menempelkn keningny ke kening Della.
jangan Lupa Like, komen and votenya,