
"Yue," ucap jendral weizhe.
"iya ayah,aku disini," jawab Yue mendekat. ia duduk di samping ranjang Ayahnya.
"Xiuying, kemarilah," pangil jendra weizhe menatap xiuying yang berdiri sedikit jauh darinya. xiuying mendekat dan berdiri di samping ranjang ayahnya itu. "bagaimana kabar mu disana Yue, apa kau baik-baik saja ? Apa mereka memperlakukan mu dengan baik ?"
"ayah janga kawatir, Yue baik-baik saja disana, dan ayah tak perlu kawatir mereka sangat baik kepada Yue," jawab Yue sembari memegang tangan ayahnya. Jendral weizhe menoleh ke arah Xiuying, "Xiuying, apa kau masih marah dengan kakak mu ? dengar, dia tak bermaksud untuk meninggalkan kita, ada suatu hal yang belum kau ketahui
xiuying," ucap jendral weizhe yang membenarkan duduknya agar sedikit menghadap Xiuying dan di bantu oleh Yue, " ayah hati-hati." ucap yue.
"alasan kakakmu, tidak kembali..."
"ayah, jangan lanjutkan biar aku saja yang berbicara kepada xiuying, ayah istirahat agar segera sembuh" potong Yue. "baiklah, xiuying dengarkan penjelasan kakakmu,"
***
Semilir angin hutan membuat pepohonan bergoyang bak menari riang. terlihat Zixin kembali dengan beberapa
tanaman herbal di tangannya.
"Huali, apa kau di dalam, lihatlah aku membawa tanaman merah," ucap zixin sembari menaruh tanaman
merah di pinggir meja.
"Huali," panggil Zixin namun tak ada sahutan. "Huali," ia mencari di setiap ruangan,
"Hua..Li, apa yang kau lakukan ?" tanya Zixin yang kaget dengan huali yang mengemasi semua pakaiannya.
"hari ini juga kita akan pindah ke kota, membawamu kembali ke keluargamu, cepat kemasi barang mu kita sudah tak
punya banyak waktu," ucapnya masih dengan mengemasi beberapa barang yang penting.
"kembali sekarang ?" tanya zixin heran dan terkejut.
"cepatlah jangan banyak bawel, aku tak ingin kita harus melewati malam di hutan. cepatlah berkemas, kita juga
harus membawa obat-obatan itu," sembari menunjuk dua keranjang berisi obat herbal.
"Tapi,,"
"cepat bawel !" teriak huali dengan keras lalu melewati Zixin.
Zixin bergegas mengemasi barang yang ia punya, "tapi Huali, apa kita tidak menunggu kakek wuyu kembali ?
bukankah dia pergi menjual obat ke kota ?"
"dia tak akan kembali, cepatlah, aku tunggu kau di luar"
"tidak kembali ? kenapa ?" belum sempat ia mendapat jawaban, huali telah pergi keluar. hah," cepatlah,
kau banyak bicara, bawel, kita akan terlambat, aku tidak ingin melewat malam di hutan," ucap Zian meniru pembicaraan Huali dan sedikit memonyongkan bibirnya. "dasar galak dan suka memerintah, untung aku sabar," gerutu Zixin lalu membawa pedangnya.
"ayo, kita berangkat," ucap Huali berjalan duluan,
"he, tunggu, kenapa kau sangat tergesa-gesa !" ucap Zixin sembari menyusul Huali,
"oh iya, pakai ini, agar kau tak di kenali nanti" ucap huai sembari memberikan cadar ke pada Zixin.
"cadar kenapa aku harus memakai cadar ?"
"bodoh, apa kau ingin di kenali orang paman mu itu ?, aku yakin pasti kau menjadi incaran saat ini,"
"incaran ? apa maksud mu ?"
"Huff,," huali membuang nafasnya, "kau itu terlalu banyak tanya, sudah pakai saja, aku tak ingin mengambil resiko, seharusnya kau lebih cerdas sedikit. kau akan tahu nanti saat tiba di kota ! cepat pakai saja !" omel Huali.
"Dasar tukang ngeluh,!" ucap huali terus berjalan dengan cepat.
"hei, Huali tunggu aku, kenapa kau selalu berjalan begitu cepat, bisakah kau tidak terburu-buru, Huali !"
ucap Zixin mengejar Huali yang berjalan sangat cepat dan di sepanjang jalan Zixin terus berbicara ngalor ngidul, dan terus mengomel di sepanjang jalan. Namun, kemudian mereka terhenti saat mendengar suara auman yang sangat keras.
"kau mendengar itu ?" ucap zixin memandang Huali sekilas,
"benar, itu..seperti sebuah pertarungan, ayo kita lihat," ucap Semangat dan mendahului melangkah ke sumber suara.
"hei, apa kau bodoh, lebih baik kita cepat pergi dari sini," sahut Zixin yang melihat huali bergegas pergi, terpaksa ia mengejar Huali. "Huali.. !"
"Shutttt ! diam jangan berisik !" bisik huai sembari memberi isyarat, ia menarik Zixin bersembunyi di balik semak dan menonton sebuah pertarungan, antara singa dengan beruang. mereka tercengang dengan pertarungan yang sangat mengerikan itu. suara auman antara singa dan beruang itu bersahut-sahutan dan darah menciprat di setiap tanah mereka pijaki.
"Goarrrrr !" auman Singa yang terpojok oleh beruang. terlihat singa itu terluka cukup parah dan darah mengalir dari tubuhnya. sang beruang itu mengeluarkan cakarnya yang tajam dan siap menyerang singa yang telah terpojok, beruang itu mengangkat kedua tangannya dan akan menyerang.
"sepertinya singa itu akan taman," guman Zixin masih menonton dengan asik tampa melihat huali yang sedang mengeluarkan alat pembius dan meniupnya sehingga mengenai leher bagian belakang beruang dan..
Brukkk !
beruang itu tumbang. Huali tersenyum kemudian menyimpan senjata tersembunyinya.
"hah ?! bagaimana beruang itu bisa tumbang ? apa yang terjadi ?" ucap zixin kaget sembari menoleh ke arah Huali dan terlihat huali tersenyum senang lalu ia bergegas berdiri mendekat ke arah beruang dan singa yang terluka parah.
"Hei ! apa yang akan kau. kau lakukan ?!" ucap Zixin terkejut dengan tindakan Huali dan terpaksa ia harus mengikuti huali mendekat ke binatang buas tersebut.
"Hemt, beruang yang sangat besar, tapi sayang harus di siakan disini, seharusnya bulunya dapat di jual dan berharga tinggi" guman huali lalu ganti menatap ke arah singa yang kesakitan.
"kasihan sekali lukamu cukup parah, tenang aku aka mengobati mu," guman Huali mendekat, namu seketika langkanya terhenti tangannya di tarik Zixin tiba-tiba.
"huali. apa kau gila, itu binatang buas kau bisa di terkam olehnya !"
"kau diam saja, aku bisa atasi ini, jika kau takut kau bisa diam di sana," jawab huali dan langsung mendekati singa yang terkapar di tanah. Zixin terbengong dengan keberanian Huali yang mendekati hewan buas tersebut.
"Grarrr,,!" aum singa tersebut saat Huali mendekat. Siapa manusia ini yang berni mendekat. batin singa.
"tenang aku hanya ingin mengobati mu," ucap huali yang perlahan mendekat dan kemudian menotok titik urat yang membuat singa itu tak bergerak.
"groarrr !" ah ! manusia kurang ajar ! berani sekali kau melumpuhkan ku yang sedang sekarat !
"maaf Singa, aku harus membuatmu tak bisa bergerak, jika aku membiarkan mu tetap bergerak aku takut kau akan menerkam ku dan menjadi mangsa mu," ucap Huali yang sebenarnya sedikit takut jika tadi ia tak bisa melumpuhkan singa tersebut. ia mulai mengobati luka singa itu dengan telaten,
"Zixin, berikan obat yang kau bawa" perintah huali, Zixin mendekat dan memberikan oba yang mereka bawa.
dan beberapa saat kemudian ia telah selesai mengobatinya.
"Akhirnya selesai juga, kau sudah ku obati, tinggal menunggu obatnya keringat kau bisa pergi," ucap huali lalu beranjak berdiri, "ayo, kita lanjut," ajak huali ke zixin.
"Huali apa kau yakin ?"
"yakin, kenapa tidak ?"
"emt, itu, maksud ku bagaimana dengan beruang ini ? apa yang harus kita lakukan, dan jua bukankah akan sia-sia jika kau meninggalkan singa itu di dekat beruang ini ? jika beruang ini sadar dan singa itu masih belum sembuh maka dia kan di bunuh oleh beruang," jelas zixin, sembari menatap dua hewan buas,
"Gerrrrrrr," sang Singa menatap memelas kepada Zixin dan Huali. benar yang dia katakan, apa kau akan meninggalkan ku. batin sang singa dengan muka yang lucu dan memelas
"Ah, lucu sekali !! membuat hatiku luluh, aku jadi ingin memelihara mu,," ucap Huali yang luluh dengan muka comel singa tersebut.
"APAA ?!" ucap Zixin kaget.
bersambung....