
Della melihat arah api unggun itu yang terdapat empat ikan yang lumayan besar di sana sedang di bakar, della
menelan ikan dalam mulutnya. “apa aku terlihat sangat kelaparan ?” ucapnya dalam batin lalu melihat ke daun pisang di tangannya, benar saja kini ikan bakar di depannya itu sudah ludes, tampa ia sadari ia sudah makan dua ikan bakar yang lumayan besar, “heh, ternyata aku selapar itu,” gumamnya sembari tersenyum kikuk.
Wanita itu terkekeh saat mendengar gumam dari della, ia mendekat sembari membawa empat ikan bakar di daun pisang. Ia meletakkan satu ikan bakar di atas daun pisang milik della “itu hal yang wajar, kau baru siuman setelah
satu hari tak sadarkan diri,” ucapnya lalu menyomot ikan bakar miliknya.
“pantas saja, jadi sudah satu hari aku tak sadarkan diri, di tambah kemarin aku juga belum makan apa-apa,”
sahutnya lalu kembali memakan ikan bakar yang baru masak itu, sehingga asap mengempul di sana. “ngomong-ngomong terima kasih telah menolongku,” ucapnya lalu kembali mengunyah ikan bakar itu. perempuan itu tersenyum simpul.
“sudah seharusnya Lingxiu,” ujarnya membuat della menghentikan tangannya. “kau tahu nama ku ?”ujarnya dengan menatap perempuan itu nanar. Wanita itu tersenyum kembali menunjukan wajah yang sangat cantik bagai dewi turun dari kayangan.
“siapa kamu ?,” Tanya della dengan tatapan nanar nya.
Sementara itu di mana Zian berada, kini mereka telah berada di tempat pangeran Fang Qi berada. Di sana ada Gen dan juga Zian tak lupa pangeran fang Qi yang menyandarkan dirinya di pohon sembari meniti pedang baru miliknya. Bukan, bukan baru melainkan pedangnya Junjie (pedang Fire) yang di berikan kepada pangeran Fang Qi, mereka menjelaskan semua apa yang terjadi dengan Junjie. Sedangkan pangeran fang Qi diam mendengar penjelasan mereka, ia diam meniti pedang yang berada di tangannya itu.
Semogga kalian tidak lupa siapa pangeran fang qi.
“pangeran,” panggil Gen karena sendari tadi pangeran fang qi seperti tak mendengar apa yang sudah ia jelaskan tadi. Pangeran fang qi menoleh dan memainkan satu alisnya. Seakan bertanya ada apa ?. Gen menghelai nafasnya. “apa pangeran mendengarkan penjelasan saya tadi ?,” tanyanya sembari frustasi, kan sia-sia jika ia tak mendengarkannya sudah berbusa pula mulut bercerita.
“jadi, apa yang harus aku lakukan ? dan kalau mau mengerjai ku gunakan trik yang lebih handal, itu tidak mempan
kepadaku,” ucapnya santai lalu menggerakkan pedang di tangannya. Gen menepuk keningnya begitu pula dengan Zian, sia-sia ia bercerita sampai berbusa tapi yang mendengar bagai angin lalu, Zian beranjak berdiri dan menghampiri pangeran fang Qi, mulutnya sudah gatal ingin memaki pangeran Fang Qi itu, sendari tadi ia sudah menahan agar berbicara seadanya saja, namun kali ini ia sudah tidak bisa menahannya.
“kau !,” ucap zian yang sudah berada di depan pangeran fang Qi, ia merebut pedang di tangan pangeran fang qi dan “kau kira kita ini bercanda hah ? sudah panjang lebar tinggi luas kami menjelaskan tapi anda hanya beraninya apa yang harus anda lakukan, hah sia-sia kami menjelaskannya apa perlu kami menjelaskannya lagi agar anda mengerti, ayolah kapan kami bercanda semua fakta. F A K T A, mana mungkin kita bercanda dengan anda pangeran dan juga mana mungkin kami mengada-ngada tentang kematian Junjie, dan juga mana mungkin jika kita main-main junjie memberimu pedang yang sangat berharga itu dan menyerahkannya kasus pemecahan kutukan kepada anda. Dan juag jika itu hanya canda semata dan tak sepenting itu, mungkin sudah aku yang maju memecahkannya, ini menyangkut hidup Lingxiu mana mungkin ia akan main-main !”
ucapnya menggebu-gebu tampa jeda dan hal itu membuat Gen dan pangeran fang qi diam membelalak dengan Zian yang berbicara tampa ada titik dan koma “apa kau paham hah ?” ucapnya terakhir. sedangkan gen mengambil napasnya. “jangankan paham tapi pusing ada” batin gen sembari berdehem saat pangeran fang qi menatapnya meminta penjelasan.
“pangeran,”ucap gen membuat Zian ikut menoleh, “tunggu,” ucap pangeran fang Qi sembari memajukan tangannya. “tadi siap, Lingxiu ? siapa dia ? kenapa namanya tidak terlalu asing,” tanyanya sembari mengingat dimana ia pernah mendengar nama itu.
“dia adalah istri dari jendral Junjie sekaligus adik dari Zian, pangeran,” jelas Gen menjawab pertanyaan pangeran fang Qi. Sedangkan pangeran fang qi sedikit mengerutkan keningnya. “istri junjie ?” “ah, kakak ipar ! ia benar aku ingat, namanya” ucapnya antusias. Namun ia kembali diam dalam sekejap. Wajahnya menjadi sangat serius, keningnya sedikit mengkerut, alis matanya yang tajam menambah estetik di wajahnya.
“pangeran ke tujuh,” gumamnya namun dapat di dengar mereka. Zian melirik kearah Gen, namun gen hanya menaikan bahunya tanda tak tahu, yang sebenarnya enggan untuk menjawab.
Pangeran Fang Qi dengan gerakan sangat cepat ia mengambil alih pedang yang Zian rebut tadi, ia tersenyum kecut memandangi pedang yang berada di tangannya. “heh, ha ha ha,” ia terkekeh namun kekehannya terdengar sangat pilu. Sedangkan Gen juga merasakan pilu yang di rasa pangeran Fang Qi, bagaimana tidak, ia tahu betul bagaimana dekatnya pangeran fang Qi dengan Junjie, mereka sudah bagaikan saudara dan guru. Setiap kali Junjie akan menghampiri pangeran Fang qi ke hutan walau hanya melatih bermain pedang atau hanya sekedar berbincang. Dan sekaran.. ah, luka itu sangat dalam hingga siapapun akan merasakan apa yang sedang ia rasakan.
Gen mendekati pangeran Fang Qi yang terdiam menatap pedang di tangannya. “pangeran, an” belum sempat gen
melanjutkan perkataanya, namun telah dihentikan oleh pangeran Fang Qi dengan mengangkat tangannya. “pergi,” perintahnya tak memandang orang yang berada di sampingnya.
Zian ingin menyahut perkataan pangeran Fang Qi namun langsung di tahan oleh Gen, Gen tahu jika pangeran Fang Qi butuh waktu. Gen dengan isyarat membawa Zian pergi dari sana. Saat mereka telah pergi dari sana pangeran Fang Qi berteriak sekuat tenaga, “Aggghhhhh !!” teriaknya membuat beberapa hewan di sana berterbangan. “Kenapa ! kenapa kau hancurkan semua yang berada di sampingku. Kenapa !” teriaknya menyayat hati. Ia mengepalkan tangannya erat, pedang yang ia genggam mengeluarkan aura api berwarna biru menyala. Matanya semerah darah, uratnya menimbul di balik kulitnya yang putih.
Ia berjalan dengan aura yang bergemuruh di sana. Beberapa tanaman yang ia lewati layu terkena aura yang
begitu pekat. Hewan-hewan menjauh. Langkah kakinya berjalan dengan cepat. Menuju tempat dimana yang harus memang ia tempati.
Sementara itu, ramai lalu lalang orang memenuhi jalanan pasar. Di sana ada pedagang yang sedang menawarkan
dagangannya. Di sudut lain bangunan yang terbilang cukup megah untuk restoran itu di penuhi dengan pelanggannya, bisa di bilang tempat itu ialah perkumpulannya orang kaya, karena di sana hanya ada pelanggan dari kalangan bangsawan rendah sampai atas, bahkan tak terkecuali orang istana, pejabat-pejabat penting hingga
pangeran dan putri kerajaan.
Huali terhenti di dekat tempat makan itu, “hei, kenapa kau berhenti ?” Tanya Zixin yang menghampiri, janan lupakan
jika ia kini memakai cadar. Huali hanya menggeleng “tak ada, ayo lanjut, oh iya dimana kakek ?” Tanya Huali sembari mencari siluman singa itu. Zixin hanya menaikan bahunya karena tidak mengetahui kemana perginya orang itu.
“ahhh ! bikin pusing saja, kalian bisa tidak sih akur sediit saja, sendari perjalana rebut terus dan cari masalah”
keluh Huali sembari mencari kakek. “Zixin. Kenapa ka diam saja cepat bantu cari dia sampai ketemu !” mereka mencari kesembarang tempat namun tidak menemkan sosok yang mereka cari, dan selalu saja mereka berselingan.
“hah, panas sekali ! kemana perginya kakek kakek itu, atau jangan-jangan dia di culik !” gerutu Zixin, ia mengamati sekeliling sembari berkacak pinggang. “Hei !” seketika Zixin terkejut denan tepkan di pudaknya. “Astaga !, jantungku !” umpatnya sembari menoleh kebelakang. Dilihat di sana huali bersama kakek membawa berbagai makann di tangan mereka. Zixin mengelus dadanya yang kaget. Sedangkan mereka hanya meringis seperti kuda, “hehehe, ngalamun aja kesambet ku sukurin ! hahaha” gelak Huali tak mau tau.
Zixin meniti mereka yang membawa makana begitu banyak di tangan mereka, lalu mengertutkan keningnya. “oh, jadi begini lelah-lelah aku mencari, tapi kalian malah enak-enak an beli makanan begitu banyak ?” umpanya kepada mereka sembari menyilangkan kedua tangannya. Huali mendekat ke arah Zixi lalu menarik lengannya dan berbisik “hei, siapa bilang kami beli, ini itu di kasih sama tuh ibu-ibu penjual di sana, “ sembari menunjukan ke arah tempat penjual makanan.
“di beri ?” beonya tak percaya. Huali melirik seklas ke arah siluman itu, “kau tahu, kita di beri gratis katanya dia
orang yang sangat tampan,” sembari melirik kearah Siluman sinnga dan Zixin ikutan menatapnya sekilas “jadi ya kita ambil saja, lumayan makanan gratis, jadi tidak perlu ngeluarin duit,” seketika Zixin menepuk jidadnya.