
di ruangan yang hampir semuanya serba putih itu terlihat seorang lelaki masih setia menunggu di samping ranjang kesakitan. tatapannya sendu dan penuh harap, berharap jika orang yang terbaring di ranjang itu segera tersadar dari tidur panjangnya.
beberapa orang masuk dan ia menoleh memastikan siapa yang datang setelah itu ia kembali lagi menatap manusia yang terbaring di ranjang kesakitan.
ibunya Della duduk di sofa sedangkan Zen ia terhenti melihat meja yang terletak bunga tp bukan dari buket yang ia bawa tadi.
"kenapa bunganya belum di ganti, apa penjaga itu tidak becus mengurus bunga saja," ucap Zen lalu menghampiri bunga tersebut tangannya meraih bunga tersebut berniat ingin mengganti namun tangannya terhenti ketika ada tangan yang mengentikan tangannya. ia menoleh dan terlihat Adarsya yang mencekal tangannya itu.
"singkirkan tangan mu dari bunga itu," ucap dan tatapannya dingin tak rela bunganya di ganti dengan yang lain.
Zen menatap heran, "aku hanya ingin menggantinya, apa masalah mu dengan bunga ini," sahut Zen yang masih kekeh dengan dirinya dan melajukan tangannya lagi namun lagi-lagi tangan itu terhenti dan yang menghentikannya orang yang sama.
"ku bilang singkirkan tangan mu itu dari bunga ini," ucapnya penuh penekanan tatapannya sangat tajam. ia tak suka barang yang ia berikan di sentuh orang lain apa lagi diganti dengan yang lain.
Zen tak kalah tajam membalas tatapan Adarsya "apa urusan mu ?," ucapnya tak kalah dingin. dan terjadilah perang tatap menatap di antara mereka.
sedangkan mommy hanya bisa menggeleng melihat kedua orang yang mendebatkan sebuah bunga itu.
perang itu masih terjadi, hingga mereka Tampa sadari jika orang yang mereka tunggu akan kesadarannya itu sudah ada pergerakan, jari tangannya mulai bergerak dan matanya mengngerjab, momy yang sadar akan hal itu ia langsung menghampiri ke ranjang Della.
"nak, kau sadar," ucapnya paruh dan mampu menghentikan lelaki yang sedang perang menatap itu dan seketika menoleh dan menghampiri ke sisi ranjang.
"Del,"
"Ell,"
ucap mereka bersamaan. dengan segera Adarsya memencet tombol pemanggil dokter.
Della mengerjabkan matanya beberapa kali perlahan tangannya terangkat menyentuh kepalannya yang terasa sangat pening. beberapa suara masuk memanggil namanya perlahan mata itu terbuka. pandangan itu masih sedikit kabur dan perlahan terlihat jelas,
"sayang, akhirnya kamu sadar nak," ucap mommy dengan menitikkan air matanya,.
"dok, cepat dok," ucap Adarsya yang melihat dokter membuka pintu.
dokter dan perawat berjalan cepat dan langsung memeriksa keadaan della, mereka memberi ruang untuk dokter memeriksa Della.
"bagaimana dok," tanya mommy setelah dokter memeriksanya.
"syukurlah, keadaannya sudah membaik, biarkan ia beristirahat dulu," ucap dokter dan menjelaskan beberapa kondisi Della lalu setelah itu berlalu pergi.
Della beranjak duduk dan di bantu oleh Zen.
"air," ucap Della lirih dan dengan segera Zen mengambil gelas di atas nakas. ia membantu Della saat meminum air setelah selesai Della menghelai nafasnya pelan. ia kemudian memegang kepalanya yang terasa pening saat beberapa gambaran muncul di kepalanya. "mimpi yang sangat aneh," ucap Della membatin.
"sayang," mommy menghampiri anaknya dan kemudian memeluknya, "akhirnya kau sadar juga nak, mommy sangat khawatir," ia melepaskan pelukannya dan kemudian mengecup kening Della sayang
"mom," ucap Della sendu entah mengapa saat ia tersadar ada sesuatu yang aneh pada hatinya, setelah mimpi yang panjang itu hatinya terasa sangat aneh. "iya sayang," jawab mommy menatap Della. Della terdiam ia tak jadi berbicara, ia menggeleng pelan. ia melihat ke samping terlihat Zen masih setia berada di sampingnya, ia teringat waktu terakhir kali saat di atas kapal.
matanya lalu menangkap seseorang berdiri tak jauh dari Zen.
Tuan Adarsya ?, kenapa dia juga disini ?.
ucapnya dalam hati dan sedikit mengerutkan keningnya.
terlihat tatapan Adarsya sangat sendu dan haru, rasa rindunya ingin sekali memeluknya.
"Bukankah Anda Tuan Adarsya ?," ucap Della sedikit mengingat kejadian saat mereka bertemu di kapal pesiar.
Adarsya terdiam mendengar pertanyaan dari Della. "benar sayang, dia yang telah menolong mu saat kau terjatuh," sahut mommy karena tak ada jawaban dari Adarsya.
"terimakasih banyak tuan, telah membantu saya dalam kecelakaan itu," ucap Della berterima kasih seraya tersenyum.
Adarsya semakin terpatung mendengar perkataan dari Della.
Apa dia tak mengingat semua yang telah terjadi ?, apa dia melupakan semunya ?. uccapnya membatin sungguh dadanya saat ini terasa sangat nyilu.
"apa kau tak mengingatnya ?," tanyanya sembari menahan rasa sesak di dada.
"maksud tuan ?,"
Nyut.
rasa nyilu itu kembali terasa. ia tersenyum kecil namun tatapanya menyimpan rasa rindu dan rasa sakit, "semoga lekas sembuh," ucapnya lalu beralih melihat mommy, "saya pamit Tante, jaga kesehatan anda," ucapnya dan berlalu pergi Tampa mempedulikan jawaban dari mommy.
"kenapa begitu cepat, bukankah ada sesuatu yang.." belum sempat mommy selesai dengan kalimatnya Adarsya telah menghilang dari pandangan.
"sudahlah Tante, dia memang tak punya sopan santun," sahut Zen yang memang tak terlalu suka dengan Adarsya.
mommy menghelai nafas pelan, ia tahu apa yang sedang Adarsya rasakan, karena Adarsya telah menceritakan semuanya saat ia tak sadarkan diri, namun mommy menganggap semua itu hanyalah bunga tidur yang panjang dan Adarsya terbawa akan bunga tidur tersebut.
"mau jeruk ?," tawar Zen kepada Della dan ia mengupas jeruk itu. Senda gurau pun terjadi di ruangan serba putih itu. Zen yang menceritakan kejadian kejadian lucu agar Della tersenyum, dan terkadang membuatnya tertawa.
sementara itu di balik pintu kesakitan itu, ada seorang yang mengamati mereka dengan tatapan yang sangat sulit di artikan, ya, dia adalah Adarsya, tatapan sedih rindu sakit semua bercampur satu dari balik jendela pintu ruang kesakitan.