MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Klarifikasi



"kau siap sayang ?," panggil mommy Fi sembari meraih tas jinjingnya.


"ayo mom, kita selesaikan ini," sahut Della sembari keluar dari kamar dan menghampiri mommynya. dengan langkah yang elegan ia keluar dari rumah Susana sudah ada Zen yang menunggu.


"pagi Tante," sapa Zen dan diangguk i oleh mom fi.


"kau siap ?," tanya Zen ke Della.


"selalu," ucapnya lalu masuk ke dalam mobil bersama Zen dan mommy menaiki mobil satunya. mobil mereka melaju membelah jalanan.


"kau itu paling hebat pembuat masalah ya," ucap Zen memecahkan keheningan, karena tak biasanya Della bersikap diam seperti ini.


"ya," Della menoleh. Pletak ! "aduh, kenapa kau memukulku ?!," keluh Della karena mendapat jitakkan mendadak dari Zen.


"melamun aja terus, ada apa hah ?, ayo cerita," ucap Zen yang melihat Della masih kesal karena mendapat jitakkan darinya.


"ish, bisa tidak kalo tidak memukul, sakit tau !, bisa-bisa kepalaku benjol," ia masih menggerutu.


"makanya jangan melamun," sembari menekan bekas jitakannya dengan telunjuk,


"ish, singkirkan tanganmu,"


"gitu aja ngambek, ngak seru, ayo dimana Della yang cerewet itu, bagaimana rencana mu nanti, hah.. sudah kau pikirkan belum, nona desainer yang Budiman,.." sembari mencubit kedua pipi Della karena gemas.


"Zen, ! lepaskan tangan mu dari pipiku !, pipiku bisa meraih !, apa yang akan di katakan mereka jika riasanku menjadi rusak, lusuh aku tak suka tampil berantakan di depan awak media !!!" Della memegang kedua pipinya yang rasanya nyut-nyutan ingin rasanya ia membalas perbuatanya itu.


Zen tertawa melihat Della yang kesal kepadanya. "akhirnya kau kembali juga, ku kira kau akan jadi orang yang lemah lembut dan berubah kalem," sindirnya ngeri.


"apa kau bilang ?!, hah." Della membuang nafasnya, "aku tak akan meladeni, untung aku sabar kali ini," ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"kau tidak lupa bukan, kau harus membantuku seperti biasa," ucapnya kemudian menghelai nafas, "kenapa ini malah menjadi semakin menjadi," gumamnya lirih.


"iya, iya, Della ku sayang, yang suka membuat masalah, kapan aku tidak pernah membantumu menjadi tameng mu terus hah ?," ucapnya sembari mengacak rambut Della.


"kau tidak mau nih, kau menolak ?, singkirkan tanganmu kau merusak rambutku" ucap Della.


"kapan aku pernah menolak Hem ?,"


"tak pernah," ucapnya sembari mengalihkan muka.


.


.


.


di gedung terdapat beberapa ajudan menjaga pintu dan beberapa wartawan yang sudah siap dengan kameranya menunggu kedatangan seseorang. sebuah mobil berhenti beberapa ajuan mengampiri dan membuka pintu mobil terlihat seorang lelaki keluar dan kemudian masuk dengan di kawal, berbagai pertanyaan terlontar dari wartawan.


"tuan muda Adarsya apakah benar anda akan menikah dengan Nona Della sang desainer itu ?"


"apakah anda menjalin hubungan ini sudah lama ?"


"klarifikasi apa yang akan anda sampaikan nanti ?"


pertanyaan-pertanyaan itu menyerbu tiada henti.


"harap semua minggir !," ucap ajudan dengan tegas. dan dengans egera mereka masuk ke dalam ruangan. selang beberapa waktu sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung, seorang ajudan turun dari mobil. Della mengambil nafasnya dalam lalu menatap Zen dan di beri anggukan.


pintu mobil terbuka, Zen turun dari mobil lalu kemudian di susul Della keluar mobil dengan menyambut uluran tangan Zen. Hiyuk Priuk para wartawan tak terelakkan.


"apakah benar anda akan menikah dengan tuan muda Adarsya ?,"


"lalu bagaimana hubungan anda dengan tuan muda Zen ?,"


"apakah benar anda menjalin hubungan dengan dua pria sekaligus ?,"


"nona desainer tolong jawab, siapa yang akan anda pilih diantara tuan muda Zen dan tuan muda Adarsya ?,"


Della Zen diam, mereka terus berjalan dan di lindungi oleh para ajudan. mereka memasuki ruangan, dada Della berdegup tak menentu entah apa yang ia rasakan tak menentu. ia tak tahu kenapa hatinya kali ini tak begitu yakin.


para awak media yang di undang tak pernah lekang dari kameranya, sorotan kamera tak pernah henti menyoroti orang yang sedang menjadi daun pembicaraan itu.


Della berjalan bersama Zen menaiki podium, di sana Adarsya melihat kedatangan mereka berdua, matanya tak lepas dari tangan mereka yang lekat tak terpisahkan, ada rasa marah di hatinya, dengan diam ia mengepalkan tangannya kuat.


mereka akhirnya sampai di podium dan duduk, tak lupa memberikan senyum termanisnya.


semuanya terdiam, menunggu klarifikasi dari orang yang berada di atas podium itu. Adarsya mengode weka, kemudian ia memulai angkat bicara, terlihat wajahnya yang tak terbaca ada kilatan mata yang tertahan di sana. ia menatap jam di tangannya sekilas.


seketika ruangan menjadi riuh, "selama nona Della sakit anda selalu menemaninya buakn tuan ?,"


"lalu bagaimana dengan anda yang menyelamatkan saat nona Della tenggelam ?,"


"bagimana bisa bukankah Anda dulu mengatakan bahwa pernikahan akan di langsungkan ? bagaimana bisa anda memutuskan seperti ini ?,"


"apakah anda kalah bersaing ? atau nona Della lebih memilih tuan muda Zen ?,"


Adarsya menatap dengan dingin, ia melirik sekilas kearah della "menyelamatkan seseorang yang butuh bantuan itu adalah hal yang wajar dan dapat di lakukan siapa saja, itu hal keperimanusiaan," ucapnya terhenti ia melirik weka dan kemudian weka mendekat,


"waktu saya telah habis, dan saya harus kembali bekerja, permisi," ucapnya lalu meninggalkan podium, riuh Priuk orang di sana tak terhindar, sedangkan kini Della yang mendapat serangan dari wartawan.


"nona Della, apakah benar yang di katakan tuan Adarsya itu ?, dan apakah benar tidak ada hubungan di antara kalian ?,"


Della menatap kepergian Adarsya, "sialan dia langsung pergi begitu saja," gerutunya dalam hati.


"kuharap kalian mengerti dengan, klarifikasi yang sudah dibuat, kami tidak memiliki hubungan apapun kuharap kalian mengerti,"


Della menatap Zen, dan Zen mengisyaratkan agar segera keluar dari tempat ini,


"mohon maaf, karena ada urusan mendadak kami tidak bisa berlama-lama disini, dan klarifikasi ini sudah selesai, permisi kami undur diri," ucap Della dan kemudian mereka meninggalkan ruangan tersebut, saat keluar merekapun di cegat para wartawan. dengan cepat mereka masuk ke dalam mobil.


Della membuang nafas lega,


"ku kira akan terjadi hal yang mengejutkan, tak ku sangka orang itu langsung mengatakan pada intinya," ucap Zen sembari bersandar


"maksudmu ?, si Adarsya itu ?," tanya Della.


"iya, biasnya ia tak akan semudah itu menyerah, yah baguslah aku tak bekerja apapun dan hanya menonton saja,"


Della hanya mengangkat bahunya acuh, sendari tadi entah mengapa ada sesuatu yang aneh pada hatinya, seakan ia tak rela dengan klarifikasi ini.


"kau mau makan ?," tanya Zen


"makan ?, mau tapi kau yang tlaktir," ucapnya girang. begini yang Della suka, Zen tahu apa yang sedang ia suka, makan banyak untuk mengusir hal tak mengenakkan.


"aku ingin makan seafood pedas, di tambah es jeruk kecut, ah dan lagi aku pengen rujak lalu lotes, es teh dan juga es cincau,"


"kebiasaan,"


dret...dret..dret..


Della mengambil ponsel di tasnya, "siapa ?," tanya Zen penasaran.


"mommy,"


"hallo mom,"


"kau sudah selesai ?, jika sudah nanti langsung kerumah kakek, oke, kakek mu menunggu,"


"baiklah mom, setelah aku makan ya, laper,"


"iya, kau masih bersama Zen ?,"


"iya mom, nih orangnya di samping,"


"berikan ponselmu, mommy ingin bicara,"


Della memberikan ponselnya kepada Zen, "nih,"


"apa ?,"


"mommy mau bicara,"


Zen menerima ponsel Della,


Della menguap, entah ia tak tertarik untuk mengetahui pembicaraan mereka. ia menyandarkan kepalanya dan entah sejak kapan tiba-tiba ia tertidur.


setelah berbicara akhirnya momy mengakhiri panggilannya. Zen ingin menyerahkan ponsel Della namun ia terkejutkan saat kepala Della menyandar ke pundaknya, ia menoleh.


"kau tertidur ?," Zen menghelai nafas pelan lalu membenarkan kepala Della agar nyaman bersandar di pundaknya.


"langsung ke alamat, xxz xx x," perintah Zen kepada sopir.


"baik tuan,"