
"Junjie ?"
"ya," jawabnya sembari melihat kearah tangan Della yang membawa pedang.
"Kau berlatih ?" Della melihat tangannya.
"Tidak. Aku hanya mencobanya," ujarnya acuh.
"Benarkah ?, Sepertinya kamu butuh pelatih, mau aku bantu ?," Tawarnya
"Lupakan," Della membalikan badannya seraya menyaring kan kembali pedangnya ia ingin segera pergi dari sana namun.
Grap.
Sring.
Pedang keluar dari sarungnya. Della terkejut tanpa aba-aba lelaki itu telah memeluk Della dari belakang dengan erat tangan kananya memegang tangan kiri Della yang memegang pedang tangan itu erat memegang jemari mengangkat pedang namun tidak menyakiti.
Della terkejut dengannya yang tiba-tiba memeluknya. “Apa yang kau lakukan ?!, Lepas !," Berontak Della namun sia-sia Junjie mengunci pergerakannya dan dengan tepat menekan titik urat membuat ya tak bisa berkutik.
Junjie tak bergeming ia mengabaikan Della yang memberontak "Ketika kau telah mengangkat pedang jangan pernah ragu sedikitpun," ia berbicara tepat di samping telinga Della.
“Apa urusanmu !, Lepas sekarang Junjie !,” Della tidak terima dengan perlakuan junjie terhadapnya yang terlalu seenaknya.
Tidak ada jawaban Junjie malah menuntun gerakan menggunakan pedang di tangan Della dengan beberapa jurus sederhana.
Della hanya bisa menahan kesal saat Junjie menuntunya menggerakkan jurus pedang, ia sesekali melirik Junjie dengan tajam.
Orang ini terlalu semena-mena.
"Saat menghadapi lawan fokus jangan sampai lengah jika sampai lengah sedikit saja nyawamu akan melayang," ujarnya menyindir karena ia mengetahui Della meliriknya.
“Aku sudah tau ! Sekarang lepaskan aku Junjie !”
Junjie tak menggubris ia malah semakin mengeratkan tangannya dan menuntun Pergerakan pedang menuntun langkah demi langkah gerakan jurus pedang dengan posisi yang masih sama.
Della terus mengomel, namun Junjie tidak menggubrisnya. Hingga akhirnya mereka terhenti ketika langit mulai menunjukan warna jingga terkena sinar matahari.
"Ingat semua yang ku ajar,. aku akan kembali di tempat ini mengetes pergerakan mu," ujarnya lalu melepaskan tangannya dan dia buru buru pergi tanpa memberi Della kesempatan untuk berbicara.
"Ka kau ! Sial !, Brengsek !,". Umpat Della
Dia pergi begitu saja seharusnya aku tahan dia dan memberinya pelajaran karena telah semena-mena !.
Junjie. Junjie.
Della mengacak rambutnya karena kesal kemudian ia terdiam dan menyarungkan pedangnya dan tatapannya menjadi serius.
Kenapa dia bisa menemukan tempat ini dan masuk kesini ?, Ini tempat pribadi keluarga Zhu.
Bagaimana dia bisa masuk ? Dan waktu itu ia juga bisa berada didekat ayunan kediaman ini dan seenaknya melenggang pergi begitu saja
Aku harus waspada terhadapnya, Dia terlalu mencurigakan.
Della bergegas meninggalkan danau itu dengan raut wajah kesal sebelum Neri bangun ia harus segera berada di kamar sebelum Neri datang membangunkan ku.
Della segera masuk kedalam kamarnya dan segera membersihkan diri serta berganti pakaian. Setelah selesai ia duduk di depan cermin melihat ke keningnya diantara kedua alis.
Sebenarnya seperi apa simbol bunga bintang kehidupan itu.
Ia memegang keningnya dan melihatnya dengan saksama.
Tidak ada tanda itu. Hah. Apa kau lupa. Kami orang yang berbeda.
Ujarnya lalu beranjak dari duduknya lalu melihat kearah pintu
"Dimana Neri tumben sekali sudah cerah begini dia belum datang ke kamarku, biasanya dia sudah berada disini membangunkan ku.
Della melirik pedang yang ia sembunyikan di atas lemari.
Apa aku coba jurus pedang yang di ajarkan Junjie tadi. Tidak masalah bukan ?, Hitung-hitung mendapat teknik berpedang.
Ujarnya menyeringai dan bergegas mengganti bajunya dengan baju laki-laki lalu menyambar pedang diatas lemari dengan segera ia meninggalkan kamar dan berlari kearah selatan ke halaman yang jarang di kunjungi orang-orang.
Sementara itu….
Seorang lelaki muda membuka pintu kamar ia melangkah masuk kedalam kamarnya membaringkan badannya.
"Leganya," ujarnya sembari memejamkan mata.
Sring
Sring
Mata lelaki itu terbuka saat mendengar suara pedang.
Ia bergegas bangun dan membuka jendela kamarnya. Seketika terlihat sosok seseorang berlatih pedang dengan indah gerakannya mantap dan lugas.
Ia terus mengamati orang yang berlatih sendiri itu. Saat wajah seseorang itu terlihat dari samping ia mengerutkan kedua alisnya mengamati sesakma siapa yang sedang berlatih sepagi ini.
Wajahnya kenapa mirip denganku ? Eh. Tidak tapi juga ada kemiripan dengan Zixin tapi terlihat lebih cantik tidak mungkin dia Zixin ? mana mungkin.
Siapa lelaki itu terlihat cantik seperti perempuan.
Lelaki itu fokus mengamati hingga mengerutkan kedua alisnya. "Lingxiu ?," Benar. itu lingxiu.
Tapi mana mungkin dia ?, Bagaimana dia bisa melakukan itu ?, Sejak kapan dia bisa memainkan pedang dan terlihat begitu menakjubkan, bukankah dia sangat takut dengan pedang jangankan takut melihat pedang saja dia bisa pingsan.
Ujarnya terkejut dan tak percaya. Ia masih mengamati dengan serius setelah cukup lama ada seringai jahil di sudut bibirnya.
Ia menutup jendela dan bergegas mengambil busur dan anak panah dan diam-diam menyusul Lingxiu lebih tepatnya ia ingin sekali menembakan anak panah ke lingxiu menguji kemampuannya.
Zian berdiri di balik pohon ia menyiapkan busur dan anak panah lalu membidik ke arah Della dan...
Woss !
Satu anak panah meluncur kearah Della.
Sring !
Della berhasil menangkis panah itu dengan pedang. Terlihat wajah terkejut Della.
Siapa yang menyerang ku saat latihan. Ujarnya seraya menajamkan matanya mencari sosok seseorang yang membidiknya dengan panah.
Zian tersenyum melihat gerakan Della "Insting yang bagus," ujarnya lalu berganti tempat dia mengambil satu anak panah lagi dan mengarahkan ke arah Della.
WOSS !
Anak panah itu meluncur lagi ke arah Della dari arah yang berbeda dengan sigap Della berhasil menangkis lagi serangan itu.
"Sial, Keluar kau !," Umpat Della dengan waspada.
Zian semakin tersenyum saat Della bisa menangkisnya kembali "Bagus-bagus, darimana si penakut itu belajar pedang, mari kita uji dengan dua anak panah," Ujarnya lalu mengambil dua anak panah sekaligus dan membidik ke arah Della. Ia ingin melihat seberapa mahir tingkat keahlian Della.
WOSS !
Kedua anak panah itu meluncur kearah Della dengan cepat, Della segera menyerong dan menangkis anak panah itu.
"Sring !"
Srett !
"Agh.!," Keluh Della dan bersimpuh salah satu anak panah itu lolos dan menggores lengannya darah mulai menyembul dari lengannya ia segera menutup lengan dengan telapak tangannya.
"Sial ! Keluar kau !, Pengecut ! Beraninya main belakang !," Umpat Della yang masih menahan lengannya yang berdenyut dan nyeri tatapnya masih tajam menelisik sekitar.
"Lingxiu" Zian terkejut dengan apa yang terjadi, ia tidak menyangka jika anak panah itu lolos mengenai lengan Della, ia bergegas menghampiri Lingxiu yang terduduk di tanah.
"Kau tak apa ?, Lenganmu berdarah,.." Ujar Zian jongkok memegang lengan Della suaranya sangat khawatir.
Della mengangkat kepalanya kesumber suara ia melihat seorang lelaki membawa busur lengkap dengan anak panah, seketika wajahnya suram, saat melihat anak panah yang ia bawa sama dengan anak panah yang menyerangnya.
"Lingxiu, Tangan mu ayo kita harus mengobatinya segera darah mu tidak berhenti mengalir bagaimana jika menjadi parah dan..."
"KAU," Ujar Della mengentikan perkataan Zian yang tidak ada titik koma. Wajah Della sudah suram Zian terdiam melihat perubahan Lingxiu yang sangat berbeda.
Della mendongak menatap tajam kearah Zian yang terkejut lalu segera menepisnya dan melihat kearah tangan Della.
"Lingxiu... Tanganmu ayo berdiri kita obati lengan mu pokonya maafkan aku aku sungguh tidak sengaja mari obati lengan mu sekarang ayo maafkan aku sungguh aku tidak sengaja berbicaralah kenapa kau diam saja jangan membuatku semakin takut jangan khawatir aku akan.." Ujarnya Tampa henti dan Zian mencoba meraih lengan kiri Della namun della mengelak.
"DIAM ! Aku bukan LINGXIU !," Bentak Della lalu beranjak berdiri dan pergi meninggalkan Zian karena darahnya tang tak kunjung berhenti mengalir dan terasa perih harus segera diobati.
Della sebal melihat lelaki itu yang terus berbicara Tampa segera bertindak.
"Lingxiu berhenti kau mau kemana dengarkan perkataan ku kau harus segera mengobati lukamu darahmu tak kunjung berhenti Lingxiu mengapa kau mengabaikan ku kau sangat berbeda sekali Lingxiu apa kau masih mendengarkan ku ya ampun cepatlah darahmu sampai menetes ketanah " Ucapnya tanpa berhenti seraya berlari mengikuti Della
"Apa kau marah kepadaku ? Maafkan aku aku tidak bermaksud melukaimu sungguh Lingxiu kenapa kau masih saja diam berbicaralah ayo jangan mengaabaikanku aku sungguh sangat khawatir kepada mu," Ujarnya dan Tampa ada satu katapun yang terlontar dari mulut Della. Dia di Diamkan !.
Bagaimana ini, celaka aku kalau sampai Ayah dan ibu tahu ! Terlebih xiu'er belum sembuh dari ingatannya.
Mengapa aku begitu ceroboh ?!
Habis sudah diriku !.
Ahkk pasti dia berpikiran bahwa aku adalah kakak yang jahat..
Aghkk ! bagaimana ini..!!
"Lingxiu,.."