
"Kau !" ucap Situa kaget.
[Kau !] ucap Zixin dengan bahasa isyarat dengan raut wajah kaget saat mengetahui Situa.
"kalian saling kenal ?" sahut kakek wuyu. sedangkan Huali ia mengerutkan kedua alisnya.
"kakek situa kau mengenal dia ?" sahut hali.
Zixin mengangguk.
"dia adalah anak dari keluarga Zhu dan adik dari penerus ku. bagaimana aku tidak mengenalnya"
"Apa ?!" sahut mereka [kakek wuyu dan huali] serentak.
"jadi kalian, saling mengenal." Huali menyahut lagi
[benar, akhirnya aku bisa bertemu orang yang mengenal ku] ucapnya dalam bahasa isyarat.
*****
di dalam tenda, della berbaring di ranjang, matanya terlelap, dia tertidur pulas. sedangkan Junjie ia masih berada di meja mencoret-coret sesuatu di kertas.
"Tuan," panggil pengawal bayangan yang tiba-tiba muncul.
"ada apa ?"
"musuh telah memakan umpan tuan, mereka telah mengetahui rencana yang tuan buat.'
"bagus, terus giring mereka masuk kedalam hutan berkabut, lebih dalam mereka masuk ke hutan makin bagus untuk kemenangan. dan terus awasi mereka. tambah pengamanan di setiap sisi,"
"baik tuan" ucapnya lalu berlalu pergi.
Junjie meletakkan kuasnya di meja. ia menyungging kepalanya dengan kedua tangannya.
"Tuan, kau mendengar ku ?"
"Fire ?"
"benar tuan ini aku,"
"ada apa bukankah kau sudah bertemu dengan pasangan mu ?"
"benar tuan, memang benar, hamba ucapkan terima kasih, karena kami telah terikat maka dengan mudah kami akan tahu di manapun kami berada."
"maksud mu ?"
pedang fire muncul di meja.
"kenapa kau muncul dalam bentuk pedang, dimana wujud manusia mu itu ?" tanya junjie dengan menatap heran.
"kutukan tuan, kutukan itu belum terpecahkan. kita tak akan bisa bersama jika kutukan itu belum terpecahkan meski kita telah bertemu dan terikat, jika kutukan itu belum menghilang selamanya pun kita tak akan bisa bersama"
junjie menghelai nafas.
"kau bisa memanggil pasangan mu itu ?"
"tuan, saya bisa memanggil amun saya tidak bisa membawanya kemari selain ijin dari tuannya"
"jadi. aku harus membangunkan dia ?" sembari melirik ke arah Della yang tertidur lelap.
"benar tuan,"
junjie melihat ke arah della yang tertidur lelap.
apakah harus ku bangunkan ? tapi dia tertidur sangat lelap. junjie menghelai nafas pelan. "lupakan, besok saja kau panggil pasangan mu itu." "katakan ada apa kau muncul ?." ucapnya dingin.
"Tolong Bebaskan kutukan kami tuan," ucap pedang fire.
junjie memegang dagunya. "pedang Erlac adalah kunci dan fire adalah gembok. bebaskan kutukannya kebenaran akan terungkap. Apa kau tahu maksud itu dan bagaimana cara kami membebaskan kutukan itu ?"
"kenapa begitu sulit ? katakan saja. apa susahnya ?"
"tidak tuan, ini lebih baik jika tuan dari pasangan ku juga ikut mendengarnya, dan kalian harus berunding"
"kau terlalu berbelit. pergilah aku tak ingin di ganggu" ucap junjie seraya beranjak berdiri.
"Tuan kau harus mendengarkan ku."
"kau terlalu berbelit, aku tak punya banyak waktu. katakan dengan jelas !"
"ketulusan, pengorbanan, kejujuran, kesetiaan. kalian harus menjalankan itu" ucap pedang Fire lalu terdiam. Junjie terhenti langkahnya.
"Tuan, cinta tampa kejujuran itu dusta, Cinta tampa pengorbanan itu sia-sia, cinta tampa ketulusan itu sengsara, dan Cinta tampa kesetiaan itu menyakitkan. jangan terjadi lagi cukup kami yang mengalami." setelah berucap pedang fire menghilang.
Junjie masih terdiam di tempat. ia menoleh ke belakang. dan pedang fire telah menghilang. ia kembali memandang ke arah Della yang terlelap, ia mendekat. di pandanganya wajah yang terlelap itu. damai. tangannya menjulur ke wajah Della menyibakkan beberapa rambut yang menutupi wajah cantik di hadapnya itu.
"Cinta tampa kejujuran Dusta, Cinta tampa pengorbanan, Sia-sia, Cinta tampa ketulusan, sengsara. Cinta tampa kesetiaan menyakitkan. kau benar, seharusnya aku jujur akan perasaan ku, dan tidak berdusta akan cinta ku" "kali ini aku berjanji, dimana pun cinta itu berada aku akan memperjuangkannya, sampai kapanpun" Junjie mengecup kening Della, ia merangkulnya lalu ia ikut terlelap di sampingnya.
*****
Kereta kuda itu terhenti di suatu kediaman tak berpenghuni. terlihat seseorang turun dari kereta kuda itu, setelah turun ia menunggu seseorang keluar dari keretanya, saat kelambu kereta tersibak, ia menjulurkan tangannya membantu seorang wanita turun.
Tap.
Nyonya Zhu turun dari kereta dan di bantu oleh Suaminya. ia melihat sekeliling. lalu matanya tertuju pada kereta kuda yang berada di belakang kereta kuda mereka. terlihat sosok lelaki tampan turun dari sana. Nyonya Zhu memperhatikannya memastikan jika ia baik-baik saja. Zian berjalan mendekati mereka.
"ayo kita masuk" ajak tuan Zhu kepada semua lalu ia menuntun istrinya.
saat memasuki halaman tuan zhu terhenti sejenak. ia teringat akan masa lalunya kenangan yang terkenang di sana. ia melihat sekeliling. Tak ada yang berubah. tempat itu masih sama sebelum di tinggal oleh pemiliknya. setelah itu mereka melanjutkan langkahnya memasuki ruangan utama rumah itu.
beberapa pelayan menunggu di luar. Tuan Zhu memimpin jalan mereka menuju ruang perpustakaan.
pintu pun terbuka. Ruangan yang besar dan terlihat di sana lemari buku terjejer dengan buku yang tertata rapi, ruangan itu penuh dengan buku-buku, terlihat tempat itu terawat dengan baik.
Zian ia melihat sekeliling. Ia menemukan sebuah lukisan terpajang di dinding. Tampa sadar ia mendekati ke arah lukisan itu. matanya memandang lekat dan tampa ia sadari butiran bening lolos dari pelupuk matanya.tanganya menjulur menyentuh lukisan tersebut. dilihatnya sosok dua orang yang sangat cantik dan tampan menggunakan pakaian serasi dengan si perempuan duduk menggendong bayi di pelukannya.
"Mereka adalah kedua orang tua mu, dan bayi yang di gendong itu adalah kamu sewaktu umur delapan bulan"
tuan zhu menjelaskan dan ia mengingat kembali masa dimana lukisan itu di buat.
"Lukisan ini di buat tepat dua hari sebelum kejadian itu terjadi. waktu itu kau menangis saat ayah dan ibumu akan di lukis berdua, kau menangis dan tak mau lepas dari gendongan ibu mu, semua orang mencoba menenangkan mu namun tak ada yang berhasil, semua orang heran akan tingkah mu yang selalu rewel beberapa hari terakhir itu, padahal kau tak pernah rewel sebelumnya. kau tak mau lepas dari gendongan ibu mu dan ayah mu, dan ternyata, kau merasakan akan kehilangan mereka, benar saja dua hari setelahnya kejadian itu menimpa kepada kedua orang tua mu, kau menganis kencang di dalam pelukan ibu mu saat kejadian itu. Ayah mu bertarung di luar kereta melindungi ibu mu dan diri mu namun pembunuh itu berhasil asuk kedalam kereta, ibu mu berkerja keras melindungi diri mu, saat penyerang itu masuk ke dalam kereta. ia berusaha membunuh mu dengan Racun hitam, Ibumu mengetahui akan hal itu ia segera membalikan badanya dan racunya mengenai Ibu mu, pembunuh itu melarikan diri saat melihat pasukan ayah datang, ibu mu saat itu merangkul mu keluar dari kereta dengan tertatih. dan menghampiri Ayah yang tersimpuh memangku Ayahmu yang telah terdiam. ibumu menghampiri dan terjatuh lepas di samping ayah mu. Wajahnya pucat dan membiru, ia mengecup kening bai kecilnya yang menangis, air matanya meleleh, sebagai ucapan perpisahan. ia memberikan bayi itu. "*jagalah dia, mintakan maafku dan suamiku, maafkan kami kedua orang tua yang tidak bisa menjaganya dengan baik." *setelah itu ia terbatuk darah dan tak sadarkan diri tepat di samping Ayah mu. mata ini tak kuasa membendung peluh yang dalam, hati ini hancur meihat kakaknya tiada dihadapannya. bukan hanya kakaknya namun satu keluarga kakaknya dan hana menyisahkan anak yang malang tampa dosa menjadi korban kekejaman pembunuh itu.aku masih meras bersalah. kenapa aku tidak bisa meindungi mereka, andai saja aku mengantarkan mereka pulang kejadian ini tak aka terjadi, dan kau tak akan di tingal kedua oang tuamu, Maafkan aku, aku tak becus menjaga mereka, hukum ayah mu ini yang tak becus akan keselamatan kedua orang tuamu," Tuan Zhu bersimpuh ketanah di hadapan Zian dengan segera Zian berjongkok dan memegang keda tangan Tuan Zhu. Air matanya ikut berderai.
"Ayah, jangan begini, berdirilah, jangan berucap begitu, Kau tetapalah Ayah ku, Ayah tidak melakukan kesalahan, kau telah melindungi ku dengan kasih sayang mu, kau selalu menyayangi ku melebihi anak mu sendiri, kau tak pernah membedakan anara kami, berdirilah Ayah..jangan begini,"
"maafkan ayah nak, maafkan ayah yang tak becus ini"
"Tidak, ayah, ayah tidak bersalah berdirilah, atau aku akan bertambah sedih"
mereka berdiri, Zian mengusap air matanya.
"Semua sudah berlalu ayah, aku percaya kepada Ayah. jangan salahkan diri ayah, ayah tidak bersalah. Ayah tidak bersalah yang bersalah ialah pembunuh yang membunuh kedu orang tua ku"
"Benar katamu, ternyata kau telah sangat dewasa anak ku" ucapnya sembari mengelap air matanya. "ayo kita susul ibu mu ke tempat ruang kerja ayah mu, pasti di sangat cemas melihat kita tidak ada di sampingnya"
"baiklah ayah," Zian melihat sekeliling "benar saja, aku baru menyadari ruangan ini besarnya lebih besar dari ruangan utama, dan berlantai dua ?"
"begitulah Ayah mu dia memang sangat suka dengan sastra, dan hampir setiap buku ia mepunyanya semua di ruangan ini, dia tak pernah main-main jika menyangkut soal sastra ataupun buku. ini perpustakan pribadi milik ayah mu, jangan di tanya, di kerajaan ini hanya ayah mu lah yang memiliki perpustakaan seperti di istana dan hampir,"
"Benarkah ? pantas saja ruangan ini sangat besar dan bertingkat dua,"
mereka terhenti saat sampai di depan pintu, tuan zhu membuka pintu itu. Seketika wajah Nyonya zhu memandang penuh tatapan panik ke arahnya. tanganya bergetar memegang surat di tanganya
"Ada apa istriku ?" ucapnya panik meihat istrinya ketakutan.
"I.i. ini, ti.dak mungkin" ucap yonya zhusembari bergetar memandang beberapa lembar surat yang di pegangnya