
sebelumnya maaf jika kesan ceritanya terlihat terlalu di paksakan, karena di episode sebelumnya memang ceritanya di lompat, sebenarnya masih ada beberapa pembahasan tapi harus autur lompat untuk menyingkat cerita. dan maaf jika ceritanya menjadi kurang menarik.
happy reading...
manusia, jika berbicara soal manusia apa yang kamu pikirkan ? pasti banyak sekali bukan, dari hal kecil saja jika berbicara tentang manusia tidak ada habisnya. yah begitulah manusia ciptaan Tuhan yang tidak bisa di tebak. apalagi manusia yang berjenis wanita, jangan tanya itu sudah menjadi rahasia umum. hati-hatilah saat bermain hati jika bila kau telah melukai hati, jangan harap rasa itu akan utuh kembali.
berbicara soal hati manusia tidak ada yang tahu pasti, hati selalu memilki misteri tersendiri. rasa yang di lalui terkada tak mengerti. gundah sesuka hati dan merana jika dirasai. jadi manusia harus lihai menata diri menjalankan hati perasaan dan pikiran, jika kau kacau di hati maka rasa sakit hati tiada henti, jika kacau di perasaan jangan salahkan jika raasmu akan berantakan, jika kacau di pikiran sifatmu tak kan terkontrol. pengendalian diri tentu harus di pegangi agar diri tak terjerumus dalam bayangan dunia. hakikat hidup harus di tali dalam diri ntuk menyeimbangi grativasi ke egoisan diri.
"BEDEBAH !!!" teriak Dae San ia mengamuk di dalam kastil, beberpa pengikutnya menjadi sasaran empuknya ada bebrap yang tergeletak tak sadarka diri ada yang tanganya pisah mati mengenaskan.
brak !
ia membabat habis apa yang menurutnya mengangu sungguh ia tak pernah tanggung-tanggung.
Brak !
Cetar ! semuanya hancur.
"bagaimana mungkin ! breksek ! akan ku hanurkan kau !" hah !
bagaimana bisa mereka mendapatkan pedang itu ?! kekuatanya sama dengan guru ! tidak mungkin dia kembali ! dia telah ku kutuk dan tak akan bisa kembali lagi !
situa ! dia !
aghh !
SZZRR TAR !
sihir itu memghempaskan kaca kastil hinga pecah berkeping-keping. "Arggh !" ia menggeram karena setengah kekuatanya menghilang dan luka yang ia dapatkan tak bisa di sembuhkan dengan kekutannya. ia berjalan meninggalkan kastl dengan luka yang mengakibatkan kekuatanya terserap kedalam pedang yang melukainya, karena itulah ia sangat murka ia tak tahu jika pedang itu sangatlah sakti dan dapat menyerap kekuatannya. "liontin bintang kehidupan, aku harus segera merebutnya !"
sementara itu....
di gunung bintang setengah dari pengikut situa menyebar keseluruh hutan dan perbatasan mereka memantau berjaga akan kekejaman dari dae san, ia tak aka segan menghabisi siapa saja yang di temuinya, entah itu anak kecil ataupun wanita. dan setengahnya lagi mereka memperkuat di daerah gunng bintang.
dan disisi lain
di kediam keluarga zhu, yuan fu dan dela bergegas akan segera pergi ke gunung bintang sesuai dengan kesepakatan mereka, yuan fu dan della menuju ke ruang tengah dan disana semua orang tengh berkumpl, disana kakek wuyu telah menunggu mereka.
"kalia suda siap ?" della megangguk,
"ayo," kakek wuyu beranjak dari tempatnya
sebelum pergi della menatap orang-orang disana. aku akan pergi terimakasih atas semuannya. ucapnya dalam hati. ia tersenyum namun senyuman itu tersimpan kepedihan. tak lama ia berbalik dan mengikuti kakek wuyu dan yuan fu.
"kakak," panggil zixin menghentikan langkah della. "kakak segera kembalikan ?," della mematung di tempat pertanyaan itu membuatnya hatinya terasa teriris. sungguh ini terakhir kalinya ia akan berada di dunia asing ini. della mengambil nafas dalam lalu membalikan badannya ia tersenyum simpul dan kemudian pergi tampa berucap. hatinya merasa ada yang hilang namun hatinya harus kuat, tidak mungkin ia akan tinggal disini selamanya ia hanya menumpang di tubuh lingxiu dan saatnya ia kembali. biarlah dia datang tampa ada yangtahu identitasnya dan biarkan pula ia pergi tampa ada yang tahu identitasnya. biarkan ia tetap menjaga rasa keluarga itu.
Zixin beranjak akan mengejarnya namun lengannya di cekal oleh kakeknya, "dia akan pulang dan kakakmu akan kembali," zixin mengerutkan alisnya ia tak maksud perkatan dari kakeknya itu. kakeknya itu menatap kepergian della hingga punggung itu menghilang dari hadapannya. kakeknya itu tersenyum masam lalu ia menepuk pundak cucunya itu. dan berlalu pergi.