
Della yang mendengar itu menghentikan tangannya mengambil buah di piring.
ia juga baru tahu jika orang yang berada di depannya itu sudah bertunangan. dan sepertinya ibunya itu tahu banyak tentang keluarga Adarsya. sebenarnya bagaimana ibunya itu bisa mengetahui segala hal ?.
Della menatap ibunya sekilas, dan dengan segera ia duduk anteng menyimak. kali ini ia tak akan banyak bicara, ia ingin melihat apa yang akan terjadi, dan merencanakan agar terbebas dari ini semua.
Adarsya masih terdiam. terlihat wajahnya yang kaget,
"sepertinya, para awak media tak menyurut Tampa di usir, bukankah begitu anak muda," ucap mommy masih dengan menikmati teh hijaunya.
lagi-lagi Adarsya dibuat terkejut.
"selama saya masih bermurah hati, sebaiknya kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan ?," ujarnya lembut sembari meletakkan gelasnya di meja.
Adarsya menatap mommynya Della. "maaf saya sudah lancang," ia beranjak berdiri, "satu hal yang haru Tante tahu, aku tak akan pernah mundur, "permisi,.." setelah berucap ia mulai beranjak meninggalkan mereka namun baru beberapa langkah mommy menghentikan langkahnya.
"tunggu anak muda," mommy berdiri "saya tunggu klarifikasi anda di awak media besok pagi, membersihkan rumor dalam semalam, kau sanggup bukan ?"
Adarsya menatap ibunya Della, "sesuai keinginan anda," ucapnya lalu meninggalkan rumah itu, lalu mengisyaratkan pengawalnya untuk membubarkan semua awak media.
ia memasuki mobil, "ke Manson, sekarang" perintahnya tetap dengan nada dingin. hatinya kesal rencananya gagal.
sementara itu.
mommy dan Della masih duduk santai, menikmati teh hijau itu.
"mom,"
"iya sayang," jawabnya santai kini ia mengemil buah-buahan.
"sebenarnya apa yang terjadi selama aku tak sadarkan diri ?," tanyanya heran
"seharusnya mommy yang bertanya seperti itu, bagaimana kau bisa kenal orang seperti itu ?, apa kau memang sudah dekat sebelum kecelakaan itu ?," tanyanya balik bertanya.
Della mendengus kecil dengan mommynya yang balik bertanya.
mana mungkin dekat ? bertemu saja baru beberapa kali.
"mana mungkin, kami bertemu hanya kebetulan saja, dan itu di tempat kerja,"
terdiam.
kini mereka hanya diam menikmati cemilan yang ada. ya sepertinya hobi mereka sama suka makan buah.
kring...
suara telepon terdengar. mommy segera mengambil hanponnya. Ayah ?. ucapnya dalam hati.
"pulang ke rumah bersama cucuku,"
Tut..Tut..Tut... panggilan dimatikan sepihak.
"siapa mom ?," tanya Della penasaran.
"kakek mu," ucapnya datar
"apa ? kakek ?! mana aku mau bicara dengannya !," sahutnya.
"sudah di matikan, sana mandi sana, kau bau acem," sembari menutupi hidungnya, "besok setelah konferensi press kita pergi ke rumah kakek, kau siapkan keperluanku buat besok,"
Della beranjak sembari cemberut "baiklah, baiklah aku mandi," ucapnya malas.
"oh iya mom," ia berbalik.
"apa lagi ?,"
"emt, itu.. apa sebaiknya kita menghubungi Zen untuk konferensi press ?,"
mommy menaikan satu alisnya.
***
sebuah mobil memasuki halaman Manson yang cukup megah para penjaga menutup kembali gerbang setelah mobil itu masuk. mobil itu berhenti seorang ajudan mendekat membukakan pintu mobil dan keluarlah seorang lelaki semua orang terdiam melihat raut wajah tuannya itu. wajah suram.
seorang kepala pelayan menghampiri tuannya yang duduk di sofa, mengurus keperluan tuannya. pelayan itu menaruh kopi hitam di meja, "apa ada yang tuan butuhkan lagi ?,"
Adarsya menatapnya dengan tajam, "pergi.," ucapnya dingin. seketika kepala pengurus rumah tangga itu membungkuk dan berlalu pergi.
Adarsya mengacak rambutnya, ia masih kesal dan penasaran dengan kejadian tadi. kesal karena rencananya gagal dan penasaran bagaimana ibunya Della bisa tahu tentang dirinya, ia seperti mengetahui semuanya apa yang sedang ia rencanakan.
"weka !," panggilnya sedikit berteriak
"iya tuan,"
"cari latar belakang Mom Fi, aku tunggu di ruang kerja," setelah berucap ia beranjak dan memasuki ruangan kerjanya.
weka terdiam sejenak, dan kemudian membuang nafasnya. belum ia bernafas lega ada saja yang harus di kerjakan. masalah pembersihan rumor yang belum selesai konferensi press dadakan dan sekarang apa lagi ini mencari identitas dalam waktu singkat !, tuannya memang gila, dan kerjaannya bukan main.
kepala pengurus rumah tangga itu menepuk bahu weka, sembari tersenyum memberikan semangat kepadanya. sedangkan weka tersenyum entah berantah. memang takdir mempunyai tuan yang sedikit ah bukan sedikit tapi semena-mena dan semaunya.
sabar weka sabar..
jika lagi kumat kamu harus sabar. sembari mengelus dadanya.