MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
pertemuan tak terduga



"Zian," panggil tuan Zhu dari arah belakang.


Zian membuka matanya dan menoleh seketika ia menyembunyikan raut wajahnya.


"apa ada sesuatu terjadi kepada mu ?" tanya tuan Zhu yang menyadari perubahan raut wajah Zian. ya. dia memahami anak angkatnya itu, sifatnya sangat lekat dengan ayahnya. dia diam berarti ada masalah. sifat cerewetnya itu tak bisa diam kecuali ia mendapat masalah.


Tuan Zhu melihat ke atas langit, benar saja persis seperti kakaknya dulu dia sangat suka melihat langit entah itu ke adaan mendung, hujan, ataupun kelam.


taun zhu tersenyum mengingat masa lalu yang telah menjadi kenangan itu.


"ternyata sangat tenang saat melihat langit" ucapnya lalu melirik ke arah Zian. "pantas saja kau sangat suka memandangi langit," sama seperti Ayah mu. lanjutnya dalam hati.


Zian tersenyum namun tak menjawab pertanyaan tuan Zhu.


"waktu selalu berjalan tanpa henti hingga tak terasa sudah puluhan tahun berlalu, kau tahu nak, sifat mu tingkah laku mu mengingatkan ku pada seseorang yang sangat aku sayangi," ucap tuan Zhu terhenti sejenak ia mengambil nafas lalu memandangi langit kelam.


"dia seorang yang sangat pandai, hingga kepandaiannya terkenal di kerajaan ini, bahkan sewaktu ia muda ia telah mendapat pengakuan atas kepintarannya dalam bidang sastra dan bahkan Raja sendiri yang memberinya penghargaan. Namun kejadian naas terjadi kepadanya, pada suatu ketika ia pulang ia di kepung oleh sekelompok orang dan mereka menyerangnya hingga tiada. saat nafas terakhirnya itu dia menitipkan sebuah pesan agar jangan pernah lelah berbuat kebajikan, kebaikan akan selalu menang dari sebuah tindakan tercela." tuan Zhu membuang nafasnya pelan lalu menatap Zian "kau tahu siapa itu Nak ?"


Zian menggeleng pelan "bagaimana aku bisa tahu ? ayah tak memberi tahu diriku ?"


"dia adalah Kakak pertama Ayah, Zidan Zhu Ayah Kandung mu,"


Seketika Zian menoleh, detak jantungnya seakan terpacu dan tak karuan.


Benar ? aku bukan anak kandung Ayah dan ucapan paman memang benar ? apakah benar ayah yang membunuh kedua orang tua ku ?!. ucapnya dalam hati yang menunjukan raut wajah syok.


"Ayah sudah tau kau mengetahui ini, Maafkan ayah yang belum memberitahu sesungguhnya, dan kau mendengar dari orang lain. maaf, ayah sungguh belum siap melihat mu syok dan takut akan dirimu yang tak menerima akan keadaan" ucapnya dengan menitikkan air mata.


"bagaimana mereka bisa meninggal ?"


Tuan Zhu menarik nafas sedikit berat rasanya ia menceritakan kisah pahit itu.


"Saat itu kami telah menghadiri sebuah acara, karena sudah larut malam dan mereka membawa bayi merah mereka memutuskan pulang duluan, sekitar hampir satu jam berlalu salah satu pengawal yang menjaga mereka menemui Ayah dengan penuh luka, ia mengabarkan bahwa mereka di serang dan kalah jumlah. saat itu ayah bergegas menyusul ke tempat kejadian. Namun. saat ayah telah sampai di sana. semuanya telah berantakan. mayat bergeletakan di tanah, darah telah tercecer tak karuan. Ayah segera menjari kakak dan akhirnya aku menemukannya di samping kereta terkuak lemas dengan penuh luka." tuan Zhu mengambil nafasnya karena menahan sesak, menceritakan masa lalu sama halnya merobek bekas luka lama. sakit.


"dengan segera ayah mengangkatnya, beberapa orang ayah mengecek keadaan sekitar, saat itu ia menunjuk kereta, dan berucap Anakku, jaga dia. setelah itu ia menutup matanya selamnya. aku tak percaya dengan apa yang terjadi, diriku masih tak percaya dan tak kuasa.. bagaimana bisa ini semua terjadi, baru saja kami berbincang bersama. aku tak kuasa melihat semua ini," ucapnya sembari memegang dada yang terasa sakit, seakan kejadian itu baru saja terjadi.


Zian memegang pundak tuan Zhu, "Ayah, maaf. duduklah, jangan paksakan dirimu jika tak kuat menceritakannya. maafkan aku yang telah memaksa ayah untuk menceritakan semuanya ini. aku mengerti ini sangat sulit dan aku pun sangat syok dan tak percaya. tapi itu semua telah berlalu biarkan yang ada sekarang berjalan apa adanya."


Tuan Zhu merangkul anaknya itu "kau tak membenci Ayahmu ini ?"


"untuk apa membenci Ayah, ayah sudah merawat ku sendari kecil hingga sekarang."


Tuan Zhu menitikkan air matanya. ia mengusap air matanya lalu melepaskan pelukannya.


"besok pagi kau ikutlah bersama ayah dan ibu ke suatu tempat, sudah saatnya kau tahu semuanya tentang apa yang terjadi"


"baiklah,"


ke esok kan paginya..


Para pelayan telah menyiapkan kereta, terlihat Nyonya Zhu keluar dari kamarnya.


"apa semua sudah beres ?"


"sudah Nyonya, dan ini barang yang Nyonya minta," sembari menyerahkan sebuah keranjang tangan.


sesampainya di luar mereka [Tua. Zhu berserta istrinya masuk ke dalam kereta kuda] sedangkan Zian dia menaiki kereta kuda sendiri.


***


disisi Lain Situa dan Kakek wuyu mereka sudah sampai di halaman rumah kakek wuyu.


"sampai juga, akhirnya." ucap kakek wuyu


"mana makanan yang kau janjikan hah ?" sahut Situa yang sudah tidak sabaran.


seketika bau harum menusuk ke hidung kakek wuyu dan Situa..


"Hemm.. Harus sekali masakan ini"


"Ayam panggang.."


ucap mereka dalam hati.


seketika mereka bergegas mengikuti bau harum makanan itu berasal. terlihat ada dua seorang anak insan sedang membakar ayam di api unggun.


"Huali.. Zixin.. Kakek pulang !" ucap kakek wuyu bersemangat.


seketika mereka menoleh.


"selalu saja kenapa Pulang di saat kami memasak. jadi berkurang deh jatah kita. batin Zixin kesal. dan kembali menatap ke ayam yang sedang di bakar. ia tak begitu memperdulikan kakek wuyu. ia fokus membakar ayam bakar.


"Kakek Situaa !" ucap Huali bersemangat saat melihat Situa ia beranjak berdiri lalu menghampiri Situa.


"Huali, si kecil kau sudah besar" ucapnya bersemangat juga.


"kakek Situa, kau lama sekali tidak datang kemari, ayo mana hadiah buat ku ! kau berjanji akan memberiku hadiah" sembari mengantungkan tangannya ke Situa.


Sedangkan itu, Zixin ia berfikir sembari membolak-balik ayam.


Situa ? kenapa nama itu kedengaran tidak asing ?.


"hihihi.. ternyata kau masih ingat saja.."


"iya dong, mana. aku menagihnya, kau sudah berjanji kakek Situa"


"tenang saja cucu manis aku sudah menyiapkannya untuk mu"


"Kakek Situa kau memang yang terbaik.."


kakek wuyu membuang nafasnya.


"Jadi kakek ini bukan yang terbaik ya"


"kau selalu pelit kepada ku. kakek Situa yang terbaik." sahut huali.


"baiklah jika begitu, kakek masih punya cucu yang tampan dan pengertian. Zixin cucu tersayang ku ke marilah" ucap kakek wuyu yang tak mau kalah.


"kau mempunyai cucu laki-laki ? kau pungut dari mana ?"


"ho ho ho kau akan tahu nanti,"


Zixin menoleh dan mengangguk.


Nama dan Suara itu terdengar sangat familiar..


batin Zixin, seketika ia menolehkan kepalanya mencoba melihat keberadaan huali dan orang yang di sebut Situa itu.


Situa. Situa... Tunggu !


seketika matanya terbelalak mendapati orang yang berada di depan Huali. ia beranjak berdiri dan menghampiri. ia mendekati mereka yang sedang berbincang dengan Situa,


"kemarilah, Lihat cucu ku tampan bukan" ucap kakek wuyu sembari merangkul pundak Zixin.


Situa menoleh.


"Kau !" ucap Situa kaget.


[Kau !] ucap Zixin dengan bahasa isyarat dengan raut wajah kaget saat mengetahui Situa.