
Season Sebelumnya
"Hei, singa betina, katanya mau balas dendam," ucap Zen membuat Della membelalakkan matanya.
"Jangan terlalu sungkan. Panggil saja nama saya. Adarsya."
Byur !
"Ela !,"
"Kakak !. Apa kakak sudah sembuh ? Benarkah kakak sakit ? Dimana nya yang sakit ?. Siapa yang mencelakai kakak ?, Katakan padaku akan ku balas perbuatan orang itu !," anak laki-laki bernama Zixin memutar-mutar ke sekeliling Della.
"Apa wajahku begitu tampan hingga kau menatapku Tampa berkedip ?," Ucapnya Della tersadar.
Situa menatap Mo Yan tajam, dia tahu orang yang sedang di hadapannya ini bukanlah sahabatnya, jiwanya di kendalikan oleh seseorang.
"Zixin, apa kau sudah bisa bicara ?,"
"Apa kau pura-pura lupa ?. Jika dia mati di bunuh pangeran ke tujuh. Padahal
pemakamannya belum lewat dua minggu,”
"Kutukannya sudah terlepas, apa kau senang ?,"
orang itu kemudian duduk dan bersandar. "Katanya kau baru saja mengalami kecelakaan," ucapnya sembari bersedekap tangan.
"Selamat atas pernikahan anda tuan muda Adarsya," ucap Zhen.
"Apa kau ingin menyusul kekasihmu ke alam baka ?," ujarnya sambil tertawa.
"Bedebah kau tua Bangka !,"
Ia tersenyum, melihat Zhen yang menatap bintang di langit, sembari tersenyum, terlihat sangat tampan dan manis, ditambah hidungnya yang mancung menambah pahatan yang sempurna "Zhen, kita nikah yuk," ucapnya membuat Zhen menoleh menatapnya.
"Aku sangat suka dengan ruangan yang bisa bergerak sendiri, mengantarkan ke atas dan kebawah, tapi sayangnya tidak bisa berpindah tempat lain hanya bisa di bangunan itu saja," Sahut Situa.
____________
_______________
...~PROLOG~...
...Season 2...
Seorang lelaki muda, dan tua serta sosok perempuan. Menatap gedung yang menjulang tinggi. Dengan baju khas mereka dilain dimensi.
Wajah mereka menatap takjub sekeliling. Bangunan yang tinggi dan besar. Mobil dan motor yang lewat. Serta. Lalu lalang orang.
Mereka tidak sadar menjadi pusat perhatian orang di sekelilingnya.
"Wah. Tempat apa sebenarnya ini ?," Gumam Situa.
"Hewan apa yang mereka naiki seperti kuda. Tapi kenapa tidak memiliki kaki, tapi roda ?," gumam pangeran Fang Qi.
"Astaga. Kenapa para wanita itu tidak malu menggunakan pakaian seperti itu di tempat umum seperti ini." sahut gumamnya Yuan Fu.
Tinn ! Tiiiin... !
Mereka menatap sumber suara. Mata mereka terbelalak melihat pemandangan yang tidak pernah mereka lihat.
"Wah. Kenapa mereka berhenti seperti itu. benda apa yang mereka kenakan di kepala ?, Apa mereka akan perang ?!" Ujar pangeran Fang Qi.
"Apa perang ?," sahut Yuan Fu.
Mereka masih terheran dan terkejut saat melihat orang berhenti karena lampu merah.
Wiiuu wiiuu wiiuu
Mereka panik mendengar sirine ambulans.
"Suara apa itu !," ujar mereka panik.
Tiin tiin tiin !
"Awas !, berlindung !," Teriak Situa dan mereka mengumpat di balik pohon.
Orang-orang sekitar menatap aneh kepada mereka.
"Ma lihat ada pemain pilem," ujar anak kecil menunjuk ke mereka bertiga yang sedang mengumpat di balik pohon seraya mengawasi jalan raya.
Sang ibu itu melihat tingkah mencurigakan lalu menggeret anaknya.
"Shuttt, mereka bukan pemain film sepertinya seorang pengemis, ayo kita harus lapor ke Satpol-PP," ujar sang ibu ke pada anaknya.
Tiinnn tiinn tiinnnn
Mereka masih mengawasi dari balik pohon, cukup lama.
"Hei, apa boleh kami mengambil foto kalian, kalian sedang cosplay kan?". Ujar beberapa anak sekolah mendekat.
mereka terheran.
"kospla ?,"
"Apa itu kospla ?," sahut Situa.
Cekrek !
"Awas senjata rahasia !," teriak pangeran Fang Qi.
anak sekolah itu terkejut karena pangeran Fang Qi mengeluarkan pedangnya.
"Wahhh !."
"Kerennya !," Seru anak-anak sekolah itu.
"Apa itu pedang sungguhan paman ?," tanya salah satu di antara mereka.
Pangeran Fang Qi mengembalikan pedangnya dengan gayanya seorang yang mempunyai ilmu pedang.
"Woww" prok prok prok
"Hebat sekali"
"Keren sekali"
Sahut anak-anak sekolah itu.
"Di sana pak itu mereka," tunjuk seorang ibu yang bersama anaknya tadi bersama petugas satpol-PP.
Karena merasa terancam, mereka bertiga merasa was-was.
"Tangkap mereka !," Perintah salah satu dari petugas satpol-PP.
"Apa. Tangkap ?," ujar Yuan Fu.
"Lari !," Teriak pangeran Fang Qi menarik Yuan Fu dan Situa.
Spontan mereka berlari menghindari satpol PP.
"Siapa mereka?," tanya Yuan Fu.
"Sepertinya prajurit negeri ini" jawab pangeran Fang Qi
"Tunggu aku !, hah kenapa kalian larinya cepat sekali hah ! apa kalian mau durhaka meninggalkan orang tua !," ujar Situa dari belakang.
"Kita di kejar prajurit, loloskan dirimu sendiri !," jawab pangeran Fang Qi.
"Berhenti kalian !," teriak petugas satpol-PP. Namun mereka tidak berhenti dan mereka masih kejar-kejaran mengelilingi taman kota.
Sementara itu.
"Apa kalian melihat tiga orang berpakaian seperti ini di sekitar sini ?," Tanya seseorang seraya melihatkan foto di dalam handphone.