
Setelah makan selesai ahirnya mereka memutuskan untuk beristirahat.
Della bersama Junjie bersamaan berjalan menuju kamarnya.
"Del," ucap junjie menghapus kesunyian.
"Hem, apa."
"menurutmu bagaimana hidup disini." Junjie berucap sembari menerawang.
"maksudmu ?" tanya Della heran sembari mengangkat satu alisnya.
"Hidup jauh dari kebiasaan biasanya dan bertolak belakang dengan keadaan dunia moderen. Apa kau tak merindukan itu ?"
Della melipatkan keningnya.
"Kau rindu hidup mewahmu ?"
Junjie menoleh sembari mengerutkan keningnya.
"aku hanya rindu seseorang."
Tampa ia sadari Della tersenyum sepat.
"pasti kau merindukan para wanitamu bukan ?."
Junjie mengerutkan keningnya lalu ia tersenyum simpul.
Apa dia cemburu ?
"benar aku merindukan seorang wanita." wanita yang telah melahirkanku
"Oh. aku baru dengar jika kau mempunyai wanita. kudengar kau selalu anti wanita" jawab Della singgat. Ada desiran hati ia rasa. Ku kira ia berbeda. ternyata aku salah.
"apa kau tak merindukan seseorang ?" Junjie mengalihkan pembicaraanya.
Della tersenyum kecut.
"Tak ada." ucapnya datar. namun sorot mata itu berkata bohong.
"Kekasih atau teman, dan bukankah siapa, Zen ? Kudengar Zen itu pacarmu ?"
"Tak ada yang perlu aku rindukan selain Ibuku. Dan kau salah Zen sahabatku bukan pacarku" ucap Della menjelaskan.
"bukan pacarmu ? lalu pernyataan di hadapan mereka itu.." Junjie menggantung pertanyaan sembari memastikan
"Itu hanya sandiwara." ucap Della singat.
Adarsya didalam hatinya tersenyum bahagia. Ada harapan.
mereka terhenti saat sampai di depan pintu. "aku ngantuk pergilah" ucap Della sembari menguap.
Junjie tak bergeming ia membuka pintu dan langsung masuk kedalam kamar.
"eh kenapa kau masuk ini tempat tidurku !" Della sembari mengejar Junjie.
Junjie membaringkan tubuhnya di kasur.
"apa yang kau lakukan ! ini tempat tidurku !" ucap della.
yang harus kalian tahu setelah mereka menikah mereka tak pernah tidur satu ranjang, saat di kediamanya mereka memiliki kamar yang berbeda. dan di tempat keluarga zhu merekapun tidur terpisah karna ranjang Kamar della memiliki mekanis yang bisa di pisah bagaikan menjadi dua.
"Diamlah, kau terlalu berisik. Ini kamarku, malam ini aku berbaik hati dan aku ijinkan kau tidur di ranjangku." jawab junjie sembari memejamkan matanya.
Della mendengus kesal.
"Siapa juga yang mau tidur denganmu !"
Junjie membuka matanya. Lalu menarik lengan Della hingga sang empu terjatuh diatas pelukanya.
"Kau ! apa yang kau lakukan !" gerutu Della. Ini yang di kawatirkan dengan Della. jantungnya tak bisa di kontrol bila berhadapan sedekat ini dengan Junjie. entah sejak kapan itu bermula yang pasti jantungnya selalu tak beraturan saat bersamanya, dengan sikapnya yang tak bisa di tebak dan penuh perhatian dan kelembuatan. ini membuat hatinya mulai goyah.
"Ini kediaman Jendral bukan rumah kita. Jika kita ketahuan tidur berpisah apa yang akan kau jelaskan kepada mereka ? lagian juga kita ini sudah menjadi suami istri apa salahnya tidur bersama ?"
Della terdiam memikirkan perkataan Junjie.
Ada benarnya juga apa yang di katakanya.
"jika ketahuan mereka apa yang harus di jelaskan ?" batin Della.
"mengerti ?. Sekarang tidurlah, aku tak akan berbuat macam-macam kepadamu" Junji sembari melepaskan tanganya.
Dengan segera Della beranjak. kesamping.
"aku pegang kata-katamu awas jika kau berbohong !"
Seketika Della berbaring dan membelakangi Junjie.
Junjie tersenyum melihat tingkah Della.
"ada satu hal lagi." ucap junjie..
Della yang akan memejamkan matanya pun membalikann badanya.
"apa lagi ?"
"Besok aku akan pergi ke perbatasan utara.."
Della melipat keningnya.
"Besok ? apakah aku juga ikut ?"
"kau mau perang ? kenapa ada perang ? siapa yang memerangimu ? apa mereka musuh bisnismu ?"
PLETAK.
Junjie menjitak kening Della.
Della mengumpat sembari memegang keningnya.
"kenapa kau menjitakku !"
" bodoh. apa kau lupa kita di jaman apa hah ? dan lagi aku sekarang adalah seorang jendral mau tidak mau harus mengikuti titah Raja. Masalah bisnis itu hal yang kecil buatku tenang saja mereka tak akan berani mengusikku"
Della menggerutkan bibirnya karna kesal. namun itu hanya sesaat.
"Berarti kau akan perang seperti filem laga itu dong. haha" tawa della menyambar.
"ya kurang lebihnya sepertinya. memainkan pedang trik dan kecerdikan." ucap junjie sembari menyombongkan diri.
"emang kau pernah terjut langsung ?"
"tidak ini pertama kalinya."
"Apa ?!" ucap della tak percaya.
Junjie membenahi posisinya.
"Dengar, anggap saja ini sebagai latihan. Didunia yang seperti ini bila tidak mengandalkan kekuatanya mereka akan tersingkirkan."
Della masih memandang tak percaya.
orang ini aku meragukan kewarasnya perang dianggap latihan !.
"aku berpikir alangkah lebih mudah jika kau ada alat penembak, sekali Door lawan sudah klepek. hhaha"
"itu sudah aku pikirkan dan aku sudah membuatnya." ucapnya enteng sembari merebahkan tubuhnya.
"Apa ?! bagaimana kau membuatnya ?!" Della tambah heran dengan pengakuan junjie.
"kau tak perlu tahu. Itu hal yang mudah aku lakukan"
"Kau memang gila."
"aku tidak gila hanya terlalu jenius" ucapnya lalu ia terlelap.
Della masih menatap kearah junjie.
Lelaki ini selalu membuat hal yang mengejutkan dan sikapnya tidak bisa dibaca. aku baru menyadari ternyata kau juga asyik untuk diajak bicara dan tak sedingin yang dirumorkan.
Della membenahkan posisinya dan mulai memejamkan matanya.
Grap.
Seketika della membuka matanya. ia terkejut tiba-tiba junjie memeluknya.
ia berusaha melepaskan dirinya namun tak bisa pelukan itu semakin erat.
"lepaskan aku adarsya !" sembari mengangkat tangan yang melingkar di perutnya.
tak ada sahutan namun semakin erat.
Della sedikit tertegun saat mendengar sebuah isakan kecil.
"kau menangis ?"
tak ada sahutan. hanya terdengar suara isakan di balik punggungnya.
"Hei, ada apa denganmu ?"
Della mencoba melonggarkan tangan yang membelot tubuhnya.
"Jangan pergi.. Jangan pergi kumohon.."
Della membelalakan matanya.
"kau apa kau mimpi buruk ?!"
"aku mohon jangan pergi ibu.. tinggalah disini.. jangan tinggalkan aku." junjie semakin mengisak.
Della terkejut dengan gerutuan Adarsya. ia membalikan badanya menghadap adarsya.
"kau mimpi buruk ? apa yang kau mimpikan ?"
Adarsya mengeratkan pelukannya.
"jangan tinggalkan aku lagi ibu... aku sangat merindukanmu.."
Dia merindukan ibunya ?.
Della sedikit tergerak hatinya lalu memeluknya dan mengelus pelan punggung adarsya.
"aku tak akan pergi..tenanglah.."
Adarsya mulai terdiam tak menggigau lagi dan Della pun ia tertidur memeluk junjie.
Ahirnya mereka tertidur lelap malam itu. Entah esok hari akan terjadi apa di antara mereka saat sadar.
Biarlah esok hari akan tetap menjadi misteri. dan detik yang berlalu menjadi sejarah diantara mereka. dan sekarang biarkan menjadi anugrah yang akan menjadi sejarah indah tak terlupakan.
Kehidupan tak bisa di tebak. hari tak bisa diulang. misteri selalu menanti. mata selalu melihat. mulut selalu berbicara. Diri selalu menjalani. rasa selalu ingin di mengerti. Hati ? selalu menjadi misteri insani yang tak pernah berujung ia bagaikan samudra tak berpangkal.