MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
bertemu



hidup itu terkadang bagaikan sebuah kapal bajak laut yang setiap harinya berkelana dikendalikan oleh sang bajak laut mengikuti kemudi kemana ia akan pergi, membelah lautan menerjang ombak, bergulat dengan badai, dan kadang berhantam dengan karang laut, jika kokoh dan mampu melawan kamu akan selamat namun jika kau tak mampu jangan kau paksakan, ka akan hanyut dan tenggelam. biarkan mereka mengombang-ambing perah mu, ikuti setiap pasang surut gelombang laut, bersahabat lah dengan badai biarkan arus membawamu pergi.


sama seperti halnya sebuah perjalanan hidup, kita terkadang juga harus mengikuti alur kehidupan yang terkadang pasang surut seperti gelombang air laut.


         kita lihat kisah sang desainer ini, bagaimana perjalanan hidupnya yang tak pernah ia duga, berawal dari sakit hati, terjebur dilautan, terdampar ke tempat asing dan sekarang menikah ?! takdir apa yang sedang ia gulati sekarang. ia pun tak tahu, yang ada dalam pikirannya saat ini ialah ikuti alur dulu, dan kau akan mengerti kelak. kakinya terus melangkah menuju tempat dimana akan menjadi sebuah sejarah hidupnya. langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu.


langkah ini semogga tak salah, saat aku melangkahkan kaki ini untuk mengikuti alur dari situlah aku memilih jalan takdirku, akankah aku siap ?


ceklek.


pintu pun terbuka, semua mata kini tertuju kepadanya,


sorot mata kagum tak terelakkan,


terlihat junjie memandangnya tanpa berkedip, hingga tanpa sadar ternyata Della telah berada tepat didepannya, ia tak beranjak ataupun bereaksi. ia masih tetap memandangnya. seperti. tersihir.


"junjie, hallo" sembari menggoyangkan telapak tangan tepat di depan muka junjie "hei,ada apa denganmu ? apa kau baik-baik saja ?" seketika ia tersadar dari tersihir nya wajah Della. ia sedikit berdehem untuk menghilangkan rasa malunya seta rasa grogi yang tiba-tiba muncul


"ehem, ya. aku baik-baik saja." "kamu, apa kamu juga baik-baik saja, kenapa wajahmu terlihat memerah ?"


seketika Della terpaku menahan nafas. lelaki ini, kenapa harus mengucapkannya, ini semua gara-gara kamu, kenapa kau terlihat lebih tampan sih.


*"ya, *aku baik-baik saja"


"ehem, kalian berdua apa sudah mengobrolnya" tiba-tiba jendral sudah berada diantara mereka. seketika mereka gelagapan.


"hahaha, jangan begitu malu-malu, kalian ini pasangan menikah, ayo kita mulai ritualnya"


junjie menjulurkan tangannya kearah Della, "kemari kan tanganmu"  menggantung tepat di depan dela. Della menoleh kearah tangan itu lalu menatap junjie. dan junjie mengisyaratkan agar segera mengandeng tangannya. dengan sedikit ragu ia meraih tangan itu, dan dengan segera junjie menggenggam tangan Della. mereka berjalan beriringan.


Tuhan,semogga jalan yang aku ambil ini tidak salah.


selama berjalan beriringan *Della *memandang wajah junjie.


ia terlihat begitu tenang, menjalani semua ini, bagaimana bisa ?


***


"Tuan," seseorang berlari menuju halaman situa. "tuan, kau ada dimana," seketika situa menjawab dari atas pohon, "hem,ada apa ? ka mengganggu istirahatku saja"


"ini, soal Nona Lingxiu, tuan,"


"ada apa lagi dengan penerus ku"


"saat ini dia menikah tuan,"


"apa katamu " seketika Situa turun dari pohon,


"keluarga Zhu menikahkan anak perempuannya dengan putra seorang jendral waizhe"


tiba-tiba situa memukul kepala pengikutnya itu, "aduh,,, kenapa tuan memukulku ?" mengelus kepalanya.


"kalau berbicara itu jangan bermain-main"


"berita ini benar tuan"


jarak tempuh dari kota kesini itu tidak dekat situa, ayolah sadarlah, kau menyuruhku berpergian mencari informasi tanpa boleh menggunakan sihir seedikitpun.


oh Dewa, siapa yang main main,dan kau tau berita ini sungguh benar, aduh, dewa, kumat lagi deh tuanku ini,,sabar, sabar, jangan jawab turuti saja di dulu, jangan buat ia marah atau kamu akan disihir lagi atau menyuruhmu mencbuti semua rumput digunung ini.


Situa mengelus jenggot putihnya. Beraninya si zhu itu tidak mengundang ku dalam acara pernikahan penerusku. kenapa dia begitu ceroboh, tidak melihat situasi yang sedang tidak setabil begini ditambah lagi senaknya saja menikahkan ia dengan seseorang tanpa seijinku.


situa membuang nafasnya kasar,,


"dimana acara itu dilangsungkan ?"


"dikediaman keluarga Zhu"


Zhu aku akan mencari pehitungan denganmu.


seketika Situa mengibaskan jubahnya dan menghilang menghilang.


****


    acara sakral itu masih berlangsung dengan disaksikan orangyang hadir diacara itu. ternya situa telah sampai disana tepat saat acara ritual itu selesai, dan tinggal sang pengantin menyambut para tamu yang di undang. situa sedikit kesal ia menyelindap masuk kedalam dengan penyamaran, ia memperhatikan seiap gerak gerik orang sambil menikmati hidangan yang tersedia.


saat bediri tiba-tiba saja seseorang menubruknya. dan..


Brukkk !


mereka terjatuh bersamaan.


"aduh,,,"


"aduh pungunggku,," sial, siapa yang berani menubrukku. Situa beranjak berdiri dari jatuhnya sembari memegang punggungnya. "punggungku,,"


"maaf, tuan saya tidak sengaja, apa anda baik-baik saja." Zixin segera bangun dan menghampiri Situa,


"dasar bocah, apa kau tak lihat, aku sudah tua bagaimana aku baik-baik saja"


"aku tidak buta tuan, aku lihat kok anda benar-benar sudah tua"


"apa katamu ? kau mengataiku tua ?" sialan bocah tetengik ini beraninya dia mengataiku persis seperti si mulut angsa itu, tapi,,dilihat-lihat,,mengapa ia begitu mirip dengan si mulut angsa. seketika Situa mendekatkan wajahnya meneliti Zixin denga penasaran, miring kekanan, kekiri kebelakang, wajahnya juga mirip si mulut angsa.


    Zixin merasa aneh dengan tingah laku situa. ada apa dengan tuan tua itu, mengapa jadi begitu, apa kepalanya ikut terluka garagara aku. aduh,,bisa kena masalah jika kakak sampai tahu,


"Zixin, apa yang kau lakukan disini,"


aduh, gawat, itu kakak.


seketika situa menoleh bersamaan dengan Zixin.


"ada apa ini ?" zian mendekat,


situa mengerutkan dahinya.


SI MULUT ANGSA ?


Bersambung.....