
Menjelang sore di halaman kediaman jendral Weizhe beberapa pelayan menyiapkan kereta kuda.
jendral berjalan menghampiri para pelayan itu "bagaimana ?"
"semua sudah siap Tuan," seketika jendral menaiki kereta kuda "dimana Junjie ?"
"Tuan muda masih bersiap di kamarnya tuan, apa perlu saya panggilkan ?"
Jendral membuang nafas lembut sembari mengelengkan kepala pelan bibirnya menyungging senyum ia teringat masa mudanya dulu "tak usah, sebentar lagi dia datang"
Tak lama kemudian junjie muncul, "silahkan tuan muda, tuan telah menunggu anda di dalam" Junjie tak menyahut dia langsung masuk ke dalam kereta. sekilas ia melihat ayahnya lalu terdiam seribu bahasa dengan wajah sedikit gusar.
Jendral memahami raut wajah anaknya yang sedang gusar itu sama persis ketika ia masih muda dulu
"apa kau gugup ?" seketika junjie menoleh. dengan sedikit gelagapan.
"ti.tidak" sembari memalingkan wajahnya yang sedikit merah.
"Tenang saja itu hal yang wajar bagi seorang pria. dulu ayah juga mengalami hal yang sama" raut wajah junjie tak berubah malah semakin memerah.
Sial. bisakah berhenti bicara ?. junjie mengambil nafas dan membuangnya kasar menetralkan pikirannya. apa tindakanku ini terlalu cepat ?
kereta kuda terus melaju, hingga akhirnya kereta itu berhenti di tujuannya. satu persatu mereka turun keluar, Junjie mengamati sekeliling. sebuah drama akan segera dimulai.
Di depan pintu Tuan Zhu telah menyambut kedatangan mereka. sangat terlihat Situan rumah telah menunggu kedatangan mereka. mereka terlihat sudah sangat akrab becengkrama antara satu dengan yang lainnya. Junjie terlihat sangat diam kali ini matanya mencari sosok seseorang yang tak berada di tempat.
"Ehem!" seketika Zian berdehem menyadari apa yang Junjie cari "apa kabar Tuan muda Jendral, lama tak jumpa anda masih belum banyak berubah" Zian berbicara dengan penuh penekanan dengan tatapan tajam. heh. si kepala kura-kura.
Seketika junjie menatap Zian dengan tatapan tajam juga penuh penekanan. oh. si mulut angsa "apa kabar juga Tuan muda pembisnis, tak ku sangka kau juga belum banyak berubah"
Tatapan mereka saling mematikan (Dua orang yang keras kepala)
Zian membalas dengan tatapan semakin tajam "hah. ternyata sifat arogan mu semakin menigkat pesat"
Junjie tak mau kalah "Tak ku sangka keahlian mulut angsa mu juga banyak peningkatan" (perkelahian dua sejoli yang membara)
"Ehem.Ehem!" Tuan zhu berusaha mencairkan suasana. "apa yang sedang kalian bicarakan"
seketika mereka mendengus memalingkan wajah.
Nyonya Zhu melihat kesamping menantikan kedatangan kedua anaknya yang belum keluar dan akhirnya memanggil pelayan dan berbicara berbisik. pelayan itu membungkuk lalu berlalu pergi.
Sedangkan disisi lain.
Della di kamarnya bersama Zixin dan Neri. wajah della sedikit gusar sendari tadi berjalan mondar-mandir.
Zian dan Neri hanya bisa menonton bosan tingkah laku Della.
"Zixin, apa yang harus aku lakukan" masih berjalan mondar-mandir. terlihat Zixin enggan menjawab. "kakak berapa kali aku harus menjawab pertanyaan yang sama ?"
masih mondar mandir "Neri apa yang harus aku lakukan ?"
ah. nona ini sudah pertanyaan yang berapa kali kau tanyakan sama semua apa aku harus mengulanginya lagi ?. neri membuang nafas lesu.
masih mondar mandir. ah. apa gunakan sihir perubah wajah saja ? hah tapi mana mungkin, sihir ini masih belum sempurna. atau kabur saja.hahhh. apa yang harus aku lakukan. kenapa aku menyetujui syarat yang konyol itu!
Neri membuang nafas kasar "Nona, kita sudah terlalu lama tuan dan nyonya pasti telah lama menunggu anda"
"ayolah kak, kenapa susahnya sih keluar kamar saja."
'Tok.Tok.Tok' semua mengarah ke pintu
"Nona muda, Tuan muda apa anda sudah selesai ? Nyonya meminta hamba untuk memangil nona dan tuan muda untuk segera keluar"
ahhhh. apa ini aku tak sanggup untuk melakukanya!!
Seketika Zixin dan Neri berdiri. menyeret Della keluar kamar. Aaaaaaa! tidak ! aku tidak mau keluar!!. aku tidak mau menikah !
Sesampainya di depan pintu Della tiba-tiba terhenti. matanya terbelalak mendapati sosok yang ia kenal di sana. kenapa dia bisa berada disini.
Nyonya Zhu yang mengetahui kehadiran kedua anaknya langsung tersenyum dan memanggilnya "kemari lah"
seketika Della melanjutkan langkahnya. semua mata tertuju pada mereka. sang jendral sedikit terkejut melihat anak perempuan keluarga zhu. ini jauh berbeda dengan rumor yang beredar.
Della segera duduk di samping nyonya zhu.
"ini adalah Lingxiu anak perempuan kami, Xiu'er berilah salam kepada jendral"
jadi ini jendral yang dimaksud ? lalu, seketika della melirik ke junjie. ja.jadi dia orang yang akan dinikahkan olehku ? junjie ? dia ?
"xiu'er" Nyonya zhu memegang tangan della. seketika della tersadar dengan lamunannya dan segera Della memberi salam kepada jendral.
Acara itu berjalan sangat lancar. mereka bercengkrama. berbeda dengan Della saat ini selama acara pikirannya penuh dengan bermacam-macam pertanyaan yang ingin ia keluarkan namun tertahan karena keadaan. ingin rasanya ia mengatai junjie dengan semua ini.
kenapa dia tidak memberitahuku akan hal ini ! dia merahasiakan ini semua. orang ini sungguh begitu licik.
"Tuan!" seorang pelayan berlari menghampiri dengan nafas berantakan. seketika semua orang menatapnya dengan penuh tanya "tuan, kabar buruk"
"ada apa ?"
"ada beberapa orang memaksa menerobos kemari ingin bertemu tuan"
semua orang semakin penasaran.
"menerobos ? siapa mereka ?"
"mereka mengaku orang Daemin"
Orang Daemin ?.
seketika semua terkejut dengan pemberitahuan itu kecuali Junjie yang telah mengetahui semuanya, zixin yang memang tak tahu apa yang terjadi, dan Della yang ingatanya Lingxiu belum sepenuhnya terputar.
"Daiemin ?" siapa mereka Zixin mulai penasaran dengan semua keadaan.
Daeimin ?. seketika serangan sakit kepala itu datang lagi ke della, tubuhnya terhuyung hampir jatuh. "ahk!" Della memegangi kepalanya yang amat nyeri sebuah memori terputar di kepalanya.
"xiu'er" nyonya zhu seketika menahan Della agar tidak terjatuh, ia terlihat panik dan terkejut melihat keadaan anaknya. tak hanya nyonya zhu semua terlihat khawatir dengan keadaanya sekarang. "Xiu'er,"
Della menggenggam erat lengan baju nyonya Zhu. "cepat bopong xiu'er" suara panik nyonya zhu.
Zian dan Junjie tampa ia sadar i mereka beranjak bersamaan menghampiri Della.
"kau." zian bergidik. "Biar aku yang bawa Xiu'er, kamu lebih baiknya mengurusi orang Daeimin itu"
seketika Zian menatap junjie tajam.
"Benar yang dikatakannya, Zian kamu ikut ayah mengurus mereka, Zixin kamu bantu mereka," seketika zixin menyusul nyonya zhu dan junjie "maaf jendral bila anda melihat hal seperti ini di kediamanku"
"tak apa, jangan kawatir, mari aku ikut dengan kalian."
seketika mereka pergi keluar.
disisi lain, Junjie membopong Della hingga kamarnya.
"minumlah," nyonya Zhu sembari memberikan segelas air. Della meraih gelas itu dan meminum isinya. kejadian ini terulang lagi. kenapa setiap kali ingatan lingxiu terputar aku selalu pingsan.
Della masih terdiam. beberapa memori itu kini terpampang jelas di ingatan Della. Orang Daemin, mereka yang ingin mencelakai Lingxiu, penculikan, balas dendam. liontin bunga kehidupan. mereka mengincar lingxiu untuk dijadikan sebuah alat karena sihir. Liontin ? tunggu. ada yang kurang. setelah kejadian 10 tahun yang lalu Lingxiu tidak lagi memakai liontin itu. dimana perginya liontin itu ?.
"Xiu'er," Della menoleh tatapannya penuh dengan pertanyaan yang mendalam. Della meraih lengan baju nyonya Zhu "ma, dimana Liontin itu berada ?"
Nyonya zhu kaget dengan pertanyaan anaknya. ia terdiam tak menjawab.
"ma, dimana ?" sembari menggoyangkan lengan baju nyonya zhu.
"jawab Ma, Dimana liontin itu"