MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Tertangkap



waktu semakin sore dan barulah toko itu lenggang, Huali menggerakkan badannya melemaskan oto-otonya. sekali ia menguap dan menutupinya.


"ahhh... leganya, akhirnya bisa istirahat,"


"penolong kemarilah kita makan ayam hutan panggang," ajak siluman itu sembari melambaikan tangannya.


mata huali langsung melebar "ayam hutan panggang ?, wahhh, kebetulan sekali aku sangat lapar.. tunggu aku aku kesana, jangan di makan dulu...!" ucapnya sembari buru-buru merapikan beberapa alat di atas meja dan melajur cepat ke belakang.


"mana, mana, wah... apa kau habis berburu tadi ? Hem.. ini sangat sedap," ucapnya sembari duduk di kursi. di meja sudah tersedia ayam hutan yang telah di bakar sungguh harumnya menyibak hidung, menggugah perut yang berkelit..


"siapa dulu yang masak," sahut Zian sembari berkacak pinggang. sungguh hidungnya kini panjang seperti Pinokio. Huali mendengus di sana.


"tidak jadi, maskannya sangat gosong, dan baunya tak sedap," sahutnya ketika tahu bahwa yang masak adalah Zian. ia masih sensi kepada Zian karena ingin membeli tokonya. tangannya bersedekap.


"ya sudah, siapa juga yang menawari mu masak sana sendiri tangkap sana ayam hutan sendiri, Zixin bingjie ayo kita habiskan Tampa sisa," sahut Zian kesal, entah kenapa sikapnya seperti anak kecil padahal umurnya sudah tak remaja lagi.


"tapi kak, bukannya ini untuk.."


"shut.. diam dan cepat makan," henti Zian kepada Zixin. Bingjie diam tak menyentuh makanannya, "kenapa kau diam ?, cepat makan," ucap Zian melihat bingjie.


"penolong tak makan, aku tak makan," sahutnya sembari bersedekap tangan dan meniru gaya Huali.


"hais, kalian sama saja," gerutu Zian lalu melahap ayam bakar itu.


"cucuku !"


"ukhuk !," Zian tersedak karena kaget dan semua menoleh ke sumber suara.


"ukhuk, ukhuk," Zian mengumpat dalam batuknya, dengan segera ia meminum air.


"Kakek !," sahut Huali dan Zixin bersamaan, mereka beranjak dari duduknya dan menghampiri kakek wuyu.


"bagaimana kabar kalian ? bagaimana tinggal di kota menyenangkan bukan ? dan wah kalian sedang makan ?" sembari melihat ke arah meja disana terlihat Zian yang habis minum air dengan rakus dan Bingjie yang terlihat Tampa ekspresi.


kakek wuyu sedikit mengerutkan keningnya melihat dua orang yang berada sana. matanya melihat ke arah Zian, ia mengangguk kecil karena mengenali wajah itu, dia anak dari keluarga Zhu dan sedangkan orang satunya ? ia semakin mengerutkan keningnya. dan kemudian ia sedikit kaget saat mengingat siapa orang itu.


"kau, siluman gila bagaimana kau bisa disini ?" ucapnya tak percaya, yang ditanya diam tak menghiraukan sekitar ia sibuk memakan ayam pangan, "bagaimana dia bisa berada disini ? siluman itu hah ?" tanyanya kepada huali sembari menunjuk bingjie.


"kakek, itu ceritanya panjang, nanti aku ceritakan, dan tenang saja dia tidak aneh-aneh karena dia memang sedikit kurang," bidiknya pelan pada kalimat terakhir.


"kakek bagaimana bisa menemukan kami ?" sahut Zixin di sana penasaran.


kakek wuyu hanya mengelus jenggotnya, "kau kakek wuyu ?" ucap Zian sembari mendekat dan memastikan.


"benar kau kakek wuyu akhirnya aku bisa bertemu dengan mu setelah sekian lama dan sepertinya jenggot putihku semakin panjang dan semakin putih ah dan bagaimana kabar cucu kecilmu itu apakah ia sudah tumbuh besar ah sepertinya dia akan menjadi gadis yang imut dimana ia sekarang ?," ucapnya panjang lebar Tampa koma.


"Dan kau sepertinya kemampuan bicaramu meningkat drastis aku bahkan tak bisa lagi melihat titik koma di kalimat mu, pantas saja kau dapat julukan mulut angsa tidak heran," sahutnya sembari mengelus janggutnya.


"hais, kau memuji atau menghina," cicit Zian tak terima sembari melengos ke samping.


sedangkan Zixin dan huali mereka terkejut tatkala kakek wuyu dan Zian saling kenal dekat.


"kakek kau mengenalnya ?"


"kalian saling mengenal ?" tanya huali dan Zixin bergantian.


kakek wuyu tertawa "tentu saja," sahut kakek wuyu dan membuat huali menganga dan Zixin menepuk jidatnya. ia antara gereget dan bodoh dan seperti di bodohi.


"dan kau menanyakan cucu kecilku itu bukan ?" lanjutnya kepada Zian. "pekernalkan ini dia cucu kecilku sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis cantik, kau pangling buka. ?" sembari menarik lengan Huali.


"dan kau menanyakan kakak yang sering bermain dengan mu dulu bukan ? dia sekarang berada di depan mu,"


"HAH DIA ?!" ucap mereka [Huali dan Zian] tak percaya dengan bersamaan dan saling menunjuk. mereka menatap kakek wuyu sekilas dan kakek Wuyu mengangguk lalu mereka saling menatap tak percaya dan belum terima menerima kenyataan.


"mana bisa ?!" Zian.


"dia ? tidak. aku tidak menerimanya," ucap huali.


"kenapa kalian saling mengelak ?, bukanya kalian saling mencari,," sahut kakek wuyu yang bingung melihat tingkah konyol mereka.


"bukan itu kek tapi, dia sangt ngeselin dia memaksa membeli toko obat yang sudah payah aku dapatkan,"


"hais, aku juga tak terima jika cucu kakek yang kecil itu kamu, dia tak semenjengkelkan seperti ini," sahut Zian yang masih belum menerima.


"siapa juga yang terima, aku juga tak terima jika kakak itu kamu !, huh !," sasar huali sembari mendengus


"huh !, dasar dengki,"


"sudah nanti saja lanjut ributnya, sekarang kalian semua kemari, ada hal yang lebih penting dari pada ribut kalian," ucap kakek wuyu lewat di tengah-tengah mereka.


lain sisi lain pula cerita, di bilik kamar Della duduk di samping kasur sembari memilah beberapa barang di temani oleh Yuan Fu, tangannya mengambil pedang yang tergeletak di sana, tangannya menarik pedang dari sarungnya.


Sring..


ia menarik hanya seperempat ia menatapnya bilah bening pedang itu, ia tersenyum tipis tatkala mengenang kenangan dengan pedang di tangannya itu.


banyak hal yang aku alami, pertama kali datang kesini pedang ini yang menemaniku berlatih, pertamakali ya aku melukai seseorang, dan pertama kalinya aku berlatih tiada henti, demi sesuatu yang hanya sesaat namun mengenang selamanya, pedang ini pelajaran hidup yang tak akan pernah aku lupakan.


Srug. ia menutup pedangnya lalu memasukkannya ke dalam peti. tangannya meraih beberapa kotak yang isinya manik-manik, lagi-lagi ia tersenyum melihat kenangan dengan benda itu. mengerjai Neri dengan manik-manik, benang yang susah payah ia dapatkan saat keluar, menyamar demi bisa pergi ke pasar. ah ia akan sangat merindukan semua ini.


"Yuan Fu, bisakah aku melupakan semua kenangan yang telah di rajut disini," ucapnya Tampa mengalihkan pandanganya.


Yuan Fu berhenti dan menatap Della. "itu tergantung seberapa kuat jiwamu bertahan,"


Della tersenyum tipis, sungguh ia tak ingin mengenang semua ini saat ia pergi dan ia tak ingin merindukan hal yang tak bisa ia jumpai lagi.


"ini pasti sangat berat bagimu, namun kau tak bisa berlama-lama disini, kau harus segera kembali dan terimakasih karena telah mematahkan kutukan kami, menggantikan jiwa Lingxiu yang hampir musnah, jika tiada dirimu mungkin semua ini akan berakhir,"


waktu semakin berlalu siang berganti malam dan malam berganti pagi. semua orang melakukan aktifitasnya, namun ada berbeda dengan hari ini, diruang tengah kakek Lingxiu berjalan dengan cepat beberapa pengawal yang ia bawa dari kerajaan ikut mengawal.


semua orang berkumpul di ruang tengah,


"lepaskan !, kau tak bisa menahan ku !" tinta seseorang yang di bawa paksa oleh dua prajurit ke ruang tengah.


"kakak ! kau bagaimana bisa menahan adikmu sendiri ?!," ucapnya keras dan meronta, "Lepaskan aku !,"


ya dia adalah Quan Zhu, di tahan oleh kakeknya Lingxiu Han Due detektif raja.


Bruk.


Quan Zhu tersungkur menghadap Han Due. dengan di tahan oleh dua orang prajurit.


"HAN DUE !, Kau !," teriaknya.


"Quan Zhu, tersangka dalang di balik pembunuhan Qian Zhu dan pembunuhan Zixin," ucapnya terhenti, "meneror keluarga Zhu dan melakukan pasar gelap."


dug.


Quan Zhu sedikit tersentak. bagaimana bisa ia mengetahui Bisnisku !.


"kau bilang apa ? membunuh Qian Zhu ?kau omong kosong ! mana mungkin aku berbuat seperti itu, kau menuduhku HAN DUE, tidak ada bukti atas semua tuduhan mu !," elaknya dengan bersekikeras.


"di tahun xxxx saat kepergian Qian Zhu menjenguk mu ia memberi tahu mu surat wasiat keluarga Zhu dan wasiat itu jatuh kepada Qian Zhu, karena kau tak terima kau diam diam melakukan penyerangan saat kepulangan Qian Zhu, dan saat kejadian itu Tampa kau sadari istri dari Qian Zhu masih hidup dan ia memberitahukan semua kejadian kala itu," Han Due melirik ke samping dan satu prajurit membawa bukti tinggalan dari Istri Qian Zhu.


"kedua, karena kau tak berhasil mendapatkan surat wasiat itu, kau menjalin hubungan dengan penyihir dan kau membunuh penerus Penyihir dan kemudian menjebak istriku hingga istriku harus meregang nyawa dan mendapat kutukan dari penyihir,"


prajurit satunya maju membawa bukti kedua.


"ketiga, kau bersekongkol dengan orang Daemin untuk meneror keluarga Zhu dan menyebarkan rumor tentang liontin kehidupan, melakukan penculikan terhadap Lingxiu berumur 10 tahun"


pengawal itu membawa seorang saksi salah satu orang penculik kejadian silam.


"Keempat, kau membunuh Zixin dalam perjalanan setelah ke rumah Mentri Shen dan berkedok penolong,"


Zixin muncul dari persembunyiannya dan terlihat oleh Quan Zhu.


Ba.bagaimana mungkin dia selamat ?!


"kelima, kau mengadu domba antara Zian dan keluarga Zhu, dan diam-diam menaruh racun bening di obat yang kau racik saat mengobati Zian,"


prajurit maju membawa bukti perbuatan Quan Zhu.


terlihat Quan Zhu pucat pasi. "tidak, bagimana ini semua bisa terjadi ?!," ia melirik ke arah Nyonya Zhu dan lainya, "kalian menjebak ku !" teriaknya.


"Maaf, Quan, ini harus di lakukan, perbuatan mu sudah terlalu banyak merugikan orang lain, sekarang jalanilah hukuman mu dan bertobatlah," ucap Tuan Zhu.


"Sialan Kau Qiao !," teriaknya sembari memberontak. Han Due memberi isyarat agar segera membawa Quan Zhu ke penjara. ia akan di tindak lanjuti di pengadilan.


"Lepaskan Sialan !, Kau tak bisa menangkap ku seperti ini !, kau akan binasa ! Lihat saja !," teriaknya terus memberontak.


"Ayah,"


"kakek,"


Nyonya Zhu dan lainya mendekat, "masalah akan segera berakhir, dia akan mendapatkan hukuman setimpal, kalian baik-baikah kakek harus segera pergi," ucapnya melihat cucu-cucunya.


"terimakasih ayah," ucap nyonya Zhu sembari memeluk ayahnya. Han Due menepuk punggung anaknya itu. "tenanglah semuanya akan berakhir," nyonya Zhu melepaskan pelukannya dan kemudian para cucu-cucunya memeluknya, "terimakasih kek, telah membantu kita semua," ucap Zian di ikuti anggukan oleh Zixin. Della ? ia diam melihat semua itu ia tak ikut memeluknya karena ia ragu ia menyadari jika dirinya bukanlah asli Lingxiu akan sangat canggung jika ia memeluknya lagipula ia juga baru melihatnya dua hari ini.


mereka melepaskan pelukannya. Han Due menatap ke arah Della, "kau tak mau memeluk kakek mu ini ?," ucapnya kepada Della.


"Tapi, aku,.." ucapnya terhenti


"Kemari lah, biarkan aku melepaskan rindu kepada cucu Perempuanku,"


Della mendekat dan lalu memeluknya "terimakasih sudah mau berkorban demi keluargaku," ucapnya lirih hanya bisa di dengar oleh mereka berdua.


Della sedikit kaget, "jangan kaget tenang saja, mereka tak ada yang tahu, jangan beri tahu mereka cukup berpuralah sampai waktunya kau kembali,"


Della mengangguk dalam pelukan kakeknya itu. Han Due melepaskan pelukannya lalu menatap sekeliling.


ia menatap kakek wuyu, Yuan Fu, Huali dan Bingjie. "terimakasih atas segalanya," ucapnya lalu mendekat, "HuLi kau sudah besar rumpanya, bagaimana toko obatmu saat ini apa kau menyukainya ?," tanyanya terhadap huali.


Huali mengangguk, "sangat kek,"


"Baguslah, terimakasih telah merawat cucu terkecilku, maafkan dia pasti kalian kualahan saat dia bersama kalian,"


"Ha ha ha, tidak usah berterimakasih Han Due, tenang saja dia sudah ku anggap sebagai cucuku juga, dia pemuda yang sangat baik dan sering membantu ku," sahut kakek wuyu.


"oh iya Huali, apa kau sudah mendapat pesan ku ?" tanya Kakek Han Due ke Huali.


"Pesan ? pesan apa ?" tanyanya kembali. Han Due mengerutkan keningnya. "kau belum menerimanya ?," Huali hanya menggeleng.


"Zian," Panggil Kakek Han Due, seketika Zian meneguk ludahnya kering. "Duh, gawat aku lupa menyampaikannya mati aku," ucapnya dalam hati sembari memukul keningnya.


Kabur aku harus kabur.


dengan diam diam ia mundur menjauh dari semua orang.


"Zian.. ?!" Han Due menoleh dan terlihat Zian berlari kabur menjauh dari mereka "Zian !, mau kabur kemana kau cucu kirangajar ?!!" ucapnya sembari berteriak meneriaki Zian yang sedang kabur.


"maaf kakek ! Aku lupaaaa !," jawabnya sembari lari dari kenyataan.