
"tidak." jawabnya sembari memalingkan wajah dan menyampingkan badannya sedikit menjauh.
"Tidak ?" wajahnya sudah mengkerut mendengar jawaban dari Della. "Sudahlah, kau jangan seperti anak kecil. ada yang harus aku katakan kepadamu," Della sembari menarik kursi lalu mendudukinya.
mata Junjie mengikuti kemana Della berada.
"ini tentang pemecahan kutukan sepasang pedang itu," Della membuang nafasnya pelan "duduklah tak nyaman rasanya jika aku berbicara dan kau berdiri jauh seperti itu," sahutnya kembali karena ia tak begitu nyaman jika orang yang di ajak bicara panjang lebar terlalu jauh posisinya.
"katakan," ucap junjie sembari duduk di depan Della, lalu ia menyangga kepalanya.
"aku telah mendapat penjelasan dari erlac, dia berkata..." belum sempat Della melanjutkan, junjie pun menyahut,
"kutukan hanya kita yang bisa musnahkan dengan perundingan."
"kau benar, tapi aku tak mengerti apa yang di maksud perundingan itu,"
"panggil saja Erlac dan fire, sekarang," jawab junjie.
Della sedikit mengerutkan alisnya.
"apa kau yakin sekarang ? apa tidak terlalu bahaya ? kau tahu saat kita mengeluarkan pedang itu, sudah memancing orang-orang kepo, dan juga bukankah kau di undang oleh pangeran ke tujuh ? jika kau tak mendatanginya dia akan curiga. dan.."
"aku tahu," potongnya, ia melirik ke samping sekilas, ia melihat bayangan seseorang menguping pembicaraan mereka lalu ia mengeluarkan sebuah kotak. "tenang saja, kau tak perlu khawatir, yang perlu kau khawatirkan adalah malam ini." sembari memberikan sebuah kotak kecil di meja dan menggesernya ke arah Della.
"ini untukmu,"
Della mengangkat satu alisnya. "apa ini ?," sembari meraih kotak di atas meja.
"buka saja,"
Della mulai membuka kotak kayu kecil itu.
"ini kalung ?" ia melihat kalung berliontin berlian biru yang sangat mewah.
"benar, kulihat kau tak pernah memakai perhiasan,"
"terima kasih, ini sangat indah untuk di koleksi" ucapnya sambil tersenyum memandangi kalung tersebut.
"aku memberikan itu untuk kamu pakai, bukan untuk pajangan. berikan padaku biar aku bantu pakaikan," junjie meraih kotak yang berisi berlian di tangan Della lalu ia memasangkannya.
"thanks, tapi ngomong-ngomong darimana kau dapat berlian biru yang sangat langka itu ? dan dalam perang pun kau bawa," sangat sayang jika hanya di pakai saja, ini lebih cocok untuk di pajang dan menjadi koleksi langka. lanjutnya dalam hati.
"apa yang tak bisa ku dapatkan ?, istana saja bisa bisa aku beli." ucapnya tersenyum simpul.
"wah-wah.. kau benar-benar sombong,"
"kenapa ? tak masalah sombong sedikit. toh tak merugikan diriku."
"tapi menurutku itu sangat merugikan, merugikan diri sendiri juga orang lain."
Junjie membenahi duduknya. "ternyata sifat baik hatimu dan tak sombong itu benar adanya, ku kira hanya mulut manis nitezen, yang fanatik kepadamu" ucapnya sembari menyandarkan diri.
"hei, beritahu itu nyata bukan di buat-buat, dan mereka memang murni sangat ngefans dengan ku,"
"sudah ku duga, itu ada sangkut pautnya dengan nitezen," junjie terdiam sejenak kemudian wajahnya menjadi serius "jadi saat di acara itu, kalian benar-benar pacaran,"
"acara apa ?" tanyanya sambil mengerutkan alis.
"pesta pernikahan mantan mu"
"tidak. mana mungkin aku bisa jadian dengan Zen ? dia itu sahabatku, aku memaksanya untuk menjadi tameng diriku akan Andika dan Sella yang telah berkhianat di belakangku."
"oh, jadi kau di khianati ?"
"benar, dulunya aku dan Sella adalah teman dekat lebih tepatnya sahabat, namun diam-diam dia mendekati Andhika dan mereka berpacaran di belakang Tampa sepengetahuan diriku, hingga ku dapati mereka berkencan di Hotel sewaktu hari weekend dan kau tahu apa yang terjadi di sana ?"
"mereka tidur bersama ?" jawabnya santai.
"benar sekali, ******* bukan ?" Della sembari menaikan kedua pundaknya sekilas.
"Tapi, kenapa kau bisa tahu mereka berkencan di hotel ?"
"yah waktu itu aku tak sengaja sih melihat mereka, bisa dibilang kebetulan. waktu itu aku sedang mensurvei lokasi untuk pameran gaun di hotel tersebut, dan tak sengaja aku melihat mereka check in hotel karena penasaran aku membuntuti mereka."
"lalu, kau menggerebek mereka saat mereka sedang tidur bersama ?" junjie mencoba menebak lagi.
"hahahaha.. sungguh epik sekali, kau seperti pemeran film yang di tikung oleh sahabat sendiri" junjie tertawa saat mendengar jawaban dari Della.
"tidak lucu. dan itu memang terjadi."
junjie semakin tertawa mendengar jawaban dari Della dan melihat ekspresi yang mengkerut kesal.
sedangkan itu diluar tenda para prajurit saling memandang satu sama lain karena di buat bingung oleh tawaran junjie.
"kau dengar, Jendral junjie tertawa seperti itu." ucap prajurit A
"benar, keajaiban apa aku baru mendengarnya suara tertawanya yang lepas itu," ucap prajurit B
"Apa yang membuatnya tertawa seperti itu ?"
"entahlah, mungkin jendral kemasukan setan, ini sungguh keajaiban dunia, dia bisa tertawa."
kembali kedalam tenda..
"diam lah itu tak lucu. sana pergi sana, pergi ke pangeran ke tujuh sana. sia-sia aku menceritakannya kepadamu," ucap Della sembari mengambek.
"kau merajuk ?," masih tersisa tawanya.
"siapa yang merajuk ? sana pergi sana, aku mau tidur. besok harus pergi pagi-pagi." ucapnya sambil berdiri lalu melangkah pergi ke peraduan.
Junjie masih dengan tawanya yang renyah, ia melirik ke samping lalu terdiam.
"aku temani tidur," ucapnya seraya berdiri. ia kembali melirik ke samping.
oh, sudah pergi rupanya. batinnya dalam hati.
ia berjalan keluar tenda dan mencari tempat yang sedikit sepi.
"keluarlah," ucapnya singkat dan tegas.
seketika dua orang berpakaian abu-abu tua dengan cadar di mukanya muncul di samping junjie dan memberi hormat
"jaga Istriku, jangan sampai dia terluka sedikitpun."
"baik tuan, laksanakan," ucapnya lalu menghilang dengan cepat.
setelah itu ia langsung menuju ke tempat pangeran ketujuh.
saat sampai di depan ia berpas-pasan dengan dengan ayahnya jendral weizhe.
"kau, di panggil juga oleh pangeran ketujuh ?" ucap jendral weizhe.
"benar, ayo masuk." jawab junjie lalu melangkahkan kakinya masuk ke tenda.
saat masuk seketika mereka di sambut oleh suara pangeran ke tujuh yang duduk di kursi sembari meletakkan teh di mejanya.
"wah, akhirnya kalian datang juga, aku sudah menunggu kalian sendari tadi." ucapnya sembari tersenyum, namun senyuman itu menyimpan beribu makna tersembunyi.
mereka memberi hormat bersama.
"ada apa pangeran mengundang kami ?" ucap Junjie ketus. seketika jendral weizhe menoleh. "perhatikan nada bicaramu saat berbicara dengan pangeran," ucap jendral weizhe pelan.
pangeran ke tujuh tersenyum saat mendengar ucapan junjie.
"maafkan putra hamba pangeran, karena berbicara kasar terhadapmu" ucap jendral weizhe sembari memberi hormat.
"tak masalah jendral, aku suka sikapnya yang berterus terang, ku dengar anakmu mengalami kecelakaan," masih berucap dengan topeng wajah baiknya.
"Hah, mari silahkan duduk, karena banyak sekali yang ingin aku diskusikan dengan kalian" perintah pangeran ke tujuh sembari menyilahkan mereka duduk.
junjie masih dengan wajah datarnya. matanya tak lepas dari pandangan pangeran ke tujuh.
Apa yang ingin kau rencanakan pangeran ?. ucapnya dalam hati junjie.
pangeran ke tujuh melirik ke arah junjie dan tersenyum devil.
Kita lihat saja, bagaimana kau akan menolak perintahku dan berkerja sama denganku. ucap pangeran ke tujuh dalam batin.