
mereka terhenti saat sampai di depan pintu, tuan zhu membuka pintu itu. Seketika wajah Nyonya zhu memandang penuh tatapan panik ke arahnya. tanganya bergetar memegang surat di tangannya
"Ada apa istriku ?" ucapnya panik meihat istrinya ketakutan ia segera menghampirinya.
"I.i. ini, ti.dak mungkin" ucap yonya zhu sembari bergetar memandang beberapa lembar surat yang di pegang. Tuan Zhu dan Zian segera menghampirinya.
"ada apa ? apa yang terjadi ?" Tuan Zhu menuntun istrinya duduk di kursi dan Zian meraih beberapa kertas di tangan nyonya Zhu.
Lalu Zian membaca, terlihat ekspresi wajahnya yang kaget.
"ada apa Zian ? apa isi surat itu ?"
Zian terdiam.
"pembunuhan kakak ipar dia.." belum sempat nyonya Zhu menyelesaikan perkataanya sudah di potong oleh Zian.
"paman Quan Zhu yang membunuhnya" sahut Zian Tampa menoleh.
"Apa ?" tanya tuan Zhu yang tidak percaya.
"Aku juga tidak percaya, tapi. ini.." tangannya [Zian] mengepal kuat.
"kemarilah Zian," panggil nyonya Zhu, Zian mendekat. nyonya Zhu mengambil surat yang ada di tangan Zian.
"Kau, kalian tenang. jangan termakan emosi.kita masih perlu bukti kuat, ini saja belum cukup. Simpan ini semua jangan sampai ada orang yang menemukannya, Kita harus mencari banyak bukti." ucap nyonya Zhu yang tahu bagaimana situasi saat ini.
"kabar ini jangan sampai ada orang yang tahu, siapapun itu. selain kita bertiga" Nyonya Zhu.
*****
di rumah sederhana tengah hutan, Huali telah selesai dengan aktifitas paginya, mengeringkan tanaman herbal dengan di jemur di terik matahari pagi. setelah itu ia mengemasi tanaman herbal yang sudah kering ke dalam wadah.
terlihat Situa berada di atas pohon sedang mengamati Zixin yang sibuk memetik beberapa buah persik.
"Situa, apa kita tidak apa meninggalkan penerus mu di sana sendirian ?" tanya kakek wuyu yang tiba-tiba sudah berada di samping Situa.
Situa tak menoleh di masih mengamati pergerakan Zixin. "untuk apa ? dia sudah bersama suaminya. dia aman."
"tapi bukankah di sana sangat berbahaya, sosok pangeran ketujuh itu, dia bukankah memiliki aura seperti dia [murid yang berambisi]"
"masih dalam penyelidikan. kau urus saja anak keluarga Zhu itu, jangan biarkan dia di ketahui siapapun. tapi ide mu membuatnya tak bisa berbicara bagus juga" ucap Situa sembari mengelus jenggotnya.
"itu masalah mudah, tapi menurut mu bagaimana hebat bukan aku bisa membuatnya tak bicara. tehnik ku meningkat." ucapnya sembari hidung memanjang.
"tehnik meracik obat mu semakin buruk. siapun bisa melakukan tehnik mudah itu, hanya saja dia tidak mengetahui tentang pengobatan jadi tehnik mu terlihat sangat unggul." sahut Situa yang Tampa ekspresi.
Kakek wuyu mendenguskan nafasnya. "Cih. ku masih Sifat acuh mu semakin parah"
Situa diam, lalu ia turun dari pohon.
"sepertinya kau juga ingin merasakan bagaimana mencabut rumput satu gunung bersama Artcvic." ucap Situa sembari mengelus jenggotnya.
"Lupakan. lebih baik aku berjalan kaki ke kota menjual obat dari pada bertemu burung itu !" ucap Kakek Wuyu lalu turun menghampiri Huali.
"kau, bocah kecil cucu kakek yang keras kepala, jangan sering-sering dekat dengan Situa, dia Orang yang sedikit tidak waras" ucapnya setengah berbisik namun masih bisa terdengar oleh Situa.
"Kakek, Aku tidak percaya dengan apa yang kau bicarakan. Kakek Situa tidak akan seperti itu dia selalu memberiku hadiah dan menyayangiku. benarkan Kakek Situa..." menoleh ke arah Situa.
"Hehehe. Bagus Huali, Cucu yang berbakti.." Seringai Situa sembari memberikan dua jempol ke Huali.
"Kau.. Kau memihaknya dari pada aku ?.." ucapnya sembari bersedih.
Huali mengangguk sembari mengejek dengan menjulurkan lidahnya.
"aku sayang Kakek Situa, dia selalu memberiku hadiah yang berharga. Ayo kakek Situa kita masak Ikan bakar pagi ini"
"Kau memegang cucu yang terbaik.." ucap Situa mengekor kepada Huali.
Huali memegang pisau besar, ia mengambil ayam hutan yang di ikat dengan tali.
"Ayam hutan ? wah.. dangingnya pasti enak sekali saat di bakar.." ucap situ dengan mata berbinar.
Tak.
Huali menancapkan pisau yang tajam itu di kayu. "Kakek. Kau lakukan sendiri memasaknya aku masih ada banyak urusan yang belum selesai." ucap huali menyeringai tajam.
"Hua Li.. apa kau tega ?"
"aku masih sibuk selalu saja kalian menganggu ku ! Cepat masak sendiri atau kau pergi dari sini. cepat." bentak Hua Li
*peringatan : perbuatan yang tidak boleh ditiru, membentak orangtua Ialah perbuatan yang tidak sopan. Hormatilah orangtua kalian dan orang yang lebih tua dari kalian.
"dasar cucu durhaka. membentak orang tua" ucap Situa mengambil pisau dengan sihirnya.
Huali berlalu pergi kembali ke tempat melanjutkan pekerjaannya memilah obat yang belum selesai.
[Kakek Wuyu, kau istirahatlah, biar aku yang mengangkat keranjangnya] ucapnya dalam bahasa isyarat.
"kakek masih kuat, kau bawa yang satunya biar kakek bawa yang ini" sembari menaikan keranjang di pundaknya.
[baiklah jika kakek memaksa,] Zixin mengangkat keranjang yang berisi penuh. membawanya ke pondok sederhana milik Kakek Wuyu.
mereka meletakkannya di rumah bagian belakang. [besok saat menjual buah ini biarkan aku ikut membantu kakek ke kota] ucap Zixin semangat.
"Tidak perlu anak muda, terlalu berbahaya jika kau ikut ke kota,"
[tidak kakek, aku harus segera bertemu dengan kedua orangtua ku. aku harus memberitahu yang sebenarnya !]
"bagaimana kau akan menjelaskannya ? pulihkan tubuh mu dan suaramu dulu baru ikut kakek ke kota. terlalu berbahaya dalam kondisimu yang seperti itu ikut ke kota" sembari menepuk bahu Zixin.
[tapi kek, mereka akan sangat khawatir tentang diriku ! ]
"anak muda dengarkan kakek, dan ingat kata yang di ucapkan Situa, dalam kondisi mu yang seperti ini, mereka akan mudah menemukan mu, dan bertindak gegabah akan sangat membahayakan bagi kita semua. kau tenanglah, mereka akan aman. jangan khawatir. Situa pasti menyampaikan kepada keluarga mu." ia menepuk pundak Zixin beberapa kali dan berlalu pergi.
Zixin mengepalkan tangannya.
tidak. bagaimanapun aku harus ikut besok ke kota dan kembali ke rumah.
ucapnya dalam hati. ia melangkahkan kakinya ke samping rumah. dilihatnya Situa yang sedang sibuk membersihkan beberapa ayam liar yang sudah di sembelih. ia mencuci ayam itu dengan mengomel tak jelas.
Zixin menghampiri Situa.
Situa menoleh saat Zixin berada di sampingnya.
[mau aku bantu ?] ucapnya dalam bahasa isyarat.
Situa menaikkan alisnya karena dia tak mengeri yang di ucapkan Zixin.
[aku bisa membantumu membersihkan ayamnya.]
Situa semakin bingung. "katakan dengan jelas. aku tak mengerti dengan apa yang kau katakan." gerutu Situa yang tak mengerti isyarat Zixin.
Zixin mendengus kesal [dasar, Situa payah.] umpat Zixin lalu ia berjongkok membantu Situa membersihkan ayam.
Sungguh merepotkan ! bagaimana aku bisa meminta bantuan dia jika dia tidak mengerti dengan apa yang aku katakan.
batin Zixin sembari membersihkan ayam.
Bersambung....
jangan lupa tinggalkan Jejak.🏃