
Di ruangan serba putih itu terdapat seseorang terbaring di ranjang kesakitan. Selang infus menancap di tangan kirinya.
matanya tertutup tak sadarkan diri.
Ceklek.
Terlihat seseorang membuka pintu, ia masuk kedalam ruangan. tangannya membawa buket bunga. lalu di letakan di atas meja.
Lelaki itu duduk menghadap seseorang yang terbaring di ranjang kesakitan.
Tangannya memegang tangan yang bebas dari infus. Ia menatap sendu, manik-manik kecil menetes dari sembunyiannya.
ia terpejam menundukkan kepala mencium dalam tangan yang ia pegang.
"sadarlah ku mohon," tak banyak kata yang ia ucap bibirnya terlalu kelu untuk berbicara.
"Kau datang Zen ?" ucap Fadil di sebelah Zen.
Seketika ia menoleh. "Ya." jawabnya singkat. entah sejak kapan ia datang Zen tak tahu dan tak ingin tahu hatinya saat ini masih kalut dan tak ingin memikirkan hal yang tak penting.
Fadil duduk di sofa dan menyandarkan diri. matanya terpejam.
"kenapa kau kesini sendiri ?" tanya Zen tampa mengalihkan pandanganya.
"aku tak sendiri aku datang bersama mom Fi, tapi dia masih di ruangan dokter yang menangani Della, beliau menyuruhku untuk tak menunggunya, jadi aku kemari"
wajah Zen tak bergeming.
Fadil membuka matanya saat tak ada sahutan dari Zen. ia menatap Zen lalu membuang nafasnya sedikit kasar. tangannya mengambil koran di meja dan membacanya.
Sedangkan Zen ? ia masih setia di samping Della menatapnya sendu wajahnya penuh bersalah. dan berharap jika Della segera sadar dari komanya.
Fadil yang melihat tingkah Zen ia sedikit jengah. masalahnya setiap kali ia menemui Della ia akan seperti sekarang ini, Diam menatap della dengan tatapan berharap dan tatapan bersalah, tak ada suara namun air mata yang merekah. Ia seperti nyawa yang tak utuh. "apa kau tak lelah setiap hari seperti itu, jika kau seperti ini, Della akan sangat sedih saat melihat keadaan mu" ucapnya sedikit acuh tak acuh.
Tak ada jawaban. Zen masih diam tak bergeming. Ia merasa sangat bersalah karena tak bisa menjaga Della saat itu padahal ia telah berjanji bahwa ia akan selalu menjaganya dan melindunginya ya walaupun sikap Della sedikit jutek namun mereka adalah sepasang sahabat yang tak pernah terpisahkan.
Ceklek.
pintu terbuka, terlihat Dokter masuk bersama mom Fi
[mom Fi adalah ibunya Della]
Zen dan fadil menoleh.
Sang dokter mendekat ke arah Della dan memeriksanya. ia sedikit tersenyum menatap Zen. ia merasa tersentuh melihat Zen yang selalu senantiasa mengunjungi pasiennya ini.
"Sepertinya anda mempunyai calon menantu yang sangat sayang terhadap putri anda nyonya," ucap Dokter itu sembari melirik kearah Zen sekilas.
Zen tak bergeming. ia sedikit menyampingkan dirinya membiarkan sang Dokter memeriksa Della.
mom Fi melirik ke arah Zen sekilas. ya ku harap begitu. ucapnya dalam hati.
"bagaimana keadaanya dok ?" tanya mom Fi,
dokter itu menghelai nafas pelan karena kondisinya masih tetap sama belum ada perubahan positif.
"kondisinya masih sama,"
terlihat wajah mom fi sedikit kecewa dan perasaanya kembali kelu.
"tapi tenang saja nyonya, kondisi putri anda semakin membaik hanya saja ia belum bangun dari pingsannya"
mom fi mengangguk pelan.
Setelah selesai mengontrol kondisi Della dokter memberikan informasi kesehatan Della, setelah itu ia berjalan keluar.
Mom fi menghampiri Della yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang. ia mengusap kepala anaknya penuh kasih sayang.
"sayang, cepatlah sadar nak, ibu sangat khawatir, cepatlah sembuh"
Zen beralih duduk di sofa.
Mom Fi masih duduk mengelus kepala della.
"ku dengar orang yang mencoba menyelamatkan putriku juga belum sadar, bagaimana keadaanya" tanya Mom fi tampa menoleh.
"Benar Mom, keadaannya sama kritisnya Dengan Kak Del" jawab Fadil.
mengapa Fadil memanggil ibunya Della mom bukanya Nyonya ataupun tante dan menyebut Della dengan sebutan Kak ?
Karena sepuluh tahun lalu dan di setiap sebulan sekali Mom fi pergi ke panti asuhan untuk menyumbangkan sebagian dari hartanya. Dari situlah mom fi ketemu oleh fadil lalu ia mengadopsinya.
"antarkan aku kesana, mom ingin melihat keadaanya"
"Baiklah mom" jawab fadil.
Zen menatap Fadil dan mom bergantian. Si Licik Adarsya juga belum sadar ? batin Zen. ia sangat penasaran dan ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri orang Licik yang membantu Della. Sendari kecelakaan itu Zen tak pernah bisa menangkis pikirannya memikirkan rencana licik saat di kapal. gerak-geriknya mencurigakan dan wajahnya sangat ketara menyimpan sebuah maksud saat melihat kedatangan Della.
"tante, boleh ak.." belum sempat Zen menyelesaikan kalimatnya ia sudah di potong oleh mom Fi.
"Biarkan aku mengantar tante dan fadil disini,"
mom fi menatap Fadil, "Kau tunggu disini"
"Baiklah mom" jawab fadil
akhirnya mereka [mom Fi dan Zen] melangkah meninggalkan kamar Della.
Fadil kembali membaca korannya. ia sedikit mengerutkan keningnya lalu mendengus pelan saat membaca topik utama dari beberapa koran.
"Kak, kau benar-benar membuat dunia berita menjadi guncang, mereka tak henti hentinya memberitakan mu"
ucapnya sembari menggeleng kepalanya kecil. "kau memang selalu menjadi kakak gilaku,"
Sementara itu kedua orang itu [mom fi dan Zen] berjalan menyelusuri ruangan hingga sampailah mereka di depan ruang VIP pintu itu dijaga dua pengawal dengan setelan hitam hitam.
salah satu dari pengawal itu menanyai mereka dan satunya lagi memberikan info kepada orang kepercayaan Tuannya lewat telefon bluetooth.
"Tuan, Nyonya Fi datang kemari bersama Tuan muda Zen" ucapnya lirih namun masih bisa di dengar dari sang penerima.
orang kepercayaan Adarsya itu tersenyum. "Biarkan nyonya fi masuk tahan tuan muda zen" ia sembari beranjak dari duduknya berdiri di samping ranjang tuanya yang terbaring tak sadarkan diri.
Akhirnya anda datang juga Nyonya. Tuan akhirnya orang yang anda tunggu datang menemui anda, kuharap rencana anda berhasil hingga ahir.
Diluar ruangan.
"silahkan masuk Nyonya Fi dan untuk anda tuan silahkan tunggu di luar" ucap salah satu ajudan.
"Kenapa aku tidak boleh masuk ?" sahut Zen.
"maaf tuan. ini perintah."
"aku mau masuk." suaranya sudah menekan.
"maaf tuan. tidak bisa." larang sang ajudan masih setia dengan perintah tuannya.
mata Zen mulai suram.
Mom Fi yang melihat itu langsung menyentuh lengan Zen.
"Tunggulah di luar, ini tak akan lama"
akhirnya Zen diam menuruti Mom fi matanya masih menatap jauh ke dalam ruang VIP itu membiarkan mom fi masuk ke dalam ruangan VIP.
pintu tertutup dan sang ajudan kembali ke posisinya.
sementara itu, mom fi telah masuk kedalam ruangan rawat. ia melihat seseorang berdiri di samping ranjang kesakitan dengan setelan baju jas hitam.
orang itu melirik ke samping saat terdengar seseorang membuka pintunya.
Tuanku, ku harap anda segera bangun dan menyaksikan ini semua.
"Nyonya Fi, silahkan duduk" ucap orang itu sembari menyilahkan nyonya fi duduk di sofa.
"Tidak perlu anak muda, ibu ini hanya ingin menjenguk sebentar tak lama," tolak mom fi sembari mendekat kearah ranjang kesakitan.
Ia sembari melihat kearah lelaki muda yang terbaring di ranjang dengan selang infus di lengan kirinya.
"Bagaimana keadaanya ?" tanya Mom Fi tampa mengalihkan pandanganya.
"seperti yang anda lihat nyonya"
mom fi mengambil nafasnya sedikit dalam.
keadaanya seperti anakku, diam tak sadarkan diri.
mom fi sendari tadi sedikit heran dengan ruangan yang terasa amat kosong, sebenarnya selain menjenguk orang yang telah berusaha menolong anaknya ia juga ingin menemui orang tua anak tersebut untuk mengucapkan beberapa kalimat terimakasih, namun ruangan itu kosong hanya seorang yang setia kepada tuanya.
"dimana keluarganya, apa mereka belum datang ? atau baru saja pulang ?" tanya mom fi.
orang itu sedikit tercengang.
"maaf nyonya ada perlu apa mencari mereka, jika itu bersangkutan dengan tuan muda kami katakan saja langsung kepada saya. tidak perlu mencari mereka itu hanya sia-sia." sahut lelaki tersebut. terasa ada rasa hambar di kata terakhir.
mom fi sedikit terkejut dengan perkataannya barusan. ia mengambil nafasnya sedikit dalam lamu menatap lelaki yang terbaring itu.
"terimakasih telah menolong anakku, aku juga berduka dengan keadaanmu semogga kau lekas sembuh" ucap mom fi.
"baiklah terimakasih atas waktunya anak muda kalau begitu orang tua ini undur pamit" sebelum pergi mom fi melihat sekilas wajah yang terbaring di ranjang. dan berlalu pergi.
saat mom fi memegang handel pintu tiba-tiba lelaki muda itu menghentikannya.
"Nyonya Tunggu."
.
.