
di danau mereka sekarang, kakek wuyu merampalkan mantra dan kemudian mereka menghilang. sedangkan di gunug bintang diruang bawah tanah situa menunggu dengan mondar mandir, "kemana mereka kenapa belum juga kemari,"
lima menit
sepuluh menit
dua puluh menit
situa geram, "kenapa mereka lama sekali apa mereka lupa mantra ke gunung bintang ?!" gerutunya kesal dan di berjalan menengah namun saat melangkahkan kakinya
BRUK !
ia kesandung jubahnya sendiri dan jatuh ke tanah "baju sialan !" umpatnya kesal menyandung bajua sendiri, kesialan tak sampai disitu saja saat hendk berdiri tiba-tiba ia terjatuh lagi seperti tertimpa benda berat dari atas.
buk
"Akh ! Punggungku !"
kakek wuyu sampai diruangan itu, della dan yuan fu berdiri satu meter di samping kakek wuyu dan kakek wuyu ia
dengan posisi menyila, ia jatuh tepat di punggung situa, kakek wuyu membuka matanya "kenapa lantaina berbicara ?"
seketika yuan fu dan della membelalakan matanya melihat kakek wuyu mereka antara terkejut dan ingin tertawa.
"emt.. kakek itu.." ucap della namun suda di sela kakek wuyu
"kenapa lantainya bergerak, apa aku mendarat di punggung kura-kura ?" gumannya belum menyadari
"sialan ! kau wuyu !" teriak situa geram disamakan dengan kura-kura. sudah jatuh menimpaiku masih mengataiku kura-kura ?!
kakek wuyu seketika melihat ke bawah, dan seketika ia meringis tatkala bertatapan muka dengan situa yang sudah
merah padam "he he he" seketika situa berdiri dengan penuh tenaga dan Brukk ! kakek wuyu terjungkal kebelakang, "agrh punggungku !" umpatnya sembari memegangi punggungnya.
"huh" situa berdiri sembari membersihkan lengan bajunya. sedangkan kakek wuyu berdiri sembari memegangi punggungnya. maklum tulang tua sering kena encok. wkwkwk
"sialan kau situa, tak mengerti penderitaan punggungku," situa acuh tak acuh. siapa sruh kau mendarat di punggung ku dan mengataiku kura-kura !. batinya sembari melengos.
"untung kali ini aku sabar,”
ucap situa melangkah sembari berkacak pinggang. Mereka mengikuti situa menuju pintu rahasia mereka melewati lorong-lorong nan gelap hanya obor sebagai penerang jalan mereka. Della melihat sekeliling tetesan air terdengar dari berbagai arah, semakin ereka berjalan jauh semakin terdengar pula gemerik air. Setelah beberapa saat sampailah mereka pada ujung lorong tersebut. Sungguh pemandangan pertama yang mereka lihat adalah air terjun, ya mereka berada di gua di balik air terjun. Hawa dingin semakin menyerebak di kulit mereka.
Della mengambil nafas dalam. Segar !. itu kata pertama yang ia keluarkan sungguh nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan !
“tempat yang tepat situa,” ujar yuan fu seraya mengingat tempat yang ia pijaki saat ini, ia mengenang beberapa
Situa hanya mengangguk saja. “penerus kecil apa kau siap mematahkan kutukanya ?” ujar situa serius. Della yag tadinya masih terhanyut dalam suasana seketika ia menoleh.
“siap tida siap bukankah harus siap,” jawabnya sembari menatap situa yakin.
“jawaban yang bagus,” sahut kakek wuyu sembari duduk di batu yang lumayan besar.
Tak lama della mengeluarkan pedang Erlac. “lakukan seperti kau membuat kontrak dulu,” lanjut situa dengan mengawasih della. Della mengambil nafasa dan kemutian, sret. Ia menggores telapak tanganya dan darah segar keluar dari sana dan kemudian ia meneteskan darahnya kepedang tersebut.
CRING !
Cahaya biru menyilau mengakibatkan mereka menutup matanya. PYAS! Cahaya itu emecah dan menjadi pecahan Kristal di udara cahayanya memantul sangat epic terken pantulan dari air terjun. Mereka semua mentatap kagum, SRET, dengan cepat Kristal itu melumpuk menjadi satu berputar cepat dengan mengeluarkan cahaya putih biru dan angina yang sangat kencang, aura yang sangat kuat sangat terasa disana makin lama utaran Kristal it semakin kencang dan angina yang di hasilkan semkin kenang sehingga membuat mereka mempertahankan diri dengan kekuatan mereka
“AAA!” teriak della kaget ketika dirinya hampir terhempas dari tebing dan dengan sontak Yuan Fu menangkapnya dengan selendang putihnya, kini tubuhnya tertahan oleh lilitan selendang putih yuan fu telat sedikit saja dirinya sudah jatuh kedalam jurang tampabatas, kini dirinya diantara bibir jurang dengan bercekal dengan selendang yuan fu.
“Hati-hati ! Bertahanlah !” teriak yuan fu kepada della. Della mengangguk dengan jantung yang hampir copot. Pusaran angina itu semakin kencang dan della semakin erat peganganya ia menutup mata rapat karena silau cahaya yang di timbulkan.
BYARR !
Seketika putaran cahaya itu terhenti dan pecah cahayanya menyebar keseluruh prnjuru.
Bruk !
Della terjatuh di tanah dengan jantung yang tak karuan rasa
sakit didadanya terkena benturan keras dari cahaya tadi, tubuhnya melemas. ia
masih memejamkan kedua matanya. Ia memegang kepalanya yang terasa sangat pening,
buni seakan berputar dan ia mencoba membuka matanya namun terlihat buram.
Tes.
Ia merasakan sesuatu menetes dari hidungnya. Kemudian ia mengusp hidunganya itu, darah ?. batinya.
Tes
Lagi-lagi darah itu mengalir.
“Lingxiu !,” teriak yuan fu, dan seketika mereka menoleh dan terlihat kaget dengan apa yang ereka lihat. Della menoleh namun pandanganya buram dan kemudian.
Gelap.
Dengan cept seseorng dengan jubbah silver menahan tubuh della yang akan terjatuh ketanah. Dengan cepat ia membopongnya.